TIGA BERSAUDARA

TIGA BERSAUDARA
Merasa Senang Karna Rencana Berhasil!


__ADS_3

Selamat Membaca😊


***


Karina pun sampai di sekolahnya dengan diantarkan Teddy asisten papanya itu, setelah sampai Karina pun tetap berpamitan kepada Teddy untuk memberi sopan santunnya.


Setelah itu Karina pun masuk ke dalam kelasnya dengan murung.


"Karin, elo kenapa sih, muka lo kok di tekuk gitu, dimana wajah ceria lo tempo dulu?" celoteh Alan dengan menghampiri Karina.


"Gue gapapa Lan! Sudah lah elo gak usah hawatirin gue, lebih baik lo perhatikan saja cewek lo itu!" balas Karina sambil duduk di kursinya.


"Dia udah gak asik bagi gue Karin, sekarang perilakunya berbeda, udah gak kayak waktu pertama pacaran, dia jadi dingin terhadap gue, dan gue juga bingung, sebenarnya ada apa sama dia, ditemuin juga susah!" ucap Alan sambil duduk dibangkunya sendiri.


"Ya mana gue tahulah, kalo tempe gue nyaho tuh, elo kan laki, cari tahu sendiri napa, nanya gue mulu ah!" balas Karina dengan ketus.


"Iye ah, ntar gue cari tahu, yaudah dong itu muka gak usah di tekuk gitu, jelek lu kek nenek gayung!" ledek Alan sambil tertawa puas.


"Ledek aja terus sepuas lo, gue gak peduli ah, botok amat dah!" balas Karina kesal, dan langsung memalingkan wajahnya kearah depan, karna posisi Karina yang menghadap Alan.


"Udah gak usah di gangguin terus, kasihan Karina, emang lo gak bisa lihat kalo Karina lagi banyak masalah?" cetus Farel yang baru datang dari arah depan dan duduk disampingnya Karina.


"Nah itu gue setuju tuh, thanks ya Rel, karna lo udah ngertiin gue, gak kayak si Alan tuh nyebelin!" balas Karina dengan sedikit tersenyum.


"Iye gitu bagus, pilih kasih aja terus, udah beberapa hari ini, elo ngejauh terus dari gue, emangnya gue ada bikin salah apa sama lo?" tanya Alan dengan nada kesalnya.


"Gue kagak pilih kasih Bambang, sejak kapan lo jadi baperan gini?" cetus Karina dengan melempar Alan memakai penghapus.


"Bambang! Siapa Bambang? nama gue udah bagus juga A-L-A-N ALAN, ngapa lu ganti jadi Bambang!" balas Alan dengan cemberut.


"Gak usah kek gitu, udahlah gak usah di bahas, bentar lagi guru masuk nih?" ucap Karina.


***


POV Daffa


Setelah istirahat tiba, Daffa, Alex, dan Daniel pun duduk santai di kantin dengan minuman, dan makanan yang telah di pesannya.


Daffa masih saja murung atas kejadian yang menimpanya itu.


"lo kenapa sih Daff, masih mikirin cewek lu yang gak jelas itu, udahlah lupain aja, anggap saja yang berkhianat itu tidak ada!" ucap Daniel dengan lantangnya.


"Elo ngomong apaan, lo itu temen apa bukan sih, udah tahu temen lo ini lagi sedih, malah di tambahin kek gini!" sarkas Alex dengan tatapan tajamnya.


"Lah ... emang iyakan, kembarannya si Kirana itu emang bukan cewek baik-baik, buktinya aja sekarang dia kek gitukan sama Daffa?" jawab Daniel.


"Ya seharusnya lo gak ngomong kek gitu dong, lagian kita gak tahukan kejadian yang sebenarnya itu kek apa, jadi udahlah elo gak usah jadi kompor!" ucap Alex yang merasa kesal dengan ucapannya Daniel.


"Kenapa, elo suka kan sama Karina, makanya elo belain dia terus, sadar dong Lex, dia aja berani nyakitin Daffa, apa lagi elo?" balas Daniel dengan menunjuk ke arah Alex.


"Siapa juga yang suka sama dia, gue gak suka, cuman gue tahu kalo dia gak salah dalam hal ini, lagian gue percaya kok, kalo emang dia gak ngelakuin hal senonoh itu!" terang Alex.


"Sok tahu lu, kalo emang dia terbukti salah, elo bakal malu sendiri Lex!" balas Daniel tak mau kalah.


"Kita lihat saja nanti, kalo omongan gue ini bener, lo jangan malu sama gue! Ayolah Daff, lemon ... ehh kemon ... bangkit, lo harus usut kejadian ini, masa lo mau diem aja kek gini, mana pembelaan lo terhadap pacar lo itu?" ucap Alex dengan menatap Daffa.

__ADS_1


"Gue harus berbuat apa, gue juga masih gak tahu gue harus ngapain, entah harus percaya sama siapa, gue juga gak tahu!" balas Daffa dengan pikiran kosongnya.


