
Istana Liuli terletak di sebelah barat Istana Mingyan, istana khusus kediaman pribadi Kaisar alias istana yang tadi dimasuki Huang Yunxi. Istana Liuli adalah istana khusus kediaman pribadi Putri Xiyue yang disiapkan oleh mendiang Ratu Pertama. Bangunannya sangat megah dan indah, bahkan lebih indah daripada istana para selir dan para pangeran Dinasti Hu.
Menurut penuturan Huang Yunji, Huang Yunxi sudah menempati Istana Liuli sejak umur tujuh tahun. Mendiang Ratu Pertama sengaja menempatkannya di sana karena dia tahu betul jika putrinya itu akan menjadi seorang putri yang berbeda daripada putri kerajaan pada kebanyakan. Mendiang Ratu Pertama juga tidak ingin Huang Yunxi mendapat pengaruh buruk akibat dari pertarungan hidup dan mati di Istana Harem. Karena itulah, Huang Yunxi memiliki jiwa bebas dan hidupnya diatur oleh dirinya sendiri.
Berbicara mengenai Huang Yunji, dia sebenarnya adalah adik kandung Huang Yunxi. Keduanya terlahir dari rahim yang sama, rahim Ratu Pertama. Sayangnya, begitu Huang Yunji lahir, Ratu Pertama langsung meninggal. Huang Yunji adalah putra satu-satunya Kaisar dengan Ratu Pertama. Maka, bisa dikatakan bahwa Huang Yunxi dan Huang Yunji adalah putra-putri resmi atau putra-putri Kaisar dari istri resminya.
Kaisar Dinasti Hu memiliki puluhan selir di Istana Harem. Mereka semua dipilih dari keluarga bangsawan ternama dan keluarga pengusaha-pengusaha besar, dan sebagian berasal dari perbatasan dan putri utusan.
Tetapi, dari sekian banyak wanita, Kaisar Dinasti Hu ini hanya mencintai istri pertamanya, istri sahnya alias mendiang Ratu Pertama, ibu kandung Huang Yunxi dan Huang Yunji. Dia punya beberapa putra dari beberapa selirnya dan semuanya laki-laki. Para pangeran yang terlahir dari selir itu kemudian diberikan jabatan dan tugas serta kediaman masing-masing bagi yang sudah menikah, dan bagi yang belum menikah tetap harus tinggal di istana.
Sejak Ratu Pertama meninggal dunia, Kaisar Huang Yun Yi tidak pernah mengangkat permaisuri dan ratu yang baru. Dia menganggap bahwa hanya akan ada satu ratu dan satu permaisuri dalam era pemerintahannya. Para pejabat juga sering mendesak Kaisar Huang Yun Yi untuk mengangkat permaisuri dan ratu baru, tetapi selalu ditolak dan Kaisar Huang Yun Yi selalu marah. Dia bilang, Istana Harem tidak kekurangan orang yang berkemampuan untuk memimpin. Kaisar Huang Yun Yi menyerahkan urusan harem kepada Ibu Suri Agung, nenek Huang Yunxi dan Huang Yunji.
“Jadi, itu sebabnya ayah sangat kesal padaku?” tanya Huang Yunxi.
“Kakak, kau berbuat onar di mana-mana. Kebanyakan putri yang ada di istana ini semuanya sangat menjaga sikap dan berhati-hati karena takut menyinggung ayahanda. Tapi, kakak malah terus membuatnya marah dan kesal tanpa henti,” jawab Huang Yunji terus terang.
“Maksudmu para putri yang mana?”
“Mereka yang terlahir dari istri-istri Kaisar sebelumnya dan kerabat kerajaan yang masih tersisa.”
“Aku tetap satu-satunya putri kandung ayah kan?”
“Benar.”
Begitu juga bagus. Huang Yunxi tidak ingin memiliki saingan dalam posisi. Dia adalah putri tunggal Kaisar, putri kandung satu-satunya. Maka, tidak boleh ada orang lain yang menyaingi kedudukannya. Huang Yunxi sudah terbiasa duduk di posisi tunggal, baik di dunia nyata maupun di dunia fantasi ini.
