
Saat matahari mulai terbit, Karina bangun dengan tergesa karena mendapati jam sudah siang, dan artinya Karina akan terlambat ke sekolah.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Karina pun mulai bersiap untuk berangkat ke sekolah, dan di rumah hanya tinggal bibi saja yang sedang membereskan piring di dapur, dengan terburu-buru Karina pun membawa mobil yang biasa Karina bawa ke sekolahnya.
"Aduh ... gue telat nih, bisa dihukum nih gue kalau begini caranya." gumam Karina sambil tetap fokus melihat jalan, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih di atas rata-rata.
Setelah sampai didepan gerbang sekolah, entah keberuntungan apa yang sedang memihak Karina. Karina pun lolos masuk ke dalam lingkungan sekolah, dan memarkirkan mobilnya di parkiran.
"Aman nih gue kayaknya buat masuk ke dalam kelas." gumam Karina lagi sambil mengendap-ngendap, dan sedikit waspada.
Namun keberuntungan kali ini sedang tidak memihak Karina. Saat sedang mengendap-ngendap, tiba-tiba saja pak Restu memberhentikan langkah Karina untuk masuk ke dalam kelas.
"Hei ... kamu." teriak pak Restu sambil menatap wajah Karina yang seakan kaget dengan seruan darinya.
"Iya kamu. Ngapain mengendap-ngendap kayak yang mau maling saja." sambung pak Restu sambil mengernyitkan dahinya yang seakan pura-pura tidak tahu kalau muridnya kesiangan.
"A___ n___ u___, itu pak. Gue tadi." balas Karina yang gugup sambil menelan salivanya perlahan, dan menunjuk-nunjuk ke arah jalan.
"Eh ... ma___ maaf pak, maksudnya saya tadi habis ini lho pak itu apa si namanya," sambung Karina sambil menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali.
"Kamu ini ngomong apa si, dari tadi bapak tanya jawabannya malah anu itu, anu itu, apa si maksud kamu. Apa jangan-jangan kamu terlambat masuk sekolah, ya." sambil menelisik mencari kebenaran diantara manik hitam milik muridnya.
"Ah ... mana mungkin saya terlambat pak, saya kan baru___," tiba-tiba saja terpotong oleh ucapannya Alan yang baru muncul dibalik pintu kelas.
"Akhirnya lo datang juga, Rin." ucap alam sambil tersenyum miring.
"Ini lho pak teman saya ini baru aja ngambil buku yang ketinggalan dirumahnya," sambil mengedipkan mata sebelah pertanda kode untuk Karina berbohong.
"Iya pak yang di bilang Alan itu benar, kalau saya kesiangan, saya pasti bawa tas kan, pak. Ini saya cuman bawa buku doang lho pak," Karina pun mencoba meyakinkan pak Restu, dan memperlihatkan bukunya.
"Baiklah ... tapi jangan coba-coba untuk membohongi saya di lain hari. Kalian silahkan masuk ke dalam kelas." titahnya dengan tegas, dan membuat keduanya segera masuk ke dalam kelas, dan pak Restu pun kembali pergi.
Karena pagi ini jam kosong. Karina dan teman cowoknya yang lain pun malah mengobrol, dan duduk dimeja yang seharusnya jadi tempat menyimpan buku, dan ini malah dijadikan untuk tempat duduk.
Karina dan teman cowoknya membuat kebisingan yang mungkin akan terdengar ke kelas yang lain, dan membuat guru sebelah mendatangi kelasnya Karina.
"Kenapa kalian tidak belajar, dan malah membuat keributan, kalian tahu kalau di kelas sebelah sedang belajar." bentak guru itu dengan tegas.
"Maaf ibu cantik, bukannya kita mau bikin keributan, tapi memang inilah pembahasan kami saat jam kosong. Ibu cantik ini kok malah marah-marah saja, padahal kan kita juga cuman ngobrol doang di dalam kelas kan, bu." balas Alan yang membuat guru itu semakin kesal.
"Kamu ini, ya, bukannya memberikan contoh yang baik, ini malah memberikan contoh yang burik." kesal dosen itu sekali lagi.
"Kalau memang gak ada pelajaran, atau gurunya tidak ada, kalian kan bisa menanyakan tugas apa yang harus di kerjakan kepada guru lain, bukannya malah bikin keributan." sambungnya masih dengan nada bicaranya yang kesal.
"Udah deh Alan, lo gak usah jawab, diemin aja biar gak ribet." bisik Karina di samping telinganya Alan.
"Iya Bu. Ini juga memang mau mengambil tugas kok, udah ibu tenang aja, kita tidak akan bikin keributan lagi. Maaf, ya, Bu." balas Karina sambil sedikit memohon, dan tersenyum miring ke arah teman-temannya.
Setelah itu guru yang tadi kesal pun kembali masuk ke kelasnya untuk melanjutkan mengajar.
"Emang lo yakin Rin mau minta tugas ke guru lain." tanya Alan sambil memutar bola matanya malas.
