TIGA BERSAUDARA

TIGA BERSAUDARA
Sakit Tenggorokan!


__ADS_3

TIGA_BERSAUDARA_SEASON_2


"Terserah lu aja dah juminten, pusing gue!" batin Karina.


★★★


Setelah pulang, Karina masih saja kesal dengan Daffa, sampai-sampai Daffa pun di cuekin.


"Kamu kenapa sih, kok malah cuekin aku terus dari tadi?" kata Daffa.


"Udah lah, aku lagi males debat sama kamu, mendingan kamu pulang aja, kasian tuh cewek kalau kamu tinggalin. Udah kamu sama dia aja, gak usah sama aku!" balas Karina sambil masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu itu.


"Sayang? Maksudnya apa? Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia, dia hanya sekretaris aku doang kok." kata Daffa menjelaskan.


"Bodo amat! Udah sana pulang aja." balas Karina di balik pintu itu.


"Ya udah aku pulang!" Daffa pun langsung bersembunyi di balik tembok pembatas kamarnya Karina dan tak lama Karina pun keluar untuk memastikan kalau Daffa pulang apa enggak.


"Beneran pulang ternyata, syukur lah kalau dia pulang!" gumam Karina dan tak lama Daffa pun keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung memeluk tubuhnya Karina dari belakang.


"Daffa? Kamu ngapain masih disini? Aku fikir udah pulang!" sambung Karina sambil sedikit melepaskan pelukannya Daffa namun sayang itu tidak bisa.


"Aku kan masih kangen lho sama kamu, kamu cemburu kalau aku ngobrol berdua sama Jenny?" tanya Daffa. Sungguh itu pertanyaan yang konyol.


"Ya aku gak cemburu, aku cuman gak suka aja, liat tunangan aku sendiri berduaan sama cewek lain, lagian aku gapapa kok kalau kamu mau pilih dia!" balas Karina. Padahal dalam hatinya gak rela kalau Daffa sama yang lain.


Daffa pun melepaskan pelukannya dan menghadapkan Karina ke hadapannya. "Ya udah, kamu jangan berpura-pura gak cemburu kayak gitu, aku tau kok kalau sebenarnya kamu gak rela kan kalau aku sama Jenny?" goda Daffa sambil menatap wajahnya Karina yang cantik itu.


"Kalau iya emang kenapa? Salah kalau aku cemburu? Aku tau kamu milik aku, kita udah bertunangan, tapi itu gak menjamin buat kamu gak jatuh cinta lagi sama yang lain kan?" balas Karina sambil membalas tatapannya Daffa.


Cupp


Daffa pun mencium lembut bibirnya Karina dan Karina pun malah mematung saat Daffa mencoba ******* bibir seksinya itu.


Tak lama Karina pun mendorong keras tubuhnya Daffa. "Kamu jangan macem-macem sama aku, aku gak suka sama perlakuan kamu yang kayak tadi!" kesal Karina yang berdiri jauh dari Daffa.


"Kenapa? Bentar lagi kita bakalan menikah, dan aku juga gak bakalan ngelakuin hal yang lebih kok, cuman cium doang?" balas Daffa.


"Udah kamu pulang aja, aku lagi gak enak badan, jangan paksa aku buat ngusir kamu pake sekuriti, Daff?" titah Karina dan kini Daffa pun benar pergi tanpa sepatah kata pun.


Karina pun kembali masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya di kasur, melepaskan lelah yang telah menyelimutinya.


"Gue gak mau kalau sampai Daffa nganggap gue cewek murahan, bagaimana kalau nantinya gue sama dia jadi gak berjodoh? Gue gak akan pernah ngebiarin kehormatan gue hancur!" gumam Karina dan setelah itu tertidur di kasurnya karna lelah.


★★★


Ke esokan harinya, Karina pun kembali berangkat ke kantornya. Sebenarnya tidak ada jadwal meeting, cuman Karina merasa bosan saja kalau seharian berada di rumah.

__ADS_1


Setelah lima belas menit berada di kantor, Karina pun merasa jenuh dan berniat pergi ke kantornya Daffa saja, untuk melihat sedang apa kekasihnya itu dan Karina berharap Daffa sedang sendiri dan tidak bersama dengan sekretarisnya itu.


Sesampainya di depan kantornya Daffa, Karina pun langsung menuju ke resepsionis dan bertanya apa Daffa sedang meeting, atau ada kesibukan lain dan ternyata resepsionis itu bilang kalau Daffa sedang di ruangannya.


Karina pun langsung menuju ke ruangannya Daffa dan masuk ke dalam ruangannya, Jenny pun terlihat kesal dan berniat ingin masuk juga, namun Jenny menahannya dulu dan menguping di balik pintu.


