The Imperial College

The Imperial College
Eps. 10: Satu Kereta


__ADS_3

Siang hari, ketika matahari sudah berada jauh di atas ujung bambu, Huang Yunxi keluar dari pintu gerbang Istana Dong Hua, istana kekaisaran Dinasti Hu. Dia melangkah ringan sambil bersenandung riang.


Tangannya memegang sebuah buntelan kain satin yang cukup besar berisi makanan, buah-buahan, uang dan beberapa barang lain. Buntelan itu diberikan oleh Sanqi saat dirinya hendak keluar dari Istana Liuli. Pelayan itu bilang dia khawatir Huang Yunxi tidak mendapat makanan yang enak di Akademi Kerajaan atau kelaparan di tengah jalan. Penampilan Huang Yunxi kini tak lebih dari seorang wanita yang melarikan diri dari rumah.


Saat dia sampai di gerbang terluar, dia melihat Tianqi sedang berdiri. Huang Yunxi melihat ke sekeliling. Dia menepuk keningnya sendiri karena dia benar-benar melupakan sesuatu. Huang Yunxi datang pagi-pagi dengan berjalan kaki, sekarang sudah siang dan dirinya tak mungkin berjalan kaki lagi untuk kembali ke Akademi Kerajaan!


Huang Yunxi melirik Tianqi. Saat mata pelayan itu melihatnya, Tianqi langsung bergegas menghampiri Huang Yunxi. Pelayan pribadi Yuwen Yue itu sepertinya mempunyai sesuatu untuk dikatakan kepadanya.


“Tuan Puteri, Tuan Mudaku menunggumu di kereta,” ucap Tianqi sambil menunduk, kemudian menunjuk ke sebuah kereta kuda mewah yang terparkir tak jauh dari gerbang Istana Dong Hua.


Dia sebenarnya malas bertemu Yuwen Yue. Pria itu sudah muncul satu kali tadi pagi dan Huang Yunxi tidak ingin melihatnya lagi. Tetapi, apalah dayanya? Daripada dia berjalan kaki sendirian di bawah terik cahaya matahari, lebih baik dia berdamai sesaat dengan pria itu sampai dirinya tiba di Akademi Kerajaan.


Tanpa banyak bicara atau tertawa, Huang Yunxi kemudian mengekori Tianqi. Kereta kuda bertuliskan “Yue” itu bergoyang ketika kaki Huang Yunxi meniti tangga kayu. Di dalam sana, dia melihat Yuwen Yue sedang duduk manis dengan mata terpejam. Mata pria itu kemudian terbuka ketika merasakan pergerakan kecil dari Huang Yunxi.


“Mengapa kau menyelinap keluar dari Akademi Kerajaan?” tanya Yuwen Yue ketika Huang Yunxi sudah mendapatkan tempat untuk duduk.


“Mengambil kertas.”


“Kertas?”


Huang Yunxi kemudian mengeluarkan beberapa lembar kertas berkualitas tinggi yang membuatnya datang ke istana dan menyerahkannya pada Yuwen Yue. Yuwen Yue menatap dengan tatapan tanya, apa maksud dari muridnya yang nakal ini.


“Kertas di ruang bacamu jelek. Tidak cocok untuk menulis kaligrafi.”


“Akademi Kerajaan tidak kekurangan uang untuk membeli kertas bagus. Yunxi, ingat bahwa kau masih dalam masa hukuman.”


“Guru, kalau kau tidak mau ya sudah. Biar kujadikan bungkus makanan saja kalau begitu.”


Saat Huang Yunxi hendak meremas kertas-kertas berharga itu, Yuwen Yue seketika menarik tangannya dan merebut kertas-kertas tersebut, melipatnya dan menyimpannya di samping tempatnya duduk. Huang Yunxi menatap malas, beginilah tingkah orang yang mau tapi malu untuk meminta.


“Pemberian Putri Xiyue tidak boleh disia-siakan.”


“Terserah. Guru, kudengar para pejabat ayahku membicarakanku,” ucap Huang Yunxi. Dia memang mendengar kalau para menteri di pengadilan menyinggung namanya saat Yuwen Yue selesai memberikan laporan. Huang Yunxi ingin memastikan kebenarannya dengan bertanya langsung pada Yuwen Yue.


