
Yuwen Yue terbangun lebih dulu. Dia sempat terkejut karena posisi tidurnya ternyata sedikit bermasalah. Saat tidur, dia tidak sadar kalau dirinya sudah memeluk Huang Yunxi dengan erat. Dia bahkan berada di selimut yang sama dengan gadis itu. Pantas saja semalam dia tidak terlalu kedinginan.
Tangan Huang Yunxi juga melingkar di pinggangnya. Karena cuaca dingin, secara alami tubuh mereka mencari kehangatan yang dekat dengan mereka. Tidak ingin menimbulkan salah paham, Yuwen Yue pelan-pelan meletakkan tangan Huang Yunxi ke samping dan segera bangkit.
Hujan salju sudah berhenti. Butiran-butiran yang turun sejak semalam itu kini bertumpuk, terhampar sepanjang jalan. Mulut gua juga ikut terkena. Di kejauhan, pucuk-pucuk cemara dan dedalu yang meranggas digelayuti serbuk es putih tersebut. Anehnya, matahari justru bersinar dengan terang di atas sana.
Bulu mata Huang Yunxi yang lentik bergerak-gerak. Gadis itu membuka mata. Seluruh tubuhnya terasa pegal karena dia tidur hanya di atas matras yang tipis. Untung saja ada sistem ajaib hingga dia bisa meminta apapun, jika tidak mungkin dia sudah mati membeku di tempat terpencil ini.
“Guru, apa sudah siang?”
“Ya.”
Pria itu berdiri di mulut gua, menatap langit yang terang dan cerah. Yuwen Yue merasa kalau situasi agak canggung sekarang. Dia kembali teringat pada saat malam, saat dirinya termenung seorang diri memikirkan semua perasaan yang menggelora di dalam dadanya. Yuwen Yue menyentuh bibirnya yang tipis dan merasakan kalau bibir itu masih hangat. Perlahan wajahnya memerah. Sebisa mungkin dia menyembunyikan raut wajahnya yang malu sendiri.
Huang Yunxi menggeliat. Selimut tebalnya dia singkap, lalu dia rapikan. Matrasnya juga digulung. Saat gadis itu bangkit, dia baru sadar kalau salju-salju yang turun semalam sudah bertumpuk dan terhampar seperti permadani. Tidak hanya itu, Huang Yunxi juga melihat lingkungan di sekelilingnya sudah sangat terang.
“Ayo, kita lanjutkan perjalanan,” ajak Yuwen Yue.
“Apa kita tidak bisa singgah sebentar lagi?”
“Hari sudah siang, kita bisa kehilangan mangsa kalau terlambat datang.”
“Ah benar juga. Tunggu sebentar.”
Beberapa menit kemudian, Huang Yunxi dan Yuwen Yue meninggalkan gua. Keduanya mengalami kesulitan karena jalan yang mereka lewati tertutup salju. Kaki keduanya mulai dingin akibat salju-salju yang terinjak meresap masuk ke dalam sepatu. Pada satu titik, Huang Yunxi dan Yuwen Yue kesulitan berjalan. Darah di kaki mereka seolah telah beku. Mereka perlu sepatu baru yang kering.
Huang Yunxi memikirkan hal tersebut. Sepasang sepatu muncul di hadapannya. Tunggu, sepasang? Mengapa hanya sepasang? Apa sistem sedang bercanda dengannya? Apa dia harus menggunakan sepatu sebelah?
“Sistem sialan! Sistem pelit!”
Jika sistem muncul di hadapannya sekarang, Huang Yunxi pasti akan menguburnya di tumpukan salju.
“Sudahlah. Berikan pada Guru saja.”
Huang Yunxi memanggil Yuwen Yue, kemudian menyodorkan sepasang sepatu kering kepadanya. Yuwen Yue seperti biasa, heran dengan keajaiban yang dilakukan gadis itu. Selama dua hari ini, terlalu banyak keajaiban yang dia lihat.
"Bagaimana denganmu?” tanyanya.
“Tidak apa-apa. Kalau kau kedinginan dan sakit, bagaimana caraku menghadapi orang-orang Akademi Kerajaan dan ayahku nanti?”
“Pandai sekali bicara.”
“Aku belajar darimu.”