"Tumben sendirian aja, sekretaris kamu yang genit itu kemana?" tanya Karina dan membuat Daffa mendongakkan kepalanya dan tersenyum kecil.


"Masih aja bahas soal dia, udah aku bilang aku gak ada hubungan apa-apa sama dia, jadi kamu gak usah hawatir kalau aku sama dia?" balas Daffa lembut.


Karina pun tersenyum kecut. "Aku gak hawatir kok dan aku juga gak takut kehilangan kamu sekali pun, jadi kamu tenang aja!" kata Karina dengan wajah datarnya itu.


Daffa pun berdiri dan mendekati Karina. "Maksud kamu apa sih? Udah deh kamu jangan ngomong itu terus, aku cuman sayang dan cinta sama kamu!" Daffa pun langsung memeluk tubuhnya Karina dan kali ini Karina pun membalas pelukannya itu.


Dari depan pintu Jenny menyaksikan keromantisan itu dan membuat dadanya sesak. "Mereka berpelukan, gue gak bisa melihatnya seperti itu, hati gue sakit dan gue harus bisa membuat keduanya berpisah dan gue bakalan bikin perempuan itu benci sama Daffa, sehingga Daffa jadi milik gue seutuhnya!" batinnya dan setelah itu kembali masuk ke dalam ruangannya.


Tak lama dari itu Karina pun keluar dari ruangannya Daffa dan hendak pergi, namun Karina harus terpaksa berbelok ke kamar mandi dulu karna ingin mencuci wajahnya.


Jenny pun kembali mengikuti Karina dari belakang. Saat Karina sedang mencuci wajahnya tiba-tiba saja Jenny masuk dan mengunci pintu kamar mandi itu.


Karina pun langsung menatap ke arah Jenny yang hendak menghampirinya. "Kenapa pintunya di kunci?" tanya Karina dengan ekspresi dinginnya dan sedikit membuat Jenny gugup. Jenny fikir Karina yang akan takut dengan dirinya, ini malah berbalik jadi dirinya yang takut.


"G-gue___ gue cuman mau tanya satu hal sama lo, apa benar elo tunangan nya Daffa?" gugupnya Jenny dan membuat Karina tersenyum miring.


"Bukan ... kenapa? Elo suka sama Daffa? Ambil aja, gue gak masalah kok!" kata Karina cuek.


"Emang udah gak salah lagi, dasar cewek gak tau diri!" kata Karina sambil berjalan menabrak Jenny dan membuka kunci pintu kamar mandi.


"Awww ... s***** tu cewek, maen tabrak-tabrak aja, emangnya gak sakit apa! Dasar g*** ...!" gumamnya sambil keluar dari kamar mandi dan menghampiri Daffa di ruangannya.


"Aku mau ngomong sama kamu? Ini penting!" katanya sambil duduk di sofa yang ada di ruangannya Daffa.


"Mau ngomong apa? Kamu tau sendiri kan kalau aku ini lagi sibuk!" balas Daffa dan tetap fokus pada laptop yang di pegangnya.


"Sama cewek tadi aja gapapa, giliran sama aku sibuk terus!" Jenny pun langsung menghentakkan kakinya dan pergi keluar dari ruangannya Daffa.


"Apaan sih, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit pergi, dasar cewek ya, maunya di kejar terus, gak mikir apa kalau gue juga kesusahan buat ngejar!" gumam Daffa sambil berdiri dan mematikan laptopnya setelah itu keluar dari ruangannya dan menuju ke ruangannya Jenny.


Author POV


Sebelum kembali ke kantornya, ternyata Karina masih menunggu di parkiran untuk kembali masuk melihat kekasihnya, dan ternyata kecurigaannya tak bisa di sepelekan.


Karina pun kembali memasuki kantornya Daffa dan tak melihat Daffa di ruangannya akan tetapi Karina mendengar suara orang yang sedang ribut di ruangan depan dan Karina pun mencoba mengintipnya.


Karina membuka celah sedikit di balik pintu ruangannya Jenny dan nampaklah dua sejoli yang sedang beradu mulut, yang tak lain adalah Daffa dan sekretarisnya itu.


Percakapan Diantara Daffa dan Jenny.

__ADS_1


"Udah dong jangan selalu bandingkan diri kamu sama dia, dia udah jelas tunangan aku, sedangkan kamu cuma sekretaris aku aja." kata Daffa.


Jenny pun menatap wajahnya Daffa dengan senyum kecilnya yang mungkin dapat di artikan senyum palsu. "Ya kamu benar, aku memang sekretaris kamu, tapi kamu selalu datang padaku disaat dia sibuk dengan pekerjaannya, apapun yang kamu mau, aku selalu kasih." kata Jenny sambil duduk di kursinya.


