
Huang Yunxi menikmati jamuan perayaan festival lentera dalam diam. Perasaannya tiba-tiba tidak menentu. Sejak dia memetik senar guqin, hatinya langsung terpaut pada sosok Ratu Pertama yang sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Hati itu seperti terhubung oleh ikatan gaib yang sangat kuat. Huang Yunxi seolah melintasi lorong waktu yang sangat panjang.
Entah mengapa, perasaannya semacam kebencian yang terpendam membuncah setiap kali matanya menatap wajah Selir Di. Di dalam dirinya seolah bersembunyi sosok lain yang tidak pernah menampakkan diri. Huang Yunxi sepintas mengira kalau dirinya di dunia ini memiliki alter ego, tetapi langsung dia tepis karena apa yang dia alami jelas berasal dari hatinya sendiri.
Selir Di sendiri langsung dipapah kembali ke Istana Dalam sesaat setelah pertunjukan selesai. Wanita yang hendak menjatuhkan kehormatan Huang Yunxi tersebut terus meracau tidak jelas seperti orang linglung. Para pelayan di sisinya juga bingung mengapa majikan mereka menjadi seperti itu.
“Yunji, apa benar ibuku meninggal setelah melahirkanmu?” tanya Huang Yunxi pada adiknya.
“Orang bilang memang seperti itu. Kenapa kakak tiba-tiba menanyakan ini?”
“Aku hanya ingin memastikan.”
Huang Yunxi punya firasat kalau perasaan yang timbul dalam hatinya pasti berkaitan dengan kematian Ratu Pertama. Meskipun kasus meninggal setelah melahirkan adalah kasus normal yang sering terjadi, tetapi kali ini Huang Yunxi justru merasa aneh. Dari sekian banyak wanita, mengapa kasus tersebut harus menimpa ibunya? Sebagai seorang Ratu, ibunya memiliki banyak orang hebat yang ahli di bidang medis yang mendampinginya. Jika terjadi sesuatu yang buruk saat persalinan, mereka pasti bisa membantunya selamat dari kematian. Tidak sesederhana seperti yang orang-orang pikirkan.
“Kakak, kau baik-baik saja?”
“Ya.”
“Ayo, kita terbangkan lentera ini!”
Huang Yunji membawa Huang Yunxi menuju pinggir danau taman kerajaan. Di sana, para putri dan pangeran yang lain juga tampak berkumpul sembari membawa lentera masing-masing. Mereka mengabaikan keberadaan dia dan Huang Yunji. Huang Yunxi dan Huang Yunji seperti sebuah bayangan di tengah malam gelap gulita.
Mengabaikan perlakuan orang lain, Huang Yunji menerbangkan sebuah lentera bundar berisi doa-doa ke langit. Sang adik memejamkan mata, lalu mengepalkan kedua tangannya. Mulutnya komat-kamit mengucapkan sebuah harapan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Tidak lama setelah itu, Huang Yunxi pun melepaskan sebuah lentera dengan bentuk yang sama, namun sisi-sisi kertas pembungkusnya kosong.
“Kakak, kau tidak menuliskan apapun?”
“Tidak.”
“Mengapa?”
“Aku tidak mau ditipu oleh pengharapan yang palsu. Kalau doa bisa didengar langit, tidak perlu menuliskan apapun. Isi hatimu sudah bisa sampai ke atas sana.”
“Meskipun penjelasan ini masuk akal, tapi aku tetap senang melakukannya!”
“Terserah. Aku tahu setiap orang punya caranya masing-masing.”
Huang Yunxi memandang langit yang disinari cahaya bulan. Ribuan lentera yang terbang dari masyarakat kota membaur bersama lentera yang diterbangkan oleh keluarga kerajaan. Festival tahun ini terasa spesial karena Huang Yunxi hadir menjadi seseorang yang baru di dunia ini.
__ADS_1
Sebuah bayangan hitam tiba-tiba muncul di bagian sisi danau yang lain. Bayangan itu langsung menghilang dalam kegelapan. Huang Yunxi berusaha mencari tahu sosok bayangan tersebut hingga dia terpisah dari Huang Yunji tanpa dia sadari. Ketika dirinya tersadar, dia sudah berada di sisi seberang danau, yang jaraknya sangat jauh. Bagian danau yang ini tidak diterangi cahaya hingga keadaan sekitarnya gelap. Hanya ada cahaya bulan yang sedikit menerangi jalan untuk pijakan.