“Ya. Mereka memang menyebut namamu di depan Yang Mulia.”


“Ck… Tikus-tikus kecil itu begitu tidak tahu malu. Apa mereka kekurangan pekerjaan hingga mencari topik untuk dibicarakan?”


“Kau harus belajar dan patuh jika tidak ingin dibicarakan lagi.”


“Guru, apapun yang kulakukan pasti tidak akan luput dari pandangan mereka. Para pejabat sialan itu, aku akan memotong gaji mereka jika aku adalah atasan mereka!”


Huang Yunxi bermulut kotor. Mulutnya akan semakin kotor dipenuhi perkataan kasar ketika dirinya merasa kesal atau marah. Tidak peduli apakah ia mengatakannya di depan orang terhormat atau rakyat jelata, dia akan tetap mengatakannya tanpa beban. Yuwen Yue hanya menghela napas lelah sambil menggelengkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, kereta yang mereka tumpangi oleng. Huang Yunxi yang hampir tertidur seketika terperanjat dan jantungnya berdetak karena terkejut. Yuwen Yue juga sepertinya mengalami hal yang sama. Pria itu kini duduk sambil menahan tubuhnya dengan kedua tangan.


“Tuan Muda, kuda kita terkejut lagi!” seru Tianqi dari luar.


“Guru, ada apa ini?”


“Tuan Muda, di depan ada Nona Su sedang berjalan ke arah kita!”


Mendengar nama Su Jiayu, wajah Yuwen Yue berubah masam. Dia duduk kembali dengan tenang, kemudian memejamkan mata.


“Tidak apa-apa,” ucap Yuwen Yue kepada Tianqi.


Huang Yunxi melotot. Apa pria ini gila? Kuda penarik kereta ini terkejut dan sekarang tidak terkendali, tapi pria itu malah duduk dengan tenang dan berkata tidak apa-apa?


“Tuan Muda, Nona Su semakin dekat!” seru Tianqi dengan nada panik.


“Tabrak saja!”

__ADS_1


Wah, benar-benar pria gila!


Huang Yunxi tidak habis pikir dengan Yuwen Yue. Seharusnya pria itu keluar dan membantu Tianqi mengendalikan kuda, bukan diam seperti tidak terjadi apa-apa. Yuwen Yue sepertinya benar-benar ingin melaksanakan niatnya untuk menabrak Su Jiayu. Tidak. ini tidak bisa dibiarkan. Jika sampai Su Jiayu terluka karena ini, bukan hanya Yuwen Yue saja yang akan mendapat masalah. Dirinya juga akan terkena imbasnya.


Wanita itu kemudian melompat ke depan. Dia merebut tali kendali kuda dari tangan Tianqi lalu menendang pelayan itu keluar. Tianqi tersungkur di tanah, sementara Huang Yunxi kini menjadi kusir. Dia membelokkan arah lari si kuda ke kiri, ke bahu jalan yang kosong. Dalam sekali tarikan, kuda itu akhirnya berhenti dan kereta juga berhenti melaju.


“Guru, kau benar-benar gila!”


“Apa kau baru menyebut dirimu sendiri?”


Yuwen Yue yang tahu perbuatan muridnya ini mau tak mau merasa kesal. Sebenarnya, dia sengaja melakukan itu agar Su Jiayu yang selalu mengejarnya itu mengetahui kalau dirinya tidak ingin diganggu. Ini bukan pertama kalinya kudanya kehilangan kendali dan hampir menabrak orang. Setiap kali terjadi, di sana pasti selalu ada Su Jiayu.


Wanita seperti Su Jiayu benar-benar berbahaya. Dia rela melakukan apa saja untuk menarik perhatiannya. Suatu saat, tidak menutup kemungkinan kalau Su Jiayu akan melibatkan orang lain yang lebih banyak lagi. Entah harus bagaimana lagi Yuwen Yue harus menjelaskan ketidaksukaannya.


Yuwen Yue kemudian keluar dari kereta dan melompat turun, melewati Huang Yunxi yang masih mengatur napasnya. Huang Yunxi tidak menyadari kalau mereka berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang sangat terkenal di ibukota, yang sempat membuatnya dihukum oleh Yuwen Yue beberapa waktu lalu.


