
Suara teriakan wanita menggema di pagi buta. Teriakan itu berasal dari Istana Liuli, istana Sang Putri Xiyue alias istana milik Huang Yunxi. Kemudian, teriakan itu terhenti tatkala si peneriak membungkam mulutnya sendiri. Para pelayan yang bertugas belum bangun, hingga teriakan tersebut hanya berlalu seperti angin.
Huang Yunxi menggeser posisi tubuhnya hingga ke sisi. Jantungnya berdegup kencang seperti gendang yang ditabuh bertalu-talu. Dia baru saja membuka mata, tetapi pemandangan di depannya seratus persen membuatnya terkejut. Di sampingnya, berbaring seorang pria bertubuh kekar dengan mata terpejam dan napas pelan nan tenang. Wajah pria itu tampak begitu damai.
Teriakan itu hanya bentuk reaksi refleks dari keterkejutannya. Saat dia ingin berteriak lagi, dia langsung membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Huang Yunxi sadar, teriakannya yang kedua kali akan menarik perhatian para pelayan dan menimbulkan masalah besar. Untung saja pria yang berbaring di sampingnya tidak terpengaruh sama sekali.
“Mengapa dia di sini?”
0Pria yang berbaring di sampingnya adalah Yuwen Yue, Si Wajah Kayu yang menyebalkan. Huang Yunxi tidak tahu mengapa dia dan Yuwen Yue bisa berakhir di sini. Kemarin, selepas penganugrahan hadiah dari Kaisar, perjamuan dilanjutkan dengan acara berbincang-bincang bersama. Sebagian pelajar Akademi Kerajaan diperbolehkan pulang.
Huang Yunxi tidak bisa pulang karena Huang Yunji, adiknya itu menahannya di istana dengan alasan rindu.
Gadis itu memijat keningnya, mencoba mengingat apa yang terjadi setelah Huang Yunji menahannya.
Bayangan-bayangan ingatan kegiatan kemarin mulai berkelebat satu persatu. Dia ingat, saat itu Huang Yunji membawanya ke depan Kaisar dan memberinya hadiah sebuah kotak kayu yang isinya entah apa. Huang Yunji kemudian membawanya duduk di samping tempat duduk khusus putra mahkota dan meminum teh bersama.
Tetapi, tidak lama setelah itu kepalanya mulai terasa sakit. Huang Yunxi tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Dia mulai kepanasan, padahal cuaca mulai dingin. Istana Guangli menjadi seperti padang pasir. Tapi, itu hanya dirasakan olehnya saja. Huang Yunxi tak bicara pada adiknya karena dia tidak ingin merusak suasana dan membuat adiknya khawatir.
Huang Yunxi ingat, setelah rasa sakit di kepala dan panas di tubuhnya semakin parah, seseorang datang padanya. Orang itu meminta izin untuk membawanya pergi. Setelah itu, dia tidak ingat apa-apa lagi. Dia sendiri tidak tahu kalau dirinya dibawa ke sini, ke Istana Liuli, istananya sendiri.
“Bukankah hanya meminum teh? Mengapa kepalaku sampai sakit dan badanku sampai panas seperti terbakar?”
Huang Yunxi berdialog dengan dirinya sendiri. Benar, dia hanya meminum teh, tidak meminum arak karena di dunia nyata, orang tuanya melarang keras dan dia juga membatasi diri. Mengapa efeknya sampai separah itu? Tidak mungkin seseorang menaruh sesuatu pada teh yang dikonsumsi oleh Putra Mahkota. Jika ada, maka nyali orang itu sungguh besar.
Setelah menerka-nerka apa yang terjadi, Huang Yunxi memperhatikan seluruh pakaiannya. Keadaan tidak sadar seperti kemarin malam bisa saja dimanfaatkan oleh seseorang untuk menjebaknya dan menjatuhkan martabatnya. Apalagi, di sampingnya ada Yuwen Yue, yang tertidur begitu pulas seperti telah melakukan kegiatan yang melelahkan. Dia tidak tahu apa ada sesuatu yang terjadi antara mereka berdua saat malam kemarin.
“Apa aku masih perawan?”
Tunggu, mengapa dia berpikiran sempit? Pakaiannya masih lengkap, masih sama dengan pakaian yang ia gunakan saat berangkat dari Akademi Kerajaan. Pakaian Yuwen Yue juga masih lengkap. Jika terjadi sesuatu, tidak mungkin keduanya masih mengenakan pakaian itu. Ranjang yang mereka tempati juga masih rapi, bahkan selimutnya pun masih terlipat. Tandanya, tidak terjadi apa-apa pada hari kemarin.
