The Imperial College

The Imperial College
Eps. 14: Hari Pertandingan


__ADS_3

Siang hari, langit Ibukota Kekaisaran Dong Hua cerah tak berawan.


Di aula utama Akademi Kerajaan, hidangan tersaji di atas meja lengkap dengan minuman dan makanan penutup. Para pelayan itu begitu terampil menata letak piring, sumpit dan gelas hingga meja-meja yang ada tak tampak berantakan.


Tepat di altar utama aula, Wakil Penasihat dan Kepala Akademi Kerajaan sudah duduk di tempat masing-masing. Jubah putih sutra yang mereka kenakan menjuntai panjang hingga menutupi lantai. Sekilas, dua orang penting Akademi Kerajaan itu tampak seperti patung pria di galeri-galeri terkenal.


"Tuan, para utusan sudah sampai di depan pintu," terang salah seorang pelayan pria.


Yuwen Yue dan Kepala Akademi Kerajaan memberi isyarat dengan anggukan kepala. Setelah itu, pelayan pria tersebut pergi untuk memberitahu kalau para utusan dari Akademi Tian tersebut sudah boleh masuk ke Akademi Kerajaan.


Saat pintu aula utama terbuka lebar, makhluk-makhluk berwujud manusia yang disebut sebagai para utusan Akademi Tian berjalan dengan angkuh. Mereka semua membusungkan dadanya tinggi-tinggi seolah takut tidak terlihat oleh orang lain. Tidak hanya itu, mereka juga mengedarkan senyum dan pandangan yang tampak seperti seringaian serigala.


"Silakan, Tuan," ucap pelayan kepada salah seorang utusan yang berdiri paling depan. Orang itu mengangguk, kemudian melaporkan maksud dan tujuan kedatangannya kepada Kepala Akademi dan Wakil Penasihat.


Para utusan dipersilakan duduk di tempat yang sudah ditata sedemikian rupa. Dari apa yang terlihat, Huang Yunxi yang kebetulan berdiri di pinggir pilar utama aula merasa kalau orang-orang Akademi Tian sungguh menyebalkan. Mereka terlalu angkuh dan memandang tinggi diri mereka sendiri. Padahal, sebagai tamu, seharusnya mereka memiliki rasa hormat yang tinggi pada tuan rumah.


"Makanan aneh apa ini?"


"Apa bisa dimakan?"


"Ini beracun?"


"Apa Akademi Kerajaan tidak punya koki?"


Pertanyaan-pertanyaan mulai datang bertubi-tubi. Huang Yunxi semakin malas dan hampir tidak bisa menahan emosi. Dia sudah berbaik hati menyiapkan makanan enak, tetapi mereka meragukannya bahkan sebelum mereka mencoba rasanya.


Salah seorang murid utusan yang ikut serta memberanikan diri. Dia mengambil sumpitnya, kemudian mulai mencicipi satu hidangan yang tersaji. Matanya terpejam dan mulutnya bergerak. Tidak lama kemudian, mata itu terbuka lebar. Ekspresinya sungguh tidak bisa dijelaskan. Si Murid memindahkan sumpitnya ke makanan lain, reaksinya pun tak jauh beda dengan yang pertama.


Melihat temannya tidak apa-apa, murid utusan yang lain mulai menyuapkan makanan ke mulutnya masing-masing. Decak kagum terlontar dari mereka, inilah saat pertama kalinya bagi mereka merasakan makanan aneh yang begitu nikmat dan sedap.


"Oohh lidahku terasa melayang!"


"Ibu, aku ingin pulang!"

__ADS_1


"Tidak sia-sia aku ikut dalam rombongan ini."


"Jika aku mati sekarang, aku tidak akan menyesal!"


"Oh, koki Akademi Kerajaan sungguh hebat!"


Huang Yunxi tertawa dalam hati. Ketidakkonsistenan mereka membuatnya puas dan ingin terus mengejek mereka dengan rasa makanan yang tidak pernah mereka cicipi sebelumnya. Tentu saja, orang zaman kuno disuguhi makanan abad 21, siapa yang akan tahan!


Dari altar depan, Yuwen Yue menyaksikan pertunjukan yang begitu bagus. Menurutnya, orang-orang Akademi Tian yang tidak konsisten dan sombong ini sebenarnya sangat bodoh. Mereka bisa berubah sikap hanya karena makanan. Memang, urusan perut bisa mengubah segalanya.


Dia menyeringai kecil. Huang Yunxi, si rubah kecil yang nakal telah berkontribusi besar kali ini.


Melihatnya tersenyum jahat dari kejauhan, Yuwen Yue sudah bisa menebak apa yang ada di dalam otak gadis itu. Huang Yunxi pasti sedang tertawa puas, mengejek para utusan Akademi Tian dalam seringaian jahatnya.


Tidak dipungkiri bahwa Yuwen Yue juga merasakan hal yang sama. Terlebih, dia sudah menyimpan dendam pada Akademi Tian sejak dia masih menjadi siswa di Akademi Kerajaan, beberapa tahun yang lalu. Hanya saja, balas dendamnya belum pernah terlaksana karena terhalang oleh status dan posisinya sebagai Wakil Penasihat Akademi Kerajaan.


