
Huang Yunxi bersenandung ria sembari menikmati semilir angin yang berhembus pelan. Dari atas pohon persik yang sedang berbuah banyak, dia menatap pemandangan orang-orang di bawahnya dengan santai. Tangannya menggigit sebuah apel merah segar yang ia ambil dari dapur Akademi Kerajaan beberapa saat lalu. Kebetulan, jam istirahat masih Panjang. Dia punya cukup waktu luang untuk menenangkan diri.
Usai menjadi ilmuwan dadakan dan mengidentifikasi racun beberapa hari lalu, dia belum pernah berjumpa lagi dengan Yuwen Yue. Para guru di Akademi Kerajaan bilang kalau Wakil Penasihat mereka sedang menyusun laporan penyelidikan kasus bunuh diri di Akademi Kerajaan dan hari ini akan diserahkan kepada Kaisar. Pantas saja pria itu tak kelihatan batang hidungna.
Huang Yunxi baru mengetahui kalau kasus bunuh diri yang sedang ditangani Yuwen Yue dan Paviliun Yindai terjadi dua minggu lalu. Pantas saja Huang Yunxi tidak tahu karena saat kejadian itu terjadi, dia belum datang kemari. Orang-orang di Akademi Kerajaan juga tidak boleh membahas kejadian itu dan menutup mulut mereka rapat-rapat hingga hanya sedikit orang yang mengetahui kejadiannya. Pihak Akademi dan pengadilan istana juga melarang keras pembahasan terkait kasus ini karena akan diselidiki secara khusus.
Huang Yunxi bersusah payah mendapatkan informasi dengan bertanya kepada puluhan orang pelajar Akademi Kerajaan dan pegawainya. Dia bahkan harus mengeluarkan banyak uang agar orang yang dia tanyai mau membuka mulut.
Katanya, korban bunuh dirinya adalah seorang pria berumur dua puluh tahun. Dia adalah pelajar Akademi Kerajaan yang gagal lulus Ujian Kekaisaran dua kali dan selalu mengulang pelajarannya setiap tahun. Pria itu adalah putra selir seorang komandan prajurit penjaga keamanan istana yang terkenal karena reputasi buruknya. Dia dituntut menjadi hebat dan dipaksa masuk Akademi Kerajaan dengan ancaman tidak akan diakui sebagai anak oleh kedua orang tuanya.
Berdasarkan informasi tersebut, Huang Yunxi dapat menyimpulkan kalau si korban sangat tertekan. Dia tidak pernah menemui kedamaian selama hidupnya. Pria itu mungkin selalu hidup dalam bayang-bayang kedua orang tuanya dan didoktrin harus menjadi hebat meskipun tidak sesuai dengan keinginan hatinya. Diancam tidak diakui dan gagal ujian dua kali mungkin telah menyesatkan pikirannya. Syaraf di otaknya pasti putus hingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan bunuh diri.
Tidak dipungkiri jika Huang Yunxi mengasihani si korban. Dia tahu, banyak orang tua yang menjerumuskan anaknya sendiri ke jurang penderitaan dengan alasan kejayaan dan keluarga. Mereka selalu menuntut agar anak mereka memiliki pencapaian yang luar biasa tanpa tahu konsekuensi dari perbuatan mereka. Kebanyakan dari mereka tidak pernah bertanya keinginan sang anak dan hanya memaksakan kehendak mereka, hingga tanpa sadar mereka telah menyakiti anak-anak mereka dengan begitu dalam.
“Orang brengsek memang,” umpat Huang Yunxi ketika perasaannya menjadi kesal saat memikirkan si korban dan keluarganya.
“Mereka menjual anaknya sendiri demi kepentingan keluarga. Tidak berguna!”
Di dunia nyata, Huang Yunxi adalah manusia bebas yang mengatur hidupnya sendiri. Kedua orang tuanya memang sangat memanjakannya saat kecil dan selalu membuat Huang Yunxi kesal dengan tuntutan ini itu dan dipaksa melakukan ini itu. Tapi, sedikitpun dia tidak pernah mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidup karena tertekan. Huang Yunxi memilih berdamai dan menunggu waktu yang tepat baginya untuk keluar dari sangkar emasnya.
Maka, pada usianya yang ke lima belas tahun, dia meminta pisah rumah dengan orang tuanya dan tinggal di apartemen seorang diri. Orang tuanya tidak bisa menolak karena mereka tahu kalau putri tomboinya ingin bebas.
Meskipun pisah rumah dengan orang tua, Huang Yunxi tidak pernah kesusahan. Setiap bulan, orang tuanya selalu memberinya uang jajan yang bahkan tidak mampu dia habiskan semuanya. Selain itu, Huang Yunxi juga mendapatkan uang tambahan yang lebih dari setiap games yang dia mainkan dan dari pertandingan-pertandingan yang ia menangkan. Dia menyukai games sejak berumur tujuh tahun dan memenangkan medali kemenangan pertamanya pada usia sepuluh tahun. Bakatnya ini membuat kedua orang tuanya khawatir. Penampilan dan perilakunya seperti anak laki-laki, hingga Huang Yunxi disuruh mengikuti les ini itu agar dia tetap menjadi seorang anak perempuan.
