TIGA BERSAUDARA

TIGA BERSAUDARA
Bermuka Dua!


__ADS_3

Selamat Membaca😊


***


Pada akhirnya Doni pun mengantarkan Karina pulang, saat sampai di rumah, Karina pun kaget karna di depan parkiran rumah sudah ada Daffa dan kedua temannya.


Angel dan kedua temannya pun ikut hadir disana, begitupun dengan kirana.


Daffa terlihat sangat kesal, dan marah saat melihat Karina turun dari mobil seseorang yang Daffa benci, karna seseorang itu adalah pria yang di lihat Daffa di ponselnya Angel tadi.


Karina pun mencoba berjalan menghampiri, dan menenangkan hatinya yang panik, karna semua orang menatapnya tajam.


Plak!


Suara tamparan keras yang di layangkan Kirana kepada kembarannya itu, Daffa melihatnya memang tidak tega, namun apalah daya kini hatinya sedang teriris merasakan sakit yang teramat sakit.


Angel yang melihat kejadian itu hanya menampakkan senyum liciknya.


Alex yang peka terhadap senyumnya Angel pun hanya menggelengkan kepala, karna Alex juga tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bukti.


"Lo kenapa sih Kir?" tanya Karina yang memang tidak tahu apa-apa, dan mengusap lembut pipinya yang terasa panas karna tamparan dari Kirana.


"Yang harusnya nanya kenapa itu gue, bukannya elo, maksud lo apa, tidur berduaan sama cowok lain di hotel, mau jadi j****g lo? Murahan banget sih, keluarga kita tuh gak ada yang kayak gitu!" balas Kirana dengan kasarnya.


"Gue gak ngelakuin itu?" ucap Karina membela diri.


"Kalo lo gak ngelakuin itu, terus ini cowok siapa, jelas-jelas ini cowok yang nganterin elo?" kata Kirana dengan menunjuk ke arah Doni.


Doni pun hanya bisa diam karna Olive yang mengisyaratkan Doni untuk tutup mulut.


Sebenarnya Doni ingin berbicara yang sebenarnya, namun karna Doni telah menerima uang dari Olive, Doni jadi tutup mulut.


"Gue juga gak tahu ini cowok siapa, yang jelas gue ini di jebak, gue gak tahu apa-apa Kir, seharusnya lo bisa lihat dong, gue ade lo, lo sendiri bahkan tahu sifat gue kek gimana?" jelas Karina, namun karna Kirana yang sedang mengambil kesempatan baik ini, Kirana pun sampai tak mau membela adiknya sendiri, dan Kirana malah ikut memarahi Karina dengan kasarnya.


"Udah lah, lo ngaku aja, lo emang diam-diam selingkuh sama cowok itukan? Seharusnya lo itu nyadar, kalo lo udah di cintai sama cowok yang baik kayak Daffa, ini lo malah nyakitin dia?" ucap Angel yang tak mau kalah.


"Lo gak usah ikut campur dalam hal pribadi gue, lo hanya gak tahu soal apa yang terjadi sama gue, jadi gue minta sama lo, pergi aja deh dari rumah gue, sekalian tuh bawa kedua temen lo!" usir Karina yang sudah jengkel melihat Angel.


"Sialan ni cewek, gue malah di usirnya, kalo gue gak pergi, ntar ada yang curiga lagi sama gue, kalo gue pergi, gue masih penasaran, gue takutnya Daffa percaya sama ni cewek, terus ntar gue lagi yang ketahuan, duhhh gimana ini, gue gak bisa mikir nih, otak gue udah dongkol!" batin Angel dengan paniknya.


Setelah itu Angel pun pergi dengan kedua temannya.


"Daffa aku mohon, kamu percaya sama aku, aku gak mungkin ngelakuin itu, aku beneran gak sadar, karna dia nih yang udah kasih aku obat tidur?" ucap Karina mencoba menjelaskan.


Daffa hanya menatap kosong kearah Karina, perlahan kakinya melangkah menghampiri Karina, dan memegang pundaknya Karina. "Aku butuh waktu buat ini, aku gak bisa langsung percaya sama kamu, karna yang kamu perbuat itu membuat hati aku sangat sakit, aku gak bisa, maaf Karina aku harus pergi!" ucap Daffa dengan menahan tangisnya dan berlalu meninggalkan Karina, dan kedua temannya.


"Gue juga harus cabut, lagian ini bukan masalah gue, sorry Kar, gue gak bisa berbuat apa-apa," ucap Daniel dengan lembutnya, dan sedikit tersenyum.


Karina pun hanya mengangguk, dan air matanya terus mengalir, Doni yang melihat Karina menangis pun merasa iba, Doni tidak seperti biasanya seperti ini, namun Doni juga begitu senang, karna pacarnya Karina menjauh, jadi Doni berfikir ini sangat mudah untuk mencuri perhatiannya Karina.


