
Huang Yunxi dan Yuwen Yue kembali dari hutan saat sore hari. Tepat satu jam setelah Yuwen Yue membongkar identitas Huang Yunxi, Tianqi dan pasukan Paviliun Yindai tiba ke tempat tersebut. Mereka kemudian terlibat perkelahian kecil hingga pihak Yuwen Yue menang. Para pekerja kasar kemudian ditangkap dan dibawa ke Paviliun Yindai untuk diinterogasi.
Meskipun wewenang penyelidikan kasus seperti ini bukan ada di Paviliun Yindai, tetapi Yuwen Yue secara khusus mengirim surat permintaan rahasia kepada Kaisar Huang Yun Yi agar penyelidikan dilanjutkan di Paviliun Yindai. Hal tersebut bukan tanpa alasan, melainkan karena kasus penyelundupan ini ada kaitannya dengan kasus percobaan pembunuhan seorang Putri Xiyue.
“Tuan Muda Pertama ditambah Putri Xiyue, benar-benar kombinasi yang sempurna!” ucap Yuwen Rong. Ucapannya itu lebih mirip seperti sindiran.
“Pujianmu jelek,” timpa Huang Yunxi, membuat Yuwen Rong merengut.
Mereka tengah berkumpul di ruang kerja Yuwen Rong, hendak mendiskusikan cara agar interogasi berlangsung cepat dan informasinya akurat. Di Paviliun Yindai terdapat banyak jenis alat penyiksaan yang bertujuan agar para pelaku kejahatan mengaku. Namun, untuk menginterogasi para pekerja itu, alat-alat penyiksaan ini sepertinya kurang cocok.
Yuwen Yue juga merasakan hal yang sama. Alat penyiksaan yang kejam sepertinya tidak cukup baik. Apalagi, di sini Huang Yunxi juga memaksa ingin menyaksikan proses interogasi.
Jika gadis itu melihat prosesnya, kemungkinan dia akan ketakutan meskipun Yuwen Yue tidak sepenuhnya yakin. Mereka harus mencari cara agar para pekerja itu mau mengaku tanpa harus menyakiti fisik mereka terlebih dahulu.
“Guru, aku punya cara!”
Huang Yunxi meminta Yuwen Rong mengutus beberapa orang untuk menyelidiki latar belakang keluarga para pekerja. Penyiksaan secara fisik tidak akan berfungsi, jadi hanya jika pihak Paviliun Yindai ‘mengancam’ mereka dengan keluarga, meskipun sedikit jahat tetapi dijamin akan berhasil.
Mereka adalah para pekerja yang mempertaruhkan hidup mereka untuk menghidupi keluarga, maka ketika keluarga yang diperjuangkannya terancam mereka pasti tidak akan bungkam.
Ide yang dilontarkan oleh gadis itu boleh juga. Beberapa petugas Paviliun Yindai diperintahkan pergi menyusuri kota, mencari informasi tempat tinggal dan keluarga pekerja yang menebang pohon di hutan jati.
Beberapa penduduk kota yang ditanya sebagian menjawab tidak tahu, tetapi titik terang kemudian ditemukan kala seorang laki-laki setengah tua memberitahu kediaman para pekerja di pinggir kota. Laki-laki tua itu adalah mantan pekerja juga, yang telah pensiun dua tahun lalu karena tulang punggungnya tidak mampu menahan berat kayu dan mengayunkan alat pemotong lagi.
Para petugas menemukan kediaman dan keluarga para pekerja. Orang-orang yang ada di sana berkata bahwa mereka sama sekali tidak tahu kalau anggota keluarga mereka telah berkontribusi dalam penyelundupan kayu jati milik Kaisar yang terhormat. Keluarga mereka hanya tahu kalau beberapa laki-laki di kediaman bekerja menghasilkan uang sebagai penebang kayu biasa.
Atas petunjuk dari Huang Yunxi yang diberikan sebelum berangkat, keluarga para pekerja setuju untuk bekerja sama. Mereka setuju untuk berpura-pura dan bersandiwara agar laki-laki mereka yang ditahan di penjara Paviliun Yindai mau bicara baik-baik. Dengan kata lain, para keluarga itu setuju dijadikan tahanan.
Mereka naik ke kereta kuda. Sesampainya di Paviliun Yindai, beberapa keluarga yang naik ke dalam kereta kemudian turun, mengikuti jalan hingga sampai di depan Yuwen Yue dan Yuwen Rong. Mereka mengernyitkan dahi saat melihat ada seorang wanita di Paviliun Yindai. Salah seorang dari mereka bertanya,
“Siapa wanita ini?”
Dengan tenang Yuwen Yue menjawab,
“Dia Putri Xiyue.”
Mereka kemudian hendak bersujud namun dicegah oleh Huang Yunxi. Hati mereka bergetar karena ketidakpercayaan bahwa mereka dapat bertemu langsung dengan putri tunggal Kaisar yang terhormat dan sangat terkenal.
Lebih tidak disangka bahwa Putri Xiyue tersebut terjun langsung menangangi kasus penyelundupan yang dilakukan oleh Liu Yang dengan mempekerjakan anggota keluarga mereka.