"Ya lo ajakin ketemu lah cewek lo itu, lo tanya dengan kesadaran hati lo, apa benar dia melakukan itu, lo tatap baik-baik deh wajah cewek lo itu, seharusnya lo tahu kan, mana yang sedang jujur, dan mana yang sedang berbohong?" ucap Alex.


"Yaudah nanti ajalah, sepulang gue sekolah, gue bakal ke rumahnya dia!" balas Daffa dengan meminum minumannya.


Alex pun hanya tersenyum menanggapi omongannya Daffa.


POV Angel


Disisi lain, Angel pun merasa senang dengan rencananya yang berhasil membuat Daffa membenci Karina.


"Olive, sejak kapan lo punya sobi ganteng kek si Doni itu?" tanya Angel dengan menatap penasaran kearah Olive.


"Kenapa emangnya, lumayan lama lah gue sahabatan sama dia, cuman kan dia harus ngelanjutin studynya di ausy, dan baru balik ke Indonesia lagi sekitar satu minggu lah, jadi gue udah kompromi sama dia buat ngejebak si Karina itu?" balas Olive dengan senyum miringnya.


"Pandai! Tapi si Doni juga lumayan ganteng sih menurut gue, tapi gak ada yang bisa mengalahkan tamvannya Daffa gue!" ucap Angel dengan senyumnya yang sok manis.


"Tapi lo harus hati-hati lagi deh Ngel, gue rasa ni ya, si Kirana mencoba mendekati si Daffa lagi, contohnya kemaren aja dia Sampe bohong lihat si Karina di jemput cowok, padahal kan kita lihat sendiri kalo si Karina berangkat sendiri dari rumahnya?" terang Vivi yang mulai curiga terhadap Kirana.


"Hemm ... iya juga sih, bukannya dia udah punya cowok, ya, masa iya sih masih mau sama Daffa?" balas Angel dengan bodohnya.


"Bodoh!" ucap Vivi singkat.


"Ngatain gue bodoh, kalo emang lo tahu si Kirana ngedeketin bebeb gue, ya lo hajar aja dia dengan cara lo sendiri?" balas Angel dengan memainkan ponselnya.


"Kenapa gak langsung elo aja yang turun tangan, kenapa harus gue?" ucap Vivi dengan kesalnya.


"Ehh dengerr ya, gue udah banyak bantu lo, jadi sekarang elo yang harus bantuin gue, kayak Olive dong?" balas Angel.


***


Sepulang sekolah, Daffa pun langsung bergegas ke rumahnya Karina, namun Karina tidak pulang ke rumah, karna Karina pulang ke hotelnya bersama paman Teddy.


Kirana yang baru memasuki halaman rumahnya pun langsung memarkir kan mobilnya dan menghampiri Daffa. "Daffa kamu mau ngapain datang ke rumah aku?" tanya Kirana.


"Gue lagi nyari Karina, apa dia sudah pulang sekolah?" balas Daffa.


"Gak ada, dari kemaren dia gak tidur disini, setelah kalian pergi, dia juga ikut pergi sama cowok itu?" ucap Kirana berbohong.


"Dia lagi, s****n!" jawab Daffa dengan nada meninggi.


Setelah itu Daffa pun pergi dari rumahnya Kirana, dan menuju ke sebuah Caffe mewah, disana Daffa bertemu dengan Doni, Daffa masih mengingat wajah itu, dan membuatnya marah.


Daffa pun langsung menghampiri Doni dengan amarahnya yang meluap.


Daffa menghampiri Doni, dan langsung mencengkram kuat kerah bajunya Doni, dan sesekali Daffa pun menonjok pipi Doni bagian kanan. "Elo bawa kemana cewek gue? Jangan bilang lo bawa dia ke hotel lagi, karna gue gak suka!" teriak Daffa dengan nada tinggi.


Doni pun mengusap pipi bekas tonjokan dari Daffa, dan mengangkat tangannya seperti orang yang menyerahkan diri kepolisi. "Santai dong bro, gue gak tahu cewek lo itu dimana, lagian gue juga gak kenal sama cewek lo itu, kemaren sih kebetulan aja, cewek lo lagi mabuk berat, dan gue bawa dia ke hotel, eh ternyata secepat itu kabarnya menyebar!" terang Doni dengan senyum miringnya.


"Kurang ajar lo, cewek gua gak mungkin minum minuman beralkohol, lo jangan ngada-ngada deh, cepet bilang dimana cewek gue lu umpetin?" tanya Daffa dengan menatap tajam ke arah Doni.


"Gue serius, gue gak tahu dia dimana, lagian kemaren sore dia masih di rumahnya kok bareng itu cewek yang mukanya mirip?" jawab Doni.


"Kirana maksud lo?" tanya Daffa menyelidik.

__ADS_1


"Iya kali, gue kagak tahu namanya, gue pergi duluan kemaren, dan dua sodara itu berantem, tapi gue gak peduli tuh!" jawab Doni lagi.


Daffa melepaskan cengkramannya dari kerah Doni. "Okey! Tapi awas lu ya kalo sampai lu berani deketin cewek gue lagi, gue gak akan tinggal diem, dan lo bakal terus berurusan sama gue, paham?" teriak Daffa dengan tatapan membunuhnya.


