
Selamat Membaca😊
***
Setelah beberapa hari terbaring tak sadarkan diri, akhirnya Almahendra pun tersadar dari tak sadarkan dirinya.
Citra, Adit, dan Karina pun masuk ke dalam ruangan papanya di rawat.
"Pah aku sangat hawatir sama papa, papa jangan kayak gini lagi, ya? Citra gak mau papa kenapa-napa?" ucap Citra dengan air mata yang mulai menetes.
"Iya sayang, papa cuman syok aja, kok bisa Kirana sejahat itu sama Karina? Papa sungguh tak bisa bayangin, ke depennya Kirana bakalan kayak gimana, sekarang aja polisi udah mencium kejahatannya kan?" balas Almahendra dengan perasaan yang sulit di artikan.
"Udah lah pah, gak usah di fikirin, lagian Karina juga gapapa kan? Karina masih sehat-sehat aja, papa gak usah hawatirin itu, yang penting sekarang, papa harus sembuh dulu, seperti biasanya, ya, Pah?" ucap Karina sambil memeluk papanya yang terbaring d kamar inap rumah sakit itu.
"Iya sayang, papa pasti sembuh kok," balas Almahendra sambil tersenyum.
"Yaudah kalo gitu, papa istirahat lagi aja, Karina lagi ada urusan dulu?" ucap Karina sambil mencium punggung tangan Papanya.
"Hati-hati di jalannya, ya?" balas Almahendra.
Karina pun mengangguk, dan setelah itu Karina pergi untuk menemui Alan, dan teman-temannya yang lain.
POV Alan and friends
Alan, Kiki, Bayu, dan Farel pun sedang mengobrol ria di taman tempat mereka nongkrong dulu, dan tak lama Karina pun datang dan ikut duduk disana.
"Lagi ngobrolin apaan nih, sampai gue di abaikan kayak gini," cetus Karina dengan memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Ha ... bahkan gue aja gak tahu kapan lo dateng kesini, kita berempat, cuman lagi ngobrol biasa, emangnya kenapa?" tanya Alan dengan menatap wajahnya Karina.
"Ada yang mau gue sampein sama kalian, soal siapa yang ngeracunin gue waktu itu, dan kini orangnya lagi jadi buronan?" balas Karina dengan menghela nafas panjangnya.
"Serius lo Rin? Siapa dia? Pasti dia melarikan diri, karna ketakutan kan?" tanya Alan dengan penasaran.
"Iya, tapi kalian jangan kaget, kalo udah tahu siapa dalangnya?" balas Karina.
"Iya, ayo dong bilang, siapa orangnya? Gue udah penasaran banget nih?" ucap Alan.
"Dia adalah ... kembaran gue sendiri," balas Karina dengan suara beratnya.
"Wahhh ... gila, ya, si Kirana, sampe senekat itu mau bunuh lo? Emangnya ada masalah apa?" tanya Kiki.
"Gak mungkin, masa iya sih Kirana setega itu sama lo, jangan becanda dong?" sarkas Alan yang tak percaya, kalo Kirana memang dalangnya.
"Semua bukti yang di dapatkan itu mengarah kepada Kirana, kalo memang Kirana gak ngelakuin itu, ngapain dia harus kabur coba, kalo emang gak salah, polisi pun pasti membebaskan dia kan, kalo kabur kayak begini, polisi makin yakin lah, kalo Kirana memang dalangnya?" sambung Karina, menjelaskan perkataannya yang tadi.
Setelah mendengar penjelasan Karina barusan, Alan mendadak jadi pendiam, dan tak menyangka, kalo kekasih hatinya itu bisa setega itu, mencelakai sahabatnya sendiri.
"Gue paham perasaan lo brad, tapi lo jangan sampai depresi, cuman gara-gara ini, ye?" ucap Bayu sambil menepuk-nepuk pundaknya Alan pelan.
"Gak mungkin lah gue depresi, gue cuman gak nyangka aja, gak habis fikir gue sama dia, kok bisa, ya, Kirana nyelakain adiknya sendiri, perasaan gue, dia gak punya masalah apa-apa deh sama lo, Karin?" kata Alan dengan kembali menatap manik hitam milik Karina.
"Ya emang gak ada, maka dari itu, gue sendiri bingung, biar nanti deh, kalo Kirana nya udah ke tangkep sama polisi, biar kita tanya, apa masalah dia sama gue," balas Karina.
"Yaudah deh, gue setuju, banget," ucap Alan.
__ADS_1
Karina pun mengangguk, dan tersenyum.
Setelah itu Karina pun tak bersuara sedikit pun, karna mengingat papanya yang masih terbaring di rumah sakit.
"Elo kenapa? Kok malah sedih gitu? Soal Kirana gak usah di fikirin, ntar yang ada lo sakit lagi?" ucap Farel sembari memberikan minuman yang udah di siapkannya.
Karina pun mengambil minuman itu. "Gue gak mikirin Kirana, Rel. yang gue hawatirin, ya, bokap gue sendiri, bokap gue syok karna Kirana, dan sekarang jantungnya kumat, itu yang membuat gue sedih," balas Karina dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Elo kenapa nangis? Lo apain Karin si Rel, kok sampai nangis gitu?" tanya Bayu dengan menatap tajam ke arah Farel.
"Bukan karna gue, Karina nangis karna dia inget sama bokapnya, kok elo malah nyalahin gue sih," balas Farel dengan membalas tatapan tajam ke arah Bayu.
"Udah gak usah berantem, kayak bocah tahu," ucap Kiki dengan memukul punggungnya Bayu, dan Farel secara bergantian.
"Dia yang mulai juga," ucap Farel.
"Elu, gak usah nyalahin gue," balas Bayu.
"Elu b******, jangan nuduh-nuduh gue dong," teriak Farel.
"Lahh.. b*** lu," balas Bayu.
"Berisik!" teriak Alan dengan kencangnya, dan membuat yang adu mulut tadi ternganga karna belom pernah melihat Alan berteriak sekencang itu.
"Iya-iya, nih diem," balas Bayu sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Setelah itu mereka berlima pun jadi pada diem-dieman, dan setelahnya mereka pun tertawa bersama, dan kembali bercanda ria.
__ADS_1
#bersambung