Yuwen Yue mengganti sepatunya yang basah dengan sepatu pemberian Huang Yunxi. Sekarang kakinya terasa nyaman dan mudah digerakkan. Sebelum melanjutkan perjalanan, Yuwen Yue jongkok, kemudian meminta Huang Yunxi naik ke punggungnya. Hal tersebut tentu membuat gadis itu terpana.
“Apa maksudnya?”
“Naiklah.”
“Aku masih bisa berjalan.”
“Kakimu bisa beku. Jika begitu, bagaimana caraku menjelaskannya pada Kaisar?”
“Guru, kau pandai membalikkan kata.”
Setelah memastikan gadis itu naik ke punggungnya, Yuwen Yue melanjutkan perjalanan. Matahari bersinar di atas kepala, melelehkan salju-salju yang menggantung di ranting-ranting pohon. Suhu udara yang semula dingin perlahan mulai menghangat kembali. Yuwen Yue dan Huang Yunxi menyusuri hutan bambu kembali, kemudian berbelok ke jalan lain yang sekiranya dapat mereka lewati.
“Guru, apa aku berat?”
“Tidak.”
“Benarkah?”
“Ya.”
“Tapi mengapa kau tampak keberatan?”
“Aku ini pria. Tubuhmu tidak lebih berat dari sekarung beras.”
“Cih. Membandingkan aku dengan karung beras, yang benar saja!”
“Setelah kau jadi istriku, kurangi kebiasaan berdecihmu. Jangan mudah marah dan emosi. Kau harus belajar menjadi seorang wanita.”
“Apa itu sebuah perintah?”
__ADS_1
“Tidak. Ini sebuah permintaan.”
“Sayang sekali aku tidak bisa melakukannya.”
“Kau harus belajar.”
“Tidak mau.”
“Belajar!”
“Tidak mau!”
“Huang Yunxi!”
“Yuwen Yue!”
Yuwen Yue kemudian berlagak hendak menurunkan Huang Yunxi dari gendongannya. Huang Yunxi langsung terpekik karena dia kira dia akan jatuh. Dia melingkarkan tangannya di leher Yuwen Yue dari belakang, menjadikannya sebagai pegangan. Nanti jika dia jatuh, dia bisa menarik Yuwen Yue untuk jatuh bersamanya.
“Baiklah, baiklah. Asalkan kau memberiku semua gajimu, aku akan menurutimu.”
“Kenapa? Apa Putri Xiyue takut jatuh miskin?”
Huang Yunxi menggigit telinga kanan Yuwen Yue hingga pria itu terpekik kesakitan. Dia kesal karena candaan Yuwen Yue yang membuatnya tampak seperti seorang perempuan di rumah bordil yang mata duitan. Padahal dalam keadaan sebenarnya, Huang Yunxi lebih kaya daripada Yuwen Yue dan ayahnya sendiri. Dia masih punya jutaan koin emas dan perak yang dia simpan di dalam bank sistem.
“Kenapa kau menggingitku?”
“Itu hukuman untukmu.”
“Yunxi, apa gigimu terbuat dari besi?”
“Apa kau bilang?”
“Jangan menggigit telingaku!”
“Siapa suruh aku jadi wanitamu?”
Huang Yunxi tidak tahu kalau gigitannya pada telinga Yuwen Yue telah membuat seluruh urat syaraf pria itu bereaksi cepat. Bulu roma Yuwen Yue langsung berdiri semua. Telinga adalah daerah yang sensitif baik bagi pria maupun wanita. Gadis itu menggingitnya dengan sembarangan hingga Yuwen Yue mulai merasakan sesuatu. Gigitan itu bukan menimbulkan rasa sakit, tapi malah menjadi sebuah rangsangan ringan.
“Pokoknya jangan menggingit telingaku!”
...***...
Sinyal dari hutan bambu itu menjadi petunjuk jalan. Tianqi dan pasukan Paviliun Yindai mulai mencari, namun yang mereka temukan hanyalah sekumpulan orang berbaju hitam dan bercadar tengah terkapar di tanah. Tubuh mereka penuh luka, mata mereka memerah semua. Tianqi menduga kalau orang-orang ini adalah para pembunuh yang berhasil dilumpuhkan oleh Yuwen Yue sebelum tuannya itu pergi. Dia juga menemukan sisa campuran antara terigu dan bubuk cabai. Kali ini, Tianqi menebak kalau bubuk tersebut digunakan untuk melumpuhkan mata orang-orang ini. Pelakunya pasti Huang Yunxi.
