The Imperial College

The Imperial College
Eps. 38: Dunia Mimpi


__ADS_3

Hari-hari berlalu seperti sebuah mimpi. Arus perputaran waktu perlahan memudarkan kisah yang begitu melegenda sepanjang masa. Hanya mereka, para pendongeng tua yang masih setia bersedia menceritakan kisah itu tanpa kenal lelah meskipun tahu kalau semuanya terasa seperti sebuah kebohongan belaka.


Sejak kepergian Huang Yunxi, satu tahun telah berlalu di Dong Hua. Pada hari pemakamannya, seluruh rakyat menunduk di sepanjang jalan. Hari berkabung bahkan berlangsung selama berminggu-minggu. Bendera-bendera putih berkelebatan di mana-mana. Pada hari itu, salju turun cukup deras.


Musim dingin malah cepat berakhir, namun kepedihan yang dirasakan justru malah menetap abadi. Tidak hanya keluarga istana, bahkan rakyat biasa yang pernah mendengar kisahnya pun seringkali menangis ketika teringat akan namanya. Kisahnya perlahan menjadi legenda yang menyebar ke mana-mana.


Terjadi perubahan besar dalam segala aspek setelah kematiannya. Setiap kematian membawa perubahan. Di Dong Hua, Kaisar menghukum mati para pejabat yang terlibat dalam konspirasi Liu Yang dan Selir Di. Pada musim semi kemarin, mereka dieksekusi di hadapan banyak orang.


Liu Yang si penjahat dan pemberontak itu tidak dijatuhi hukuman mati. Bagi Kaisar, hukuman mati terlalu baik untuknya. Liu Yang dicabut dari kekuasaannya, seluruh keluarganya yang perempuan diasingkan dan tidak diperbolehkan kembali ke ibukota. Kehidupan mereka terisolir di sebuah pulau kecil yang sangat jauh. Seluruh aset disita, kediaman dihancurkan.


Liu Yang sendiri dibiarkan menderita sebagai orang gila yang hidup di dalam penjara istana selamanya. Orang jahat itu menjadi akrab dengan tikus dan serangga. Setiap hari, dia akan berteriak kalau adiknya adalah seorang Ratu Dong Hua yang baru dan selalu mengutuk Putri Xiyue sepanjang waktu. Kegilaannya ini terkadang membuat para penjaga penjara dan sipir yang bertugas di sana muak.


Di Akademi Kerajaan, ujian kekaisaran juga sudah berlangsung. Sistemnya menggunakan sistem baru yang direformasi berdasarkan catatan yang diam-diam ditinggalkan Huang Yunxi di kamar asramanya. Pria dan wanita diperlakukan setara meskipun masih ada batas halus yang tidak boleh dilanggar. Si Kembar Fang sudah lulus, mereka dianugerahi gelar Marquis dan diberi hadiah berupa kediaman dan kekayaan.


Untuk menghormati mendiang Putri Xiyue, pihak Akademi Kerajaan dan pihak pengadilan istana sepakat untuk menobatkan mendiang Putri Xiyue atau Huang Yunxi sebagai Guru Besar Wanita Pertama meskipun tidak sempat menjalani ujian. Selain itu, dia juga dinobatkan menjadi Putri Agung Dong Hua.


Huang Yunji, Sang Putra Mahkota kini menjadi lebih rajin belajar. Dia bersumpah bahwa suatu saat dia akan menjadi seorang Kaisar yang baik dan hebat. Huang Yunji sering berdiam diri di Istana Liuli, hanya untuk mengobati rasa rindunya yang tidak terbalas pada kakak perempuannya itu.


Seperti mimpi, semuanya berjalan indah pada jalurnya masing-masing. Jika rakyat Dong Hua hidup bahagia dengan segala pembaharuan yang ada, maka lain halnya dengan Yuwen Yue. Dia yang diangkat menjadi Kepala Akademi Kerajaan setelah kematian calon istrinya justru berubah seperti dulu. Senyuman yang sempat mengembang di wajahnya hilang, berganti dengan ekspresi dingin yang bahkan lebih dingin dari sebelumnya.

__ADS_1


Yuwen Yue berubah menjadi pria yang tidak tersentuh. Hari-harinya dilewati hanya untuk menyelesaikan tugas dan berdiskusi dengan Kaisar perkara pemerintahan dan pendidikan. Kata-kata yang terucap dari mulutnya menjadi lebih sedikit dan lebih tajam hingga orang yang berjumpa dengannya akan menghindar sejauh mungkin.


Rupanya, dia masih tidak bisa melupakan Huang Yunxi. Satu hari pun tidak pernah lupa. Bayangan Huang Yunxi terus datang padanya dari waktu ke waktu. Entah itu pagi, siang atau malam, sosoknya selalu muncul di kepalanya tiada henti. Rasa sakit yang begitu parah telah membuat hatinya tertutup untuk menerima orang lain.


Kaisar Huang Yun Yi pernah berkata kalau Yuwen Yue boleh menikah dengan siapa saja. Dekret pernikahannya dengan Huang Yunxi sudah tidak berlaku karena gadis itu sudah tiada. Namun, Yuwen Yue memilih tetap setia pada gadis itu sekalipun raga dan jiwa mereka sudah berbeda dunia. Yuwen Yue tidak bisa jatuh cinta lagi.


