The Imperial College

The Imperial College
Eps. 15: Orang Licik


__ADS_3

Skor sementara menjadi 1-0. Satu untuk Akademi Kerajaan, nol untuk Akademi Tian. Lan Zi, si murid perwakilan Akademi Kerajaan turun dari kudanya dengan raut bahagia. Dia berhasil menjadi kebanggaan Akademi Kerajaan lagi dengan memenangkan pertandingan pertama. Lan Zi disambut rangkulan dan teriakan bahagia dari para petinggi Akademi Kerajaan dan teman-temannya.


Ini adalah awal yang bagus.


Lan Zi berjalan ke tempat Huang Yunxi berdiri, kemudian menunduk padanya sambil mengucapkan terima kasih. Jika tadi Huang Yunxi tidak mengganti kudanya, dia mungkin sudah bernasib sama dengan murid Akademi Tian. Lan Zi juga meminta maaf karena telah meragukan seorang Putri Xiyue pada saat-saat awal.


Setelah istirahat beberapa saat, lonceng penanda pertandingan kedua telah berbunyi satu kali. Ini saatnya pertandingan tarian pedang. Semua orang yang semula berada di lapangan berkuda berpindah tempat ke lapangan bundar di depan aula utama. Bak bebek yang sedang dimandikan, orang-orang itu berbaris rapi sambil berjalan.


Shi Heng, sang penari pedang dari Akademi Kerajaan sudah siaga dengan seragam tari khas Kekaisaran Dong Hua. Pria berparas cantik itu berdiri di pinggir lapangan bundar. Bulu matanya yang lentik berkedip lucu. Riasan wajahnya tidak hanya cantik, tetapi bisa membuat siapapun tidak bisa membedakan apakah dia adalah laki-laki atau perempuan. Ya, tarian pedang ini meskipun diperagakan oleh laki-laki, riasan di wajahnya tetap seperti perempuan. Maka tak heran, kebanyakan penari dalam tarian ini adalah laki-laki berparas cantik.


Berbicara soal paras cantik, Yuwen Yue, si Wakil Penasihat Akademi juga berparas cantik dan rupawan. Hidungnya bangir, wajahnya oval khas pria Asia pada umumnya. Bulu matanya lentik, alisnya hitam dan tegas. Kulitnya putih dan bersih, seperti tidak pernah menyentuh sesuatu yang kotor. Bibirnya tipis dan cerah alami. Jika rambutnya digerai sempurna dan diberi sedikit riasan, Yuwen Yue bisa menjadi seorang wanita.


Ah, apakah pria itu juga pernah menjadi seorang penari pedang?


Sadar bahwa dirinya memikirkan Yuwen Yue, Huang Yunxi langsung bergidik. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Terserah jika pria itu pernah menjadi penari pedang atau bahkan pria penghibur, Huang Yunxi sama sekali tidak punya urusan untuk mengkhawatirkannya. Huang Yunxi kembali memfokuskan pandangannya ke depan, ke arena pertandingan.


Satu pukulan lonceng sudah ditabuh. Pertandingan tarian pedang dimulai dengan sorak sorai para pelajar Akademi Kerajaan dan Akademi Tian, diiringi tabuhan musik yang nyaring dan iramanya begitu bersemangat. Peserta pertama adalah Akademi Tian. Orang itu mulai bergerak mengikuti irama musik, menggerakkan kaki, tangan, badan dan kepala. Gerakannya sangat luwes dan tegas.


Lima belas menit kemudian, musik berhenti. Peserta Akademi Tian selesai dengan pertunjukkan menakjubkannya. Dia kembali ke kursi peserta diiringi tepukan tangan yang meriah dari semua orang. Gerakannya tadi sungguh sudah mencuri perhatian banyak orang. Bahkan, para dewan juri yang terdiri dari ahli tari dan ahli pedang saja sampai menggelengkan kepala mereka.


Selanjutnya, giliran Shi Heng, peserta dari Akademi Kerajaan. Saat musik mulai mengalun, tubuhnya meleok-leok dengan lincah. Sendi-sendinya sangat lentur. Gerakan tariannya begitu lembut, kemudian perlahan berubah menjadi tegas seiring dengan naiknya tempo dari musik yang ditabuh.


Tepukan tangan yang lebih keras dan lebih kompak mendengung di udara. Tepukan itu semakin keras tatkala Shi Heng melakukan gerak berputar dengan pedang di kedua tangan, kemudian melemparkannya ke udara dan kembali menangkapnya.