"Mana ada. Iya kali gue mau belajar, udah lo tenang aja Lan. Gue yakin kok teman yang lain pun pasti malas buat belajar, iya kan," balas Karina lantang sambil menelisik ke seluruh temannya yang ada di kelas, namun mereka hanya mengangguk menurut karena tak berani protes terhadap Karina.
__ADS_1
Setelah itu Karina dan gengnya pun pergi ke kantin untuk ngemil disana tanpa takut ketahuan guru lain.
Di Cerita Kirana.
"Elo kenapa Kir, kok dari tadi muka lo tegang terus." tanya Daffa teman sebangkunya Kirana.
"Aku gapapa Daff, cuman aku takut kalau nanti ada bel istirahat berbunyi," balas Kirana sambil menelan salivanya pelan, dan merasa ketakutan yang berlebihan.
"Gapapa gimana. Lo dari tadi gue perhatiin kayak yang gak tenang gitu lho. Kenapa sih, ada masalah, ya." tebak Daffa yang sedikit lagi benar adanya kalau Kirana mempunyai masalah pembullyan oleh teman sekelasnya yang sok berkuasa di sekolah.
"Itu lho Daff, semenjak kamu libur sekolah. Angel, Olive, dan Vivi selalu aja bully aku. Padahal kan aku gak pernah punya masalah sama mereka, tapi kok mereka tega, ya, bully aku terus," jelas Kirana pelan, sambil memasukkan buku dan alat tulis lainnya ke dalam tas.
"Emangnya lo gak berani buat lawan mereka bertiga, kan sama-sama cewek Kir, masa harus gue yang lawan mereka, kan gak mungkin gue lawan cewek." tolak Daffa dengan lembut.
"Iya sih Daff, tapi kan setahu aku si Angel itu suka sama kamu, jadi dia kan gak mungkin mau bully aku kalau ada kamu di samping aku Daff," ucap Kirana dengan memanjakan suaranya.
"Ya masa gue harus terus berada di samping elo Kir. Udah lah lo gak usah hawatir, kalau emang lo di bully lagi, lo tinggal bilangin kepala sekolah aja, kan." mencoba menenangkan Kirana.
"Ya udah gapapa, lagian aku juga bisa sendiri kok, aku tahu kamu sibuk, dan lagian kamu juga bukan siapa-siapa nya aku," memasang muka sedih, untuk menarik perhatian nya Daffa.
Karena Daffa ini kan cowok terganteng, terkaya, cool, baik hati, dan ramah. Siapa coba yang gak suka sama Daffa, dan setiap perempuan manapun pasti akan terpesona setelah melihat tampangnya Daffa secara langsung.
Setelah bel berbunyi, semua murid pun berhamburan keluar, dan Kirana pun berencana untuk pergi ke kantin, namun saat di tengah perjalanan, Kirana pun langsung di hadang oleh Angel dan kedua temannya Angel.
"Gue dengar-dengar elo mau nyoba narik perhatian nya Daffa, ya." ucap Angel sambil tersenyum miring ke arah Kirana.
"Mendingan gue ingetin sama elo, ya, lo itu jangan kebanyakan mimpi deh buat bisa milikin Daffa." sambung Angel sambil mendorong tubuhnya Kirana.
"Awww ... sakit ...!" pekik Kirana yang bokongnya terasa panas karena terbentur lantai, sedangkan Angel dan kedua temannya malah tertawa.
"Kamu itu kenapa sih, hobby banget bully aku, emangnya salah aku ke kamu itu apa," sambil mencoba bangun perlahan.
"Udah gue bilang kan sama lo, kalau gue gak suka lo deketin Daffa, dan Daffa juga gak mungkin lah suka sama cewek culun kayak lo." menuding ke arah wajahnya Kirana.
"Aku gak pernah mau deketin Daffa, kan emang aku sama Daffa itu satu bangku, jadi kalau mau deket, ya, wajar kan," balas Kirana.
"Ih ... lo itu ngeselin banget, ya. Pokoknya gue gak mau tahu, lihatin aja kalau sampai lo mau merebut Daffa dari gue. Gue gak akan segan buat bikin hidup lo hancur, ngerti!" tanda seru sebagai peringatan yang tak boleh di langgar apapun alasannya.
Setelah itu Angel dan kedua temannya pun langsung pergi meninggalkan Kirana.
"Di zaman seperti ini, masih ada aja orang yang takut kalau cowoknya bakalan di ambil. Padahal kan mereka juga gak ada hubungan apa-apa, tapi kok sok-sokan melarang aneh." gumam Kirana sambil melangkahkan kakinya menuju kantin dan makan disana.
Di Cerita Angel And The Gengs.
"Angel, kalau cuman di omongin gitu doang gue yakin deh, si culun itu gak bakalan kapok." kata Oliv sambil mengompori Angel sahabatnya.
"Terus lo mau ngelakuin apa Oliv," balasnya sambil menatap ke arah Oliv.
"Gimana kalau kita kerjain dia dengan cara buang udara ban mobilnya si Kirana, itu kan mobil kesayangannya dia, gue yakin dia pasti keblinger nanti pas mau pulang." saran Oliv.
