The Imperial College

The Imperial College
Eps. 8: Bertemu Saudara


__ADS_3

Istana Kekaisaran Dinasti Hu, pagi hari.


Di atas kursi kebesarannya, Kaisar Huang Yun Yi duduk dengan tegap menghadap para abdinya. Aula pengadilan kerajaan tampak tenang, tidak ada suara bising dari para pejabat atau suara lain. Kaisar baru saja memasuki ruangan, hingga semua pejabat menunduk dan mengheningkan cipta. Mereka baru bangkit ketika kasim pribadi Kaisar berteriak.


Seperti biasa, rapat pengadilan istana dimulai dengan laporan dari para pejabat. Mereka satu persatu maju ke depan, melaporkan pekerjaan mereka dan menyampaikan kendala serta saran dengan suara lantang seperti memakai toa. Kaisar Huang Yun Yi sesekali memijit keningnya sendiri, pusing dengan semua masalah yang terjadi.


“Wakil Penasihat, bagaimana dengan Akademi Kerajaan?”


Kini, giliran laporan dari Akademi Kerajaan. Yuwen Yue sebagai Wakil Penasihat kemudian maju, menunduk sesaat lalu bangkit lagi. Kepala Penasihat Akademi Kerajaan sedang ada urusan di luar kota, hingga pelaporan ke istana dilakukan oleh Wakil Penasihat Yue. Ah, memang seringnya seperti itu. Yuwen Yue-lah yang sebenarnya selalu menjadi orang yang melaporkan segala sesuatu di Akademi Kerajaan kepada Kaisar Huang Yun Yi.


“Yang Mulia, semuanya berjalan baik. Ujian Kerajaan akan dimulai pada akhir awal musim gugur dan dilaksanakan dalam waktu tiga hari. Beberapa waktu lalu, Akademi Kerajaan menerima surat dari Akademi Tian yang berisi pemberitahuan kalau mereka akan datang bertandang ke Akademi Kerajaan dalam waktu tiga minggu.”


“Apa yang mereka inginkan?”


“Hamba tidak tahu. Tetapi, berdasarkan pengamatanku, mereka sepertinya hendak menjalin hubungan baik dengan Akademi Kerajaan kita.”


Akademi Tian adalah sekolah tinggi kekaisaran dari wilayah lain. Letaknya jauh berada di luar wilayah kekaisaran Dinasti Hu. Bisa dibilang kalau mereka berasal dari “luar negeri”. Dulu, saat Huang Yun Yi belum menjadi Kaisar, Akademi Tian selalu datang membuat keributan dan meremehkan Akademi Kerajaan. Mereka selalu menganggap diri mereka tinggi dan lebih baik dari Akademi Kerajaan. Kaisar Huang Yun Yi kemudian naik takhta dan Akademi Kerajaan mengalami perubahan pembaruan di segala aspek.


“Pertimbangkan saja.”


“Baik, Yang Mulia.”


“Tunggu, Tuan Wakil Penasihat. Bagaimana dengan Putri Xiyue?” tanya Perdana Menteri, Tang Linxuan.


Yuwen Yue mengerutkan kening. Ini adalah aula pengadilan kerajaan, aula suci tempat urusan negara. Untuk apa menanyakan Putri Xiyue?


“Apa maksud Tuan Perdana Menteri?” Yuwen Yue balik bertanya.


“Bukankah Putri Xiyue juga ada di Akademi Kerajaan? Kudengar, kemari dia bertengkar dengan Nona Su dari kediaman Menteri Perang Su Xuan dan pergi ke Restoran Muyun tanpa izin.”


Yuwen Yue bukan orang bodoh. Dia tahu betul kalau Perdana Menteri Tang Linxuan ini ingin sekali menyudutkannya dengan mengorek-orek masalah Putri Xiyue atau Huang Yunxi. Sejak dia menjabat sebagai Wakil Penasihat Akademi Kerajaan, Perdana Menteri Tang ini berkali-kali membuatnya tersudut. Untung saja Kaisar selalu membantunya dan dia juga pandai melepaskan diri.