Namun, sesuatu terjadi di luar dugaan. Saat Shi Heng melompat dan mendarat, kakinya terkilir akibat tekanan yang besar dari berat tubuhnya. Pria berparas cantik itu langsung terjatuh. Pedang yang tadi dia pegang entah terbang ke mana. Yang jelas, pria itu kini hanya bisa mengaduh kesakitan sambil memegangi pergelangan kakinya yang mulai membengkak.


“Kau baik-baik saja?” tanya Yuwen Yue. Shi Heng yang masih mengaduh mengangguk.


“Guru, tarian pedangnya?”


“Tidak apa-apa. Mengobati kakimu lebih penting.”


Meskipun tidak terima, tetapi sepertinya Shi Heng juga tidak bisa memaksakan diri. Jika diteruskan, kakinya bisa patah dan dia tidak akan bisa berjalan lagi. Beberapa petugas medis yang disiapkan langsung membawanya keluar dari arena. Shi Heng dibopong ke Balai Medis yang baru dibangun beberapa hari lalu.


“Menurutmu kakinya akan sembuh?” Fang Jianming tiba-tiba bertanya.


“Dia hanya terkilir. Kakinya tidak akan diamputasi.”


“Amputasi?”


“Semacam pemotongan bagian tubuh yang membusuk atau dianggap berbahaya jika dipertahankan.”


“Ah, ternyata ada hal seperti itu. Tapi Yunxi, bukankah ini artinya Akademi Tian menang dalam babak ini?”


“Ya. Skornya sama.”


Terdengar helaan napas dari Fang Jianming. Huang Yunxi menduga kalau Fang Jianming pasti sedang gugup. Sebentar lagi, giliran dia yang bertanding. Jika dia kalah, maka kesempatan Akademi Kerajaan untuk menang akan menipis. Ditambah lagi dengan Huang Yunxi yang sejak awal menolak dan tidak mau berlatih. Jika sampai Huang Yunxi tidak bermain, maka semuanya sudah pupus.


“Yunxi!” panggil seseorang.


Huang Yunxi menoleh. Yuwen Yue setengah berlari menuju ke tempatnya berdiri.


“Apa kau punya sesuatu yang bisa menyembuhkan kaki Shi Heng?”

__ADS_1


“Guru, aku ini seorang pelajar, bukan dokter. Kenapa kau tidak bertanya pada tabib?”


“Ah, itu, biasanya kau punya alat ajaib.”


“Tidak. Suruh tabib saja yang mengobatinya!”


“Tabib bilang Shi Heng perlu istirahat selama satu bulan.”


“Selama itu? Bukankah dia hanya terkilir?”


“Tulang pergelangan kakinya retak.”


“Oh.”


Huang Yunxi bukan roh pengabul keinginan. Dia juga bukan Dewa atau Dewi Kehidupan. Dia sungguh tidak bisa menyembuhkan kaki Shi Heng. Dia bukan dokter, dia hanya Huang Yunxi, seorang gamers yang mendapat karma karena menyebabkan kebakaran di dunia nyata. Bertanya padanya sama saja dengan kebohongan. Meskipun dia punya sistem ajaib, tetapi Huang Yunxi tidak bisa bermain-main dengan tubuh makhuk yang masih hidup.


Lonceng penanda pertandingan ketiga kemudian berbunyi. Pertandingan aritmatika akan segera dimulai. Mereka yang diperbolehkan masuk ke ruangan hanya beberapa orang saja. Huang Yunxi menyusup diantara kerumunan orang. Karena tubuhnya kecil, dia dengan mudah menyelinap dan berdiri paling depan. Di sana, Fang Jianming sudah duduk di depan sebuah meja kecil. Di hadapannya ada satu peserta dari Akademi Tian. Tidak jauh dari sana, terdapat sebuah papan tulis kecil.


Teng. Lonceng kembali berbunyi. Suasana yang tadinya riuh mendadak hening. Fang Jianming dan murid Akademi Tian saling beradu kecerdasan lewat permainan angka. Soal demi soal terjawab dengan sempurna. Selisih nilai antara Akademi Tian dan Akademi Kerajaan hanya berbeda tipis.


“Jiuming, lihat saudaramu itu. Apa otaknya terbuat dari emas?”