"Gue kecewa sama lo, ternyata lo cuman bisa bikin keluarga malu aja tahu gak, mendingan sekalian aja lo gak usah pulang ke rumah, sebel lihat lo!" kata-kata Kirana yang membuat Karina semakin bersedih.


Setelah itu Kirana pun masuk ke dalam rumahnya, dan langsung membanting pintu rumahnya.


Doni yang berniat menenangkan Karina pun malah mendapat tatapan tajam dari Alex, dan Doni pun mencoba mundur dan tidak berbicara sedikit pun.

__ADS_1


"Elo yang sabar, ya, gue tahu kok kalo lo gak mungkin setega itu sama Daffa, pokoknya lo tenang aja, gue gak akan tinggal diam soal masalah lo ini, udah gak usah di fikirin lagi, gue janji sama lo, kalo gue bakalan cari siapa dalang di balik semua ini, elo gak usah hawatir, ya?" ucap Alex yang menenangkan Karina, dan Alex pun mencoba mengusap lembut pundaknya Karina, agar Karina merasa tenang.


"Yaudah kalo gitu, gue pamit pulang dulu, elo gak usah nangis lagi?" sambung Alex.


Setelah itu Alex pun pergi, dengan mata yang masih menatap Doni dengan tatapan membunuhnya.


"Ini semua gara-gara elo tahu gak, lagian lo ngapain sih pake acara mau nganterin gue segala, gue jadi gak bisa membela diri gue sendirikan?" ucap Karina yang Kesal dengan Doni.


"Ya sorry, gue kan cuman mau nganterin lo pulang sampai selamat, gak ada niatan lain kok, suer deh!" balas Doni dengan mengangkat dua jarinya seperti telinga kelinci.


"Bodo amat lah, pokoknya elo itu bikin gue kesel, kalo udah gini, gue mau tinggal dimana coba, pasti bokap gue juga bakalan marah kalo tahu gue seperti ini, lo tuh ya, ngeselin banget dah jadi cowok!" teriak Karina dengan menyilangkan kedua tangannya didada.


"Yaudah lo tinggal aja di apartemen gue, gapapa kok?" balas Doni.


"Enggak lah gila kali, masa iya gue harus tinggal di apartemen lo, ntar yang ada nambah masalah baru tahu gak, udahlah elo pulang aja sana, gue masih banyak urusan!" kata Karina menolak ajakannya Doni.


"Yaudah deh kalo lo nolak, lagian gue juga gak mau maksa lo, oh iya, ini handphone lo gue kembalikan, dan di handphone lo, udah ada nomor gue, kalo butuh apa-apa telpon gue aja, gue pasti bantuin elo kok?" ucap Doni dengan mengusap pundaknya Karina.


"Gak usah sentuh gue, udah sana lo pergi, gue gak mau lihat lo disini!" usir Karina, dan Doni pun hanya mengangguk. Setelah itu, Doni berlalu pergi.


"Gue harus kemana nih, masa iya gue harus masuk ke dalam rumah, Kirana udah gak mau lihat gue, apa gue coba ke kantornya papa aja ya, siapa tahu aja kan papa mau dengerin penjelasan gue, semoga aja deh!" gumam Karina.


Karina pun mulai memesan taksi online, dan setelah taksinya datang, Karina pun langsung menuju ke kantor papanya.


***


Setelah sampai di kantor papanya, Karina pun langsung menaiki lift untuk sampai di ruangannya.


***


Tok! Tok! Tok!


"Iya masuk?" titah Almahendra, dan Karina pun masuk ke dalam ruangan papanya.


"Sayang kamu kenapa, habis nangis?" tanya Almahendra Sambil bangun dari kursi tempat ia duduk, dan menghampiri Karina.


"Pah aku mau bicara serius sama papa, please papa dengerin aku sebentar, ya?" ucap Karina dengan isak tangisnya, dan mulai mengunci pintu kantor papanya.


"Iya sayang, pasti papa dengerin, yaudah kamu duduk bicara dengan tenang, mulai ceritakan sama papa, ada apa sebenarnya?" kata Almahendra menatap wajah putrinya itu.


"Pah, semalem kan aku gak pulang, aku sebenernya gak berhasil bertemu sama Daffa, aku malah di jebak sama orang, aku di kasih obat tidur, dan setelah aku bangun, aku sudah berada di kamar hotel dengan satu pria?" jelas Karina dengan meneteskan air matanya yang sudah tidak bisa di bendungnya lagi.


"Astaghfirullah ... kok bisa seperti itu, memangnya Daffa kemana? Apa Daffa yang menjebak kamu?" tanya Almahendra yang tidak percaya.


