
#TIGA_BERSAUDARA_SEASON_2
♥️ Happy Reading Guys😘 ♥️
Sambil melepas lelah, Jenny pun merebahkan tubuhnya di kasur miliknya dan tertidur.
Daffa POV
Sepulangnya dari hotel, Daffa terlihat gelisah dan sedikit mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Kenapa semua ini harus terjadi sama gue, dan kenapa ceweknya harus Jenny, kenapa gak Karina aja, udah pasti Karina bakalan gue nikahin, ini Jenny yang jelas-jelas bukan siapa-siapanya gue ... aduuuhhh Daffa berfikir dong, supaya gimana caranya agar Jenny tak meminta gue untuk menikahinya. Ayo dong berfikir ... aaarrrggghhh ... stupid ...!" teriaknya sambil meninju cermin yang ada di hadapannya sampai pecah dan tangannya Daffa pun berdarah karna benturan itu.
Mama Lidia yang mendengar keributan di kamarnya Daffa pun langsung bergegas menuju ke kamarnya Daffa karna hawatir akan keadaan Daffa.
Tokk! Tokk! Tokk!
"Daffa, ini mama, nak? Kamu kenapa?" teriak Lidia dari luar kamar.
"Daffa gapapa mah, Daffa hanya sedikit ada kendala, tapi Daffa baik-baik aja kok," balasnya dari dalam kamar.
"Ya sudah kalau memang kamu gapapa, Mama tinggal kembali!" Lidia pun kembali menuruni anak tangga.
Beberapa Hari Kemudian
Saat bangun pagi, Jenny merasa perutnya sangat mual dan Jenny pun memuntahkan cairan bening, badannya lemas.
"Kok gue jadi mual gini, ya? Padahal gue gak kemana-mana dan gak mungkin gue masuk angin."
Degh!
Jantungnya berdetak kencang kala mengingat kejadian di malam itu saat bersama Daffa.
"Apa jangan-jangan gue hamil? Gue harus periksa ke dokter dulu, setelah itu gue akan minta Daffa buat tanggung jawab!" gumam Jenny sambil keluar dari kamar mandi dan langsung meraih handuknya dan melakukan ritual mandinya.
★★★
Setelah siap Jenny pun langsung pergi menuju ke dokter kandungan dan setelah di periksa ternyata dugaannya benar, dokter itu bilang kalau Jenny tengah hamil satu minggu.
Tak lama dari itu, Jenny pun kembali pulang ke rumahnya.
"Gue harus gimana nih, kalau sampai kak Jefan tau, gue bisa habis nih, gue harus telpon Daffa sekarang juga." gumamnya sambil meraih ponsel yang ada di saku celananya.
¥ Via Telpon ¥
__ADS_1
"Daff, aku mau ketemu sama kamu, bisa?" Jenny.
"Aku tunggu di caffe biasa, jangan lama!" Daffa pun langsung menutup telponnya sepihak.
Jenny pun langsung buru-buru menuju ke caffe yang di janjikan Daffa barusan.
Di Caffe
"Ada apa? Hubungan kita telah selesai, kamu jangan ganggu aku lagi!" kata Daffa tegas.
Deggh!
Jantungnya Jenny seakan berhenti bergerak, Jenny takut kalau Daffa tidak mau bertanggung jawab.
"Aku hamil Daff, aku mau kamu tanggung jawab atas anak ini?" balas Jenny.
Daffa pun membulatkan matanya sempurna kala mendengar ucapannya Jenny barusan. "Gak ... gak mungkin kamu hamil anak aku, kamu pasti udah berhubungan lagi sama pria lain kan? Udah lah Jen kamu jangan beralasan itu anak aku!" tolak Daffa.
"Aku gak semurah itu Daff, aku gak mau tau, pokoknya kamu harus tanggung jawab, atau aku bakalan kasih tau tunangan kamu itu, kali kamu udah bikin aku hancur dan meninggalkan anak yang aku kandung!" ancam Jenny dan membuat Daffa harus berfikir kembali.
"Gugurkan ... aku mau kamu gugurkan kandungan itu, karna sampai kapan pun aku gak akan mau mengakui anak yang kamu kandung itu anak aku!" tegasnya tanpa memikirkan perasaannya Jenny.
"Gak ... aku gak mau menggugurkan anak ini, kalau kamu gak mau bertanggung jawab, aku bakalan dateng ke rumah kamu, dan bilang sama kedua orang tua kamu, kalau anaknya telah memperkosa aku!" Jenny pun berdiri dan hendak pergi, namun Daffa langsung menahan tangannya Jenny dan kembali menyuruh Jenny untuk duduk.
"Tapi aku juga gak mau kalau harus gugurin anak yang aku kandung ini Daff, apa kamu tega membuang anak kamu sendiri? Ini anak pertama kamu Daff, meskipun bukan dari wanita yang menjadi tunangan kamu, tapi ini tetap darah daging kamu Daff?" balas Jenny.
"Okeh ... okeh ... nanti akan ku fikirkan lagi, maaf aku tidak bisa lama, ada urusan kantor yang belum selesai aku kerjakan. Aku permisi!" ucap Daffa sambil berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Jenny sendiri.