“Tentu saja. Kami adalah kebanggaan Kediaman Adipati Fu.”


“Aku menyesal sudah bertanya padamu.”


Saat skor Akademi Tian dan Akademi Kerajaan berbeda 0,001 poin, sesuatu tiba-tiba terjadi. Fang Jiuming yang tadinya tenang di posisinya, kini tampak gelisah. Dia menggelengkan kepalanya, kemudian berteriak,


“Diam! Mengapa di sini sangat berisik?”


Semakin lama, kegelisahan Fang Jianming semakin menjadi. Pria itu tidak hanya berteriak, tetapi menutup kedua telinganya dengan tangan dan mulai bertingkah aneh. Dia selalu berkata bahwa di sini sangat berisik hingga dia tidak bisa berkonsentrasi. Orang-orang mulai panik. Sebenarnya apa yang terjadi pada putra kediaman Adipati Fu yang cerdas ini?


a“Celaka!”


Huang Yunxi berseru, kemudian melompat ke tempat Fang Jianming. Dia baru ingat kalau tingkah laku Fang Jianming ini mirip dengan seseorang yang sedang berhalusinasi. Benar, Fang Jianming pasti sedang berhalusinasi hingga di kepalanya muncul suara-suara yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri.


“Guru! Guru!”


“Yunxi, ada apa dengan Fang Jianming?”


“Guru, sepertinya dia memakan Bunga Putih!”


“Bunga Putih? Maksudmu, racun yang kita teliti beberapa waktu lalu?”


“Ya!”


“Gawat! Cepat, bantu dia!”


Fang Jianming dibawa ke ruang perawatan medis. Dikarenakan terjadi hal yang tidak disangka-sangka, maka pertandingan aritmatika ditunda untuk sementara waktu. Fang Jianming masih harus diperiksa untuk mengetahui apakah penyebab dia berhalusinasi dan mengamuk di arena pertandingan adalah racun Bunga Putih atau bukan. Jika terbukti, maka diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui asal-usul racun ini dan bagaimana racun itu bisa sampai di tubuh Fang Jianming.


Huang Yunxi dan Yuwen Yue menunggu hasil pemeriksaan di luar ruangan. Wajah panik keduanya begitu kentara. Mereka khawatir jika Fang Jianming tidak dapat sadar dalam waktu yang singkat. Kejadiannya begitu misterius, sangat penting bagi mereka untuk mencari keterangan dari korban.


“Tabib, bagaimana keadaannya?” tanya Yuwen Yue ketika tabib khusus Akademi Kerajaan keluar dari ruangan.

__ADS_1


“Wakil Penasihat tenang saja. Kadar racun di dalam tubuhnya tidak terlalu banyak. Dalam waktu satu jam, Tuan Muda Fang akan sadar.”


“Dokter, kau punya penangkal racunnya?” tanya Huang Yunxi.


“Maaf, Tuan Puteri. Hamba hanya bisa menahannya untuk sementara waktu. Jangan biarkan Tuan Muda Fang minum alkohol dan makanan bercuka agar racunnya tidak bereaksi lagi,” jawab tabib Akademi Kerajaan penuh sesal.


Tabib Akademi Kerajaan kemudian pamit setelah menuliskan beberapa resep obat. Huang Yunxi dan Yuwen Yue langsung masuk untuk melihat keadaan Fang Jianming. Wajah pria jenaka itu begitu pucat. Keringat mengucur di kening dan dahinya.


Sementara itu, Fang Jiuming baru kembali setelah beberapa saat. Saudara kembar Fang Jianming tersebut diminta pergi ke kediaman Adipati Fu untuk mengabari ayah mereka.


“Jiuming, kau jaga saudaramu.”


“Yunxi, kau mau ke mana?”


“Aku haru menyelesaikan permainannya.”


“Yunxi, bagaimana jika sesuatu yang sama terjadi padamu?” Kali ini, Yuwen Yue yang angkat suara.


“Aku bisa menjaga diri.”


“Yunxi, tidak apa-apa. Reputasi Akademi Kerajaan tidak sepenting keselamatanmu. Jika kau berada dalam bahaya, bagaimana aku menjelaskannya pada Yang Mulia?”


“Guru, kau cerewet.”


qqTanpa mempedulikan kicauan Yuwen Yue, Huang Yunxi pergi ke arena pertandingan terakhir, yakni pertandingan catur. Peserta dari Akademi Tian sudah duduk manis di tempatnya. Begitu pula dengan para pendukungnya. Sepertinya, mereka sama sekali tidak terpengaruh dengan kejadian yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu.


