
“Apa kau…menyukaiku?”
Napas Yuwen Yue tercekat ketika dia mengatakan hal tersebut.
Namun, orang yang dia tanya justru hampir sesak napas karena tidak menyangka kalau pria di sampingnya akan berkata demikian. Waktu seperti berhenti namun detak jantung mereka justru malah berpacu kencang. Hujan salju yang turun seperti berhenti jatuh, butirannya mengambang di udara. Angin yang semula bersemilir entah hilang ke mana.
Huang Yunxi menatap mata Yuwen Yue dalam-dalam. Apa ini? Apa perasaan yang menggebu-gebu ini? Mengapa jantungnya malah berdetak kencang, bahkan lebih kencang dibandingkan saat dia bertanding games di babak final? Mengapa waktu terasa berhenti berputar?
“Huang Yunxi, apa kau menyukaiku?” Yuwen Yue mengulang pertanyaannya.
Huang Yunxi masih terpana. Wajah cantiknya tersapu butiran salju yang lembut nan dingin. Butuh waktu beberapa menit untuknya agar dia bisa mencerna semua pertanyaan Yuwen Yue dan mencari jawabannya. Di musim dingin yang pertama ini, apakah dia telah mendapatkan sebuah pengakuan cinta?
“Tidak.”
Ada raut kecewa ketika gadis itu menjawabnya dengan singkat. Mengapa ada rasa sakit yang menyusup? Jelas-jelas Yuwen Yue sudah mempersiapkan diri. Nyatanya, penolakan tetap terasa sakit seberapa keras pun dia menahannya. Dua kali bertanya, satu jawaban yang singkat membuat seluruh hatinya seperti porak poranda.
“Mengapa?”
“Apa rasa suka memerlukan alasan?”
“Bukan, maksudku, mengapa kau mau menikah denganku jika kau tidak menyukaiku?”
Huang Yunxi tahu kalau penolakan yang dia utarakan akan membuat pria di sampingnya bertanya kembali. Dia sendiri tidak tahu mengapa jawabannya seperti itu. Huang Yunxi berkata di bawah kendali nalurinya sebagai seorang wanita. Hatinya tidak ingin berkata ‘tidak’, namun otaknya malah bertindak sebaliknya.
“Kalau begitu, Guru, aku akan bertanya padamu. Apa kau menyukaiku?”
Yuwen Yue tampak berpikir sejenak.
“Ya.”
“Apa yang kau sukai dariku?”
__ADS_1
“Entahlah.”
“Kau mengakui perasaanmu tetapi tidak punya alasan mengapa rasa itu tumbuh di hatimu.”
“Lalu apa kau pernah menyukai seseorang?”
Huang Yunxi menggelengkan kepala.
“Kalau Guru mau mengajariku seperti apa rasanya menyukai seseorang, memberitahuku apa itu rasa suka, mungkin aku bisa tahu apakah aku menyukaimu atau tidak. Aku juga ingin bertanya mengapa pria yang biasanya dingin melebihi es sepertimu malah menyukai wanita sepertiku. Padahal, di sini banyak sekali gadis berbakat yang lebih cantik dan lebih elegan dariku. Mereka lebih bermoral dan lebih bermartabat.”
Yuwen Yue mengubah posisi duduknya. Dia memegang pundak Huang Yunxi, menghadapkan tubuhnya ke depan hingga keduanya duduk berhadapan. Tatapan matanya yang dalam menusuk hati Huang Yunxi, membuat jantungnya berdegup lebih kencang daripada beberapa detik yang lalu.
Tangan pria itu memegang dagu Huang Yunxi yang lancip, kemudian bergerak ke atas. Ibu jarinya mengusap lembut bibir bawah Huang Yunxi yang merah muda seperti delima. Dengan sedikit tenaga, dia mendongakkan kepala Huang Yunxi hingga kini mata mereka saling bertemu satu sama lain. Pancaran sinar dari dua pasang mata itu merasuk ke dalam sanubari masing-masing, menyiarkan sebuah perasaan yang begitu menggelora.
Huang Yunxi memejamkan matanya ketika bibir tipis Yuwen Yue menyentuh bibir tipis miliknya. Udara begitu dingin, namun kehangatan yang dibawa dari pertemuan itu menjalar ke dalam hati, mengalahkan hujan salju yang tidak berhenti turun sejak tadi. Seperti terkena sengatan listrik, seluruh tubuh Huang Yunxi dan Yuwen Yue memiliki getaran satu sama lain. Bulu-bulu halus yang tumbuh di tangan, kaki dan pundak keduanya bahkan terkejut hingga berdiri.
Bukan hanya Huang Yunxi, mata Yuwen Yue juga ikut terpejam. Pria itu seperti sedang berenang di lautan, mencari sesuatu yang sangat berharga yang belum pernah ditemukan orang lain. Bibirnya mengatup pada bibir Huang Yunxi, pasif namun memberikan sensasi yang sangat luar biasa.