"Nah bener banget tuh Ngel, sekalian aja kan semua ban mobil nya kita bikin kempes, biar dia tahu rasakan," sambung Vivi sambil tersenyum miring.
"Boleh juga, ide kalian memang cemerlang, ya." Angel pun tersenyum.
__ADS_1
"Tapi gue minta kalian berdua yang ngelakuin biar nanti gue yang jaga-jaga, dan nanti sepulang sekolah kalau kalian berhasil, gue traktir kalian makan sepuasnya deh, gimana." sambung Angel sambil sedikit membujuk Vivi dan Oliv.
"Asik tuh bisa makan sepuasnya," balas Oliv sambil meminum jus yang di pesannya.
"Mau sekarang gak di kerjainnya." sambung Oliv.
"Ya udah tinggal gas, mungpung orang-orang lagi pada sibuk makan," ucap Angel.
Mereka bertiga pun langsung pergi ke parkiran sambil mengendap-endap. Oliv dan Vivi pun mulai melancarkan aksinya dan Angel yang berjaga-jaga agar tidak ketahuan.
"Udah beres semuanya, kita kembali ke kelas, yuk. Sebelum ada orang yang lihat kita." ajak Vivi yang langsung di angguki kedua temannya.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam kelasnya dan mulai tertawa karena berhasil melakukan aksinya.
...****************...
Setelah bel pulang berbunyi, semua murid pun berlalu lalang untuk pulang. Saat Kirana hendak memasuki mobilnya, Kirana melihat kalau ban mobilnya sudah kempes semua dan kini Kirana pun kebingungan untuk pulang dan kebetulan Daffa ada disana, namun tak bisa mengajak Kirana pulang bareng karena Daffa sudah bersama temannya dan Daffa hanya menggunakan motor sport nya.
"Lo kenapa kok kayak yang kebingungan gitu." tanya Daffa.
"Ini lho Daff, mobil aku semua ban nya kempes, aku bingung nih harus pulang nya gimana," balas Kirana.
"Ya udah mobil nya tinggalin aja, lo suruh montir aja buat benerin mobil lo, terus lo minta jemput kakak lo aja," saran nya Daffa.
"Iya deh nanti aku hubungi montir nya. Ya udah kalau kamu mau pulang, pulang saja." tersenyum kecil seakan tak mau melepas Daffa pergi.
"Ya udah gue duluan, ada urusan yang penting," balas Daffa sambil melajukan motor sport nya.
"Apa kak Citra udah pulang dari kampus nya, kalau belum, aku pulang nya gimana nih. Masa iya sih aku harus minta jemput Karina." gumam nya sambil berfikir.
"Nanti yang ada kak Citra marah lagi sama aku karena aku bareng Karina. Gimana dong malah jadi bingung gini," sambung Kirana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya udah deh gue telpon kak Citra aja, dan semoga aja kak Citra udah balik dari kampusnya. Bismillah ... semoga udah pulang." gumamnya lagi sambil mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Citra dan alhasil Citra pun menjemput adiknya itu.
Setelah sampai di rumah, Citra pun langsung bertanya soal mobilnya Kirana yang semua ban nya kempes.
"Mobil lo, kenapa bisa kempes semua ban nya sih, Kir." tanya Citra dengan menatap wajahnya Kirana.
"Ya aku juga gak tahu kak, padahal tadi pagi aja gapapa kok sama ban mobil aku," jelas Kirana sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Okay. Gapapa kalau emang lo gak tahu, terus kemarin-kemarin setiap lo pulang sekolah pasti lo nangis, itu kenapa." tanyanya mulai penasaran.
"Itu karena aku selalu di bully teman aku kak, aku juga bingung kenapa mereka sejahat itu sama aku," balas Kirana sambil memainkan ponselnya.
"Lo di bully." menatap adiknya penuh keheranan. "Siapa yang berani bully lo, Kirana." sambung Citra.
Sebelum Kirana menjawab, Karina pun masuk ke dalam rumahnya dan melihat kedua kakaknya sedang mengobrol serius, dan Karina pun mencoba untuk bertanya soal apa yang mereka bincang kan.
"Ada apa nih, kok serius banget kayaknya." tanya Karina sambil menatap kedua kakaknya secara bergantian.
"Bukan urusan lo. Mendingan lo masuk kamar, dan gak usah ganggu kita berdua, sana pergi." usir Citra secara langsung tanpa memperdulikan hatinya Karina yang mungkin sudah sakit, karena ucapannya.
"Santai dong, lagian gue juga gak mau ganggu kok, cuman gue heran aja sama Kirana. Kenapa si setiap pulang sekolah pasti aja nangis. Gue kan sebagai kembarannya gak bisa dong diem aja," balas Karina yang memang merasakan kalau saudara kembarnya sedang merasa banyak masalah.
__ADS_1
"Gue ngerti Karin, tapi gue gak mau lo ikut campur dalam urusannya Kirana. Udahlah lo tinggal masuk kamar aja apa susahnya si, cepetan!" bentak Citra yang membuat hati Karina merasa sakit.
bersambung.....