
#TIGA_BERSAUDARA_SEASON_2
♥️ Happy Reading Guys😘 ♥️
★★★
Sepulang dari mengantarkan Papanya terapi, mendadak perutnya Karina pun berbunyi.
Kruyukk! Kruyukk!
Suara perut Karina di waktu yang tidak tepat, sebelum Jefan pergi dari rumahnya Karina, Karina pun langsung memanggil Jefan kembali.
"Jefan?" teriak Karina di atas tangga yang di pijaknya.
Jefan pun berlari kecil menghampiri arah suara yang memanggil namanya tadi. "Iya, Bu?" balasnya.
"Kamu belom mau pulang, kan?" tanya Karina.
"Belum Bu, ada yang bisa saya bantu?" balasnya.
"Gak sulit sih, saya cuman mau mi ayam yang di depan terminal itu, bisa gak kamu beliin kesana?" kata Karina sambil tersenyum kecil.
"Ah itu, saya bisa, Bu?" balasnya dan Karina pun tersenyum setelah itu memberi uang kepada Jefan dan Jefan pun mulai pergi untuk membeli mi ayam yang di pesan bosnya itu.
Sambil menunggu Jefan datang, Karina pun berniat untuk menghubungi Daffa lewat ponselnya.
¥ Via Telpon ¥
"Haii sayang? Kamu nungguin aku gak?" Karina.
"Haii juga sayang, tentu saja aku menunggu, tadi aku ke rumah, tapi bibi bilang kamu nganterin Papa terapi?" Daffa.
"Iyaa, aku tadi niatnya mau minta anterin kamu, tapi kamunya gak angkat telpon aku, kamu sibuk, ya?" Karina.
"Iyaa sayang, kan tadi aku udah bilang kalau di kantor aku bakal ada sekretaris baru, dan aku harus lihat dulu dong orangnya seperti apa? Makanya aku gak pegang hp tadi?" Daffa.
"Iya gapapa kok, udah makan belom?" Karina.
__ADS_1
"Udah kok barusan, kamu sendiri gimana?" Daffa.
"Belom, aku lagi nunggu Jefan, soalnya tadi aku nyuruh dia buat beli mi ayam?" Karina.
"Mi ayam? Higienis gak tuh?" Daffa.
"Udah tenang aja, aman kok!" Karina.
"Okeh. Bentar dulu, ya, sayang, aku mau bantuin Mama dulu?" Daffa.
"Iyaa." Daffa pun mematikan sambungan telponnya dan mulai membantu Mamanya.
Tak lama dari itu Jefan pun datang dan kembali menghampiri Karina yang sedang berdiri di pinggiran tangga.
"Ini Bu pesanannya?" kata Jefan sambil memberikan bungkusan hitam itu kepada Karina dan Karina pun mengambilnya.
"Makasih Jef?" balas Karina sambil tersenyum.
"Sama-sama Bu, ini kembaliannya?" kata Jefan sambil memberikan uang kembalian kepada Karina.
"Gak usah Jef, buat kamu aja, makasi, ya?" balas Karina sambil pergi meninggalkan Jefan.
Setelah itu Jefan pun pulang ke rumahnya dan mendapati adiknya-Jenny sedang senyum-senyum sendiri.
"Ngapa lu? Str*s? Gil*?" cetus Jefan sambil duduk di sofa.
"Enggak! Gue lagi seneng aja, lu tau gak sih, Kak?" balas Jenny sambil menatap Jefan girang.
"Ya gak tau lah, kan elo belom cerita juga!" cetus Jefan.
"Hehe iya, itu lho cowok yang gue suka ternyata bos gue sendiri di PT Praja Sejahtera?" balas Jenny antusias, sedangkan Jefan yang mendengar ucapannya Jenny langsung mendadak tersedak.
Uhukk! Uhukk!
Melihat kakaknya tersedak, Jenny pun langsung sigap mengambilkan air untuk Jefan dan memberikannya.
"Elo kenapa sih? Padahal gak lagi makan lho?" sambung Jenny.
