The Imperial College

The Imperial College
Eps. 37: Menginginkan Akhir


__ADS_3

Puluhan pasang mata menatap tidak percaya pada seorang wanita yang sedang berjalan di hadapan mereka. Warna kain itu, mahkota itu, hiasan itu, serta perangai itu, entah mengapa membuat semua yang ada di sana kian terpesona. Kening mereka berkerut, menatap tak percaya pada wanita itu.


Mereka seperti melihat sosok Ratu Pertama sedang berjalan di dalam aula. Auranya begitu kental dan familiar. Kecantikannya sama dengan kecantikan mendiang Ratu Pertama saat pertama kali dilantik di aula pengadilan, disaksikan ratusan pasang mata. Kini, setelah belasan tahun, mereka menemukan suasana yang familiar itu sekali lagi.


Huang Yunxi berjalan ke depan ayahnya. Wajah dinginnya lebih dingin dari salju yang turun sepanjang musim. Wajah yang biasanya ceria dan usil kini tidak terlihat lagi. Matanya yang cerah kini hanya menyisakan binar penuh dendam yang membuat semua orang ketakutan. Selain itu, pakaiannya juga begitu indah.


Dia memakai busana seorang Putri Agung!


“Putri Xiyue, mengapa Anda datang ke sini?” tanya salah seorang menteri.


“Aku datang untuk menemani kalian bermain.”


“Ah? Bukankah ini tidak pantas? Yang Mulia, lihat, Putri Xiyue melanggar aturan! Aula suci ini bukan tempat bermain-main!”


Menteri itu langsung menciut nyalinya ketika ditatap tajam oleh Huang Yunxi. Tatapan itu persis seperti tatapan mendiang Ratu Pertama ketika marah. Apa ini? Mengapa Putri Xiyue memiliki aura seperti ini?


“Yunxi, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Yuwen Yue.


Awalnya dia mengira gadis itu akan tetap mengurung diri di Istana Liuli. Sejak beberapa hari lalu, dia tidak menemuinya karena dia ingin memberikan waktu yang tenang pada Huang Yunxi. Tidak disangka, hari ini gadis itu malah datang ke aula pengadilan, tepat saat dirinya dituduh membunuh Selir Di.


“Aku datang untuk membersihkan tuduhan yang terlontar kepadaku. Ah, Tuan Menteri, tadi kau bilang apa? Aula suci? Lalu apakah orang-orang di sini semuanya suci?”


“Yunxi, apa yang ingin kau bicarakan?” kali ini, Kaisar Huang Yun Yi bersuara.


“Sudah kubilang aku datang untuk membersihkan tuduhan. Ayah, mereka menuduhku sesuka hati. Aku tidak terima pencemaran nama baik!”


“Kenapa? Apa Putri Xiyue merasa bersalah?” tanya Liu Yang.


Orang jahat ini benar-benar menyebalkan! Memangnya Huang Yunxi tidak tahu siapa yang berulah di sini?


“Yunxi, apa benar kau membebaskan orang dari kerajaan musuh?” tanya Kaisar.


“Benar.”


“Mengapa?”


“Karena mereka tidak bersalah.”


“Maksudmu?”


“Yang Mulia, apa kau pernah berpikir mengapa mereka datang ke negara ini? Mereka hanyalah sekumpulan rakyat kecil yang mengungsi untuk mencari kehidupan yang layak. Tindakanku memang melanggar aturan, tetapi apakah Yang Mulia dan Tuan Menteri yang ada di sini tahu siapa yang mula-mula menampung mereka?”


“Kau tahu?”


“Tuan Menteri Perhutanan, apakah kau ingin mengatakannya sendiri atau aku yang mengatakannya?”


Liu Yang langsung pias. Darahnya berdesir, jantungnya berdetak kencang. Celaka! Apa mungkin Putri Xiyue sudah mengetahui sesuatu? Mungkinkah dia telah menemukan bahwa orang-orang itu dipekerjakan olehnya? Liu Yang langsung menepis semuanya. Dia yakin kalau semuanya belum terungkap.