“Huh, mengagetkanku saja. Brengsek, sudah seperti ini dia masih tertidur pulas?”
Huang Yunxi turun dari ranjang dengan perlahan. Dia kemudian berjalan mengendap-endap ke ruang ganti, mengambil pakaian istana miliknya dan masuk ke bilik mandi. Setelah berganti pakaian, dia keluar lewat pintu samping, berjalan-jalan sebentar untuk menenangkan diri. Atau lebih tepatnya, melarikan diri.
Matahari baru saja terbit. Angin berhembus. Suasana masih tenang di pagi hari. Para pelayan baru akan bekerja saat jam diperkirakan pukul enam pagi. Jika dihitung, sekarang mungkin baru pukul setengah enam pagi. Masih ada waktu sebelum para pelayan bangun dan meriuhkan suasana.
Dia duduk di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga indah. Plum, peony, krisan dan bunga-bunga lain baru saja bermekaran. Wanginya semerbak. Di ujung daun-daunnya masih bergelayut embun-embun. Huang Yunxi memejamkan matanya, menikmati sensasi sejuk pagi hari yang damai. Baru dia sadari, suasana di istananya begitu nyaman dan tenteram.
Entah berapa lama dia memejamkan mata. Huang Yunxi baru tersadar kembali ketika matahari sudah mulai naik dan cahayanya mulai menghangat. Dia terbangun karena suara seorang pelayan wanita membangunkannya. Sanqi, pelayan pribadi yang dia tinggalkan di sini berdiri dengan tatapan penuh tanya.
“Putri, kenapa kau tidur di sini?”
__ADS_1
“Aku sedang bersantai.”
“Bersantai? Di pagi buta seperti ini? Putri, kenapa kau tidak masuk? Jika kau masuk angin, Yang Mulia dan Putra Mahkota pasti akan khawatir,” ucapnya dengan nada sedih.
“Tidak akan.”
“Tidak, kau harus masuk. Ayo, aku antarkan!”
Huang Yunxi membatu di tempatnya. Dia tidak ingin pergi. Jika pergi, maka semuanya akan terbongkar. Pelayannya ini cerewet, dia pasti akan diberendel banyak pertanyaan jika tahu ada seorang pria berstatus Wakil Penasihat Akademi Kerajaan bernama Yuwen Yue sedang tidur di ranjangnya.
Seorang pria tidur di kamar seorang wanita, apalagi statusnya begitu tinggi dan dikenal banyak orang, juga berkedudukan tinggi di pemerintahan dan silsilah kerajaan, bukankah hanya akan menimbulkan masalah? Di sini tidak ada CCTV yang bisa membuktikan kalau tidak terjadi apa-apa. Apa yang dilihat, maka itulah yang akan menjadi kenyataan.
“Sanqi, aku mau jalan-jalan. Kudengar, bunga di taman Mingyan sedang bermekaran.”
“Jalan-jalan? Taman Mingyan? Bukankah itu taman istana Yang Mulia Kaisar?”
“Benar. Sekalian memberi salam pada ayah.”
Huang Yunxi tidak memberikan kesempatan pada Sanqi untuk bertanya. Dia menarik tangan pelayannya, menjauh dari Istana Liuli yang menurutnya menyeramkan jika ingat ada Yuwen Yue di dalamnya. Setiap gerbang, setiap penjaga, setiap taman dan setiap istana yang dia lewati masih sepi. Pemiliknya mungkin masih berada di dalam mimpi.
Setelah beberapa lama, pasangan majikan-pelayan tiba di depan gerbang Istana Mingyan. Para penjaga di sana menunduk memberi hormat begitu Huang Yunxi lewat. Istana Mingyan yang besar dan megah juga masih sepi. Begini juga bagus. Huang Yunxi tidak akan menarik banyak perhatian jika orang-orang belum bangun.
“Jika bukan karena Yuwen Yue tidur di istanaku, mana mungkin aku mengungsi seperti ini,” gumam Huang Yunxi.
“Putri, kau mengatakan sesuatu?”
“Ah tidak. Aku hanya teringat kalau dulu ibuku begitu menyukai bunga.”
Sebenarnya, Huang Yunxi alergi bunga sejak kecil. Dia selalu bersin setiap kali berdekatan dengan bunga. Ditambah lagi dengan penampilan dan perilakunya yang seperti laki-laki, membuat gadis itu semakin menjauhkan diri dari bunga. Jangankan memelihara, melihatnya saja dia sudah tidak enak badan. Akan tetapi, kondisinya berbeda dengan di dunia ini. Meskipun dia tidak menyukai bunga, tetapi karakter dan tubuh yang dia perankan tidak sama dengan tubuh aslinya. Alergi tidak berlaku hingga Huang Yunxi tidak akan bersin.
