The Imperial College

The Imperial College
Eps. 30: Rasa


__ADS_3

Huang Yunxi dan Yuwen Yue terjebak di gua hingga malam hari. Di penghujung musim gugur tersebut, salju tiba-tiba turun menutupi jalan hingga keduanya terpaksa berteduh kembali di dalam gua. Bala bantuan yang diberi sinyal oleh Huang Yunxi tak kunjung datang. Mereka kemungkinan juga terjebak salju hingga harus menghentikan pencarian.


Letak gua yang diapit dua tebing tinggi dan berada di lembah yang cukup dalam membuat suhu udara lebih dingin dari tempat yang sedikit lebih tinggi dari sini. Ini adalah gua yang terbentuk secara alami hingga seluruh bebatuan dan dindingnya memiliki motif yang tak karuan namun terasa indah bila dipandang dari kejauhan. Tempatnya cukup lembab walaupun tidak ada air yang menetes dari dalam dinding gua.


Huang Yunxi memeluk tubuhnya sendiri.


Perapian sudah hampir padam karena kayu bakar sudah habis. Satu lapis pakaiannya juga sudah habis terbakar api. Suhu udara benar-benar dingin. Selain salju, angin juga berhembus cukup kencang. Fenomena tersebut membuat Huang Yunxi khawatir terserang hypothermia. Tubuhnya tidak terbiasa berada di cuaca dingin seperti ini.


Dia ingin mengeluarkan set penghangat otomatis dari sistem ajaib, tetapi urung dia lakukan. Huang Yunxi sudah terlalu banyak membuat keajaiban dan sudah terlalu sering membuat Yuwen Yue terkejut. Jika dia mengeluarkan benda itu sekarang, Yuwen Yue pasti tidak akan tinggal diam. Pria itu akan bertanya padanya seribu pertanyaan tentang benda-benda aneh yang muncul tiba-tiba.


Menahan dingin sebentar mungkin tidak apa-apa. Asalkan pria itu tidur, Huang Yunxi bisa mengeluarkan penghangat tanpa ketahuan. Akan tetapi, bahkan setelah menjelang tengah malam, mata pria itu tetap terbuka lebar dan terus menerus menatapnya dengan aneh seolah dia adalah sebuah objek yang datang dari luar bumi. Huang Yunxi jadi gelisah sendiri.


“Kenapa kau terus memandangiku?” tanyanya kemudian.


“Kau baik-baik saja?”


“Guru, kau sudah menanyakan itu sembilan kali. Apa aku terlihat tidak baik-baik saja?”


“Oh.”


“Daripada kau terus bertanya hal tidak berguna, bagaimana jika kau tidur saja dan berhenti memandangiku?”


“Aku tidak mengantuk.”


Benar juga. Yuwen Yue adalah seorang pria hebat, sang Wakil Penasihat Akademi Kerajaan yang digandrungi wanita seantero kota. Orang super sibuk yang kesibukannya melebihi Kaisar Huang Yun Yi dan kepintarannya melebihi Yuwen Rong sang pemimpin Paviliun Yindai. Pria bertubuh tegap bermata elang yang bertemperamen buruk dan tidak konsisten, suka marah-marah dan sering berdebat dengan Huang Yunxi itu pasti tidak akan tidur di situasi begini.


Tubuh Huang Yunxi mulai dingin. Suhu udara semakin turun. Huang Yunxi tidak punya pilihan lagi, dia harus mengeluarkan penghangat otomatis jika tidak ingin mati membeku di tempat ini. Umurnya masih muda dan semangatnya masih tinggi, tidak boleh mati lagi di gua yang bahkan orang saja mungkin tidak berani datang. Urusan apakah Yuwen Yue akan kembali terkejut atau tidak, nanti saja dipikirkan.