“Ke mana perginya bayangan itu?”
Karena keadaan gelap, Huang Yunxi kemudian memikirkan alat yang bisa menerangi jalan di otaknya. Sebuah senter lalu muncul di depannya. Berkat senter itu, beberapa bagian yang dianggap mencurigakan berhasil diterangi. Sosok bayangan tersebut hilang seperti ditelan malam. Huang Yunxi hanya melihat rumpun semak belukar dan tumbuhan liar.
Orang yang dia cari tidak ditemukan. Sepertinya dia orang itu sudah pergi jauh. Huang Yunxi memutuskan untuk kembali ke keramaian. Baru saja dia berbalik, sebuah anak panah tiba-tiba melesat dari arah kegelapan. Kecepatannya lebih dari satu dua meter per detik. Huang Yunxi mengubah posisi tubuhnya. Ujung anak panah yang tajam tersebut gagal menembus jantungnya. Si pemanah sepertinya tidak mengetahui ketinggian target. Ujung anak panah tersebut justru malah mengenai pipi Huang Yunxi, menggores kulitnya sepanjang lima sentimeter hingga berdarah.
Huang Yunxi meringis. Rasanya sama seperti disayat pisau tajam. Darah segar mengalir dari lukanya yang terbuka. Tidak lama kemudian, sebuah tangan yang tidak terlihat menariknya, membawanya lari menjauh dari area yang gelap. Sosok yang menarik tangannya tampak tinggi besar, rambutnya panjang sepunggung badannya sangat kekar. Setelah mendekat ke area yang sedikit diterangi cahaya, dia baru bisa melihat warna baju yang dikenakan orang itu adalah biru muda.
“Guru?”
Huang Yunxi terkejut ketika tahu kalau orang yang menariknya adalah Yuwen Yue. Pria itu datang atas undangan Kaisar Huang Yun Yi. Yuwen Yue datang tanpa disadari oleh Huang Yunxi. Saat gadis itu naik panggung dan memainkan guqin, Yuwen Yue juga menyaksikannya di tengah kerumunan orang. Dia juga melihat saat Huang Yunxi dan Huang Yunji menerbangkan lentera di pinggir danau.
Saat melihat Huang Yunxi berjalan ke arah yang gelap, Yuwen Yue refleks mengikutinya. Itulah sebabnya dia langsung menarik Huang Yunxi menjauh karena tahu area gelap tersebut sangat berbahaya.
“Kau tidak apa-apa?”
Huang Yunxi menggelengkan kepala. Darah segar di pipinya terus keluar.
“Jangan pikirkan itu. Obati dulu lukamu!”
“Luka? Luka apa?”
“Wajahmu tergores! Apa kau pikir kulit wajahmu ini sangat tebal?” ucap Yuwen Yue dengan nada kesal.
Huang Yunxi menyentuh lukanya yang terbuka.
“Ah, ini. Apa ini darahku? Warnanya masih merah ternyata.”
“Kau bodoh ya?”
“Guru, kenapa darahku jadi hitam? Tunggu, Guru, kau yang mana? Sebelah kiri atau kanan?”
Yuwen Yue mengerutkan dahi. Wajah dinginnya jelas-jelas menampakkan kekhawatiran. Tubuh Huang Yunxi tiba-tiba lunglai. Darah segar yang mengalir di pipinya memang berubah menjadi hitam. Yuwen Yue langsung tertegun begitu dia tahu kalau sesuatu yang buruk baru saja terjadi.
Gadis itu berakhir dalam pangkuan Yuwen Yue. Orang-orang yang melihat keduanya langsung berkerumun. Festival lentera yang tadinya khidmat berubah menjadi riuh. Mereka yang hadir sama-sama penasaran terhadap kejadian yang membuat Putri Xiyue tersungkur di pangkuan Wakil Penasihat Akademi Kerajaan dengan wajah terluka.
__ADS_1
“Kakak! Apa yang terjadi padamu?”
“Yunxi! Yunxi, ada apa denganmu?” teriak Yuwen Yue panik. Gadis itu sudah memejamkan matanya. Seluruh tubuhnya menjadi lemah seperti tanpa tulang.
“Tangkap penyusupnya!” perintah Huang Yunji.
