
Siang hari, jalan Kota Fengling, ibukota Kekaisaran Dinasti Hu sangat ramai. Di pasar kota yang menjadi pusat kegiatan para penduduk, suasana riuh namun tidak ricuh. Para pedagang asyik menjajakan barang dagangan mereka, para pembeli juga asyik tawar menawar harga. Beberapa penjaga keamanan yang bertugas tampak sedang berpatroli, mengontrol keadaan. Gadis-gadis dan para tuan muda dari kediaman-kediaman bangsawan hilir mudik, menebar pesona dan sesekali menggoda.
Huang Yunxi membawa sahabatnya, Si Kembar Fang keluar dari Akademi Kerajaan. Ini hari libur, tidak seru jika hanya berdiam diri di Asrama Akademi seharian penuh. Pagi tadi, Huang Yunxi menggedor pintu kamar Fang Jiuming dan Fang Jianming dengan keras sambil berteriak hingga beberapa penghuni asrama lain ikut terbangun. Huang Yunxi mengabaikan batasan antara pria dan wanita. Dia masuk ke dalam kamar Fang Jiuming dan Fang Jianming, menarik paksa mereka dari tempat tidur hingga keduanya terbangun.
Sudah hampir satu jam berlalu. Huang Yunxi asyik berbelanja ini itu, kemudian menyuruh Si Kembar Fang membawa seluruh barang belanjaannya. Semua yang dia beli bukanlah peralatan yang biasa digunakan oleh wanita pada umumnya seperti bedak, pemerah pipi, atau pemerah bibir. Apa yang dibeli Huang Yunxi adalah kertas, tinta, pedang kayu, tombak kayu, kain satin, dan beberapa senjata kecil yang legal dibeli.
“Yunxi, apa kau harus belanja sebanyak ini?” tanya Fang Jiuming yang kedua tangannya sudah sibuk menjinjing barang belanjaan.
“Aku harus menghabiskan uangku, jika tidak, maka tidak akan seru,” jawab Huang Yunxi sambil tetap memperhatikan barang yang ingin ia beli di sebuah toko.
“Tapi mengapa kau harus membeli benda-benda ini? Apa kau tidak ingin membeli pemerah pipi atau semacamnya?” kali ini, Fang Jianming yang bertanya.
“Aku tidak kekurangan benda-benda aneh itu di istana. Jika kalian ingin, kalian bisa mengambilnya kapan saja.”
“Yang benar saja! Kami ini pria, mana mungkin memakai benda-benda seperti itu!” seru Fang Jiuming.
“Benarkah? Aku yakin suatu saat kau akan membutuhkannya.”
“Apa?”
“Tidak ada.”
Usai berbelanja, Huang Yunxi dan Si Kembar Fang kemudian berjalan ke arah utara. Mereka sampai pada sebuah bangunan bertingkat tiga yang sangat ramai. Bahkan suara riuh dari dalam sana sampai terdengar beberapa meter jauhnya. Bisa dibayangkan betapa banyak orang yang ada di dalam bangunan itu.
Restoran Muyun. Begitulah tulisan yang terbaca saat Huang Yunxi sampai di depan bangunan. Menurut informasi dari Fang Jiuming dan Fang Jianming, Restoran Muyun adalah sebuah restoran paling terkenal di ibukota. Di Kota Fengling ini, Restoran Muyun adalah restoran nomor satu.
Tempat itu terkenal karena masakannya sangat lezat dan mampu membuat orang ketagihan. Selain itu, pelayanan di sana juga sangat baik. Banyak gadis-gadis muda yang menjadi pelayan bekerja di sana.
Pelajar Akademi Kerajaan sebenarnya tidak diperbolehkan masuk karena akan merusak reputasi Akademi Kerajaan. Tapi bagi Huang Yunxi, semua aturan itu tidak berlaku. Ini hanya sebuah restoran, bukan tempat pelacuran. Restoran hanya sebuah tempat makan, bukan tempat mengumbar napsu atau mencari kepuasan sesaat. Lagipula, ini adalah hari libur. Aturan Akademi Kerajaan tidak berlaku pada hari libur.
Huang Yunxi dan Si Kembar Fang duduk di lantai dua, sebelah kanan tangga. Seorang pelayan laki-laki muda dari restoran itu kemudian datang menanyakan menu apa yang hendak dipesan oleh ketiga orang itu. Huang Yunxi dan Si Kembar Fang lantas menyebutkan makanan apa saja yang mereka inginkan.