Setelah membalikkan tubuh, sebuah benda bulat berwarna cokelat muda sudah ada di genggaman Huang Yunxi. Dugaannya benar, Yuwen Yue memang kembali terkejut. Huang Yunxi memamerkan gigi-giginya yang putih dengan tujuan agar Yuwen Yue tidak banyak bertanya kepadanya perihal asal semua benda-benda ajaib yang selalu tiba-tiba muncul.


Selain penghangat, Huang Yunxi juga mendapatkan sebuah dua buah matras dan satu selimut tebal. Satu matras kemudian dia berikan kepada Yuwen Yue. Huang Yunxi menyuruh pria itu agar dia berbaring di atas matras dan harus segera memejamkan mata.


Malam ini, Yuwen Yue menjadi pria penurut. Dia berbaring dengan patuh tanpa bertanya. Hatinya dipenuhi rasa penasaran yang tinggi, namun tak tega bertanya karena dia sangat tahu gadis itu sudah sangat lelah. Yuwen Yue menjadikan tangan kirinya sebagai bantal, sementara tangan kanannya dia letakkan di atas perutnya. Matanya tenang menatap langit-langit gua.

__ADS_1


Di sisinya, Huang Yunxi berbaring dengan tubuh dibalut selimut tebal. Gadis itu tidur telentang. Dia juga sama, tidak bisa tidur. Ini pertama kalinya dia bermalam di alam bebas dan di dunia yang baru, bersama seorang pria yang di masa depan akan menjadi suaminya. Perasaannya cukup tak karuan. Ah, sejak kapan dia menjadi perasa?


“Yunxi,”


“Ya?”


“Apa kau takut?”


“Apa yang harus aku takuti?”


“Kau seorang putri agung. Bermalam di alam liar seperti ini mungkin bukan gayamu.”


“Ya, guru benar. Aku memang tidak terbiasa tidur di alam bebas. Tapi, kau keliru karena aku sama sekali tidak takut.”


Hening. Yuwen Yue dan Huang Yunxi larut dalam pikiran masing-masing. Ada banyak pertanyaan bercokol di hati keduanya. Ada banyak kata tak terucap yang bersembunyi di dalam hati mereka. Ada sebuah rasa tanpa nama yang bergelora. Huang Yunxi dan Yuwen Yue sama-sama menanggung perasaan itu sendirian.


Hujan salju masih turun. Udara semakin dingin. Perapian sudah hampir padam. Malam sudah sangat larut. Huang Yunxi dan Yuwen Yue masih terjaga.


“Hm?”


“Apa kau pernah jatuh cinta?”


Yuwen Yue memberi jeda sebelum dia menjawab pertanyaan gadis itu. Cinta? Apa kata yang sangat mewah itu berhak dia dapatkan? Apa orang berambisi yang tidak pernah tersentuh wanita sepertinya memiliki kesempatan untuk merasakannya?


“Entahlah. Kau sendiri?”


“Entahlah. Aku hidup untuk diriku sendiri. Semua yang kulakukan murni untuk keuntunganku sendiri. Aku tidak pernah tahu apa itu cinta.”


“Lalu mengapa kau bertanya padaku?”


“Itu karena kau Tuan Muda Pertama. Banyak wanita yang menyukaimu dan mengantri ingin menjadi istrimu. Siapa tahu satu di antara mereka pernah membuatmu tergerak.”


“Mereka sama sekali tidak menarik.”

__ADS_1


“Tidak ada satupun?”


“Tidak ada.”


“Guru, kau benar-benar tidak tertarik pada wanita?”


“Hm.”


Bohong. Jika Yuwen Yue tidak pernah jatuh cinta, mengapa perasaannya sekarang tidak karuan? Dia merasa sakit saat melihat seorang gadis terbaring tak bernyawa di atas ranjang sampai dia tidak bisa berkata apa-apa. Yuwen Yue merasa khawatir saat gadis yang kini terbaring di sisinya dalam keadaan bahaya. Dia selalu merasa sepi jika sehari saja tidak berdebat dengannya atau ribut mencari kesalahannya. Yuwen Yue tergetar oleh kehadiran seorang gadis bernama Huang Yunxi.