Dengar-dengar, Perdana Menteri Tang ini iri pada ayah Yuwen Yue. Karena itulah dia ingin membalas dendam dengan menjatuhkan putranya berkali-kali, namun selalu gagal karena ternyata Yuwen Yue lebih pintar darinya. Dia juga orang kepercayaan Kaisar.


Yuwen Yue menatap Kaisar sejenak. Kaisar Huang Yun Yi juga sepertinya risih dengan pertanyaan dari Perdana Menteri. Masalah Putri Xiyue adalah masalah pribadi, tidak layak dibahas di dalam rapat pengadilan seperti ini. Jika terus dibahas, itu sama saja dengan menghina dan menganggap rendah keluarga kerajaan.


“Kita di sini sedang membahas urusan negara, bukan membahas kehidupan putriku. Perdana Menteri, apa penjelasanku tidak cukup membantu?”


Perdana Menteri Tang Linxuan langsung berlutut ketika Kaisar Huang Yun Yi bersuara. Jika Kaisar sudah berbicara, maka semuanya sudah berakhir. Dia menunduk memohon ampun, meminta maaf karena telah menyinggung Kaisar dengan mengungkit masalah putri tunggalnya. Perdana Menteri sepertinya lupa kalau Putri Xiyue alias Huang Yunxi tetaplah seorang putri, keluarga kerajaan yang harus dihormati.


Maka, ketika rapat pengadilan kerajaan sudah selesai dan semua menteri sudah pulang, Kaisar Huang Yun Yi meminta Yuwen Yue untuk pergi bersamanya ke Istana Yuan, istana pribadi Kaisar untuk membicarakan perkembangan Huang Yunxi, putrinya yang nakal itu.


Sementara itu, di sudut istana yang lain, Huang Yunji sang Putra Mahkota alias adik dari Huang Yunxi sedang bergembira karena kakaknya kembali ke istana. Pagi-pagi sekali, Huang Yunxi menyelinap keluar dari Akademi Kerajaan dan masuk ke istana tanpa diketahui siapapun. Dia ingin mengambil kertas berkualitas tinggi yang hanya ada di istana. Sayang, dia tersesat dan malah masuk ke dalam istana adiknya.


“Kakak, aku sangat merindukanmu,” ucap Huang Yunji sambil terus menempel pada Huang Yunxi.


Huang Yunxi awalnya bersikap waspada, tetapi melihat wajah Huang Yunji yang sama dengan pria yang saat itu membantunya melepaskan diri, sikapnya jadi biasa saja. Pria kecil yang saat itu melepaskan ikatan kain di tangannya dan Si Kembar Fang rupanya adalah adiknya sendiri. Pantas saja dia merasakan suatu ikatan tak biasa pada pria kecil itu.


“Yunji, di mana letak istanaku?” tanya Huang Yunxi kemudian.


“Kakak, apa kau terlalu betah di Akademi Kerajaan hingga kau lupa letak istanamu sendiri?”


“Itu tidak bisa dipastikan. Aku datang untuk mengambil sesuatu.”

__ADS_1


“Apa yang kau butuhkan? Kakak, katakan saja padauk. Aku pasti akan mencarikannya untukmu.”


“Aku mau mengambil kertasku. Bisakah kau antarkan aku ke istanaku?”


“Tentu. Ayo, kuantar kau.”


Huang Yunji kemudian keluar dari istananya. Para penjaganya menunduk memberi hormat tanpa melihat Huang Yunxi. Huang Yunxi mengedarkan seluruh pandangannya ke setiap sudut istana. Dia berdecak kagum. Desain interior dan eksterior istana ini sangat indah dan megah. Bukan hanya tiang-tiang marmernya saja, tetapi kayu-kayu dan lantainya juga sangat bagus.


Marmer-marmer itu tampak berkilau terkena cahaya matahari. Huang Yunxi baru ingat kalau sekarang masih musim panas, pantas saja hari begitu cerah. Dia mengekori adiknya sambil terus menatap ke sana kemari. Huang Yunxi dan Huang Yunji melewati sebuah gerbang megah dengan tiga empat penjaga, kemudian berbelok ke arah timur. Sisi kiri dan kanan jalan yang mereka lewati dipenuhi dengan bunga dan lampu taman dalam berbagai ukuran.