Mereka bertiga memesan satu buah ayam panggang, tiga potong daging sapi panggang, tiga mangkuk nasi, satu piring sup akar teratai, dua buah minuman dingin dan tiga mangkuk sayuran. Pesanan mereka ini sudah mirip seperti porsi makan untuk satu keluarga besar.
Tidak apa-apa, Huang Yunxi kaya raya dan dia punya banyak uang di bank pribadinya. Sedikit boros tidak masalah, yang terpenting hatinya senang dan perutnya kenyang. Huang Yunxi belum mendapat makanan yang benar-benar membuat perutnya kenyang dan puas selama di Akademi Kerajaan, karena makanan yang mereka terima di Asrama Akademi sehari-hari jika bukan sayuran, maka hanya ada mie buatan tangan dan nasi putih ditambah irisan daging ayam saja, tidak ada daging sapi atau yang lainnya.
Setelah menunggu beberapa lama, pesanan mereka akhirnya datang. Huang Yunxi dan Si Kembar Fang langsung bersantap dengan lahap. Lidah mereka begitu dimanjakan ketika bumbu dari setiap masakan itu menyentuhnya, merangsangnya dengan aroma dan rasa khas yang sangat menggugah selera. Tidak disangka, dunia fantasi ini juga memiliki hidangan yang begitu nyata.
Acara makan-makan itu terganggu oleh suara keributan yang berasal dari lantai bawah. Seorang pelayan Restoran Muyun disiram air oleh seorang wanita muda berpakaian serba merah berwarna kuning. Di samping wanita itu berdiri seorang wanita lagi, hanya saja tampilannya lebih sederhana dari si wanita berpakaian mewah. Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut saling pandang sambil membicarakan apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Huang Yunxi paling tidak suka seseorang mengganggu acara makannya. Dia menolehkan kepala ke bawah, melihat siapakah yang begitu tidak tahu malu membuat keributan di tempat ramai seperti ini.
“Siapa wanita itu?” tanya Huang Yunxi sambil menunjuk wanita berpakaian mewah.
“Itu Nona Su Jiayu, putri dari Menteri Perang Su Xuan,” jawab Fang Jianming sambil tetap menikmati hidangan.
“Apa yang dia ributkan?”
“Kalau bukan masalah Tuan Muda Pertama, pasti tentang pelayan yang menyinggungnya secara tidak sengaja.” Kali ini Fang Jiuming yang menjawab.
“Ah, cinta bertepuk sebelah tangan rupanya.”
Wanita Bernama Su Jiayu itu tergila-gila pada Tuan Muda Pertama atau Yuwen Yue. Sudah sering rubah kecil itu memainkan trik untuk memikat Yuwen Yue, namun semuanya gagal. Jangankan dihiraukan, dilirik saja tidak. Hati Yuwen Yue sekeras batu, perhatian dalam bentuk apapun, terutama dari seorang wanita yang gatal seperti terkena ulat bulu tidak akan berpengaruh apa-apa. Alih-alih terpesona, pria tersebut justru merasa jijik.
Huang Yunxi mengasihani Su Jiayu. Wanita itu pasti sudah mengeluarkan banyak uang dan tenaga tapi hasilnya sia-sia. Pria seperti Yuwen Yue ini sebaiknya dihindari, bukan berusaha didekati. Dia bukan kandidat cocok yang bisa dijadikan seorang suami. Huang Yunxi heran mengapa Su Jiayu bisa tergila-gila pada Yuwen Yue.
Wanita itu bangkit, kemudian turun ke lantai bawah.
“Mengapa kau membuat keributan di sini? Apa kau sangat suka mencari perhatian orang?” tanya Huang Yunxi dengan kesal.
“Siapa kau?”
Su Jiayu naik pitam. Wanita berisik itu tidak terima dirinya disamakan dengan seekor bangau. Siapa wanita ini? Mengapa tidak tahu sopan santun dan berkata seenaknya saja padanya? Apakah dia tidak tahu kalau dirinya adalah Nona Besar Keluarga Su? Di ibukota kekaisaran ini, ayahnya adalah orang yang sangat dihormati oleh rakyat dan Kaisar juga menghargainya. Siapapun yang menyinggung pasti akan mendapatkan hukuman.
“Siapa kau? Mengapa kau sangat berani menyinggungku? Aku akan melaporkannya pada ayahku!”
“Laporkan saja. Aku tidak takut!”
Wanita yang berdiri tak jauh dari Su Jiayu kemudian berbisik,
“A-Yu, dia adalah Huang Yunxi, siswi Akademi Kerajaan.”