Jika bukan cinta, lalu apa? Tidak mungkin jika itu adalah kekaguman semata. Huang Yunxi gadis ajaib, tapi bukan itu yang membuatnya tersentuh. Sosok Huang Yunxi yang selalu jujur, blak-blakan, berani dan terbuka telah membuat Yuwen Yue merasakan sebuah rasa aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Getaran itu datang tiba-tiba. Dulu, dia sama sekali tidak merasakannya. Saat Yuwen Yue menunggu gadis itu pulang dari istana setelah membakar Pusat Medis Akademi Kerajaan, Yuwen Yue mulai merasa ada yang berbeda. Saat memergokinya di Restoran Muyun pertama kali, Yuwen Yue semakin dibuat penasaran. Yuwen Yue kemudian dibuat tidak percaya saat dia melihat gadis itu meneliti racun di Paviliun Yindai dengan alat-alat ajaibnya. Lalu, dia menyaksikan sendiri usaha Huang Yunxi mati-matian berusaha menyiapkan penyambutan utusan Akademi Tian hingga memenangkan pertandingan, bahkan menyelesaikan kasus Fang Jianming, pergi ke istana, mengalami mati suri sekali sampai pada malam ini.


Mungkin saat-saat itulah dia mulai merasakan getaran di hatinya secara perlahan tanpa dia sadari. Yuwen Yue tidak sadar mulai terikat pada gadis itu. Ikatannya menjadi sulit dilepaskan tatkala Kaisar Huang Yun Yi memberinya dekret pernikahan yang mengharuskan dia menikahi Huang Yunxi di kemudian hari. Yuwen Yue tidak bisa melepaskan diri lagi. Dia sudah terjebak begitu dalam.


Takdir? Mungkin iya. Dulu, dia tidak pernah memikirkan perasaan. Dia hanya fokus pada karirnya. Menikah bukan masalah. Tidak apa-apa jika dia melajang sampai tua. Toh kedua orang tuanya juga tidak memaksa karena pilihan hidup ada di tangannya. Mau seberapa banyak gadis cantik dan keturunan bangsawan yang rela merendahkan diri dan datang padanya, dia tidak akan peduli.


Tapi sekarang prinsip itu sudah tidak berlaku. Situasinya sekarang sudah sangat berbeda. Yuwen Yue mulai peduli pada seorang gadis bernama Huang Yunxi. Dia tak lagi bisa menutup diri dari keadaan yang menimpa dirinya. Huang Yunxi seperti seorang utusan Dewa yang ditugaskan untuk membuat hatinya yang keras menjadi lembut. Sadar atau tidak sadar, Yuwen Yue sudah membuat banyak pengecualian untuk gadis itu.


Yuwen Yue menolehkan kepala ke samping. Huang Yunxi sudah tidur. Mata cerah gadis itu sekarang terpejam. Wajah pualamnya tampak begitu tenang menikmati malam. Perlahan, Yuwen Yue tersenyum manis.


“Entah kau adalah Huang Yunxi atau bukan, aku hanya berharap kau tidak pernah menghilang dari pandanganku.”


Cup.


Yuwen Yue mengecup kening Huang Yunxi dengan lembut. Tidak ada reaksi penolakan karena dia sudah berkelana ke alam mimpi. Bibir tipis Yuwen Yue yang hangat meninggalkan bekas tak terlihat di kening Huang Yunxi. Setelah mengecup kening Huang Yunxi, Yuwen Yue mulai memejamkan mata.


“Guru…..”


...***...


...Hehe, Yunxi & Yue makin dekat kan? Btw, Author kangen banget sama couple Yunxi & Yue. Hari ini Autor kasih dua episode ya, doain semoga ke depannya Author bisa lebih sering update, hihi. Selamat menikmati ceritanya, stay tune terus and sampai jumpa di episode berikutnya! ...

__ADS_1


__ADS_2