
Esok harinya, Huang Yunxi dan Yuwen Yue meninggalkan Istana Liuli secara diam-diam. Keduanya kembali ke Akademi Kerajaan sebentar untuk berganti baju, kemudian naik ke kuda dan pergi ke tempat yang sudah mereka rencanakan saat malam tadi. Sepanjang perjalanan, Huang Yunxi tak henti-hentinya berwajah jenaka karena dia bisa menggoda Yuwen Yue atas kebiasaan tidurnya yang buruk. Yuwen Yue sendiri hanya terdiam dengan wajah merah, sesekali menimpali dan menjitak kening Huang Yunxi ketika godaannya sudah sedikit keterlaluan.
Keduanya singgah sebentar di Restoran Muyun untuk mengisi perut. Menu yang dipesan tidak sebanyak sebelumnya karena di sini mereka datang bukan untuk bersenang-senang. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan di akhir musim gugur ini. Huang Yunxi dan Yuwen Yue harus menangkap si penjahat Liu Yang sebelum musim dingin berakhir. Jika tidak, mereka akan kehilangan kesempatan untuk membongkar si sampah masyarakat itu.
Sambil mengunyah makanan, Huang Yunxi mulai memikirkan strategi yang bagus agar dia dan Yuwen Yue mendapatkan hasil yang baik. Perjalanan ke depan sana pasti tidak akan mudah. Dia ingin menyelidiki lewat bawahan Liu Yang, memang sedikit sulit apalagi jika bawahan tersebut sudah mengikuti Liu Yang selama bertahun-tahun. Membuat mereka membuka mulut lebih sulit daripada membuat mereka tetap hidup.
“Cepat habiskan!” perintah Yuwen Yue. Pria itu sudah selesai menyantap makanannya.
“Hm.”
Huang Yunxi kembali berpikir. Dia ingin segera mendapatkan informasi tanpa harus bekerja keras. Huang Yunxi mengubah haluannya dari bertanya pada bawahan Liu Yang menjadi menyelidiki hal lain yang kemungkinan besar bisa langsung membawa bukti yang nyata. Tapi apa? Entahlah. Huang Yunxi tidak tahu.
Pada suapannya yang terakhir, beberapa orang di belakang mejanya terdengar sedang membicarakan sesuatu yang menarik. Huang Yunxi memasang telinganya baik-baik.
“Aih….” Seseorang menghela napas.
“Mengapa kau menghela napas?” tanya seseorang yang lain.
“Kau tahu? Pembangunan kuil Yuhua di pinggir kota harus diulang. Padahal sudah hampir setengahnya selesai.”
“Apa masalahnya?”
“Kayu yang digunakan untuk pondasi dan tiangnya tidak cukup baik. Mungkin dalam dua tahun kuilnya bisa roboh kalau tetap dipaksakan.”
“Memangnya kayu apa yang digunakan?”
“Kayu pinus. Mudah terbakar. Mudah lapuk. Aku tidak mengerti, mengapa atasanku memilih kayu tersebut.”
“Bukankah seharusnya kayu jati? Pembangunan kuil Yuhua kudengar perintahnya langsung dari Yang Mulia. Pasokan kayu untuk pondasi dan tiang seharusnya menjadi tanggung jawab Menteri Kehutanan kan? Katanya kayu-kayunya ditebang dari hutan yang dia kelola.”
“Entahlah. Tuan Liu Yang bahkan tidak pernah datang langsung. Dia hanya menyuruh bawahannya mengantarkan kayu dengan gerobak tanpa berpesan apapun.”
Pembicaraan orang itu membuat Huang Yunxi menemukan ide. Mungkin, dia bisa langsung menyelidikinya lewat kemungkinan buruk dari apa yang mereka bicarakan. Mereka pasti petugas yang menangani urusan pembangunan kuil di pinggir kota. Mereka mengeluh sedemikian rupa, pasti ada sesuatu yang tidak beres.
Huang Yunxi menggunakan kesempatan ini untuk menggali informasi lebih jauh. Dia berpura-pura menjatuhkan gelas hingga gelas tersebut menggelinding ke dekat meja orang-orang itu. Sambil meminta maaf, dia mengambil gelasnya. Agar tidak membuat mereka curiga kalau Huang Yunxi sedang menguping, dia segera kembali ke mejanya. Hasilnya, Huang Yunxi mendapatkan informasi kalau hutan yang ditebang kayunya untuk pembangunan kuil berasal dari hutan di sebelah utara kota.