__ADS_1


“Apa maksud Tuan Puteri Xiyue? Apa Tuan Puteri menuduhku?”


“Benar. Aku memang menuduhmu. Kau tidak percaya? Kebetulan hari ini aku membawa sesuatu.”


Dari dalam pakaiannya, dia mengeluarkan sebuah buku akun. Buku tersebut adalah buku catatan transaksi dan penebangan hutan jati yang didapat olehnya dan oleh Yuwen Yue dari kawasan penebangan berkat keterangan jujur dari para pekerja itu. Entah bagaimana caranya dia bisa mendapatkan buku itu padahal buku catatan tersebut sudah disimpan dengan baik di Paviliun Yindai.


“Yang Mulia, orang yang mempekerjakan orang asing itu adalah Menteri Perhutanan Liu Yang. Dia memaksa mereka dengan mengancam keluarganya. Aku membebaskan mereka diam-diam, namun tidak menyangka kalau pergerakanku diketahui olehnya.”


“Lalu buku apa yang ada di tanganmu?”


“Ini adalah catatan transaksi dan penebangan hutan jati Kementrian Perhutanan. Beberapa waktu lalu, aku dan Wakil Penasihat berhasil membuat mereka mengaku, barulah mendapatkan buku ini. Liu Yang memonopoli perdagangan kayu jati milik Istana Dong Hua, menyelundupkan dan menjualnya ke pihak lain untuk keuntungan pribadi. Selain itu, dia juga mengabaikan pembuatan kuil dengan menggantinya ke kayu pinus.”


Kasim pelayan memberikan buku tersebut kepada Kaisar Huang Yun Yi. Setelah dibaca beberapa saat, Kaisar menggebrak meja hingga para pejabat terkejut. Kemarahan dan emosi Kaisar sudah tidak terbendung. Liu Yang benar-benar keterlaluan! Beraninya dia menipunya dan menyelundupkan kayu!


“Wakil Penasihat Yue, apa ini benar?”


“Benar, Yang Mulia. Hamba dan Putri Xiyue berjuang keras untuk mendapatkan buku ini. Bahkan, kami sempat mengalami penyerangan di tengah jalan dan harus bermalam di alam liar.”


“Liu Yang, berani kamu!”


“Tunggu dulu, Yang Mulia. Kesalahannya bukan hanya itu,” sergah Yuwen Yue.


“Berdasarkan hasil penyelidikan dan hasil menggabungkan semua petunjuk, kami juga telah menemukan siapa pelaku pembunuhan Putri Xiyue pada hari festival lentera.”


“Oh? Katakanlah!”


Yuwen Yue kemudian memberitahu semua orang yang ada di aula pengadilan tentang penyelidikan yang dia lakukan bersama Huang Yunxi untuk mengungkap siapa pelaku utama pembunuhan pada malam tersebut. Dimulai dari senjata rahasia, kemudian istana Selir Di hingga ke kawasan hutan. Semuanya telah membuktikan bahwa pelakunya adalah Liu Yang.


Kaisar Huang Yun Yi sudah dikuasai emosi. Beberapa pengawal hendak menangkap Liu Yang, namun lagi-lagi Huang Yunxi membuat semua orang terkejut. Di hadapan para pejabat, dia berkata bahwa kematian Ratu Pertama sebenarnya adalah ulah Liu Yang dan Selir Di. Dia berkata bahwa Liu Yang dan Selir Di berkomplot untuk membuat Ratu Pertama mati saat persalinan dan membuat kematiannya seolah-olah itu adalah kematian alami.


Huang Yunxi mengeluarkan sebuah benda aneh lainnya. Benda tersebut kemudian berbunyi, mengeluarkan suara yang berisi percakapan Liu Yang kepada Selir Di pada suatu malam. Dari sanalah semuanya mendapat keyakinan kalau Liu Yang dan Selir Di benar-benar terlibat dalam kematian Ratu Pertama.