"Okey!" balas Doni singkat.


Setelah itu Daffa pun pergi dari Caffe itu, Daffa pun terus mencari keberadaan nya Karina, sampai pada akhirnya Daffa pun bertemu dengan Almahendra papanya Karina di dekat pom sedang mentransfer sejumlah uang.


Daffa berlari kecil untuk menuju Almahendra. "Om?" sapa Daffa dengan mencium tangannya Almahendra.


"Daffa, ada apa?" tanya Almahendra dengan melirik kearah Daffa.


"Kalo boleh tahu, Karina kemana ya, kok tadi Daffa ke rumah, kata Kirana katanya Karina pergi sama cowok, apa itu benar om?" Daffa malah nanya balik soal Karina, dan itu membuat Almahendra menggelengkan kepalanya tidak menyangka kalau Kirana bilang seperti itu.


"Ya, Karina ada di hotel dengan Teddy asisten om, gak baik kita mengobrol disini, kita cari tempat yang nyaman saja Daff?" ucap Almahendra dengan mengajak daffa duduk di warung dekat pom.


"Tadi om bilang kalo Karina di hotel dengan Teddy?" tanya Daffa memastikan.


"Iya benar, Teddy adalah asisten pribadi om di kantor, om yang meminta Teddy untuk menjaga Karina dari orang-orang yang ingin memfitnahnya?" balas Almahendra.


"Jadi om sudah tahu kabar Karina yang pergi dengan satu pria di hotel itu?" tanya Daffa.


"Tahu, Karina bilang sama om kalo dia di jebak orang, orang itu menyuruh Karina datang ke caffe estetik, dan di pesannya itu terdapat nama kamu, makanya Karina pergi?" jelas Almahendra.


"Nama Daffa! Daffa tidak pernah mengajak Karina bertemu diluar, Daffa selalu datang kan kalo mau mengajak Karina main?" ucap Daffa.


"Om tahu, maka dari itu om melarang Karina, tapi Karina tetap keras kepala, dan akhirnya Karina pergi, dan terjadilah sesuatu yang tidak di inginkan!" jelas Almahendra.


"Daffa hanya ingin tahu kejelasannya om, om kasih tahu daffa, hotel yang di tinggali Karina dimana? Daffa mau tahu jawaban Karina langsung?" balas Daffa.


Setelah itu Almahendra pun memberitahukannya.


Daffa pun langsung bergegas menuju ke hotel itu.


Daffa pun berhasil menemui Karina dan mulai mengobrol di dalam kamar hotelnya Karina dengan ditemani Teddy asisten pribadi papanya.


"Kamu jelasin sama aku sekarang, kejadian sebenarnya itu seperti apa?" tanya Daffa sambil menatap wajah Karina dalam.


"Ya malam itu sekitar pukul delapan malam, aku dapat pesan dari nomor yang tidak aku ketahui, di dalam pesan itu sangat jelas ada nama kamu, dan aku percaya kalo itu memang kamu, makanya aku pergi ke caffe itu, dan setelah sampai disana, aku tidak bertemu kamu sama sekali, sampai pada akhirnya makanan dan minuman pun datang, padahal aku sendiri belom memesannya, karna begitu lama aku menunggu kamu, aku meminum minuman itu, setelahnya aku tidak ingat apa-apa, yang aku ingat setelah bangun ada cowok itu di samping aku, aku kaget dengan keadaanku waktu itu, cowok itu bilang dia hanya menemani aku tidur, katanya sih tidak melakukan apa-apa, aku juga gak tahu?" terang Karina dengan detailnya.


"Oh begitu ceritanya, maafin aku ya, karna kemaren aku udah kebawa suasana jadinya aku marah sama kamu, aku harap kamu mengerti dengan kemarahanku itu, aku cemburu, hatiku terasa terbakar setelah melihat potret itu, kamu tahu sendirikan kalo aku memang takut kehilangan kamu, dan sekarang aku mau percaya lagi sama kamu?" balas Daffa sambil memegang kedua pipinya Karina.


"Ya kamu harus percaya sama aku, kalo kamu gak percaya sama aku, rasanya sakit Daff, aku tahu banyak yang gak suka sama hubungan kita, tapi aku harap kamu percaya terus sama aku, biar gak ada cela buat orang masuk di hubungan kita?" ucap Karina menatap wajahnya Daffa yang tamvan itu.


"Iya sayang, aku bakalan percaya sama kamu, dan aku gak akan ngasih cela buat orang masuk di hubungan kita, kamu tenang aja, sampai kapan kamu mau tinggal di hotel ini?" tanya Daffa.


"Aku gak tahu!" balas Karina singkat.


Daffa yang mendengar ucapan Karina seperti itu, hanya manggut-manggut saja.


***


Alex yang sudah berjanji kepada Karina pun mulai menyuruh orang kepercayaan papanya untuk menyelidiki kasus Karina itu, dan mengusutnya sampai tuntas, sampai tahu siapa dalang dibalik penjebakan itu.


#bersambung

__ADS_1


__ADS_2