Dia kemudian menyuruh beberapa orang pasukan Paviliun Yindai untuk membawa orang-orang tersebut kembali ke kota dan memasukannya ke dalam penjara untuk diinterogasi. Dia dan sisa pasukan lainnya akan melanjutkan pencarian ke bagian dalam hutan bambu sampai dia bisa menemukan Yuwen Yue dan Huang Yunxi.
Sayang sekali mereka harus berhenti di tengah jalan karena tiba-tiba turun salju. Tianqi dan pasukan mencari tempat yang bisa melindungi mereka dari salju. Salju-salju tersebut mengharuskan mereka berteduh hingga pagi hari. Tianqi langsung melanjutkan pencarian begitu cahaya matahari mulai menghangat.
Setelah berjalan cukup lama, Tianqi dan pasukan Paviliun Yindai sampai di depan gua yang sempat menjadi tempat persinggahan Yuwen Yue dan Huang Yunxi. Dia melihat dua buah matras dan sebuah selimut teronggok di tanah, lengkap dengan sebuah benda bulat yang hangat. Saat itulah dia tahu kalau tuannya bermalam di sini dan baru pergi beberapa saat yang lalu.
“Cepat! Tuan Muda masih belum pergi jauh!”
Tianqi dan pasukan Pavilun Yindai melanjutkan pencarian. Mereka mengikuti jejak kaki yang terpijak di atas salju yang mulai mencair. Jejak kaki itu berhenti di sebuah tanah datar. Di sana, Tianqi menemukan sepasang sepatu basah yang sangat dia kenal. Tidak diragukan lagi, tuannya memang belum pergi jauh.
Saat Tianqi dan pasukan Pavilun Yindai menyusuri jejak, Yuwen Yue dan Huang Yunxi sudah sampai di sebuah tanah yang tinggi. Dari atas tempat tersebut mereka dapat melihat sebuah kawasan perhutanan yang hijau. Namun, di bawah sana mereka melihat pemandangan yang janggal. Beberapa bagian dari hutan di bawah sana sudah gundul, tidak ada lagi pohon yang tumbuh menjulang.
Berdasarkan peta jalur hutan yang didapat Yuwen Yue dan Huang Yunxi dari seorang mata-mata, kawasan hutan di bawahnya seharusnya adalah kawasan hutan jati. Kayu-kayunya kelak digunakan untuk pembangunan istana dan kuil. Di sinilah mungkin letak permasalahannya. Mereka telah menemukan sesuatu yang mereka cari.
Setelah menuruni jalan yang curam, Huang Yunxi dan Yuwen Yue sampai di pinggir kawasan hutan jati. Mereka melihat beberapa orang sedang menebang dan mengangkut kayu melalui arah lain. Padahal, jalan utama seharusnya lewat di depan tempat Yuwen Yue dan Huang Yunxi berdiri sekarang.
Puluhan gerobak pengangkut kayu terparkir di tanah yang kosong. Orang-orang berpakaian serba biasa hilir mudik. Mereka adalah para pekerja dan penebang yang ditugaskan untuk menebang kayu dan mengangkutnya keluar dari hutan. Kementrian Perhutanan bertanggungjawab penuh atas pekerjaan seperti ini.
“Penyelundupan! Liu Yang berani sekali!” seru Huang Yunxi
berapi-api.
“Kecilkan suaramu!” tegas Yuwen Yue.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Menunggu bantuan datang. Kita tidak bisa melawan mereka sendirian. Terlalu berbahaya.”
“Kalau begitu, aku akan bermain-main dengan mereka sebentar.”
Yuwen Yue menahan pergelangan tangan Huang Yunxi.
__ADS_1
“Apa yang mau kau lakukan?”
“Bermain!”
Huang Yunxi meloncat dari dalam semak-semak. Suaranya mengejutkan para pekerja hingga membuat mereka bersikap waspada. Para pekerja terkejut bukan main karena ada seorang wanita muncul entah dari mana, mengetahui tempat mereka bekerja. Pemikiran bahwa wanita itu harus dilenyapkan muncul. Para pekerja kasar yang bisa bela diri maju, hendak menyerang Huang Yunxi.
“Eits, tunggu sebentar!”
Seruan Huang Yunxi membuat para pekerja terhenti sejenak.