“Liu Yang, berani sekali kau! Membunuh Ratu Pertama, menyelundupkan kayu dan orang asing, kemudian berusaha melenyapkan putri tunggalku, kau benar-benar punya nyali!”


Sebelum Kaisar memerintahkan para pengawal menyeret Liu Yang, Yuwen Yue mengeluarkan sebuah dokumen lain dari saku jubahnya. Kasim langsung menyerahkannya kepada kaisar. Dokumen itu berisi catatan nama dan transaksi para pejabat lain yang terlibat dalam kejahatan Liu Yang. Sebagian besar dari mereka ada di sini. Mengetahui hal tersebut, para pejabat itu langsung berlutut memohon ampun.


Air muka Liu Yang yang semula pias berubah merah padam. Amarahnya memuncak saat itu juga. Rencana yang sudah disusun dengan rapi selama ini hancur begitu saja. Sia-sia dia mengorbankan banyak hal.


Adiknya malah gila dan mati, kejahatannya terbongkar di hadapan banyak orang. Jika dia tidak mengakhirinya hari ini, bagaimana bisa hatinya tenang?


“Kalau begitu, kau harus pergi menemani adikku!”


Liu Yang mengeluarkan sebuah belati tajam dari saku jubahnya. Belati itu mengarah langsung ke dada Huang Yunxi. Dia akan mengakhiri semuanya hari ini. Akal sehatnya sudah hilang tertutup kabut amarah yang kian membara. Saat belati itu hendak menyasar dada Huang Yunxi, Yuwen Yue dengan sigap menendang tangan Liu Yang hingga belatinya tidak berhasil mengenai Huang Yunxi.


Perkelahian kemudian terjadi. Liu Yang dan Yuwen Yue bertarung satu sama lain di hadapan Kaisar dan para menteri. Liu Yang seperti kesetanan, menyerang dengan brutal dan ganas. Untung saja ilmu bela diri Yuwen Yue yang terbaik hingga serangan-serangan itu tidak mengenai tubuhnya.


“Yunxi, cepat lari! Bawa Yang Mulia dan Putra Mahkota pergi!”

__ADS_1


Para pejabat lari kalang kabut. Tiba-tiba, dari arah luar datang sekelompok orang menyerang prajurit penjaga istana. Gerakan mereka cepat seperti kilat hingga dalam sekejap, para penjaga berhasil dilumpuhkan. Bagian depan aula pengadilan menjadi kotor oleh darah dari mereka yang mati terkena serangan.


Pertarungan jadi tidak seimbang. Para penyerang itu berada di pihak Liu Yang. Pertarungan kian menjadi sengit ketika bala bantuan dari pasukan elit istana datang di bawah perintah Adipati Fu. Si Kembar Fang yang sudah lama menghilang juga datang membantu. Satu persatu, pasukan penyerang tumbang. Liu Yang juga sudah mulai kewalahan menahan serangan Yuwen Yue. Beberapa kali dia memuntahkan darah dari mulutnya.


“Cepat, pergi dari sini!”


Saat Yuwen Yue sedikit lengah, Liu Yang melemparkan sebuah pedang ke arah pria itu. Huang Yunxi merasa pria itu tidak akan sempat menghindar. Kemudian, saat lemparan pedang itu hendak menyasar Yuwen Yue, Huang Yunxi memblokirnya. Pedang tersebut menancap kuat di dada Huang Yunxi, menusuk jantungnya hingga darah mengalir keluar seperti anak sungai.


“Peringatan sistem! Bahaya terdeteksi! Host? Host?”


Suara sistem tiba-tiba berdengung di kepala Huang Yunxi. Seluruh tubuhnya seperti remuk dilindas truk. Darah segar mengalir dari jantungnya, membasahi pakaiannya yang indah. Sekarang, pakaian itu menjadi merah. Pedang masih tertusuk di dadanya. Rasa sakitnya kian menjadi.


“Huang Yunxi!”