Huang Yunxi sangat penasaran bagaimana kehidupan keluarga kerajaan. Sistem tidak pernah memberitahunya secara detail mengenai hal ini dan menghilang begitu saja, meninggalkan Huang Yunxi seorang diri dengan misi yang harus diselesaikan sendiri pula. Dia pernah melihat di drama kalau kehidupan di istana sebenarnya sangat menyiksa. Ada pertarungan hidup dan mati. Hal yang paling mengerikan adalah persaingan wanita di Istana Harem.
Mengingat hal itu, dia bergidik. Syukurlah karakternya di sini bisa melarikan diri dan bersembunyi di Akademi Kerajaan. Dengan begitu, dia tidak akan terlalu kesusahan memikirkan cara bertahan hidup. Huang Yunxi tidak dapat membayangkan jika dirinya yang tidak tahu apa-apa ini harus tinggal di tempat mengerikan ini dan terlibat konflik internal yang sangat menguras tenaga dan pikiran.
“Kakak, kita sudah sampai.”
Huang Yunxi mengalihkan pandangannya ke arah depan. Sebuah gerbang megah terlihat berkilau diterpa cahaya matahari. Ada empat penjaga bersenjata dan berseragam lengkap berdiri dengan tegap. Sambil tetap memperhatikan pemandangan di depannya, Huang Yunxi dan adiknya berjalan memasuki pekarangan istana yang besar dan kokoh.
“Ini istanaku?”
“Benar, ini adalah istanamu, Istana Liuli.”
Dalam sekejap, Huang Yunxi seperti berada di negeri dongeng yang lain. Ratu Pertama pasti sangat memanjakannya. Jika wanita itu masih hidup, istana ini mungkin akan berubah menjadi istana berlapis emas yang tidak hanya megah dan kokoh, tapi juga indah dan istimewa.
Pintu utama Istana Liuli terbuka. Seorang wanita yang umurnya tampak lebih muda dua tahun dari Huang Yunxi berlari keluar sambil menangis. Dia juga berteriak meneriakkan nama Huang Yunxi dengan keras seolah ini adalah ruangan kedap suara. Semakin dekat, suaranya semakin nyaring.
Huang Yunxi bersiap. Dia menjadi waspada, kakinya kemudian memasang kuda-kuda. Kedua tangannya terkepal ke depan, persis seperti seorang atlet karate yang hendak meninju lawannya. Ketika wanita yang menangis itu sampai di depannya, Huang Yunxi langsung berlari ke belakang Huang Yunji, bukan ke lari ke arah depan.
Dari balik tubuh adiknya, dia mengintip sedikit. Wanita tadi menangis semakin kencang.
“Yunji, siapa makhluk aneh itu?”
Huang Yunji menggelengkan kepalanya. Tingkah kakaknya ini semakin lama mengapa semakin tidak masuk akal saja. Sekarang dia bahkan bertanya padanya siapakah ‘manusia’ yang sedang menangis memanggil namanya. Kepala kakaknya ini sepertinya benar-benar bermasalah.
__ADS_1
“Dia adalah pelayanmu,” ungkap Huang Yunji.
“Pelayan? Makhluk aneh itu pelayanku?”
“Kakak, dia manusia. Mengapa kau menyebutnya seperti itu?”
“Kau tidak lihat? Pakaiannya aneh sekali. Lihat, rambutnya dibentuk seperti earphone.”
Dahi Huang Yunji berkerut. Earphone? Apa itu? Dari mana kakaknya mengenal kata yang sangat aneh nan asing itu?
“Huaaaa… Yang Mulia, akhirnya kau pulang juga, hiks… hiks…”
Wanita yang disebut pelayan itu menangis semakin keras.
“Hiks… hiks… Apa Yang Mulia sudah tidak menginginkan Sanqi lagi?”
“Namamu Sanqi?”
Pelayan itu mengangguk. Huang Yunxi mendekat, kemudian menjulurkan tangannya, menyentuh hidung Sanqi dan memencetnya. Huang Yunxi juga menyentuh rambut yang tadi dia sebur earphone, kemudian beralih ke pipi dan mencubitnya. Huang Yunji menggelengkan kepalanya kembali, heran dengan tingkah laku kakak kandungnya.