Huang Yunxi masuk ke arena. Dia disoraki oleh para pelajar Akademi Kerajaan. Ini adalah pertandingan terakhir yang akan menentukan siapakah pemenang pada tahun ini. Mereka menaruh harapan pada Huang Yunxi, tapi tidak berani berangan-angan tinggi karena mereka tahu betul seperti apa seorang Huang Yunxi.


q“Yo, apakah Akademi Kerajaan tidak punya orang kompeten hingga mengirim seorang wanita untuk bertanding denganku?” celetuk Si Peserta Akademi Tian. Hal tersebut membuat Huang Yunxi mengerutkan kening. Apa manusia di depannya sedang meremehkannya?


“Laki-laki atau perempuan, kalau mau bertanding ya bertanding saja,” ucap Huang Yunxi dengan tegas. Gadis itu kemudian duduk di tempatnya, berhadapan dengan Si Peserta Akademi Tian.


Melihat seorang wanita yang begitu angkuh dan tidak takut, Si Peserta Akademi Tian merasa kesal. Bisa-bisanya dia berhadapan dengan seorang wanita dalam arena! Ini adalah sebuah bentuk penghinaan baginya dan bagi Akademi Tian. Lihat bagaimana dia menghancurkan reputasi dan mempermalukan Akademi Kerajaan hingga wanita di hadapannya ini tidak berani mendongakkan kepala lagi!


Lonceng tanda pertandingan dimulai. Catur kali ini dilakukan dengan mata tertutup. Kedua peserta mulai berkonsentrasi. Huang Yunxi menjalankan bidak putih, sementara Si Peserta Akademi Tian menjalankan bidak hitam. Satu persatu bidak berjalan maju, membentuk formasi yang tidak menentu.


aSemakin lama, pertandingan semakin seru. Bidak catur Huang Yunxi dikepung di sana-sini. Ini pertama kalinya Huang Yunxi bermain dengan mata tertutup. Hanya mengandalkan suara dan garis di papan, dia akui dia memang sedikit kesulitan. Tetapi, bukan Huang Yunxi namanya jika dia menyerah.


Konsentrasinya terpusat pada posisi bertahan daripada menyerang. Lawan di depannya tidak bisa dianggap remeh. Kemampuannya memang luar biasa. Huang Yunxi memerlukan usaha yang sangat keras agar bidak caturnya tidak hilang. Namun, nasib sedang tidak baik. Huang Yunxi kalah di babak pertama.


Babak kedua dimulai. Kali ini, giliran Huang Yunxi yang menjalankan bidak hitam. Dia melangkah dengan hati-hati. Formasinya cukup kuat hingga posisinya tidak terdesak seperti di babak pertama. Alhasil, pada babak kedua, Huang Yunxi menang telak. Skor menjadi satu sama.


Babak penentuan pemenang dimulai. Semua orang ikut tegang karena inilah babak penentu. Siapa yang menang kali ini maka akan menjadi pemenang pertandingan pada tahun ini. Dua peserta yang sedang berhadapan di atas sana memusatkan konsentrasi mereka pada papan catur.


Huang Yunxi mengatur formasi. Namun, konsentrasinya terpecah karena lawan di seberangnya mengetuk-ngetuk papan catur hingga suaranya terasa sangat mengganggu. Langkahnya meleset beberapa kali. Lama kelamaan, dia merasa kesal. Orang di hadapannya sedang berbuat licik dengan memecah konsentrasinya rupanya.


Huang Yunxi mengeluarkan jurus pamungkasnya. Kemampuannya sebagai seorang gamers dia keluarkan setengah. Formasi bidak Huang Yunxi di papan catur berubah menjadi sangat rumit dan sulit ditembus. Sekali melangkah, maka bidak catur lawan langsung terkepung di sana-sini. Bidak catur lawan tidak bisa bergerak lagi.


Ketika lonceng berbunyi, Huang Yunxi bersorak. Dia membuka penutup matanya lalu melompat dengan girang. Para pendukungnya juga ikut bersorak. Dia menang! Akademi Kerajaan menang!


“Lihat, kemampuanku jauh lebih baik darimu, bodoh!”


Si Peserta Akademi Tian membuang muka.

__ADS_1


...***...


__ADS_2