Usai bersantap ria, para murid utusan Akademi Tian dan Akademi Kerajaan diarahkan ke lapangan utama. Upacara pembukaan pertandingan akan segera dimulai. Mereka yang terpilih sebagai delegasi ditempatkan di tempat yang terpisah, hingga posisinya berada sedikit jauh dari yang lain.


Oleh karena itu, para pelajar Akademi Kerajaan yang tidak kebagian tugas diperintahkan untuk menjadi penonton dan penyemangat di tribun yang sudah disediakan. Begitu pula dengan para murid utusan Akademi Tian. Mereka ditempatkan di koridor yang berseberangan dengan koridor Akademi Kerajaan.


"Tunggu!"


Huang Yunxi berseru pada peserta berkuda yang sedang bersiap.


"Ada apa, Nona?" tanya si peserta.


"Kau yakin ingin memakai kuda ini?"


"Ya. Ini kuda yang dipilih oleh Guru Yang."


Huang Yunxi kemudian memeriksa si kuda yang akan digunakan untuk bertanding dengan saksama. Kuda ini tidak terlalu tinggi, kakinya juga tidak terlalu kekar. Jika digunakan dalam waktu lama, pasti akan cepat lelah. Larinya juga tidak akan kencang. Jika dibandingkan, kuda ini lebih cocok digunakan untuk menarik pedati dan kereta, bukan untuk bertanding, perang atau balap.


"Pilih yang lain!"

__ADS_1


"Tapi, Guru Yang sudah memilih ini."


Huang Yunxi tidak mendengarkan omongan si murid. Dia menuntun kuda tersebut, kemudian mengembalikannya ke dalam kandang. Huang Yunxi kemudian berkeliling sebentar. Tidak lama kemudian, dia kembali dengan seekor kuda berbulu cokelat yang tinggi dan cukup besar.


"Gunakan yang ini."


Si murid tampak tidak yakin. Selama ini dia tahu betul kalau Putri Xiyue si siswi pertama Akademi Kerajaan tidak pandai dalam banyak hal dan hanya bisa berbuat onar. Jadi, dia mana mungkin percaya begitu saja.


"Percaya padaku! Ini adalah kuda perang yang sesungguhnya!"


Lonceng tanda pertandingan dimulai. Si murid tidak punya waktu untuk menolak Huang Yunxi. Dia dengan sigap melompat ke atas punggung kuda, kemudian menarik tali kendali. Hanya dalam waktu singkat, si murid sudah berbaur dengan satu peserta dari Akademi Tian.


Guru Yang bertindak sebagai wasit. Dia membacakan peraturan dalam pertandingan ini. Sistem penilaian berupa poin yang dihasilkan dari banyaknya anak panah yang dilesatkan tepat sasaran. Selain itu, para peserta tidak boleh melukai satu sama lain. Jika terbukti melanggar, maka poin akan dikurangi dan dikeluarkan dari pertandingan.


Lonceng kemudian berbunyi lagi. Kedua peserta bersiap di garis start. Saat lonceng berbunyi untuk yang ketiga kali, keduanya sudah berada di tengah lapangan. Sorak sorai dari pendukung kedua pihak menggema memenuhi ruang udara terbuka Akademi Kerajaan. Kedua orang itu tampak gagah sekali.


Mereka mulai menarik busur mereka. Satu persatu anak panah melesat menuju papan sasaran. Beberapa anak panah meleset akibat pergerakan yang tidak menentu. Huang Yunxi yang menyaksikan pertandingan dari tempat peserta merasa tegang sendiri. Kedua orang itu harus melesatkan panah dalam keadaan pergerakan kuda yang dinamis. Jika tidak hati-hati, orang itu pasti akan jatuh, terseret dan akhirnya terluka.


Saat Si Murid Akademi Kerajaan sedang menarik busur, Huang Yunxi melihat Si Murid Akademi Tian sedang membidik kaki kuda Si Murid Akademi Kerajaan. Orang kasar itu hendak berbuat curang dengan menargetkan Si Murid Akademi. Jika kudanya mengamuk, maka Si Murid Akademi akan kalah. Tidak hanya itu, dia juga bisa celaka, bahkan kehilangan nyawa.


"Anak sialan!"


Huang Yunxi berpikir keras. Ah, dia punya sistem ajaib! Huang Yunxi memejamkan mata, memikirkan sesuatu agar jebakan Si Murid Akademi Tian. Huang Yunxi bergumam,


"Angin datanglah!"


Bak bertuah, perkataan Huang Yunxi menjadi kenyataan. Angin kencang tiba-tiba datang, tetapi hanya menyerang Si Murid Akademi Tian. Angin itu menerbangkan debu yang mengaburkan pandangan Si Murid Akademi Tian hingga busurnya berubah arah. Panah itu terlepas dan mengenai kaki kuda yang dia tunggangi. Alhasil, kudanya mengamuk. Si Murid Akademi Tian terlempar dan jatuh ke tanah.


"Akademi Tian, gugur!"


Huang Yunxi kembali menyeringai. Siapa suruh ingin berbuat curang di depan matanya. Permainan itu harus sportif, tidak boleh curang dan licik. Lihat sendiri akibatnya seperti apa. Lain kali, jika dia melihat kecurangan yang lain, Huang Yunxi tidak akan berbelas kasih lagi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2