“Kau benar-benar manusia?”
“Yang Mulia, jika aku bukan manusia, lalu aku ini apa?”
“Siluman rubah.”
Andai saja penampilan Sanqi tidak aneh, Huang Yunxi pasti tidak akan mengira kalau gadis yang lebih muda darinya itu adalah pelayan pribadinya. Ketiga orang itu kemudian bergegas masuk ke dalam Istana Liuli. Beberapa pelayan yang berpapasan dengan Huang Yunxi dan Huang Yunji menunduk, kemudian kembali pada aktivitas masing-masing.
Dia juga melihat sebuah rak buku yang tersusun rapi, meja rias indah lengkap dengan peralatan riasnya, dan masih banyak lagi. Huang Yunxi benar-benar seorang hartawan yang kaya raya! Dia punya banyak uang dari koin emas dan sekarang rumahnya di istana pun sangat besar dan mewah!
Jika ini di dunia modern, maka Huang Yunxi pasti akan menjadi orang kaya nomor satu, mengalahkan Bill Gates, Jack Ma dan para konglomerat yang lain!
“Yang Mulia, sejak kau melarikan diri ke Akademi Kerajaan, istana ini jadi sangat sepu,” ucap Sanqi dengan nada sedih.
“Aku bukan melarikan diri, tapi sekolah.”
“Tapi mengapa Yang Mulia tidak mengajakku?”
“Kalau aku mengajakmu, apa bedanya dengan home scholling?”
“Ho-home apa?”
“Ah, itu sama dengan sekolah di rumah,” terang Huang Yunxi kemudian. Dia lupa kalau dia berada di dalam dunia fantasi kerajaan yang tentu saja sama dengan zaman kuno.
“Seperti Yang Mulia Putra Mahkota yang belajar dengan Pembimbing Agung?” tanya Sanqi penasaran.
“Ya begitulah.”
Huang Yunxi mendudukkan dirinya di sebuah kursi kecil yang terbuat dari kayu gaharu berkualitas tinggi. Di depannya terdapat sebuah meja kayu yang mengkilap, lengkap dengan gilingan tinta dan kuasnya. Sanqi sepertinya selalu mengelap meja ini selama Huang Yunxi pergi, karena dia tidak melihat debu apapun bertebaran di sana.
__ADS_1
Saat Huang Yunxi asyik bersantai di meja belajarnya, Huang Yunji sibuk mengorek-orek isi lemari buku, mencari sesuatu yang membuat kakaknya pulang ke istana secara diam-diam. Sesekali dia melirik sang kakak yang sepertinya sangat menikmati waktunya. Dia jarang sekali berbicara dengan Huang Yunxi karena wanita itu selalu saja sibuk dengan dunianya sendiri. Kakaknya seperti seekor singa betina yang baru keluar dari kandang, berlari ke sana kemari mencari kebebasan yang selama ini terbelenggu.
Huang Yunji tahu betul kalau kakak kandungnya adalah perempuan bebas yang tidak bisa dikekang oleh aturan apapun. Maka, saat dia mendengar berita kalau Huang Yunxi pergi ke Akademi Kerajaan dengan memalsukan dekret ayahnya, dia cukup senang. Huang Yunji tahu kalau pemalsuan dekret adalah sebuah kesalahan dan kejahatan besar, tetapi dia juga tahu kalau Kaisar pasti tidak akan memperpanjang masalahnya.
Semua orang di daratan Dinasti Hu tahu kalau kakaknya adalah putri tunggal Kaisar. Jadi, kebanyakan dari mereka juga memaklumi Tindakan yang dilakukan oleh Huang Yunxi. Tapi, yang menjadi masalah lain adalah perilaku kasar dan nakal kakaknya yang selalu membuat para pejabat terutama penduduk Akademi Kerajaan gempar dan menggelengkan kepalanya.
