
Sejak kejadian sidang pengadilan internal keluarga di Istana Mingyan beberapa waktu lalu, Huang Yunxi terus menutup diri. Dia hanya keluar asrama untuk ke kelas, kemudian jika sudah selesai dia akan kembali ke kamarnya. Dia juga sering membolos jika kebetulan ada pelajaran yang diampu oleh Yuwen Yue. Alasannya selalu banyak, akalnya tidak pernah habis. Perilakunya semakin hari semakin aneh.
Huang Yunxi sengaja menghindar agar dia tidak bertemu dengan pria itu. Jika bertemu, maka perang dunia pasti tidak bisa dihindari. Itu dikarenakan pernyataan yang dilontarkannya tempo hari berdampak besar pada masa depan dan nasib dia dan Yuwen Yue. Ayahnya menganggap serius perkataannya, maka Huang Yunxi tidak bisa melarikan diri lagi. Padahal dia hanya berbicara sembarangan agar ayah terhormatnya tidak lagi memaksanya menikah ke perbatasan. Siapa yang tahu, apa yang dia lakukan justru berbalik menyerangnya.
“Ini namanya senjata makan tuan! Kenapa aku jadi bodoh begini?”
Yuwen Yue juga! Kenapa pria itu tidak meminta Kaisar Huang Yun Yi untuk mempertimbangkan kembali. Sebagai seorang bawahan yang taat, Yuwen Yue seharusnya tahu bagaimana cara dia bekerja saat dirinya terancam. Aksi protesnya seperti dilakukan setengah hati. Antara mau dan tidak mau. Inilah yang membuat Huang Yunxi semakin tidak ingin bertemu dengan pria itu.
Bahkan, semenjak pulang dari istana, dia belum mengalami hari yang baik. Pikirannya selalu melayang, terbang pada titik di saat dia membayangkan betapa mengerikannya hari pernikahan jika datang. Umurnya masih muda, masih banyak dunia yang belum dia kunjungi. Jika menikah, bukankah hanya akan menjadi seorang nyonya dan berdiam diri di rumah sepanjang hari?
Andai dia bisa, dia ingin meminta sistem mereset ulang pengaturan karakter dan plot serta memilih karakter baru. Tapi, sistem sudah menghilang. Jika dia tidak berhasil menyelesaikan misi yang tidak jelas itu, maka selamanya suara sistem tak akan muncul dan kemungkinan untuk kembali akan musnah. Meskipun dia bisa meminta apapun yang dia pikirkan, itu semua tetap tidak bisa menjadi penghibur.
“Bagaimana ini?”
Lagi-lagi dia bertanya pada dirinya sendiri. Rumput di halaman, pohon persik yang bunganya sedang mekar, ikan di kolam dan teratai yang sedang tumbuh pasti sudah bosan mendengar ocehannya. Huang Yunxi duduk sepanjang hari di pinggir kolam, melempar batu dan mengusik ikan-ikan koi.
Sesekali dia melirik ke kerumunan para pelajar yang sedang beristirahat dan bermain. Betapa menyenangkannya kehidupan mereka. Huang Yunxi pecinta kebebasan yang tidak suka diikat berbagai aturan kini hanya bisa meratapi nasibnya sendiri.
Menjadi seorang putri dan keturunan keluarga kerajaan yang terhormat ternyata tidak bisa lepas dari kemalangan. Bergelimang kemewahan, tetapi tidak punya kebebasan. Bahkan setiap langkahnya saja akan menjadi perbincangan.
“Tidak bisa! Aku harus bicara pada Si Wajah Kayu itu!”
Langkahnya begitu yakin. Huang Yunxi memang harus bicara pada Yuwen Yue jika dia tidak ingin terus-terusan seperti ini. Huang Yunxi tidak bisa terus-terusan menghindar dan sembunyi seperti buronan.
“Guru,” panggilnya ketika dia sampai di depan ruang baca Wakil Penasihat.
Pintunya masih tertutup. Mungkinkah Yuwen Yue masih mengajar di kelas? Atau apakah pria itu sedang keluar menyelesaikan urusan? Hari belum terlalu siang, seharusnya jadwalnya sudah selesai jika melihat pada hari-hari biasa.
“Guru?”