Restoran Muyun. Ya, mereka berhenti di seberang Restoran Muyun. Huang Yunxi mengekori gurunya dengan heran tetapi tidak mau bertanya. Saat kaki pria itu menginjak lantai teras Restoran Muyun, sebuah benda kecil terjatuh dari badannya tanpa pria itu sadari.


Huang Yunxi memungut benda itu. Ternyata sebuah buku. Di depannya tertulis “Laporan Penyelidikan: Kasus Bunuh Diri di Akademi Kerajaan”.


Tangannya refleks membuka buku laporan tersebut. Isi laporan itu menarik perhatian Huang Yunxi. Dia bertanya-tanya mengapa ada kasus seperti ini di Akademi Kerajaan.


“Kau tidak boleh sembarangan membaca,” ujar Yuwen Yue sambil merebut buku laporan yang terjatuh dari tangan Huang Yunxi.


“Guru, ternyata ada hal seperti itu ya?”


“Bukan urusanmu. Tianqi, antarkan Huang Yunxi kembali ke Akademi Kerajaan!” perintah Yuwen Yue pada Tianqi yang baru datang.


“Tunggu. Guru, jawab dulu pertanyaanku!”


“Tidak. Yunxi, tugasmu hanya belajar dengan baik.”


Orang-orang mengatakan kalau Restoran Muyun selain tempat makan, lantai paling atasnya sering digunakan sebagai tempat berlangsungnya berbagai transaksi jual beli barang langka. Mereka mengatakan bahwa itu adalah tempat yang paling cocok untuk mencari informasi karena orang-orang di sana adalah orang-orang yang suka bepergian ke berbagai tempat hingga mereka tahu kejadian atau pemberitaan yang sedang terjadi atau pernah mereka dengar.


“Baiklah-baiklah. Guru, aku lapar. Bolehkah aku ikut bersamamu?”


“Hanya makan. Tidak boleh melakukan apapun.”


Sepasang guru dan murid itu memesan sebuah ruangan khusus di lantai dua. Yuwen Yue yang tidak suka kebisingan itu memilih tempat yang bagus dan tenang. Menu yang dipesannya juga lumayan mahal.


“Guru, hari ini aku saja yang membayarnya!” seru Huang Yunxi.


“Tidak. Mana ada guru yang dibayari makan oleh muridnya,” tolak Yuwen Yue.


“Ada.”


“Tidak.”


“Guru, aku baru mendapat uang dari istana. Jika tidak digunakan, aku khawatir uangnya akan membusuk.”


“Bodoh. Mana ada hal seperti itu. Sudah berapa lama kau belajar di Akademi Kerajaan? Mengapa semakin hari bukannya semakin pintar, malah semakin bodoh?”


“Guru, aku bersungguh-sungguh. Lihat, sangat banyak kan?” tanya Huang Yunxi sambil membuka buntelan kain yang tadi dia bawa.


Yuwen Yue mendesah pasrah. Baiklah, kali ini dia akan membiarkan gadis nakal itu mentraktirnya. Yuwen Yue tahu betul niat Huang Yunxi yang sengaja mengalihkan pembicaraan agar dia tetap membawanya masuk ke Restoran Muyun. Baik, gadis ini sekarang cukup pintar juga.


Makanan yang mereka pisan akhirnya datang. Huang Yunxi dan Yuwen Yue bersantap dalam diam. Di luar, Tianqi berjada di depan pintu. Beberapa saat kemudian, pelayan laki-laki itu berseru,


“Tuan Muda, Tuan Muda Ketiga sudah datang!”


“Suruh dia masuk!”

__ADS_1


Seorang pria berpakaian biru tua kemudian masuk. Di tangan kirinya terdapat sebuah pedang yang tersarung dengan rapi. Jika diperhatikan, usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan Yuwen Yue. Hanya saja, wajahnya sedikit lebih lonjong dan sedikit lebih kusam daripada Yuwen Yue.


Tuan Muda Ketiga? Ah, ternyata pria yang baru datang ini adalah Yuwen Rong, petugas Paviliun Yindai. Sudah Huang Yunxi duga, Yuwen Yue ini datang bukan hanya untuk makan, tetapi sekalian mendiskusikan kasus dengan Yuwen Rong.


“Duduklah.”


Yuwen Rong duduk di kursi samping Yuwen Yue.