Pusat Medis Akademi Kerajaan yang beberapa waktu lalu dibakar oleh Huang Yunxi dan Si Kembar Fang juga sebetulnya harus diperhitungkan. Tetapi, sekali lagi, Huang Yunji tidak rela jika kakak perempuannya mendapat hukuman. Dia membebaskan ikatan sutera di tubuh Huang Yunxi dan Si Kembar Fang, kemudian mengalihkan perhatian para penjaga agar kakak dan kedua sahabatnya itu bisa melarikan diri dari istana.
“Kakak, untuk apa kau memerlukan kertas-kertas ini?” tanya Huang Yunji sambil menyodorkan beberapa lembar kertas berkualitas tinggi yang hanya digunakan di istana Kekaisaran Dinasti Hu.
“Untuk menulis. Kasihan Si Muka Kayu itu, dia tidak punya kertas yang bagus untuk menulis kaligrafi,” jawab Huang Yunxi sekenanya.
“Si Muka Kayu? Maksudmu Wakil Penasihat?”
“Kalau bukan dia, siapa lagi? Di Akademi Kerajaan, hanya dia yang wajahnya kaku seperti kulit kayu.”
Perumpamaan ini boleh juga. Huang Yunji tahu kalau Yuwen Yue adalah Tuan Muda Pertama yang banyak dikagumi, sekaligus Tuan Muda Pertama yang banyak dibenci karena sikapnya yang dingin dan ekspresinya yang datar. Dia juga tahu kalau Yuwen Yue adalah kaki tangan ayahnya di Akademi Kerajaan yang mengawasi kakak perempuannya. Maka tidak heran jika kakaknya itu begitu bersemangat memusuhi dan mencari gara-gara bersamanya.
Tapi, ada apa ini? Mengapa sekarang kakaknya ini malah ingin memberikan kertas berkualitas tinggi untuk pemuda itu? Bukankah selama ini mereka selalu seperti kucing dan anjing?
“Mengapa kakak ingin memberikan kertas ini kepadanya?”
Huang Yunxi terkesiap. Benar, untuk apa dia memberikan kertas berkualitas ini kepada pemuda yang selalu membuatnya sengsara?
“Aku hanya kasihan.”
“Tapi, Wakil Kepala tidak kekurangan uang untuk membeli kertas berkualitas untuk menulis kaligrafi.”
“Yunji, kertas untuk menulis kaligrafi itu harus bagus agar hasilnya bagus dan tahan lama. Orang gila seperti dia mana punya kertas seperti ini.”
Huang Yunxi tahu adiknya mencurigai sesuatu. Dia hanya tidak ingin menjelaskan karena dia sendiri tidak tahu mengapa dirinya melakukan semua ini. Huang Yunxi tidak punya alasan mengapa dia sampai rela pulang ke istana hanya demi beberapa kertas berkualitas untuk Yuwen Yue, padahal pria itu juga tidak pernah memintanya. Hatinya seperti bergerak sendiri, kakinya seperti sepasang kaki robot yang dikendalikan dari jauh. Ya, mungkin sistem kendali pusat yang mengendalikannya.
“Sudahlah. Aku akan kembali. Jika tidak, Si Muka Kayu itu pasti akan mengomeliku lagi.”
“Kakak sudah ingin pergi? Apa tidak bisa tinggal sedikit lebih lama?” Huang Yunji memohon. Dia masih merindukan kakak satu-satunya ini.
“Yang Mulia, mengapa cepat sekali?”
“Jika aku tidak kembali, Yuwen Yue pasti akan punya alasan untuk menghukumku lagi.”
“Yang Mulia, bawalah aku ke sana! Istana ini sangat sepi tanpamu!”
“Yunji, Sanqi, masa studiku belum selesai. Kau tidak ingin kan kakak perempuanmu satu-satunya ini dipaksa lagi oleh ayah untuk menikah?”
Senjata pamungkas ini sepertinya manjur. Dia melihat perubahan ekspresi pada wajah adik dan pelayannya. Dia yakin kedua orang itu tidak akan rela jika Kaisar memaksanya menikah seperti dulu.
“Baiklah. Kakak, tapi kau harus tetap berhati-hati.”
“Tentu. Aku akan mengunjungi kalian lain kali!”
__ADS_1
...***...