
Beijing, awal musim semi 2021.
Tiga orang perawat dan satu dokter bergegas masuk ke dalam sebuah ruangan VIP di lantai dua. Beberapa saat yang lalu, mereka menerima panggilan dari kamar tersebut yang memberitahu mereka kalau pasien yang ada di ruangan itu telah sadar. Untuk memeriksanya, mereka langsung bergegas.
Di dalam kamar bernomo 505 itu, gadis berumur sekitar dua puluh tiga tahun terbaring dengan wajah linglung. Di pelupuk matanya ada air yang menggenang, kemudian menetes ke samping. Selang oksigen menempel di hidungnya. Tangan dan kakinya dibalut perban tebal hingga dia tidak leluasa bergerak.
“Nona Yunxi, akhirnya Anda bangun,” ucap dokter yang memeriksanya.
Gadis itu masih tidak dapat berkata apa-apa. Bahkan hingga lima hari setelahnya, dia masih membisu seperti batu. Tatapan matanya seringkali kosong. Dia hanya mengangguk dan menggeleng atau diam setiap kali ditanya. Dokter dan perawat yang memeriksanya mengerahkan semua usaha agar gadis itu kembali normal.
Kemudian, tersiar kabar bahwa seorang gadis yang menjadi penyintas dari kebakaran gedung pusat aplikasi yang koma selama satu setengah tahun telah sadar namun kehilangan semua ingatannya. Yunxi memang tidak bisa mengingat apapun. Isi kepalanya seperti sebuah cangkang yang kosong.
Dia sering berjalan di taman rumah sakit seorang diri. Terapi yang diterapkan oleh dokter dan perawatnya tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Bahkan saat dia sudah sembuh seminggu dari komanya, dia masih tidak bisa bicara dan masih tidak bisa mengingat apapun. Dia sering merenung menatap langit dari jendela kamar.
Rambutnya yang semula pendek sekarang menjadi lebih panjang. Kuku-kukunya juga tumbuh dengan indah. Dalam masa koma, pertumbuhan di tubuhnya tidak berhenti.
Keadaan tersebut membuat kedua orang tua Huang Yunxi semakin khawatir. Satu setengah tahun yang lalu, mereka mendapat telepon dari rumah sakit kalau putri mereka menjadi korban kebakaran gedung pusat aplikasi dan jatuh koma.
Luka bakarnya cukup parah, namun karena kecanggihan teknologi dan pengobatan yang mutakhir, luka bakarnya perlahan sembuh dan hanya menyisakan sedikit bekas yang memerlukan waktu untuk sembuh dengan sendirinya.
__ADS_1
Kini, setelah dia sadar, keadaannya justru seperti itu. Putri mereka seperti kehilangan kewarasan karena tidak mengingat apapun dan tidak bisa bicara. Entah apa yang sudah dia alami selama masa komanya hingga menjadi seperti itu. Jika ini trauma psikologis, seharusnya sudah mulai membaik sejak beberapa hari lalu.
Walaupun tidak menunjukkan hasil yang diinginkan, kedua orang tua Huang Yunxi tidak pernah menyerah. Mereka membawa putrinya kembali ke rumah sambil terus menjalankan pengobatan secara bertahap. Mereka menjadi lebih waspada dan lebih perhatian. Pekerjaan mereka ditunda sementara waktu demi menemani sang putri dan membimbingnya menemukan kembali ingatannya. Dia ditempatkan di kamar masa kecilnya.
Dalam tiga bulan pertama, tidak ada tanda-tanda kalau kondisi Huang Yunxi akan membaik. Setiap hari pekerjaannya hanya merenung di dekat jendela. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Sesekali dahinya mengernyit ketika kelebatan aneh muncul di kepalanya.
Sampai suatu ketika, pada akhir musim semi, Huang Yunxi menjerit dengan keras. Saat itu, dia sedang berjalan di lantai atas rumah dan tidak sengaja melihat sebuah pintu kamar yang terbuka. Tanpa berpikir banyak, dia langsung masuk ke sana. Ada banyak poster-poster aplikasi games yang tertempel di dinding.
Kemudian pada saat matanya menangkap sebuah gambar dari poster games bertema fantasi kerajaan, barulah dia menjerit. Kelebatan-kelebatan aneh yang sebelumnya tidak pernah muncul membayang satu persatu. Dia melihat dirinya berpakaian gadis kuno, bangunan kuno, panggilan kuno, silih tumpang tindih dengan ingatan lain yang merujuk pada kehidupan modernnya.