“Bagaimana?” tanya Yuwen Yue kemudian. Yuwen Rong hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia melirik Huang Yunxi hingga membuat gadis itu menjeda suapan makanannya.


“Tidak apa. Katakan saja.”


“Ah, baiklah. Begini, berdasarkan hasil pemeriksaan petugas autopsi, ternyata ada serbuk racun yang tertinggal di mulut mayat itu.”


“Serbuk racun? Racun apa?”


“Kami belum bisa memastikannya. Tuan Muda Pertama, apa kau punya ide?”


“Entahlah. Pusat Medis Akademi Kerajaan baru terbakar dan belum selesai diperbaiki, aku tidak bisa memastikan cara apa yang bisa kita gunakan untuk mendeteksi racun itu,” ujar Yuwen Yue sambil melirik Huang Yunxi.


Ups, tersangka utama pembakaran Pusat Medis Akademi Kerajaan ada di sini!


“Akademi Tian akan datang beberapa minggu lagi, tapi kita bahkan belum bisa memecahkan kasus ini. Jika sampai orang-orang Akademi Tian tahu, citra Akademi Kerajaan kita pasti akan buruk.”


“Guru, Akademi Tian akan berkunjung?”


“Ya.”


“Mengapa kau tidak memberitahuku?”


“Aku baru melaporkannya pada Yang Mulia tadi pagi.”


Huang Yunxi juga tahu tentang Akademi Tian. Yuwen Yue benar, jika sampai orang-orang Akademi Tian tahu kalau ada kasus bunuh diri di Akademi Kerajaan yang belum terungkap kebenarannya, citra Akademi Kerajaan pasti akan buruk dan Kekaisaran Dong Hua pasti akan tercoreng namanya!


Otaknya beputar memikirkan ide. Jalan yang palin tepat saat ini adalah menemukan jenis dan asal-usul racun yang tertinggal di jasad si pelaku bunuh diri. Dia tahu Yuwen Yue dan Paviliun Yindai tidak akan dapat menggunakan Pusat Medis Akademi Kerajaan untuk mendeteksi racunnnya.


Tring. Bak sebuah lampu penerang, sebuah ide terlintas di pikiran Huang Yunxi. Sebelum sistem pergi, dia pernah mengatakan kalau Huang Yunxi bisa mendapatkan apapun yang ia butuhkan hanya dengan memikirkannya saja. Mungkin, Huang Yunxi bisa mencobanya sekarang.


“Guru, aku punya cara!”


Yuwen Yue dan Yuwen Rong seketika mengalihkan perhatian mereka pada Huang Yunxi.


“Aku punya alat yang bisa digunakan untuk mendeteksi racunnya!”


“Benarkah?” tanya Yuwen Yue tak percaya. Begitu pula dengan Yuwen Rong.


“Sungguh. Guru, beri aku waktu sebentar!”


Huang Yunxi kemudian berbalik, bangkit lalu berjalan menjauhi dua orang bermarga Yuwen. Huang Yunxi bersembunyi di balik tirai ruangan, kemudian memejamkan matanya. Otaknya memikirkan satu set alat pendeteksi racun yang bisa bekerja dengan cepat.


Bak kantong ajaib, set alat pendeteksi racun itu tiba-tiba muncul di depan Huang Yunxi. Satu set tabung reaksi, pipet tetes, gelas kimia lengkap dengan set peralatan lab lainnya langsung ada di tangannya. Gadis itu kemudian kembali ke meja tempat Yuwen Yue dan Yuwen Rong berada.


“Benda apa itu?” tanya Yuwen Yue ketika Huang Yunxi meletakkan peralatan yang didapatnya secara ajaib.


“Benar. Nona, benda aneh apa itu?”


“Ini adalah alat untuk mengidentifikasi racun. Guru, kita harus segera memeriksanya!”


Meskipun belum percaya karena benda yang dibawa Huang Yunxi sangat aneh, Yuwen Yue dan Yuwen Rong mencoba meyakinkan diri mereka. Peralatan gadis ini mungkin bisa dicoba. Setelah menyelesaikan sesi makan, Yuwen Yue, Huang Yunxi dan Yuwen Rong kemudian meninggalkan Restoran Muyun. Ketiganya bergegas pergi ke Paviliun Yindai untuk mencoba mengidentifikasi racun dengan alat yang dibawa Huang Yunxi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2