Setelah berjalan cukup jauh, Huang Yunxi melewati sebuah gerbang yang lebih mewah dari gerbang istana adiknya. Beberapa penjaga yang lebih gagah juga berjaga di sana dan mata mereka menyala seperti api. Tanpa sadar, Huang Yunxi berjalan masuk ke dalam sana, melewati para penjaga yang menunduk memberi hormat.


Huang Yunji yang berjalan di depan merasa aneh karena suara langkah kaki kakaknya tidak terdengar lagi. Dia kemudian berbalik. Betapa terkejutnya dia ketika tahu kalau kakaknya sudah tidak ada di belakangnya lagi. Huang Yunji mulai panik, dia takut kakaknya berjalan ke sembarang arah dan sampai ke tempat yang tidak seharusnya. Sang Putra Mahkota Kekaisaran Dinasti Hu itu kemudian bergegas mencari sebelum sesuatu yang buruk terjadi.


Lain halnya dengan Huang Yunxi. Setelah tahu dirinya terpisah dari adiknya dan malah masuk ke istana yang lebih megah dan besar, dia justru semakin penasaran. Disusurinya setiap sudut istana itu dengan kakinya sambil tak henti-hentinya memuji. Istana yang ini lebih luar biasa daripada istana adiknya. Si pemilik istana ini pastilah orang penting.


“Bagaimana keadaan putriku?”


“Yang Mulia, putrimu baik-baik saja.”


Huang Yunxi tak sengaja mendengar dua buah suara yang sangat familiar. Karena penasaran, dia kemudian berjalan mendekat ke arah pintu masuk istana yang sangat tinggi dan besar. Matanya mengintip sosok dua orang berjubah yang sedang berhadapan lewat celah pintu. Satu pria memakai pakaian bersulam sutera emas dan bermahkota, satu lagi berjubah merah maroon yang terbuat dari satin berkualitas tinggi.


“Apa yang dikatakan Perdana Menteri adalah benar?” tanya orang berjubah emas.


“Tidak, Yang Mulia. Putrimu tidak membuat keributan. Dia hanya datang untuk makan dan merasa terganggu karena ulah Nona Su Jiayu.”


Karena suara kedua orang di dalam sana tidak terlalu keras, Huang Yunxi kesulitan mendengar kalimat selanjutnya. Dia semakin merapatkan dirinya ke pintu. Kali ini, dia menempelkan telinganya ke daun pintu, kemudian memfokuskan perhatiannya untuk menangkap suara dari dalam sana.


“Yang Mulia, bersikap sedikit keras pada putri sendiri bukanlah kesalahan. Aku tahu kalau putrimu memiliki temperamen yang tidak biasa. Yang Mulia bisa mengerti dari sifatnya.”


“Apa akhir-akhir ini dia berbuat onar lagi?”


“Tidak, Yang Mulia. Aku justru menemukan sesuatu yang berbeda dari dirinya yang belum pernah kuketahui.”


“Apa itu?”


“Yang Mulia, putrimu bisa berkuda dan memanah. Dia juga bisa menulis kaligrafi. Bahkan, hasil tulisannya sangat berbeda dan tidak biasa.”


Huang Yunxi bertanya-tanya, apakah kedua orang itu sedang membicarakan dirinya? Jika benar, maka orang berjubah merah maroon pastilah Yuwen Yue. Hanya orang itulah yang mengetahui kalau dirinya pergi ke Restoran Muyun dan bisa membuat kaligrafi. Lalu, orang berjubah emas pastilah Kaisar Huang Yun Yi, ayahnya sendiri.


Huang Yunxi tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Tubuhnya kehilangan kendali, dan…


Bruk…


Pintu istana terbuka lebar dan Huang Yunxi terdorong ke depan. Dia terjatuh dalam keadaan tengkurap. Gadis itu menengadahkan kepala dan mendapati Yuwen Yue dan Kaisar sedang menatapnya dengan dahi berkerut.


“Yunxi?”


“Putri?”


Huang Yunxi buru-buru bangkit. Dia memperlihatkan gigi-giginya yang putih sambil tersenyum canggung. Celaka, dia ketahuan menguping pembicaraan ayah dan gurunya. Malu, Huang Yunxi malu semalu-malunya.


“Ayah, Guru,” ucap Huang Yunxi ragu-ragu.

