
Upacara pemakaman Selir Di dilangsungkan dua hari setelah kematiannya. Seluruh keluarga kerajaan turut hadir dalam upacara tersebut. Para anggota keluarra Liu datang berpakaian putih, sementara orang yang tidak punya hubungan darah dengan mereka memakai pakain berwarna seperti biasa. Raut wajah keluarga Liu dipenuhi kesedihan yang mendalam. Dari beberapa wajah itu, selain kesedihan, ada pula raut penuh dendam. Ya, Liu Yang, memiliki kedua ekspresi tersebut.
Iring-iringan pengantar peti jenazah Selir Di melewati perkotaan yang ramai. Rakyat biasa menyingkir ke bagian sisi jalan, membentuk sebuah pagar untuk mengantar kepergian sang selir ke tempat peristirahatan terakhirnya. Tidak ada yang ikut sedih karena mereka tidak mengenal Selir Di, hanya pernah sesekali mendengar namanya saja. Reaksi ini menjadi reaksi yang wajar karena tidak semua orang peduli pada urusan keluarga kerajaan.
Setibanya di makam kerajaan, rombongan pengantar jenazah berenti. Kereta-kereta kuda terparkir berjajar, sementara para penumpangnya sudah turun. Mereka berjalan menuju pintu gerbang. Peti mati Selir Di diusung oleh beberapa prajurit kerajaan, dibawa masuk ke dalam kawasan yang menjadi tempat pembaringan mayat darah kekaisaran sejak ratusan tahun lalu.
Doa dan tangisan mengiringi prosesi pemakaman tersebut. Kaisar, para selir lain, juga beberapa pangeran tampak menunduk menyaksikan peti mati tersebut dimasukkan ke dalam sebuah ruangan yang kemudian ditutup untuk selamanya. Sekarang, tubuh Selir Di benar-benar sudah dianggap hilang.
Rombongan keluarga kerajaan kembali ke istana pada saat hari sudah hampir sore. Istana Dalam yang menjadi kediaman Selir Di dipenuhi dengan omongan-omongan yang beragam. Lihat, bahkan setelah mati pun Selir Di tetap menjadi pembicaraan orang. Kebanyakan menyayangkan kematiannya yang terlalu mudah.
Huang Yunxi, Sang Putri Xiyue, tidak ikut serta dalam pemakaman. Dia lebih memilih menetap di Istana Liuli seorang diri. Hatinya masih terasa sakit. Dendamnya yang belum terbalas perlahan menggerogoti hatinya.
Saat pelayan dari Istana Dalam menanyakan kabar dan memberitahu kalau Selir Di akan dimakamkan, Huang Yunxi langsung mengusir pelayan itu keluar dari istananya. Mereka mengharapkan dia hadir di pemakaman orang yang telah membunuh ibu kandungnya? Yang benar saja! Bahkan jika Kaisar sendiri yang datang memohon, dia tetap tidak akan pergi.
Huang Yunxi tertawa hambar. Besok, Liu Yang pasti akan membuat keributan di pengadilan kerajaan. Orang jahat itu sudah pasti akan mulai mencari gara-gara. Perkara kematian Selir Di, adik kesayangannya itu, sudah tentu menjadi objek perdebatan dan topik yang pas untuk menjatuhkan dirinya. Liu Yang tidak berhasil membunuh Huang Yunxi hari itu, jadi dia pasti menggunakan kesempatan ini untuk membunuhnya lagi.
Untung saja, Huang Yunxi sudah mempersiapkan segalanya dengan matang. Dia sudah Menyusun rencana untuk menghadapi Liu Yang, tanpa bantuan siapapun. Ini adalah dendam pribadinya, dia tidak akan melibatkan orang lain. Bahkan, Yuwen Yue saja tidak dia beritahu.
Kemarin saat dia marah, Yuwen Yue diusir segera. Hingga hari ini, pria itu belum datang lagi. Mungkin pria itu sedang sibuk membaca buku di perpustakaan Akademi Kerajaan.