Kaisar juga sama sedihnya. Dia telah kehilangan dua perempuan yang dia sayangi hanya dalam waktu kurang dari dua puluh tahun. Saat dia sendirian di Istana Mingyan, dia kerap menangis, merasakan rasa sakit seorang diri karena telah gagal menjadi seorang suami dan ayah yang baik untuk dua wanita itu. Tidak pernah ada yang tahu sisi rapuh Sang Kaisar selain dirinya sendiri.


“Kau bilang, kau bukan dari dunia ini dan aku hanyalah sebuah tugas untukmu. Lalu di mana letak duniamu itu?”


Yuwen Yue memandang langit dari atas bukit di belakang Akademi Kerajaan.


Satu tahun lalu, bukit ini ditutupi salju tebal. Satu tahun lalu, bukit ini menjadi tempat dia dan Huang Yunxi menghabiskan musim dingin pertama. Di pondok yang kini sedang dia huni, pernah ada kisah manis yang terus menerus mekar di dalam ingatannya. Semua tentang Huang Yunxi. Semuanya hanya tentang gadis itu.


Betapa besar rasa sakit yang ditinggalkan oleh gadis itu. Betapa banyak penderitaan yang harus dia alami atas kepergiannya. Yuwen Yue seringkali menyalahkan dirinya sendiri setiap kali teringat bagaimana cara gadis itu mati. Ingatan saat pedang tajam menusuk jantung Huang Yunxi begitu segar di dalam otaknya.


Kisahnya yang singkat bersama gadis itu seperti mimpi indah yang dipaksa berakhir oleh takdir. Langit, Dewa, atau apalah itu, telah mempermainkannya sedemikian rupa. Langit terlalu sering bercanda dengannya. Jika bisa memilih, Yuwen Yue ingin tetap terlelap dalam mimpi indahnya bersama Huang Yunxi.


Di dekat jendela yang terbuka, Yuwen Yue menikmati semilir angin yang berhembus membawa udara segar. Dulu, Huang Yunxi sangat suka melamun dan menikmati waktu di dekat jendela. Yuwen Yue akan setia mengamatinya dari jauh, dari tempat yang tidak terlihat oleh gadis itu. Kalau sudah puas, dia akan langsung pergi dengan wajah yang baik.

__ADS_1


Dada Yuwen Yue terasa sesak. Sakit, ini sangat sakit. Air mata yang biasanya betah berlama-lama di dalam kantungnya kini semakin sering keluar tanpa izin. Yuwen Yue memukul-mukul dadanya yang bidang. Di balik pakaian suteranya yang bagus, hatinya justru remuk redam. Simpul di dalamnya begitu kusut.


Dia belum sempat menyatakan cintanya dengan baik. Dulu dia berencana untuk mengulang pernyataan cintanya pada Huang Yunxi di musim semi setelah semua permasalahan selesai. Yuwen Yue ingin memberikan malam dipenuhi sejuta lentera, sejuta kembang api, sejuta kebahagiaan padanya.


Pada malam yang indah itu, dia akan berlutut di depan Huang Yunxi dan memintanya menjadi istrinya dengan tulus.


Semuanya hanya angan-angan. Semuanya hanya menjadi mimpi yang tidak pernah bisa menjadi kenyataan. Masalah Liu Yang malah lebih cepat terungkap dari rencana awal hingga semuanya di luar kendali.


Sekeras apapun dia berpikir, sejauh apapun dia berlari, dirinya hanya akan kembali pada satu titik: Huang Yunxi tidak akan pernah kembali!


“Yunxi, kau benar-benar tidak berencana untuk kembali? Setidaknya, muncullah di hadapanku untuk mengucapkan kata-kata terakhir lalu kita akan berpisah dengan baik. Ah, mana ada perpisahan yang baik. Yunxi, lihat, aku bahkan sudah hampir gila karena kau pergi begitu saja!”


Siapa yang harus dia salahkan? Takdir? Langit? Dewa? Tuhan? Kaisar? Ataukah dirinya sendiri? Tidak ada yang memberinya jawaban pasti. Apa yang ada di kepalanya hanya menjadi sebuah boomerang yang perlahan menyakiti tubuh dan psikisnya. Di luar, dia tampak sehat. Namun di dalam, dia terluka begitu parah.


“Variabel? Variabel apanya! Jika sesuatu yang kau maksud memang ada, maka muncullah! Aku akan membunuhmu dan membuat Huang Yunxi kembali padaku! Waktu itu dia bilang apa? Sistem? Sistem? Sistem sialan! Beraninya menciptakan dunia ini dan mempermaikan aku!”


Yuwen Yue bertingkah seperti orang mabuk. Bicaranya ngawur dan tidak karuan. Dia bahkan berteriak-teriak tidak jelas di pondok yang hanya terdapat dirinya seorang. Yuwen Yue malah menjelma menjadi pemabuk gila yang kehilangan kendali tanpa meminum alkohol. Yuwen Yue terus menggila hingga dia tidak menyadari kalau sesuatu sedang terbang ke arahnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2