Tidak ada jawaban dari dalam. Huang Yunxi membuka pintu, ternyata tak dikunci. Tidak ada siapapun dalam ruang baca yang luas dan nyaman tersebut. Yuwen Yue memang tidak ada di sini. Pria itu pasti sedang pergi ke suatu tempat. Meskipun sudah tahu yang dia cari tidak ada di sana, Huang Yunxi belum beranjak pergi. Gadis itu malah berjalan ke dekat meja belajar yang dulu pernah dia pakai untuk menulis kaligrafi.
Di atas meja, ada banyak kertas berisi coretan aksara Mandarin. Kertas-kertas itu tidak berisi puisi atau kaligrafi, melainkan analisis kasus. Huang Yunxi mencoba menghubungkan setiap tulisannya, tetapi tidak menemukan apapun. Kepalanya malah pusing dan matanya malah perih.
Mata Huang Yunxi kemudian menangkap sebuah kertas berisi tulisan yang merujuk pada nama Fang Jianming. Barulah dia dapat menyimpulkan kalau coretan-coretan ini mungkin adalah analisis kasus racun Bunga Putih dan daftar para korbannya. Rupanya, kasusu ini belum selesai diselidiki.
“Huang Yunxi? Apa yang kau lakukan di sini?”
Huang Yunxi refleks mendongakkan kepala. Di ambang pintu, Yuwen Yue muncul dalam balutan busana biru muda. Dia menatap Huang Yunxi, dahinya berkerut dan alis hitam tegasnya hampir menyatu. Tangan kanannya memegang sebuah dokumen, sementara tangan kirinya memegang sebuah kipas.
“Guru, kau sedang menyelidiki kasus ya?”
“Aku bertanya padamu. Kenapa kau malah balik bertanya?”
“Aku bertanya untuk memastikan. Benar kan, Guru?”
“Yunxi, apa yang kau lakukan di sini?”
__ADS_1
Oh, coretan-coretan ini membuat Huang Yunxi hampir melupakan tujuan kedatangannya. Gadis itu kemudian duduk di kursi kebesaran Yuwen Yue tanpa ragu. Yuwen Yue sendiri hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan murid langkanya ini.
“Aku ingin membicarakan pernikahan denganmu.”
Yuwen Yue refleks menatapnya lagi.
“Apa kau belum puas menjebakku?”
“Guru, aku tidak tahu kalau ayah akan menganggap serius.”
“Itu karena kau tidak belajar dengan baik. Jika kau belajar dengan baik, kau tidak akan ceroboh dan mengatakan hal-hal tidak masuk akal seperti itu.”
“Baiklah, aku yang bersalah di sini.”
“Kau tahu? Hari ini aku ditahan oleh orang tuaku karena masalah ini. Aku juga diserang ratusan pertanyaan saat di pengadilan karena ayahmu memberitahu para pejabatnya.”
“Lalu bagaimana?”
Yuwen Yue dan Huang Yunxi sama-sama terdiam. Pernikahan ini sudah pasti terjadi. Jika Kaisar Huang Yun Yi sudah memberitahu para pejabatnya, artinya dia tidak main-main dengan ucapannya. Sejak dulu, perkataan seorang Kaisar selalu menjadi kenyataan. Huang Yunxi juga percaya pada hal itu.
“Bagaimana lagi? Menolak sudah tidak sempat. Menghindar juga hanya akan menimbulkan kekacauan dan ketidakpercayaan. Apalagi, dekret akan tiba dalam dua hari.”
“Jadi, kita harus menerimanya?”
“Lalu apa kau mau disebut pemberontak dan penipu Kaisar?”
“Guru, aku punya ide!”
“Jika idemu adalah pura-pura mati atau punya kekasih lain, jangan bicara lagi.”
“Dengarkan aku! Kita tidak bisa menolak atau menghindar. Tapi, kita mungkin bisa menundanya!”
Mata Yuwen Yue memicing. Gadis ini sepertinya sudah memiliki jalan keluar.
“Menunda bagaimana?”
“Kita tetap menikah, tetapi tidak dalam waktu yang dekat. Dekret mungkin tiba, tapi bukankah tanggal dan bulannya tidak disebutkan? Kita bisa mengulur waktu selama mungkin. Pada saatnya tiba, barulah kita bisa melaksanakan perintahnya.”