Yuwen Yue hanya mengerutkan kening melihat calon istrinya bertingkah aneh di dekat orang-orang itu. Hatinya berkata kalau gadis itu pasti sedang melakukan sesuatu untuk mendapatkan informasi lebih detail. Dia juga mendengar pembicaraan orang-orang itu perihal pembangunan kuil yang terkendala. Yuwen Yue sengaja tetap diam dan membiarkan Huang Yunxi untuk bertindak sendiri demi menghindari kecurigaan.
“Bagaimana?” tanyanya ketika gadis itu kembali ke tempat duduk.
“Hutannya di utara. Guru, kita harus segera ke sana!”
Yuwen Yue mengangguk. Keduanya kemudian turun ke lantai bawah. Setelah selesai membayar tagihan pada kasir restoran, Yuwen Yue dan Huang Yunxi langsung memacu kudanya ke arah utara ibukota. Jalanan ramai terbelah dan orang-orang menyingkir melihat sepasang pria dan wanita berpakaian warna serupa lewat di atas kuda. Mereka yang tidak tahu mungkin mengira kedua orang itu adalah para kesatria yang berkelana.
Setelah melewati jalan kecil yang sepi, Yuwen Yue dan Huang Yunxi sampai di tepi sungai yang airnya sangat jernih. Huang Yunxi turun dari kudanya, kemudian membasuh wajahnya dengan air di sungai tersebut. Hawa dingin nan sejuk langsung masuk ke dalam pori-porinya dan seketika wajahnya terasa meremaja kembali. Yuwen Yue yang melihatnya dari atas kuda hanya tersenyum simpul. Gadis itu sepertinya baru pertama kali keluar ke alam bebas seperti ini.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Setelah melewati jalanan berbatu yang terjal, Huang Yunxi dan Yuwen Yue sampai di sebuah hutan bambu yang daun-daunnya lebat. Angin semilir menepuk pundak mereka yang terbuka, menyesapkan hawa dingin yang khas. Lembut tetapi menenangkan. Seandainya ini waktu yang pas, mereka ingin berlama-lama menikmati suasana sejuk yang menenangkan ini. Hanya saja kali ini mereka datang bukan untuk bertamasya.
Saat Huang Yunxi memejamkan mata sejenak, dia merasakan suatu firasat buruk akan terjadi. Hutan bambu yang tenang itu seperti ilusi palsu. Ketenangan dan semilir angin hanya sebuah tabir yang menyembunyikan sesuatu berbahaya yang sejak tadi mengintai mereka. Indra pendengaran Huang Yunxi menangkap sebuah suara seperti pergerakan seseorang dari arah semak-semak. Dia membuka mata, kemudian melirik Yuwen Yue. Pria itu juga sedang dalam mode waspada. Alisnya yang hitam dan tebal hampir menyatu. Suara itu tidak hanya didengar olehnya, tapi oleh Yuwen Yue juga.
“Yunxi, awas!” teriak Yuwen Yue.
__ADS_1
Sebuah anak panah yang sangat tajam melesat dari semak-semak. Untung saja Huang Yunxi menundukkan kepalanya hingga anak panah tersebut tidak jadi memutuskan lehernya. Beberapa orang berpakaian hitam dan wajahnya ditutupi cadar keluar dari arah semak-semak, dari atas pohon dan dari dalam timbunan dedaunan yang jatuh di tanah. Mereka semua membawa senjata berupa pedang dan panah lengan. Huang Yunxi dan Yuwen Yue langsung dikepung melingkar.
“Inikah adegan pembunuhan dalam drama yang dikatakan teman-temanku?” tanya Huang Yunxi sambil tetap duduk di atas kuda.
“Serang!”
Orang-orang berbaju hitam dan bercadar langsung menyerang Huang Yunxi dan Yuwen Yue. Kuda mereka terkejut hingga membuat para penunggangnya melompat turun. Yuwen Yue membantu Huang Yunxi berdiri karena gadis itu malah terjatuh. Pedang yang tajam langsung mengarah menyasar tubuh dan kepala keduanya.
“Guru, kau bisa berkelahi? Aku tidak bisa bela diri,” ucap Huang Yunxi sambil berusaha menghindari serangan.