“Yunxi, cepat turun!”
Sebuah suara kemudian membuyarkan seluruh lamunan Huang Yunxi. Dia melihat ke bawah. Di sana, Fang Jiuming dan Fang Jianming sudah berdiri bersilang lengan di dada sambil memandang ke atas, ke arah dirinya.
“Apa?”
“Guru Yue menyuruh kita berkumpul di aula depan,” ucap Fang Jianming kemudian.
“Manusia es itu sudah kembali?”
Huang Yunxi kemudian meloncat turun dari pohon persik. Si Kembar Fang membantunya merapikan seragam, kemudian pergi bersama-sama menuju aula depan yang letaknya di sebelah ruang baca para guru Akademi Kerajaan. Beberapa murid lain juga pergi dengan terburu-buru. Mungkin mereka juga tidak ingin melewatkan sesuatu yang membuat mereka harus berkumpul.
Huang Yunxi dan Si Kembar Fang menyelinap di antara kerumunan orang. Tubuh ketiganya tidak terlalu tinggi, jadi jika mereka berdiri di belakang, mereka hanya akan melihat pundak atau punggung orang yang ada di depannya. Beberapa pelajar yang tersenggol sempat protes namun tak berkepanjangan.
__ADS_1
Yuwen Yue berdiri paling depan menghadap para pelajar Akademi Kerajaan diiringi para guru Akademi Kerajaan. Tangannya memegang sebuah kipas biru muda polos dengan liontin giok di ujungnya. Yuwen Yue mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan, memastikan kalau semua orang sudah berkumpul di sini.
“Pencari perhatian. Mengumpulkan banyak orang di sini tapi tak kunjung bicara,” gumam Huang Yunxi. Namun, gumamannya masih dapat didengar Si Kembar Fang yang berdiri di samping kiri dan kanannya.
“Yunxi, mulutmu kasar sekali,” ujar Fang Jiuming.
“Mungkin Wakil Kepala sedang menghitung.”
“Apa dia sesenggang itu?”
Huang Yunxi berdecih. Melihat wajah Yuwen Yue, dia tiba-tiba menjadi kesal. Setelah penelitian beberapa hari lalu, pria itu tak datang padanya untuk mengucapkan terima kasih dan memberinya imbalan. Meskipun Huang Yunxi bukan orang yang perhitungan, tetapi mengucapkan terima kasih kepadanya bukankah sederhana dan gratis? Lagipula, juga tidak membuang banyak tenaga. Dia merasa sedikit menyesal sudah membantu Yuwen Yue.
“Dengarkan aku!” seru Yuwen Yue tak lama kemudian. Suasana yang awalnya dipenuhi dengan bisik-bisik menjadi senyap dalam seketika. Semua perhatian terpusat pada Yuwen Yue.
“Akademi Tian akan datang satu minggu lagi. Akademi Kerajaan kita perlu menyiapkan beberapa hal untuk menyambut mereka.”
Beberapa pelajar Akademi Kerajaan, khususnya mereka yang sudah lama berada di tempat ini perlahan mulai ribut. Kali ini, mereka meributkan persoalan tentang kedatangan Akademi Tian yang menjadi musuh bebuyutan Akademi Kerajaan kemari. Mereka selalu merasa kalau akademi tersebut selalu datang tanpa niat yang baik. Terakhir kali mereka datang berkunjung, Akademi Kerajaan dibuat malu dengan kekalahan dan diejek serta nama baiknya tercoreng selama satu tahun, sampai membuat Kaisar marah dan memecat kepala Akademi Kerajaan sebelumnya.
“Guru, mengapa pembawa masalah itu ingin datang?” tanya salah seorang pelajar.
“Entahlah. Tetapi yang pasti, Kaisar sudah menerima permohonan kunjungan mereka,” jawab Yuwen Yue.
“Untuk kunjungan kali ini, kita akan menjamu mereka dengan pertandingan. Berkuda sambil memanah, tarian pedang, aritmatika dan catur akan kita gunakan sebagai lomba. Siapa di antara kalian yang akan berkontribusi?”
Semua yang hadir di sana kembali ribut. Berkuda sambil memanah? Mungkin Lan Zi dari kelas teratas bisa mengambilnya. Tarian pedang? Ah, ada Shi Heng dari kelas dua yang sangat mahir. Aritmatika? Biarkan Fang Jianming saja yang berkontribusi. Tetapi, catur? Siapa yang akan mengambilnya? Xu Ming, si ahli catur kebanggaan Akademi Kerajaan sedang pergi bersama Doktor Lin ke daerah perbatasan dan baru kembali musim semi depan.
Haruskah Akademi Kerajaan absen dalam pertandingan catur tahun ini?
Tidak, tidak bisa. Jika Akademi Kerajaan absen, maka Akademi Tian akan semakin besar kepala. Pamor Akademi Kerajaan akan kembali turun jika salah satu pertandingan yang mereka suguhkan justru tidak ada yang mewakilinya. Tapi, siapakah yang pantas mengambil peran tersebut sekarang ini?