“Apa kau benar-benar ingin belajar?” tanya Yuwen Yue lembut.
Huang Yunxi menyentuh bibirnya dengan jari. Perasaannya begitu campur aduk. Dia berada dalam keadaan setengah sadar. Saat Yuwen Yue menciumnya, tubuhnya terasa melayang di udara, terbang bersama hembusan angin dan kepakan sayap burung di musim dingin. Huang Yunxi balik menatap Yuwen Yue, berusaha mencari celah dan mencari tahu apakah pria itu sungguh-sungguh atau hanya berbohong.
“Sungguh?” tanya Yuwen Yue lagi.
“Manis,” ucap Huang Yunxi pelan.
“Apa yang kau bicarakan?”
Tangan Huang Yunxi meraih kepala belakang Yuwen Yue, membuat wajah mereka yang dekat hampir menempel. Gadis itu sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Dia mencium bibir Yuwen Yue, memberikan tekanan padanya hingga rasa hangat yang sempat hilang beberapa saat yang lalu kembali lagi.
Mata sepasang manusia itu kembali terpejam. Sensasi yang terasa jauh lebih luar biasa dibandingkan sebelumnya. Mereka saling membalas dan saling mencari satu sama lain. Salju masih turun. Udara masih dingin seperti biasa. Di tengah saling berpagutnya mereka, Yuwen Yue merapatkan jubahnya ke tubuh Huang Yunxi, menghalau hawa dingin agar jangan terlalu menusuk kulit gadis itu.
__ADS_1
***
Istana Dong Hua, musim salju yang sama.
Kaisar Huang Yun Yi menatap nanar pada sesosok mayat yang beberapa menit lalu baru saja diturunkan dari seutas tali yang menjerat lehernya. Bekas jeratan tersebut memanjang hingga ke bawah telinga, menandakan bahwa sosok tersebut benar-benar melakukan semua itu atas kehendaknya sendiri.
Tidak jauh dari sosok itu, beberapa penjaga istana berdiri sambil mencoba menginvestigasi. Satu orang pelayan wanita tampak sedang menangis tersedu-sedu di samping sosok mayat tersebut, menangisi kepergian sang sosok yang telah dia layani selama hampir separuh hidupnya.
Pakaiannya yang indah, wajahnya yang cantik, rambutnya yang hitam dan panjang kini sudah tidak memiliki aura lagi. Hanya tersisa wajah tanpa darah dengan bibir pucat yang terkatup. Kaisar Huang Yun Yi menghela napas sekali sebelum benar-benar menyatakan kalau sosok tersebut telah meninggal.
Selir Di, selir gila itu telah mati menggantung dirinya sendiri menggunakan seutas tali dari kain penutup ranjang. Dia ditemukan telah meregang nyawa oleh pelayannya beberapa saat yang lalu. Barang-barang yang ada di dalam istananya semuanya porak poranda, seperti sengaja dihancurkan sebelum pemiliknya bertemu raja neraka.
Pelayan itu langsung berteriak memanggil penjaga sambil menangis. Beritanya kemudian sampai ke telinga Kaisar Huang Yun Yi dan dia datang tidak lama setelah itu. Benar saja, Selir Agungnya ditemukan tergantung di dekat pilar marmer. Kaisar sempat terkejut, namun berusaha tenang agar para bawahannya tidak panik.
“Yang Mulia, kematiannya sekitar dua jam yang lalu,” ungkap petugas investigasi.
“Apa benar-benar bunuh diri?”
“Benar, Yang Mulia. Di tubuhnya sama sekali tidak ditemukan jejak kekerasan atau pemaksaan.”
Kaisar Huang Yun Yi kembali menghela napas. Sebelumnya, dia sengaja mengurung Selir Di karena tidak ingin wanita itu diejek dan dihina selir lain. Dia tahu kalau Selir Di punya musuh di sana-sini akibat perbuatannya sendiri. Tidak disangka, kegilaannya justru telah membuatnya punya keberanian untuk mengakhiri hidup dengan cara seperti ini.
Kini, sudah tidak ada lagi wanita cerdas yang tinggal di sisinya. Sepeninggal Ratu Pertama, Kaisar Huang Yun Yi hanya bisa ditemani oleh Selir Di. Selir-selir lain hanya sekadar menjadi pelayan tidurnya saja. Alasan mengapa dia tidak mengangkatnya menjadi ratu dan permaisuri baru karena Kaisar Huang Yun Yi memang tidak berniat melakukannya.
“Yang Mulia, apa perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut?” tanya petugas investigasi.
Kaisar Huang Yun Yi menggelengkan kepala.
“Pukulkan gendang, umumkan bahwa Selir Agung telah mangkat.”
Usai mengatakan titah, Kaisar Huang Yun Yi kemudian pergi.
__ADS_1