__ADS_1


“Mengapa kau ada di sini?” tanya Yuwen Yue.


“Sejak kapan kau kembali ke istana?” tanya Kaisar Huang Yun Yi.


Dua orang ini, bisakah bertanya satu-satu?


“Kakak!”


Huang Yunxi menolehkan kepalanya ketika suara Huang Yunji muncul dari belakang. Adiknya itu berlari memasuki istana Kaisar, lalu memberi hormat pada Yuwen Yue dan ayahnya. Dia kemudian berdiri di samping Huang Yunxi sambil memegang tangannya.


“Yunji, apa yang terjadi?” tanya Kaisar Huang Yun Yi pada putranya.


“Ah, aku dan kakak sedang dalam perjalanan ke Istana Liuli. Sepertinya kakak tersesat dan sampai kemari, harap ayahanda memakluminya,” jawab Huang Yunji dengan sopan.


Kaisar Huang Yun Yi menghela napas. Putri tunggalnya ternyata tetap ceroboh seperti dulu. Waktu itu, ketika Huang Yunji melepaskannya, Kaisar Huang Yun Yi tidak mempermasalahkannya. Dia juga belum memperhitungkan perkara saat Huang Yunxi membakar pusat medis karena putrinya itu malah kembali ke Akademi Kerajaan tanpa sepengetahuannya.


“Yunxi, apa kau menguping pembicaraanku dengan gurumu?” tanya Kaisar lagi.


“Tidak, ayah. Aku hanya kebetulan lewat dan terpeleset,” jawab Huang Yunxi.


Kaisar tampak ragu. Sementara itu, Yuwen Yue malah terdiam sambil menahan tawa.


“Baiklah. Kali ini aku mempercayaimu. Yunxi, jika kau tidak ingin menikah, maka belajarlah dengan baik di Akademi Kerajaan.”


Hati Huang Yunxi sedikit bergetar. Ayahnya ini ternyata masih menaruh perhatian padanya, bahkan memintanya bersikap baik di Akademi Kerajaan. Dia tahu kalau Kaisar Huang Yun Yi masih marah karena dirinya melarikan diri dan berbuat kekacauan. Tapi, satu hal yang pasti, Kaisar Huang Yun Yi masih menyayanginya, bahkan berusaha melindunginya dengan tidak mengungkit masalah pemalsuan dekret.


“Nasihat ayah, akan selalu kuingat. Kalau begitu, aku pergi dulu.”


“Pergilah.”


Huang Yunxi dan Huang Yunji kemudian meninggalkan istana Kaisar. Syukurlah, kali ini dia berhasil selamat. Sambil terus berjalan, dia bertanya pada adiknya,


“Yunji, mengapa ayah sangat baik hari ini? Bukankah dia selalu ingin mempersulitku?”


“Kakak, ayahanda selalu menyayangimu. Dia mungkin tidak mengatakannya. Tapi, aku tahu betul kalau dia sedang melindungimu dengan caranya sendiri.”


“Mungkin benar apa katamu. Sudahlah, ayo, antarkan aku ke istanaku!”


“Ayo! Eh, sebentar. Kakak, apa Wakil Penasihat selalu menyusahkanmu?”


“Maksudmu Yuwen Yue?”


“Ya, Tuan Muda Yue. Apa dia selalu menyusahkanmu?”


Huang Yunxi tampak berpikir sejenak. Yuwen Yue memang selalu mencari masalah dengannya, tapi Huang Yunxi selalu bisa membalasnya kembali. Bisa dibilang, itu adalah pertandingan yang seimbang.


“Kurasa tidak selalu. Yuwen Yue ini meskipun menyebalkan, tapi aku selalu bisa membalasnya.”


“Kakak, jika Wakil Penasihat mempersulitmu, kau katakan saja padauk. Aku pasti akan selalu berada di pihakmu!”


Memiliki adik yang selalu berada di pihaknya, mau tak mau membuat Huang Yunxi sedikit tergerak. Di dunia fantasi ini, dia justru didampingi orang-orang berkuasa. Setidaknya, dia tidak akan mati kelaparan di jalan jika suatu saat uangnya habis. Tidak, uangnya tidak akan pernah habis.


...***...

__ADS_1


__ADS_2