“Bangunlah. Aku ingin kalian bekerja sama denganku,” ucap Huang Yunxi dengan yakin.
“Apa yang bisa kami lakukan, Yang Mulia?”
Huang Yunxi tanpa basa-basi langsung memberikan instruksi. Mereka hanya perlu datang ke penjara saat interogasi dimulai dan berkata kalau mereka sedang terancam. Dengan begitu, para pekerja tersebut mau tidak mau harus mengatakan segalanya, sejujur-jujurnya dan sebenar-benarnya.
__ADS_1
Di penjara Paviliun Yindai, para pekerja diikat di atas sebuah papan. Kaki mereka dibiarkan bebas sementara tangan dan leher mereka terlilit tali. Ada beberapa bekas cambukan berdarah di pakaian mereka.
Huang Yunxi marah melihat pemandangan tersebut. Sebelum ini, dia dan Yuwen Yue atau Yuwen Rong tidak pernah menginstruksikan pencambukan atau apapun. Matanya memerah menyala, membuat para petugas yang ada di sana menyingkir ketakutan.
“Siapa yang menyuruh kalian menyakiti mereka?” tanyanya dengan nada tinggi.
Para petugas saling pandang dan saling menuduh. Mereka takut, takut dengan kemarahan seorang Putri Xiyue. Tidak ada satupun dari mereka yang berani menjawab. Petugas dungu! Bagaimana bisa Paviliun Yindai mempekerjakan orang-orang seperti ini?
“Bukankah sudah kukatakan kalian tidak boleh menyakiti mereka? Apa kalian tidak punya telinga?”
“Ampun, Tuan Puteri, ampun..”
Yuwen Yue mencoba meredam kemarahan calon istrinya. Suasana begitu tegang dengan pemandangan mengerikan nan mengenaskan. Tidak bisa diteruskan dan tidak akan ada hasil jika wanita it uterus-terusan marah seperti tanpa ujung. Pemuda itu menarik ujung pakaian Huang Yunxi, lalu mengisyaratkan dia agar menenangkan diri.
Para pekerja yang melihat anggota keluarga mereka datang segera menjadi panik. Tidak disangka, Paviliun Yindai berani berbuat sampai sejauh ini. Mereka pikir selama ini Paviliun Yindai adalah lembaga terbersih yang tidak akan melibatkan orang tidak bersalah ke dalam pusat kekacauan.
Nyatanya, semuanya sama saja.
“Jangan sentuh keluargaku! Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka!” teriak salah seorang pekerja yang telah terluka di bagian bahu. Bau anyir dari darah bercampur dengan bau apek dari kelembaban yang ditimbulkan oleh gesekan udara di penjara ini.
“Suamiku, katakanlah dengan jujur! Pejabat ini bilang kita akan bebas jika kau berkata yang sebenarnya!”
“Jangan percaya pada mereka! Mereka hanya bisa menindas kita yang lemah! Tanpa kekuasaan, memangnya kita bisa hidup dengan baik?”
“Pikirkanlah baik-baik. Orang yang jujur selalu mendapat keadilan. Suamiku, katakanlah apa yang sebenarnya terjadi!”
Huang Yunxi berjalan di depan para pekerja tawanan. Dia menelisik wajah itu satu persatu, mematrinya dalam memori otaknya yang tanpa batas. Dia baru menyadari kalau wajah-wajah di depannya berbeda dengan penduduk asli ibukota. Huang Yunxi mencocokkan fitur wajah para pekerja ini dengan fitur orang-orang Mongolia yang dianggap sebagai bangsa asing.
“Kalian bukan penduduk asli Dong Hua!” serunya kemudian, mengagetkan semua orang yang ada di sana.
Wajah salah seorang pekerja tawanan memerah. Bagaimana gadis itu tahu kalau mereka adalah bangsa asing?
“Apa Liu Yang yang menyembunyikan kalian?”
Yuwen Yue dan Yuwen Rong masih dalam suasana terkejut. Setahu mereka, orang-orang asing seperti bangsa Mongolia dan bangsa Hu adalah musuh abadi Dong Hua. Orang-orang ini datang ke tempat musuh bahkan membantu penjahat menyelundupkan barang, nyalinya benar-benar besar!
“Jika ayahku tahu, kalian tidak akan selamat. Para menteri juga tidak akan melepaskan kalian,” ucap Huang Yunxi. Ada nada kasihan dan ketidakrelaan yang terkandung dalam kata-kata itu.
“Tuan Puteri, apa yang harus kami lakukan?” tanya seorang wanita, istri si pekerja.
“Aku hanya ingin suami-suami kalian berkata jujur. Mungkin, aku bisa melepaskan kalian.”
“Suamiku, cepat berkata jujur!”
Para pekerja yang terikat berpikir sejenak. Mereka jelas bimbang. Kalau mereka berkata jujur, mereka bisa terbunuh karena tuan besar mereka tidak akan mengampuni nyawa mereka. Jika tetap bungkam, mereka mungkin akan dihukum sesuai hukuman negara Dong Hua dan seluruh keluarga mereka akan terlibat. Maju atau mundur terasa sama bebahaya.