Salju turun di atas langit Dong Hua. Daun-daun bunga segala musim memutih. Butiran es itu terkadang terbang terbawa angin. Huang Yunxi mengeratkan jubahnya. Seperti di Asrama Akademi Kerajaan, di sini dia juga senang melamun di dekat jendela. Memandangi butiran-butiran halus itu turun perlahan, menikmati sensasi yang merasuk ke dalam hatinya.
...***...
Pagi hari ketika matahari masih tertutup awan salju, Yuwen Yue sudah sampai di depan gerbang istana lengkap dengan pakaian dinasnya. Jalan yang dia lewati tertutup salju. Beberapa pegawai istana tampak membersihkannya, menyingkirkan es-es ke samping hingga tanah di sana dapat dipijak kembali.
Di persimpangan, dia berjumpa dengan beberapa pejabat lain yang juga hendak hadir dalam pengadilan istana pagi ini. Udara masih dingin, mungkin akan berlangsung hingga siang hari. Setelah bertegur sapa dan berbincang ringan, Yuwen Yue beserta para pejabat bergegas masuk ke dalam istana.
Mereka berdiri berjajar, membentuk barisan memanjang dari depan ke belakang. Satu kubu berada di sebelah kiri, satu kubu lagi berada di sebelah kanan. Area di antara dua kubu itu dibiarkan kosong sebagai sarana untuk jalan masuk. Jubah panjang mereka sesekali berkelebat ketika angin merangsek masuk lewat pintu depan aula.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Kaisar Huang Yun Yi tiba. Sang Kaisar langsung mendudukkan dirinya di singgasana yang tinggi, menatap satu persatu pejabatnya.
“Salam Yang Mulia. Semoga Yang Mulia panjang umur,” ucap para pejabat secara serentak.
“Bangunlah.”
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Kaisar Huang Yun Yi memandangi setumpuk dokumen yang tersimpan di mejanya. Dokumen-dokumen tersebut perlahan membuatnya sakit kepala. Sepagi ini, dia harus sudah membaca semuanya?
Sang Kaisar mengambil dokumen paling atas. Setelah membaca beberapa saat, raut wajahnya langsung berubah total. Emosinya tiba-tiba naik. Tanpa mempertimbangkan hal lain, dia langsung melemparkan dokumen tersebut ke lantai hingga lembaran itu terbuka. Huruf-huruf kuno berjejer membentuk pola vertikal yang memanjang.
Bagaimana tidak, isi dokumen tersebut adalah laporan tuduhan pembunuhan Selir Di yang ditujukan langsung kepada Putri Xiyue. Dokumen tersebut mengatakan bahwa Putri Xiyue memiliki dendam terhadap Selir Di hingga mencelakainya. Dokumen tersebut berasal dari Kementrian Perhutanan yang bergabung dengan beberapa kementrian lain.
“Apa kalian menuduh putriku seorang pembunuh?” tanya Kaisar dengan marah.
Seorang pejabat, Menteri Personalia keluar dari barisan.
“Konyol!” seru Yuwen Yue.
“Tuan Wakil Penasihat, kau jangan berkata begitu. Bukankah kau tahu kalau hari itu Putri Xiyue tampil memukau? Namun, bukankah setelah malam itu, Selir Di menjadi gila? Kalau bukan Putri Xiyue, lalu siapa yang telah berani membuat Selir Di kehilangan akal?”
“Menteri Personalia, tuduhanmu tidak masuk akal. Apa hubungannya penampilan Putri Xiyue dengan kegilaan Selir Di?”
Beberapa menteri lain ikut keluar dari barisan. Ragam pembicaraan yang menentang dan membela Putri Xiyue datang silih berganti. Mereka berulang kali membicarakan kebaikan, keburukan dan beragam kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Lama kelamaan, situasi tersebut menjadi kacau. Para menteri terus berdebat di depan Kaisar Huang Yun Yi yang statusnya adalah Kaisar, pemimpin mereka semua.
“Yang Mulia, adik hamba mati dengan tidak adil. Dia adalah kebanggaan keluarga Liu yang telah setia kepada Yang Mulia. Jika Yang Mulia tidak bisa memberi kami kejelasan, bagaimana mungkin keluarga Liu dan leluhur kami tenang?”