__ADS_1
"Gue juga gak tau, ya udah lah gue mau mandi dulu, capek!" Jefan pun langsung melenggang pergi meninggalkan Jenny sendiri.
"Kacau! Kalau yang di maksud Jenny adalah Pak Daffa, itu sangat tidak baik, karna mau gimana pun Pak Daffa itu tunangannya bos gue, kalau sampai Ibu Karina tau ade gue naksir tunangannya bisa mati di gantung gue!" gumamnya sambil melanjutkan perjalanan nya masuk ke dalam kamarnya.
★★★
Ke esokan paginya Daffa kembali ke kantornya saat siang tiba, niatnya hanya mengecek saja. Tiba-tiba Jenny asistennya pun menghampiri sambil membawa berkas yang di pegangnya.
"Pak? Berkas ini harus di tandatangani?" ucapnya sambil menyodorkan berkas yang di bawanya.
Daffa pun mengambilnya dan mulai membacanya. "Oh iya!" balasnya sambil menandatangani berkasnya. "Ada yang lain, Jen?" sambungnya.
"Gak ada, Pak!" kata Jenny sambil tersenyum.
"Ya sudah, kamu boleh kembali untuk bekerja?" balasnya. Terlihat dingin dan cuek.
"Iya Pak, apakah Bapak sudah makan? Atau mau saya ambilkan makanan?" kata Jenny terlihat perhatian.
"Gak usah, saya masih kenyang, terimakasih atas tawarannya!" balasnya sambil pergi kembali meninggalkan Jenny. Jenny pun terlihat kesal karna sikap dinginnya Daffa.
"Ihhh ... ngeselin banget si dia, gue udah perhatian juga, masih aja cuek, emangnya gue kurang cantik apa dimatanya, sampai dia gak mau lirik gue!" batinnya menggerutu sambil kembali berjalan masuk ke dalam ruangannya.
Tak lama dari itu Jodan pun masuk ke ruangannya Jenny untuk menanyakan berkas. "Mbak? Apa berkas yang kemarin sudah di copy ulang?" kata Jodan.
"Sudah Pak, ini berkasnya sudah saya susun dengan rapih kembali?" balas Jenny sambil menyerahkan berkas yang di pinta Jodan. "Oh iya, Pak, saya mau bertanya sama Bapak?" sambung Jenny.
Jodan pun menatap Jenny secara serius. "Iya, ada apa, Jen? Ada yang bisa saya bantu?" balas Jodan.
"Saya cuman mau tanya, apakah Pak Daffa masih lajang atau sudah beristri? Maaf kalau saya lancang, Pak?" ucapnya dengan rasa penasaran yang masih menyelimuti dirinya.
"Oh itu, Pak Daffa sebentar lagi akan menikah, itu baru rencananya, dan untuk saat ini Pak Daffa sudah memiliki tunangan. Ada lagi yang mau di tanyakan?" jelas Jodan dan membuat Jenny yang tadinya tersenyum menjadi cemberut, namun sesekali Jenny mencoba fake smile.
"Oh gitu, ya udah makasih, Pak, atas infonya?" kata Jenny. Jodan pun mengangguk dan mengambil berkas yang di pintanya setelah itu keluar dari ruangannya Jenny.
"Si*al ...! Ternyata Daffa sudah bertunangan, jadi agak sulit nih buat misahin yang udah bertunangan kek begini, kalau masih pacaran sih mending, ini yang mau nikah gimana? Mana gue kebelet lagi mau milikin dia. Huhhh ... sungguh gak bisa di biarin!" batinnya berdecak kesal dan berfikir gimana caranya untuk menyingkirkan tunangan sang bos.
"Gimana gue mau nyingkirin, ceweknya aja gue gak tau yang mana! B*g* emang! Kenapa gak sekalian aja gue tanya Pak Jodan tadi, ya, dasar Jenny bodohnya masih melekat aja!" sambungnya merutuki kebodohannya sendiri.
__ADS_1
Jenny pun sampai pusing memikirkan gimana caranya memisahkan tunangan bosnya itu, Jenny terus saja memikirkan cara yang cemerlang, baru nanti akan di cobanya.
#bersambung