Yuwen Yue berteriak ketika dia melihat gadis itu tertusuk pedang. Liu Yang langsung disergap pasukan elit, tetapi masih bisa tertawa seperti orang gila. Tubuh Huang Yunxi rubuh ke lantai. Darah yang mengalir kini mulai menggenang. Yuwen Yue dan Huang Yunji beserta Kaisar Huang Yun Yi langsung menghampirinya.


Tubuh Huang Yunxi disandarkan di tubuh Yuwen Yue. Kepala gadis itu ditahan di tangan hingga posisinya setengah berbaring. Wajahnya pias. Yuwen Yue menggelengkan kepala. Air matanya tiba-tiba jatuh, begitu pula dengan air mata Huang Yunji dan Kaisar. Ketiga orang itu berkali-kali memanggil namanya.


“Uhuk…uhuk… Yu-Yue…”


“Yunxi, mengapa? Mengapa kau melakukan ini? Siapa yang menyuruhmu menahan serangan itu?”


Huang Yunxi batuk darah. Mulutnya berwarna merah. Tangannya yang tadi memegang dadanya yang tertusuk menggapai wajah Yuwen Yue. Tatapan gadis itu melemah. Huang Yunxi batuk darah lagi. Di dalam kepalanya, suara sistem kembali berdengung memperingatinya.


“A-Yue, aku, aku selalu ingin memberitahumu. Aku, bukan berasal dari dunia ini,” ucapnya terbata-bata.


“Jangan bicara! Tabib, panggilkan tabib!”


Huang Yunxi menggelengkan kepala.


“Aku, aku datang ke dunia ini untuk menyelesaikan tugas. Kau, kau adalah variabel utama dari tugasku. Kau, kau adalah tugas utamaku. Ayah, Yunji, Dong Hua, semuanya adalah tugas yang harus aku selesaikan…”


Ucapan Huang Yunxi terpatah-patah. Rasa sakit di dadanya semakin tidak tertahankan. Dia tahu ini adalah kesempatan terakhir hidupnya. Huang Yunxi memegang erat tangah Yuwen Yue. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya langsung meluncur, bercampur dengan noda darah.


“Aku…Aku berterima kasih padamu… Kelak, tidak peduli apakah dunia ini hilang dan aku mati, kau harus tetap hidup dengan baik…Kau, kau berhutang satu pernikahan padaku…”


Setelah mengucapkan perkataan terakhirnya, Huang Yunxi kembali memuntahkan darah. Pandangan matanya mulai berkabut. Genggaman tangannya mengendur, kepalanya langsung terkulai ke samping dengan mata tertutup. Napasnya langsung terputus. Jantungnya yang tertusuk berhenti membuat detak.


Semua orang yang ada di dalam aula, termasuk pasukan elit dan pejabat yang tadi kalang kabut, langsung berlutut. Liu Yang juga dipaksa berlutut. Kaisar dan Huang Yunji berkali-kali meneriakkan nama Huang Yunxi. Air mata mereka juga jatuh. Semua orang menangis meratapi kepergian Putri Xiyue.


“Tidak! Huang Yunxi, aku tidak mengizinkamu mati! Bangun! Ayo bangun! Kita masih belum menghabiskan musim dingin ini bersama! Huang Yunxi, bangun!”


“Kakak! Jangan pergi!”


“Xi’er, apa kau sedang bercanda dengan ayahmu? Kau tidak boleh bercanda seperti ini!”


Aula pengadilan istana berubah menjadi aula kematian. Mayat para penyerang, para prajurit, bergelimpangan. Darah mereka bercampur. Tetapi yang lebih mengenaskan adalah pemandangan ketika Kaisar, Putra Mahkota dan Wakil Penasihat Akademi Kerajaan menangis meratapi kematian Sang Putri Tunggal.

__ADS_1


Sisa nyawa Huang Yunxi yang tinggal setengah sekarang sudah habis. Gadis itu sudah kehilangan kesempatan hidupnya di dunia ini. Dia sudah mati. Tidak akan ada kesempatan untuk hidup atau mengulang kembali dari awal. Tidak akan ada yang bisa menghidupkan gadis itu kembali.


...***...


__ADS_2