Sementara itu, Yuwen Yue sibuk menangkis serangan. Pria tegap itu melawan para penjahat dengan tangan kosong. Jika tahu begini, Yuwen Yue mungkin sudah membawa pedang untuk berjaga-jaga. Sekarang, para penjahat menyerang dengan brutal dan dia masih harus menyelamatkan seorang gadis yang kelak akan menjadi istrinya di masa depan.
Huang Yunxi berlari ke sana kemari hingga membuat para penjahat kebingungan. Serangan mereka berkali-kali gagal. Pedang yang mereka tebaskan hanya membelah angin, tidak mengenai tubuh sasaran mereka. Huang Yunxi begitu lincah. Dia seperti seekor kelinci yang lari ketika dikejar serigala. Ini adalah adegan pembunuhan yang nyata!
Matanya masih memperhatikan Yuwen Yue. Pemuda itu mulai kewalahan karena serangan si penjahat ternyata semakin menjadi. Lengan kanan pria itu sudah tertebas pedang hingga berdarah. Tapi, tidak ada raut kesakitan yang tampak. Mungkin, menyelamatkan diri dengan melawan penjahat-penjahat ini lebih penting daripada menangis kesakitan.
Melihat pertarungan yang tidak adil, Huang Yunxi lambat laun mulai memiliki kemarahan. Penjahat sialan ini mengganggu perjalanannya dan mengganggu calon suaminya. Mereka bahkan tidak melepaskannya meskipun dia sudah terluka. Tidak bisa, tidak bisa dibiarkan. Kalau Yuwen Yue terus bertarung dengan tangan kosong, pria itu bisa mati. Tubuhnya mungkin bisa hancur dicabik-cabik pedang.
“Guru, tangkap!”
Huang Yunxi melemparkan sebuah pedang yang sangat tajam yang baru didapat dari sistem ajaib. Yuwen Yue langsung menerimanya dan menggunakannya untuk menahan serangan. Pria itu menyerang balik para penjahat. Dalam beberapa detik selanjutnya, dua orang penjahat sudah tumbang. Pedang yang diberikan Huang Yunxi sangat ringan dan mudah digunakan tetapi sangat tajam. Pedang itu mudah dikendalikan hingga pergerakan Yuwen Yue menjadi lebih mudah meskipun lengannya terluka.
“Dari mana gadis itu mendapatkan pedang?” tanya salah seorang penjahat. Sepertinya dia adalah pimpinan yang lain.
“Ahahaha, kakak pembunuh, aku hanya gadis lemah dan bodoh. Jangan serang aku ya?”
“Kalau kau bodoh, bagaimana mungkin menyembunyikan pedang dan memberikannya pada kekasihmu?”
“Banyak bicara! Bunuh dia!”
Huang Yunxi kembali berlari menjauh. Dia melemparkan semua yang ada di tanah untuk menghalangi mereka. Otaknya tidak dapat bekerja dengan baik di saat panik begini. Padahal, dia bisa meminta sesuatu dari sistem hanya dengan membayangkannya, seperti yang dia lakukan ketika dia menginginkan sebuah pedang untuk Yuwen Yue. Huang Yunxi terus berlari dan berlari.
“Hei jangan kejar aku! Aku tidak bisa berkelahi!”
Melihat calon istrinya dikejar, Yuwen Yue tidak tinggal diam. Dia berlari untuk menyelamatkannya sambil terus menahan serangan dan menumbangkan lawan. Satu detik saja dia terlambat, kepala gadis itu mungkin sudah putus. Yuwen Yue menyerang para penjahat yang mengejar Huang Yunxi dengan membabi buta. Dia melukai seluruh bagian tubuh para penjahat hingga mereka semua tumbang ke tanah.
Yuwen Yue menangkap pergelangan tangan Huang Yunxi dan menempatkan tubuh gadis itu di belakang tubuhnya. Para penjahat sudah tumbang. Namun, penjahat yang lain justru datang dari udara dan jumlahnya lebih banyak. Mereka semua langsung menyerang Yuwen Yue. Huang Yunxi kembali berteriak karena dia kesal penjahatnya tidak habis-habis. Ini benar-benar dunia games yang menyebalkan!