Yuwen Yue menatap tajam Liu Yang. Ini pasti ide orang jahat itu. Liu Yang memang benar-benar menggunakan kematian Selir Di sebagai kesempatan untuk menjatuhkan Huang Yunxi. Dia sudah berhasil menghimpun kekuatan dari para pendukungnya hingga turut serta dalam membenarkan tuduhan tersebut.
__ADS_1
“Lancang! Kakakku begitu mulia, bagaimana mungkin dia menjadi seorang pembunuh?”
Sang Putra Mahkota, Huang Yunji, tidak terima atas tuduhan yang diarahkan kepada kakaknya. Sebagai seorang adik, dia tentu sangat mengenal baik sifat dan perilaku kakaknya itu. Senakal apapun Huang Yunxi, dia tidak akan membunuh orang. Apalagi, selama ini Huang Yunxi selalu menjauhkan diri dari urusan politik dan menyepi di Akademi Kerajaan. Dia tidak punya kemampuan tersebut.
“Tuan Menteri Perhutanan, mengapa kau berbicara seolah semuanya adalah salah Putri Xiyue? Bukankah sangat jelas kalau Selir Di selalu memusuhinya? Apa Tuan Menteri tidak pernah melihat bagaimana Putri Xiyue sabar menghadapi perangai Selir Di yang selalu mencoba menjatuhkannya?” tanya Yuwen Yue.
“Tuan Wakil Penasihat, kau membela Putri Xiyue karena dia adalah calon istrimu. Tetapi, adikku mati dengan tidak adil. Bagaimana mungkin aku diam saja? Tidak hanya keluarga Liu yang kehilangan, bahkan Yang Mulia juga kehilangan seorang wanita yang telah menemaninya bertahun-tahun!”
“Apa Tuan Menteri punya bukti?”
“Bukti? Tentu saja! Pelayan Selir Di berkata bahwa hari itu, Putri Xiyue datang diam-diam ke Istana Dalam.”
“Dia adalah seorang putri. Dia ingin pergi ke mana, apakah orang berani melarangnya?”
“Benar! Kakakku tidak mungkin membunuh Selir Di! Justru Selir Di sendiri yang bunuh diri. Bukankah semuanya sudah jelas? Dia sudah gila dan meninggal, mengapa masih menyeret kakakku?”
Kaisar Huang Yun Yi memijat kepalanya. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Dia pernah bersumpah akan melindungi putrinya dengan baik. Hari ini, para menteri setianya malah menuduh putrinya dengan kejam, bukankah keterlaluan? Mana yang harus dia pilih?
“Putra Mahkota mungkin tidak tahu. Orang terkadang menyembunyikan wajah aslinya dengan baik. Beberapa hari yang lalu, aku mendapat informasi kalau Putri Xiyue diam-diam membebaskan beberapa orang Mongolia. Bukankah ini sebuah pemberontakan?”
Dari mana Liu Yang mengetahui hal itu? Bukankah Paviliun Yindai bertindak secara sembunyi-sembunyi? Entahlah, tetapi yang pasti perkataan Liu Yang berhasil membuat semua orang di dalam pengadilan istana terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Putri Xiyue akan bertindak sejauh ini.
Yuwen Yue ingin membela, tetapi tangannya ditahan oleh Huang Yunji. Ini adalah masalah serius.
Jika hal itu benar, maka Putri Xiyue alias Huang Yunxi tidak akan bisa mengelak dari hukuman. Biarpun dia tidak terbukti bersalah atas kematian Selir Di, dia akan tetap dihukum karena telah membebaskan musuh kerajaan tanpa memberitahu Kaisar terlebih dahulu. Hukumannya bahkan bisa jauh lebih berat!
“Lalu apakah Tuan Menteri tahu siapa yang telah mempekerjakan mereka?”
Semua orang langsung menoleh ke belakang. Seorang wanita berpakaian mewah nan indah berjalan masuk dengan anggun. Wajahnya sedingin es, keangkuhannya begitu terasa hingga ke tulang dan sendi. Wanita itu memakai mahkota perak di kepalanya, dilengkapi dengan beberapa hiasan yang indah.
__ADS_1
“Aku bertanya, apakah Tuan Menteri tahu siapa yang telah mempekerjakan mereka?”
...***...