"Gue yakin, kalau Daffa pasti gak mau tanggung jawab, makanya dia pergi ninggalin gue sendiri disini, mau gimana pun caranya gue harus bisa menemui perempuan itu, dan bilang kalau gue sedang mengandung anaknya Daffa dan gue kasih buktinya!" gumam Jenny dengan senyum miringnya setelah itu pergi meninggalkan caffe.
Jenny pun bergegas menemui kakaknya Jefan di kantornya, Jenny tak tahu kalau bosnya Jefan adalah tunangannya Daffa.
Jenny pun berjalan menemui resepsionis. "Maaf mbak, saya mau bertanya, apakah Jefan ada di kantor atau sedang sibuk?" tanya Jenny kepada resepsionis itu.
"Tunggu sebentar mbak, biar saya cek dulu?" Jenny pun mengangguk dan resepsionis itu pun mulai mencari jadwalnya Jefan.
"Pak Jefan sedang berada di ruangannya, ada perlu apa ya mbak? Apa sudah ada janji?" sambungnya sambil menatap Jenny.
"Saya adiknya Jefan?"
"Oh ... kalau begitu langsung ke lantai sepuluh aja, ruangannya pak Jefan ada di lantai sepuluh?" Jenny pun mengangguk dan langsung menaiki lift dan sampai di lantai sepuluh.
Jenny pun langsung masuk ke dalam ruangannya Jefan tanpa mengetuk pintu, dan dua orang yang sedang mengobrol itu pun kaget dan menatap ke arah pintu.
__ADS_1
"Jenny? Kalau mau masuk bisa gak ketuk pintu dulu, biar sopan." kata Jefan memperingati.
Jenny malah tersenyum sambil menghampiri kakaknya itu. "Sorry kak, gue fikir lo lagi sendiri, ternyata ada dia juga, tadinya gue mau nanyain alamatnya dia, eh tapi kalau udah ketemu sama dia disini gue ngomongnya disini aja deh," balas Jenny sambil menatap Karina.
"Kamu yang sopan kalau berbicara, ini ibu Karina bosnya kakak disini, jadi kamu jangan sembarangan." kata Jefan.
"Oops ... sorry kak, gue gak tau kalau dia bos lu, udah lu gak usah ikut campur, ini urusan gue sama dia, maaf mbak boleh kita mengobrol empat mata?" tanya Jenny.
"Boleh ... mau bicara dimana?" balas Karina datar.
"Kalau bisa di tempat yang gak ada orang, di ruangan anda mungkin, dan ini rahasia!" kata Jenny sambil tersenyum kecil.
"Baiklah, ruangan saya ada di sebelah kanan, kita langsung saja kesana. Mari?" balas Karina mempersilahkan sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya Jefan dan menuju ke ruangannya.
Jenny pun mengangguk dan mengikuti langkah kakinya Karina.
Di Ruangannya Karina
Karina duduk di kursinya dan mempersilahkan Jenny untuk duduk juga. "Kamu mau bicara apa dengan saya?" tanya Karina dengan serius.
"Ada hal pribadi yang ingin saya sampaikan sama kamu, tapi sebelum ke hal pribadi itu, saya ingin bertanya dulu, apa benar kamu tunangannya daffa?" balas Jenny sambil menatap sayu ke arah Karina.
"Iya ... saya memang tunangannya Daffa, ada apa? Ini bukan kali pertama kamu bertanya soal saya tunangannya daffa." ucap Karina.
"Kalau saya meminta kamu untuk menjauhi Daffa, apa itu bisa?" balas Jenny dan berharap Karina mengiyakannya.
Karina menatap heran. "Maksudnya apa? Saya tau kalian berdua ada hubungan di belakang saya, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya menyuruh saya menjauhi Daffa!" tegasnya.
"Saya sedang hamil, dan ini hasil pemeriksaan dari dokter sebagai bukti kalau saya tengah hamil satu Minggu?" balasnya sambil memberikan kertas dan alat tes kehamilan kepada Karina dan Karina pun melihatnya.
"Okeh ... maksud kamu, yang di kandung itu anaknya Daffa?" tanya Karina. Jangan ditanya soal perasaannya Karina, yang pastinya sudah hancur sebelum mendengar ucapannya Jenny lagi.
"Kamu benar, ini bukan kemauan saya, Daffa yang telah memperkosa saya dan saat saya memberitahukan bahwa saya sedang mengandung anaknya, Daffa menyuruh saya untuk menggugurkannya, tapi saya gak mau. Kamu sebagai perempuan seharusnya bisa mengerti dengan perasaan saya saat ini, saya sudah gak punya siapa-siapa lagi selain kakak saya, Jefan!" balas Jenny dengan air mata palsunya yang sudah membanjiri pipinya itu.
Karina pun berusaha tegar untuk tidak menangis, karna selama ini Karina memang sudah terlatih sebagai perempuan hebat yang mampu menahan dan menyembunyikan kesedihannya.
"Benarkah? Ya sudah biar nanti sekitar jam sebelas kamu ikut saya, kita pergi ke rumahnya Daffa bersama-sama, gimana?" tanya Karina yang tak memperdulikan perasaannya sendiri.
"Boleh, tapi tolong yakinkan Daffa kalau ini memang anaknya, saya minta tolong sekali, saya gak mau kalau anak ini terlahir tanpa ayah?" Karina pun mengangguk dan tersenyum.
Setelah itu Karina menyuruh Jenny untuk menunggunya di ruangan dan Karina harus meeting dulu sebentar.
#bersambung
__ADS_1