Beberapa pasukan kerajaan kemudian datang. Mereka menggeledah area gelap yang tadi didatangi Huang Yunxi. Penerangannya memang terlalu redup. Para pasukan tersebut tidak menemukan apapun selain semak belukar dan daun-daun pohon yang gugur. Tampaknya, penyusup yang telah melukai Huang Yunxi sudah pergi sejak tadi. Tidak ada jejak apapun yang bisa dijadikan petunjuk.
Sementara itu, Yuwen Yue menggendong Huang Yunxi yang tak sadarkan diri ke Istana Liuli. Perayaan festival lentera musim gugur yang semula berjalan lancar mendadak dibubarkan oleh Kaisar Huang Yun Yi. Jika diteruskan, kemungkinan akan ada penyusup lain yang mencari target lagi. Sang Kaisar tidak ingin orang terluka lebih banyak lagi.
Seorang tabib kerajaan kemudian datang dari arah pintu depan. Semua orang yang ada di sana menyingkir memberi jalan. Huang Yunxi langsung diperiksa. Wajahnya yang berlumuran darah dibersihkan dengan lap air hangat oleh Yuwen Yue. Sekarang, lukanya yang memanjang dan dalam terlihat sangat jelas.
“Tabib Xue, bagaimana keadaan putriku?” tanya Kaisar Huang Yun Yi setelah Xue Liang selesai memeriksa.
“Yang Mulia, maafkan kebodohan dan ketidakmampuan hambamu ini. Racun di wajah Yang Mulia Putri sangat langka dan menyebar sangat cepat ke seluruh tubuhnya,” jawab Xue Liang penuh ketidakberdayaan.
“Maksudmu, dia tidak bisa ditolong lagi?” tanya Yuwen Yue, yang membuat semua orang yang ada di sana merinding.
“Tuan, hamba benar-benar tidak mampu.”
Penuturan Xue Liang membuat semua orang yang ada di dalam kamar Huang Yunxi kehilangan tenaga. Kaisar Huang Yun Yi bahkan sampai terkulai. Jika Kasim Li tidak menahannya, lutut pria yang agung tersebut mungkin sudah menyentuh lantai yang dingin. Di samping kirinya, Huang Yunji menangis tanpa henti. Dia takut, dia sangat takut jika kakak perempuannya tidak bisa hidup lagi.
“Pu… Putriku… Tidak! Tabib Xue, kau harus menyembuhkannya! Putriku tidak boleh mati!”
“Kakak, bangun! Kau tidak boleh meninggalkanku!”
Kesedihan dan kekecewaan yang mendalam terlihat jelas di wajah Kaisar. Putri satu-satunya terkena bahaya dan dia bahkan tidak bisa melakukan apapun. Jika Huang Yunxi tidak selamat, Kaisar Huang Yun Yi sungguh tidak tahu harus bagaimana menghadapi Ratu Pertama di akhirat kelak. Dia seharusnya menjaganya dengan baik, tidak membiarkannya luput dari perhatian dan membiarkannya berjalan seorang diri ke area gelap tanpa pengawalan. Kaisar Huang Yun Yi tidak akan memaafkan siapapun yang telah mencelakai putrinya. Terlebih lagi, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri selama-lamanya.
Keadaan Kaisar diketahui Kasim Li. Kaisar kemudian dibawa kembali ke Istana Mingyan untuk beristirahat. Huang Yunji juga dibawa ke istananya. Kini, hanya tinggal Yuwen Yue dan Sanqi yang ada di dalam kamar Istana Liuli, menunggui Huang Yunxi sambil berharap gadis itu bisa sadar kembali.
Hening. Dua orang hidup larut dalam pikirannya masing-masing. Sisa tangisan di wajah Sanqi masih membekas. Melihat majikan kesayangannya terbaring seperti mayat, hidupnya terasa hampa. Lebih baik melihatnya marah dan dimarahi, bukan yang lemah seperti ini.
Yuwen Yue yang paling parah. Entah mengapa, melihat gadis yang selalu bersikeras melawannya terbaring tak berdaya, hatinya terasa sakit. Wajah Huang Yunxi yang semula selalu ceria kini menjadi kaku tanpa ekspresi. Mata yang terpejam itu membuat mata Yuwen Yue seperti ditaburi bubuk cabai. Timbul keinginan menukarkan hidupnya agar Huang Yunxi bisa membuka mata kembali, timbul keinginan untuk bertukar posisi dengan gadis itu.
Namun, tidak ada daya.
...***...
__ADS_1