“Haruskah kita menunggu Kakak Xu Ming pulang?”
“Tidak. Akademi Kerajaan mungkin sudah kehilangan harga dirinya saat itu tiba.”
“Lalu siapa yang pantas? Kau mau berkontribusi?”
“Tidak, aku tidak bisa bermain catur.”
__ADS_1
Huang Yunxi yang sedari tadi diam hanya menghela napas. Apa yang mereka ributkan? Catur? Hanya bermain catur bukan? Apa susahnya! Mereka tidak perlu membuat keributan di sana-sini dan membuat harinya menjadi buruk.
“Lan Zi akan mewakili kita dalam berkuda sambil memanah. Shi Heng menjadi peserta tarian pedang. Aritmatika akan diwakili oleh Fang Jianming. Kita hanya perlu seorang lagi untuk catur. Huang Yunxi, bagaimana menurutmu?”
Huang Yunxi yang baru saja hendak meninggalkan kerumunan jadi menghentikan langkahnya. Huang Yunxi membalikkan badannya, menatap Yuwen Yue dengan dahi berkerut. Apa maksud pria ini?
“Guru, kau bertanya padaku?”
“Lalu apa ada Huang Yunxi yang lain?”
“Aku tidak tahu. Kalian pikir saja sendiri.”
“Kalau begitu, biar Huang Yunxi saja yang menjadi peserta dalam pertandingan catur.”
Gadis itu membelalakkan matanya lebar-lebar. Apa-apaan ini! Huang Yunxi sama sekali tidak ingin berkontribusi apapun dalam pertandingan ini. Dia tidak ingin ikut campur dalam konflik Akademi Kerajaan dan Akademi Tian. Dia ingin hidup damai saja. Bagaimana bisa dia yang terpilih dalam pertandingan catur?
“Tidak. Aku tidak bisa catur.”
“Yunxi, bagaimana jika kau menerimanya saja?” bisik Fang Jiuming setelah Huang Yunxi meneriakkan keberatan dirinya.
“Katakan saja kalau kau belum puas melihatku berbuat kekacauan!” tegas Huang Yunxi. Sahabatnya ini, bukannya membantu malah semakin menjerumuskannya.
“Kalau begitu, sudah diputuskan. Semua peserta akan diberikan izin berupa waktu khusus untuk berlatih. Kalian boleh kembali ke kelas masing-masing.”
“Dasar pria tidak tahu malu! Sialan! Sembarangan memutuskan!”
Umpatan itu keluar begitu saja dari mulut Huang Yunxi. Sebagai seorang siswi pertama Akademi Kerajaan, bagaimana bisa dia diperlakukan seperti ini? Ini adalah diskriminasi terhadap perempuan! Yuwen Yue seharusnya tidak boleh memutuskan seperti itu tanpa persetujuannya! Benar-benar menyebalkan sekali!
Melihat wajah masam Huang Yunxi yang menahan kekesalan lalu beranjak pergi dengan menghentakkan kaki, Yuwen Yue menyinggungkan sedikit senyum tipis di bibirnya yang manis. Yuwen Yue sengaja menunjuknya untuk menjadi delegasi Akademi Kerajaan dalam permainan catur agar dia bisa melihat sekaligus menguji sebenarnya sudah sejauh mana kemampuan Huang Yunxi. Dia juga ingin melihat kejutan apa lagi yang akan disuguhkan oleh gadis liar itu.
Beberapa waktu lalu saat dia melaporkan hasil penyelidikan kasus bunuh diri di Akademi Kerajaan, Kaisar Huang Yun Yi merasa senang karena akhirnya kasus tersebut menemui titik terang setelah sekian lama. Yuwen Yue kemudian memberitahukan bahwa Putri Xiyue alias Huang Yunxi-lah yang telah berhasil mengidentifikasi racun dan membuat kasus ini sedikit lebih terang.
Betapa terkejutnya Kaisar Huang Yun Yi ketika ia mendengar kabar tersebut. Dia sama sekali tidak percaya, karena selama ini putri tunggalnya itu sangat bodoh dan suka berbuat onar di sana-sini. Tapi, Yuwen Yue juga tidak mungkin berbohong kepadanya. Jika Yuwen Yue sudah berkata, maka berarti benar. Kaisar Huang Yun Yi merasa tersentuh, akhirnya putrinya yang nakal ini berharga juga.
Itulah sebabnya hari ini, Yuwen Yue menunjuk Huang Yunxi. Dia mempertaruhkan nama baik Akademi Kerajaan hanya untuk menguji satu-satunya putri Kaisar itu.
...***...
__ADS_1
...Halo, pembaca kesayangan Author! Maaf ya baru bisa up setelah lebih dari lima hari:( Author baru bisa nyempetin waktu buat nulis lagi huhuhu... Oke, selamat menikmati cerita Yunxi & Yue! Sampai jumpa di episode berikutnya! ...