“Kakak!”
Huang Yunxi menoleh. Di gerbang masuk Istana Mingyan, sosok Huang Yunji muncul. Pria kecil itu berlari menuju Huang Yunxi. Dia baru saja hendak pergi ke Istana Liuli, tapi penjaga berkata bahwa Putri Xiyue ada di Istana Mingyan. Jadi, Huang Yunji membelokkan arah ke Istana Mingyan.
“Yunji? Kenapa kau kemari?”
“Aku rindu kakak.”
“Ckck… Bocah kecil, jangan suka berbohong.”
“Hehehe. Sebenarnya, aku mau minta maaf padamu.”
__ADS_1
“Untuk apa?”
“Teh yang kita minum sebenarnya bukan teh asli. Itu adalah teh yang dicampur dengan ramuan hasil fermentasi anggur. Yang kakak minum adalah itu.”
“Maksudmu, kau memberiku segelas arak secara tidak langsung?”
Tatapan Huang Yunxi yang semula cerah berubah gelap. Wanita itu menatap adiknya dengan tajam dan wajahnya sangat tidak bersahabat. Pantas saja semalam kepalanya langsung sakit dan badannya jadi panas. Teh itu bukan teh sejati, melainkan arak yang diracik. Tubuh Huang Yunxi anti alkohol, sangat tidak heran jika reaksinya seperti semalam.
“Karena itulah aku mau minta maaf padamu.”
“Kenapa kau tidak bilang dari awal?”
“Aku juga baru tahu dari pelayan yang mengantarkannya.”
“Yunji, apa kau tahu seperti apa seekor singa yang mengamuk karena merasa ditipu?”
“Ka…Kakak, aku sungguh tidak bermaksud menipumu.”
Huang Yunji berjalan mundur, menjauh dari kakaknya yang sangat tidak bersahabat ini. Gawat, sepertinya dia sudah membuat singa betina yang liar ini marah. Hari masih pagi, tapi dia sudah berani menyinggung seorang wanita yang bahkan ayah kandungnya saja tidak bisa mengendalikannya. Daripada diterkam sampai habis, lebih baik dia kabur selagi sempat.
Sayang sekali, Huang Yunxi sudah tahu dari awal. Tanpa menunggu matahari lebih naik, dua kakak beradik itu sudah saling mengejar di taman Istana Mingyan. Yang satu seperti anak anjing yang kehilangan ibu, yang satu lagi seperti kuda liar yang mengamuk ketika lahannya direbut yang lain. Saudara kandung yang seayah seibu tersebut terus berlari mengelilingi taman Istana Mingyan tanpa memperhatikan para pelayan dan para petugas yang melihat dan membicarakan aksi mereka.
“Huang Yunji, kemari kau! Kupatahkan kakimu dan kusentil kepalamu!”
“Tidak. Kakak, kau ternyata lebih buas daripada seekor singa!”
“Aku adalah kuda liar! Huang Yunji, berhenti kau!”
“Kakak, kalau kau terus mengejarku, aku bisa terjatuh. Kalau aku terjatuh, aku akan terluka. Kalau aku terluka, aku tidak bisa bekerja. Kalau aku tidak bekerja, ayahanda akan marah. Kalau ayahanda marah, aku tidak bisa menjadi putra mahkota lagi. Kalau aku tidak jadi putra mahkota, aku akan jadi pangeran biasa. Kalau aku jadi pangeran biasa, aku akan menyusahkan negara!”
“Cerewet! Huang Yunji, berhenti kamu! Gara-gara kau, aku hampir kehilangan martabat dan nyawaku!”
“Tidak! Ayahanda, tolong! Kakak mau menganiaya adiknya sendiri!”
Huang Yunji berlari ke arah pintu utama Istana Mingyan. Dia hendak meminta perlindungan dari Kaisar Huang Yun Yi. Sayang, kakinya terantuk tangga hingga dia terjatuh dalam posisi telungkup, tepat di depan pintu gerbang. Huang Yunji hendak bangun, namun tiba-tiba tubuhnya tertimpa tubuh lain. Rupanya, Huang Yunxi tidak sabaran dan terburu-buru hingga dia tidak bisa menghentikan laju larinya dan berakhir terjatuh juga.
Tepat saat itu juga, pintu Istana Mingyan terbuka lebar. Sosok Kaisar Huang Yun Yi berdiri dalam balutan busana pengadilan yang khas dan jubahnya panjang. Pria setengah baya tersebut mengernyitkan dahi sambil menatap dua orang manusia yang sedang tertelungkup di lantai istananya.
“Yunxi? Yunji?”
...***...
__ADS_1