Wajah Su Jiayu sedikit berubah. Dia memandang Huang Yunxi dari kepala hingga kaki. Siswi Akademi Kerajaan? Dia? Tidak, Su Jiayu tidak percaya. Dia pernah mendengar kabar kalau seorang wanita memaksa masuk ke dalam Akademi Kerajaan dan belajar di sana.
Tapi, apakah wanita seperti ini yang ada dalam kabar itu?
Su Jiayu tiba-tiba teringat sesuatu. Dia pernah mendengar kalau siswi pertama Akademi Kerajaan adalah putri tunggal Kaisar yang melarikan diri dari pernikahan dan memalsukan dekretnya. Jika dipikir kembali, wanita yang memaksa masuk ke dalam Akademi Kerajaan dan belajar di sana pastilah putri tunggal Kaisar itu.
“Ah, jadi kau adalah Putri Xiyue?” tanya Su Jiayu kemudian.
__ADS_1
Huang Yunxi memutar bola matanya dengan malas. Identitasnya apakah mudah terbongkar begitu saja?
“Seorang wanita sekolah di sekolah umum dan bukan di rumah, juga memalsukan dekret Kaisar, bukankah itu sangat tidak tahu malu?”
“Kaisar adalah ayahku. Apa salahnya aku menggunakan kekuasaannya untuk menyekolahlanku? Lagi pula, pendidikan umum itu bukan hanya untuk laki-laki. Su Jiayu, apa kau tidak tahu kalau pendidikan adalah hak semua orang? Akademi Kerajaan adalah perguruan tinggi kekaisaran yang memiliki tugas mendidik anak-anak bangsa, jadi tidak ada salahnya jika aku bersekolah di sana.”
Penjelasan Huang Yunxi masuk akal juga. Tapi, bagaimanapun, wanita yang bersekolah di sekolah umum adalah sesuatu yang tabu yang melanggar norma dan budaya masyarakat. Huang Yunxi meskipun putri tunggal Kaisar dan perkataannya benar, tetap saja tidak pantas jika terus diam di Akademi Kerajaan.
Ditambah lagi dia memalsukan dekret Kaisar agar dirinya bisa masuk ke dalam Akademi Kerajaan, itu sudah suatu pelanggaran yang berat. Su Jiayu juga pernah mendengar kalau Huang Yunxi membakar gedung Pusat Medis di Akademi Kerajaan beberapa waktu lalu.
“Kau wanita kasar dan tidak tahu malu. Sudah sekolah di Akademi Kerajaan, juga sering mempersulit Tuan Muda Yue. Sungguh tidak masuk akal!”
Huang Yunxi berdecak.
“Ckckck…. Su Jiayu, apa kau tidak tahu kalau cintamu bertepuk sebelah tangan?”
“Aku tidak peduli.”
“Kau buta rupanya.”
“Menyukai Tuan Muda Yue adalah urusanku, bukan urusanmu!”
“Ah, benar. Kebetulan, aku juga tidak ingin mengurusi urusanmu yang tidak berguna itu. Aku sarankan agar kau berpikir kembali untuk mempertimbangkan apakah Yuwen Yue pantas kau kejar atau tidak. Jika kau sudah menemukannya, jangan lupa beritahu aku!”
Huang Yunxi mengatakannya dengan mudah seolah itu adalah kata-kata biasa. Wanita itu tidak menyadari kalau seseorang sudah berdiri di belakangnya dengan wajah yang sangat masam dan tidak sedap dipandang. Huang Yunxi menertawakan Su Jiayu, tetapi tidak tahu bahwa seseorang di belakang itu sedang menatapnya dengan tajam. Su Jiayu terdiam ketika ia mengetahui seseorang yang berdiri di belakang Huang Yunxi adalah seseorang yang bisa membuat jantungnya berpacu kapan saja.
“Huang Yunxi, apa kau sudah puas tertawa?”
Bagai disambar petir, Huang Yunxi langsung menghentikan tawanya. Suara itu, benar, suara itu! Itu adalah suara seseorang yang selalu memberinya bencana! Gawat! Keadaan benar-benar sudah gawat!
“Sistem? Sistem?” panggil Huang Yunxi. Dia ingin meminta bantuan sistem, tetapi sistem tidak menjawab. Sial! Sistem pasti kabur lagi!
Huang Yunxi kemudian berbalik.
“Ahahaha, Guru Yue, kau juga di sini?”
Yuwen Yue menatap Huang Yunxi dengan tajam.
...***...
__ADS_1