Huang Yunxi mulai merasakan sakit kepala yang hebat. Kepalanya seperti dipukul oleh puluhan palu. Dadanya juga sangat sesak hingga dia sulit bernapas. Air mata sudah sedari tadi mengalir dengan deras. Kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri, kemudian dia berteriak sangat keras.
Huang Yunxi baru siuman dua hari kemudian. Namun, keadaannya menjadi jauh lebih buruk dari sebelumnya. Meskipun kini dia bisa bicara, tapi tangisan tidak pernah berhenti menghampirinya. Di kamar VIP tersebut, Huang Yunxi sudah sering menumpahkan air mata atas rasa sakit yang dia rasakan di dalam hatinya, yang menjalar hingga ke seluruh tulang dan sendinya.
Dia sudah mengingat semuanya. Semuanya.
Huang Yunxi sudah mengingat bahwa dia adalah seorang Huang Yunxi, seorang gadis gamers yang pernah menjuarai beragam pertandingan. Dia juga sudah ingat kalau dirinya adalah Huang Yunxi di dunia lain, di dunia yang memberitahu padanya seperti apa rasanya mencintai dan dicintai.
Terlebih, dia ingat bahwa dia adalah calon istri dan kekasih seorang pria zaman kuno bernama Yuwen Yue. Di dalam otaknya, serpihan-serpihan kenangan bersama pria itu datang silih berganti, memenuhi setiap fragmen ingatannya. Kenangan itu tidak hanya datang membantunya, tetapi juga memberikan rasa sakit yang luar biasa kepada dirinya, seperti rasa sakit yang tidak pernah ada habisnya.
__ADS_1
“A-Yue…”
Huang Yunxi seringkali menggumamkan namanya. Dia tahu bagaimana dia mati saat itu. Semuanya masih jelas. Semuanya terasa segar memenuhi pikirannya. Huang Yunxi menyesalkan bahwa dia belum sempat berpisah dengan baik dengan pria itu. Dia menyesalkan tidak mengucapkan kata-kata yang baik kepadanya.
Tetapi, Huang Yunxi tidak menyesal telah mengorbankan sisa nyawanya untuk menyelamatkan pria itu.
Selain memberinya dunia baru, Yuwen Yue telah membuatnya merasa seperti seorang wanita sesungguhnya. Ada kalanya dia berada di titik terapuh, namun bisa kembali ceria setiap kali dia bertengkar meributkan hal kecil dengannya.
Pertemuannya, pertengkarannya, petualangannya, semuanya telah memberinya kesan tersediri. Yuwen Yue telah membuatnya menyadari kalau dia hanyalah seorang manusia yang selamanya tidak bisa berhati keras.
Sistem telah memberinya kehidupan yang indah seperti mimpi. Ah, benar, dunia itu mungkin hanyalah bagian dari mimpinya saja. Huang Yunxi tidak tahu apakah setelah dia pergi, dunia yang indah tempat Yuwen Yue berada masih ada atau sudah musnah. Dia tidak akan pernah bisa kembali ke sana lagi meskipun dia ingin.
Dia juga tidak tahu apakah misinya telah berhasil atau tidak. Sistem menghilang begitu saja tanpa pemberitahuan. Ah, berkali-kali Huang Yunxi meyakinkan dirinya kalau sebenarnya sistem juga tidak ada. Apa yang dia alami semuanya hanyalah mimpi yang dia ciptakan sendiri. Ya, mimpi yang sering dialami orang sekarat seperti dirinya saat itu.
Akan tetapi, betapa tidak masuk akalnya jika mimpinya sampai seperti itu. Walau benar hanya mimpi, Huang Yunxi tidak ingin melupakannya. Semuanya terlalu indah untuk dibuang, namun semuanya juga terlalu menyakitkan untuk dikenang. Huang Yunxi ingin mengingatnya meskipun dia harus merasakan sakit hati yang luar biasa.
“A-Yue, apa kau sungguh ada? Jika kau hanya imajinasiku dan bagian dari mimpiku, aku bersedia mengingatnya. Tetapi jika kau sungguh ada, bisakah kau menunjukkan diri? Aku ingin meminta maaf padamu dan mengucapkan salam perpisahan yang baik padamu.”
Huang Yunxi mengusap air mata di pipinya. Hatinya sakit, tetapi dia harus tetap tegar. Orang akan mengatainya gila jika dia terus-terusan bersikap seperti ini. Huang Yunxi memilih tetap mengingat sosok Yuwen Yue di dalam hatinya, membiarkannya terus hidup sebagai bayangan yang menyertai hari-harinya.
__ADS_1
...***...