__ADS_1
“Apa Tuan Puteri akan menepati janji?”
“Tentu saja. Aku bukan wanita pecundang yang suka ingkar janji. Kau katakan saja, maka kau dan keluargamu akan hidup baik-baik saja.”
Setelah melalui pertimbangan yang panjang, akhirnya para pekerja mengaku. Mereka adalah para pengungsi dari daerah utara yang kebetulan hidup di ibukota. Mereka datang empat tahun lalu.
Saat mereka mencari pekerjaan, tanpa sengaja mereka telah menyinggung bawahan Liu Yang dan tertangkap. Mereka kemudian dipekerjakan sebagai penebang kayu dengan gaji cukup tinggi, namun dengan syarat bahwa mereka tidak boleh mengatakan pada siapapun tentang pekerjaan tersebut.
Empat tahun hidup dalam kegelapan, hati mereka tentu tidak pernah merasa aman. Mereka tetap waswas, takut jika suatu hari nanti Liu Yang ingkar janji, mencelakai mereka dan membawa keluarga mereka ke dalam bencana. Itulah sebabnya mereka tetap bungkam. Itu pula yang membuat semuanya tampak normal.
Selain diancam, para pekerja tersebut juga harus mempertaruhkan nyawa agar orang yang mereka sayangi tetap terlindungi. Orang-orang ini tahu betul jika suatu saat semuanya terungkap, nyawa mereka tidak akan selamat. Para pekerja ini hanya tidak menyangka kalau waktu tersebut akan datang secepat ini.
Dari cerita tersebut, Huang Yunxi dan Yuwen Yue mengetahui letak buku catatan penebangan dan penjualan kayu jati yang diselundupkan. Buku itu disimpan di ruang bawah tanah di markas pekerja di hutan jati sana. Hanya mandor mereka yang tahu kuncinya dan tahu akses menuju ke ruang bawah tanah tersebut.
“Tuan Muda Ketiga, tolong siapkan kereta kuda. Biarkan mereka keluar dari ibukota dengan aman.”
“Tuan Puteri, Anda benar-benar akan melepaskan mereka?”
“Ya. Bukankah sudah kukatakan kalau aku tidak akan mengingkari janjiku?”
“Tapi, bagaimana jika Yang Mulia Kaisar tahu?”
“Itu urusanku. Sekarang, lepaskan mereka. Pastikan mereka sampai di luar kota dengan selamat.”
Ikatan tali para pekerja dilepas. Seketika mereka dan keluarga mereka langsung bersujud di hadapan Huang Yunxi. Sungguh, tidak ada sangkaan bahwa gadis yang telah menangkap mereka benar-benar akan menepati janjinya. Sosoknya yang tegas namun tampak anggun ternyata memiliki integritas yang tinggi.
“Terima kasih, Tuan Puteri.”
Para pekerja dan keluarganya digiring keluar melalui pintu belakang Paviliun Yindai. Di sana, beberapa kereta kuda sudah disiapkan lengkap dengan kusir dan penjaganya. Para pekerja dan keluarga itu disuruh naik, kemudian kereta mulai berjalan melewati jalan rahasia. Para pekerja tersebut tak henti-hentinya bersyukur.
Tangan mereka menyentuh sebuah bungkusan kain di bawah kursi. Para pekerja itu mengambilnya, membukanya, lalu terkejut bukan main. Isi bungkusan kain itu adalah sejumlah perak yang sangat banyak. Selain bungkusan kain, di bagian lain bawah kursi tersebut juga terdapat beberapa lapis pakaian yang disimpan di dalam peti.
Usai melepaskan para pekerja dan keluarganya, Yuwen Yue, Yuwen Rong dan Huang Yunxi kembali ke ruang utama Paviliun Yindai. Wajah gadis itu kusut seperti benang yang tidak dipintal. Hari sudah malam. Lilin-lilin sudah menyala di sana-sini. Para penjaga Pavilun Yindai baru saja berganti shift.
“Mengapa wajahmu terlihat tidak puas?’ tanya Yuwen Yue.
Gadis itu belum bersedia menjawab. Dia menyesap aroma teh, kemudian meletakkannya kembali ke meja.
“Tidak apa-apa.”
Yuwen Yue tidak bisa mempercayai perkataan gadis itu. Entah mengapa, dia punya firasat yang buruk.
...***...
...Wah, ada yang tahu nggak kenapa Yunxi wajahnya kusut? Apa yang akan terjadi? Sabar ya, plotnya nanti terungkap kok. Oh ya, Author mau kasih tahu kalau buat kisah Yunxi & Yue ini nggak akan terlalu panjang kayak Anlan & Jiman. Author juga lagi proses garap cerita lain. Jadi, Author usahain setelah yang ini tamat, bakalan ada cerita baru yang bisa kalian baca. So, stay tune terus, sampai jumpa di episode berikutnya! ...
__ADS_1