“Aku datang bukan untuk berkelahi. Aku datang karena aku tersesat. Kakak-kakak sekalian, bisakah kalian menunjukkan jalan pulang untukku?”
Para pekerja saling berpandangan. Mereka curiga kalau wanita yang ada di hadapan mereka bukan semata-mata datang karena tersesat. Tempat ini memiliki jalan utama yang terhubung langsung dengan ibukota, sangat mudah ditemukan dan dia tidak mungkin tersesat. Wanita ini pasti sedang merencanakan sesuatu.
Huang Yunxi sendiri kesulitan membuat mereka percaya padanya. Dia harus berpura-pura agar dia bisa tahu ke mana arah gerobak-gerobak kayu itu berjalan. Huang Yunxi harus bekerja keras mengecoh para pekerja ini sampai dia mendapatkan informasi yang dia inginkan sebelum bala bantuan tiba.
“Jalan utama di sebelah sana. Nona, silakan pergi,” ucap salah seorang pekerja.
“Tapi, kenapa kalian membawa gerobaknya ke sana? Bukankah itu berarti jalan yang benar ada di sana? Jika tidak, mengapa kalian tidak membawa gerobak itu pada jalan utama yang kalian tunjukkan padaku?”
“Itu jalan khusus untuk distribusi kayu. Nona sepertimu tidak cocok lewat sana,” ujar salah seorang yang lain.
“Bagaimana aku tahu tidak cocok denganku kalau belum kucoba?”
“Tidak bisa. Jalur itu hanya boleh dilewati oleh kami!”
“Mengapa?”
“Karena Tuan Besar yang memerintahkannya!”
Ups, sepertinya para pekerja ini tidak terlalu pintar. Mereka mudah terpancing dan mengatakan hal yang bahkan tidak ditanyakan oleh Huang Yunxi. Para pekerja ini memiliki emosi dan pengendalian diri yang buruk. Mudah bagi Huang Yunxi untuk memanfaatkan mereka.
“Tuan Besar siapa? Apa dia Menteri Perhutanan?”
Para pekerja kembali saling pandang. Bodoh, mereka sudah terpancing. Wanita di hadapan mereka benar-benar telah menjebak mereka. Wanita itu seharusnya tidak boleh keluar dalam keadaan hidup dari tempat ini.
“Apa ini definisi bermain yang dimaksud gadis nakal itu?” tanya Yuwen Yue pada dirinya sendiri. Dia mengawasi Huang Yunxi dari balik semak-semak.
“Karena Nona sangat penasaran, Nona harus merasakan kematian! Bunuh dia!”
“Tunggu! Aku tidak mengerti maksud kalian. Sudah kubilang aku tersesat, kenapa kalian malah ingin membunuhku?”
“Karena kau sudah tahu rahasia kami!”
“Rahasia apa? Jangan-jangan kalian sedang menyelundupkan kayu-kayu jati ini ya?”
“Nona tidak perlu tahu! Kayu-kayu ini adalah milik Kaisar. Kami mengirimkannya ke istana!”
“Istana mana yang kalian maksud? Oh, apakah istana milik Menteri Perhutanan?”
“Bunuh wanita ini!”
Para pekerja maju. Tangan mereka memegang belati yang sangat tajam. Huang Yunxi sedikitpun tidak takut. Gadis itu tetap berdiri tegap menantang mereka.
“Lancang!”
Perhatian para pekerja teralihkan pada seorang pria tampan tapi berwajah dingin yang muncul dari balik semak-semak. Yuwen Yue keluar dari persembunyiannya karena dia tidak tahan pada sikap para pekerja yang kasar pada calon istrinya. Ingin membunuhnya? Mimpi saja!
“Siapa kau? Apa kau adalah kekasih wanita ini?”
“Para pekerja kasar seperti kalian mengapa banyak omong kosong?”
“Bunuh mereka berdua!”
“Siapa yang berani? Kalian tidak tahu siapa gadis yang berdiri di hadapan kalian?” ucap Yuwen Yue dengan dingin. Suaranya membuat nyali para pekerja menciut.
“Haha, memangnya siapa dia?”
“Putri Xiyue!”
Mata para pekerja terbelalak. Hening.
“Pu..Putri Xiyue?”
Saat itulah, mereka melihat satu seringaian paling mengerikan sepanjang kehidupan mereka.
__ADS_1
...***...