"Tidak, malahan Daffa tidak mengajak aku untuk bertemu malam kemaren, akunya saja yang bodoh, karna aku tidak mau mendengarkan papa, dan sekarang Kirana pun tidak mau aku ada di rumah, jadi aku mohon, biarkan aku tidur di kantor papa ini, ya?" pinta Karina dengan memohon kepada papanya Almahendra.


"Sayang di kantor papa ini tidak ada kasur untuk kamu tidur, mendingan kamu tidur di hotel saja, ya, biar Teddy yang mengantar kamu ke hotel, dan papa yang akan memesankan hotel itu, kalo kamu tidak mau pulang?" ucap Almahendra, dan langsung memesankan kamar hotel viv untuk putrinya itu.


Karina pun mengangguk, dan tak lama Almahendra pun menelpon Teddy asisten pribadinya untuk datang ke ruangannya.


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu di ketuk, dan Karina pun membuka pintunya, kini Teddy pun berhadapan langsung dengan Almahendra.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Teddy dengan sopan.

__ADS_1


"Iya Ted, kamu antarkan putri saya ke hotel tempat biasa saya meeting, ya, dan saya sudah memesankan kamar hotel disana, jaga dengan baik putri saya disana, dan saya juga sudah menyiapkan kamar hotel untukmu disana, tapi saya minta, kamu jangan terlalu tidur nyenyak?" titah Almahendra.


"Baik, Pak!" ucap Teddy menyanggupi perintah bosnya.


"Yaudah kalo gitu, aku berangkat dulu, ya, Pah! Papa jangan bilang kalo aku nyamperin papa kesini, ya?" ucap Karina.


"Iya sayang, sudah kamu tenang saja, yaudah kamu hati-hati, kalo ada apa-apa lagi telpon papa, atau kamu bilang langsung saja sama Teddy, ya?" balas Almahendra.


Setelah itu, Teddy pun mulai mengajak Karina untuk menaiki mobilnya, dan Teddy pun mulai membawa Karina ke hotel yang telah di pesan papanya Karina.


***


"Karina, ini kamar yang telah di pesankan papamu tadi, dan saya tinggal di sebelah kamar kamu, jadi kalo ada apa-apa, jangan sungkan beritahu saya, ya?" ucap Teddy dengan rasa hormatnya.


"Baiklah, yasudah kalo gitu paman bisa langsung istirahat, dan saya pun akan langsung tidur, oh iya paman, boleh aku menyuruhmu?" tanya Karina dengan sopan.


"Tentu saja boleh, saya harus melakukan apa?" balas Teddy.


"Bisakah besok Paman datang ke rumahku sangat pagi sekali, untuk mengambilkan seragam sekolah dan baju biasa untukku?" ucap Karina dengan segan.


"Tentu saja bisa, selain itu, apakah ada yang lain?" balas Teddy.


"Tidak ada, tapi saya minta, sodari saya Kirana tidak boleh mengetahuinya, tapi saya akan coba telpon bibi di rumah untuk menyiapkan baju saya, dan paman tinggal mengambilnya saja!" ucap karina.


"Baik akan saya lakukan besok!" balas Teddy dengan tersenyum.


Karina pun mengangguk, setelah itu masuk ke dalam kamarnya, dan mengunci pintu dari dalam.


Begitu pun dengan Teddy yang langsung masuk ke dalam kamar hotelnya.


Sebelum esok hari tiba, Karina pun menelpon pembantu di rumahnya untuk menyiapkan baju dalam koper, dan Karina meminta pembantunya untuk hati-hati agar Kirana tidak mengetahuinya.


***


Ke esokan harinya sekitar pukul lima subuh, setelah menunaikan sholat subuh, Teddy pun langsung bergegas pergi ke rumah tuannya Almahendra, dan mengambil koper yang telah di sediakan pembantu.


Teddy pun membawa koper itu ke hotel.


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu di ketuk, Karina yang telah selesai sholat subuh pun langsung membuka pintunya.


"Ini koper yang kamu minta semalam, memangnya kamu akan pergi ke sekolah? Dimana mobilmu, paman tidak melihatnya di rumah, saat di kantor papamu juga paman tidak melihatnya?" tanya Teddy dengan sopan.


"Tentu saja paman, saya tidak mau bolos, mobil saya sepertinya ada di cafe estetik?" balas Karina, dengan mengambil kopernya.


"Baiklah, biar nanti paman akan suruh orang buat mengambil mobil kamu itu, kunci mobilnya mana?" tanya Teddy lagi.


"Ini kuncinya?" balas Karina dengan memberikan kunci mobilnya kepada Teddy.


Setelah itu Karina pun kembali masuk ke dalam kamarnya, dan Teddy pun langsung menyuruh orang suruhannya untuk datang ke lobi hotel untuk mengambil kunci mobilnya Karina.


Teddy pun bersiap untuk mengantarkan Karina ke sekolahnya.


#bersambung

__ADS_1


__ADS_2