“Kenapa? Kau mau meminta waktu untuk membuatku jatuh cinta padamu?”
Huang Yunxi membenci mata Yuwen Yue yang sedang menatapnya dengan genit. Pria ini apakah tidak bisa tidak mengganggu suasana hatinya saat sedang begini? Dia berbaik hati menawarkan solusi, tapi Yuwen Yue malah menggodanya. Dia sepertinya benar-benar ingin merasakan amukan seekor singa betina.
“Jatuh cinta apanya? Aku sama sekali tidak punya niat untuk hal-hal membosankan yang membuang banyak waktuku.”
“Saranmu boleh juga. Tapi, kita tidak bisa menundanya terus menerus.”
“Itu hanya masalah waktu.”
__ADS_1
“Hm. Sepertinya menarik. Apa ada lagi?”
“Mari buat kesepakatan. Jika memang tidak bisa ditunda lagi, maka menikah saja. Tetapi, masing-masing dari kita hidup sesuai keadaan sebelum menikah. Tidak boleh mengganggu satu sama lain. Di hadapan orang harus harmonis, di hadapan ayah harus tetap berbakti. Bagaimana?”
“Mana ada hal tidak masuk akal seperti itu?”
“Apanya yang tidak masuk akal?”
Yuwen Yue menghela napas sejenak, mengatur emosi agar tidak meledak di hadapan gadis ini. Kekanak-kanakan. Bisa-bisanya dia berpikir kalau mereka berdua harus bersandiwara. Jika sampai Kaisar tahu, maka bukan hanya dia saja yang dihukum, tapi orang-orang terdekat juga akan kena imbasnya.
“Yunxi, hidup seusai keadaan sebelum menikah tidak masuk akal. Kau menyuruhku bersandiwara, itu sama saja dengan menipu. Apa orang-orang kau anggap bodoh? Lagipula, setelah menikah, kau akan tinggal bersamaku, di kediamanku. Apa yang akan keluargaku pikirkan jika kita hidup seperti itu?”
“Kalau begitu pisah rumah saja. Beli kediaman baru. Kau kan kaya, gajimu pasti besar.”
“Kau pikir semudah itu?”
“Benar juga. Kalau begitu, hal-hal setelah menikah bahas nanti saja.”
Orang-orang zaman kuno meskipun putranya sudah menikah, tetap harus tinggal di kediaman bersama orang tua. Apa yang disebut keluarga besar adalah nyata keluarga besar, karena mereka berkumpul di satu rumah. Bukan hanya keluarga inti, tapi saudara jauh dan keluarga kedua pun seringkali ikut tinggal. Jika Huang Yunxi menikah, meskipun dia seorang putri kerajaan, tetap harus tinggal di kediaman suami. Kecuali, dia menikah dengan seorang pangeran atau raja, maka dia bisa tinggal di mansion atau tetap tinggal di istana.
“Jadi, apakah kita sepakat, calon suamiku?”
Yuwen Yue bergidig. Sudah banyak wanita yang memanggilnya calon suami, tetapi entah kenapa dia merasa seluruh bulu kuduknya berdiri saat Huang Yunxi yang memanggilnya. Panggilan tersebut seolah menjadi panggilan kematian yang menakutkan. Dia, Sang Tuan Muda Pertama di Kota Fenglin bisa ketakutan karena panggilan dari seorang Putri Xiyue, murid dan calon istrinya sendiri.
Reaksi Yuwen Yue seperti kucing yang terbuang. Huang Yunxi tertawa, tentu saja menertawakan gurunya yang tersipu. Dia sendiri sebenarnya merasa geli dengan ucapannya, apalagi pria itu. Jika sudah menikah nanti, sepertinya Huang Yunxi akan lebih mudah menindas Yuwen Yue.
“Ada urusan apa lagi?”
“Hah?”
“Kau, jika sudah selesai, keluar dari ruanganku.”
“Guru, kau malu?”
“Siapa yang malu?”
“Itu, wajahmu merah sampai ke telinga.”
“Cuacanya panas. Wajahku jadi merah.”
“Oh, benarkah? Bukan karena malu dan gugup?”
“Bukan. Pergi, aku masih ada urusan.”
“Baiklah. Selamat bekerja, calon suami. Hasilkan banyak uang agar istrimu ini bahagia ya!”
...***...
__ADS_1