"Lalu? Kamu mau apa dariku? Bukannya yang kamu mau aku juga selalu kasih?" balas Daffa sambil menatap wajahnya Jenny.


"Sudahlah, tidak usah urusi aku terus, mendingan kamu kembali ke ruangan kamu aja, aku pusing dengan mu!" usir Jenny tanpa melihat wajahnya Daffa sedikit pun.


"Ya udah lah, terserah kamu aja."


Sebelum Daffa keluar dari ruangannya Jenny, Karina pun langsung terburu-buru pergi dari kantornya Daffa dan setelah masuk ke dalam lift, Karina bertemu dengan Jodan yang sedang menuju ke lantai bawah juga.


"Ibu Karina? Sepertinya ibu sedang tidak baik-baik saja, apa perlu saya telponan pak Daffa?" tanya Jodan lembut.


Karina pun sedikit mengusap air matanya kasar dan tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa. "Saya baik-baik saja, Jo. Kamu tidak perlu bilang apa-apa saat bertemu Daffa nanti, anggap saja kita tidak pernah bertemu disini, kamu mengerti kan, Jo?"


Jodan pun mengangguk. "Baik Bu, saya akan menganggapnya seperti itu!" Karina pun tersenyum dan pintu lift pun terbuka, keduanya pun sama-sama keluar dari lift itu dan Karina pun langsung menuju ke parkiran sedangkan Jodan ke tempat lain.


★★★


Karina pun berbaring di kasurnya sambil membayangkan kejadian tadi yang di lihatnya, setelah itu Karina pun sedikit tersenyum miring. "Ternyata begitu kelakuan mu di belakang ku Daff, aku fikir kamu bakalan terus setia sama aku, tapi nyatanya kamu malah berpaling sama sekretaris kamu itu! Aaarrrggghhh ...!!!" Karina pun berteriak sampai membuat tenggorokannya sakit dan tertidur.


Keesokan harinya saat matahari sudah di atas tepat berada di atas atap Karina masih belum juga bangun, pembantu yang sudah bolak-balik untuk membangunkan pun masih belum berhasil, hingga akhirnya Almahendra lah yang harus masuk ke dalam kamar putrinya itu.


"Sayang? Bangun yuk, udah siang lho, hampir jam dua belas tepat?" ucap Almahendra lembut sambil menepuk-nepuk tangannya Karina.


"Hmmm ...!" Karina hanya berdehem tanpa berniat membuka matanya sedikit pun.


"Ayo bangun? Masa anak perawan jam segini belom bangun? Malu dong sama ayam di luar sana yang udah bangun sejak subuh tadi? Karina?" Almahendra pun memegang keningnya Karina yang menurutnya sangat panas, mungkin Karina demam.


"Ya ampun sayang, kok panas, kamu demam?" sambung Almahendra dengan rasa paniknya.


Karina hanya memegang tenggorokannya karna mungkin untuk bicarapun susah saking sakitnya, dan kebetulan Jefan sedang ada di rumahnya Karina mengurusi berkas bersama Teddy asisten pribadi Almahendra.


Almahendra yang panik pun langsung berteriak memanggil kedua nama asisten pria yang sedang di bawah, tak lama mereka berdua pun menghampiri dan Almahendra pun menyuruh Jefan untuk membawa Karina ke rumah sakit dan mereka berempat pun mulai menancap gas menuju rumah sakit terdekat.


Dokter pun mulai memeriksa keadaannya Karina dan setelah selesai dokter pun keluar dari ruangan itu.


"Gimana keadaan anak saya, dok?" tanya Almahendra sambil berdiri dan menghampiri sang dokter.


"Keadaannya baik-baik saja pak, hanya mungkin sakitnya akan hilang dan sembuh selama satu sampai dua hari. Namun jika keluhannya terus berlanjut lama dan disertai dengan gejala-gejala baru, penyebabnya bisa dari asam lambung yang naik dan menyebabkan tenggorokan terasa panas hingga meradang. Polusi udara terbuka dapat menyebabkan tenggorokan teriritasi sehingga terasa sakit. Mungkin putri bapak habis berteriak kencang atau berbicara panjang dan itu membuat tenggorokan putri bapak sakit?" Penjelasan dari dokter itu cukup membuat Almahendra mengerti dan menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih dok atas penjelasannya." balas Almahendra sambil tersenyum.


"Baik. Kalau begitu saya permisi ya, pak?" Almahendra pun mengangguk dan dokter pun kembali menuju ke ruangannya.


Setelah itu Jefan pun di suruhnya untuk kembali membawa Karina masuk ke dalam mobil sedangkan Teddy membayar administrasinya dulu setelah itu mereka berempat pun kembali pulang ke rumah.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2