Sekantung serbuk berwarna putih jatuh di tangan kanan Huang Yunxi. Di tangan kirinya, ada serbuk lain berwarna merah. Selagi Yuwen Yue menahan serangan, dia mencampurkan kedua serbuk itu hingga menjadi satu. Saat tiba waktu yang tepat, Huang Yunxi menaburkan serbuk campuran ke wajah para penjahat hingga mereka memejamkan mata. Para penjahat itu berhenti menyerang dan berteriak-teriak karena mata mereka terasa pedih dan panas. Yuwen Yue mengernyitkan dahi lalu melirik Huang Yunxi. Saat itulah, gadis itu menyalakan sebuah kembang api ke udara sebagai sinyal untuk meminta bantuan.
Dia menarik Yuwen Yue menjauh dari kerumunan penjahat.
Keduanya berjalan menyusuri hutan bambu dan semak belukar, melewati sungai hingga keduanya sampai di sebuah gua yang diapit dua tebing curam. Keduanya masuk untuk beristirahat. Jaraknya cukup jauh dari lokasi penyergapan, kemungkinan mereka tidak akan dapat mengejar sampai kemari.
Di dalam gua, Huang Yunxi mulai mengobati luka Yuwen Yue. Gadis itu mendapatkan sekotak P3K berisi betadine, kapas, alkohol, antibiotik dan kain kasa. Luka di lengan Yuwen Yue sudah dibalut dan bersih. Setelah mengobati luka, Huang Yunxi kemudian menyalakan api dengan membakar baju luarnya.
“Dari mana kau mendapatkan pedang ini?” tanya Yuwen Yue.
“Dari langit.”
Yuwen Yue berdecak. Gadis itu masih bisa bercanda di saat genting seperti ini.
__ADS_1
“Kotak aneh apa ini?” tanyanya lagi sambil mengangkat kotak P3K.
“Kotak ajaib.”
Yuwen Yue berdecak lagi. Dia menggeser posisi tubuhnya ke dekat api. Cuaca mulai dingin karena tanpa sadar, hari sudah beranjak sore. Perkelahian tadi ternyata memakan waktu yang cukup lama. Untung saja mereka bisa meloloskan diri dan menghindari pembunuhan. Jika beruntung, beberapa waktu lagi bantuan mungkin datang.
Huang Yunxi menggosok kedua telapak tangannya. Dia benar-benar masih terkejut akibat kejadian tadi. Dia bukan takut, hanya saja ini adalah momen pertama kalinya ia menyaksikan perkelahian langsung yang mengincar nyawa. Beruntung dia punya sistem ajaib hingga isa membantu Yuwen Yue melarikan diri.
“Kau baik-baik saja?” tanya Yuwen Yue lembut.
“Ya. Aku baik-baik saja.”
“Maaf.”
“Untuk apa?”
“Aku tidak bisa melindungimu dengan baik. Aku terlalu ceroboh hingga lupa mempersiapkan diri saat terjadi bahaya.”
Huang Yunxi tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa. Rencananya mendadak berubah, wajar jika kau tidak bersiap. Bagaimana lukamu?”
“Sudah membaik.”
“Guru, aku heran mengapa mereka bisa tahu kalau kita mengubah rencana.”
“Kau beranggapan kalau para pembunuh itu utusan Liu Yang?”
“Kalau bukan dia, siapa lagi? Si brengsek itu mungkin sudah mengirim mata-mata dan mengikuti kita sepanjang hari.”
Keduanya larut dalam keheningan. Rasa kesal dan marah di dalam hati Huang Yunxi masih menyala sedikit. Dia bukan hanya marah karena diserang tiba-tiba, tetapi juga marah karena bisa-bisanya mereka melukai Yuwen Yue. Pria itu adalah peliharaannya, siapapun yang melukainya tidak boleh hidup bahagia. Orang itu harus meminta izinnya dulu jika ingin menyentuh kulit atau sehelai rambut Yuwen Yue, yang pastinya tidak akan dia izinkan karena hanya dia yang boleh melakukannya.
“Yunxi,”
“Hm?”
“Kau benar-benar baik-baik saja?”
“Ya. Aku memang baik-baik saja.”
“Yunxi,”
“Apa lagi?”
“Bubuk apa yang kau taburkan ke wajah mereka?”
“Bubuk terigu dan bubuk cabai.”
Yuwen Yue kembali dibuat terkejut oleh pernyataan gadis itu.
...***...
__ADS_1