
TIGA_BERSAUDARA_SEASON_2
Setelah itu Karina menyuruh Jenny untuk menunggunya di ruangan dan Karina harus meeting dulu.
Setelah meeting selesai, Karina sedikit berbincang di luar ruangan dengan Jefan asisten pribadinya.
"Jef, saya akan pergi ke rumahnya Daffa bersama Jenny, saya minta kamu handle pekerjaan saya, karna urusan saya lebih genting!" ucap Karina.
"Jenny? Ada apa dengan Jenny? Saya kakaknya mungkin bisa membantunya kalau ada masalah tanpa merepotkan ibu Karina?" balas Jefan sambil menunduk.
"Tidak Jef, ini masalah saya juga, adik kamu akan aman dengan saya dan masalahnya juga belum waktunya kamu tau, mungkin nanti Jenny sendiri yang akan bilang sama kamu?" ucapnya lagi.
"Baik Bu, saya mengerti." balasnya. Karina pun mengangguk dan masuk ke dalam ruangannya dan menemui Jenny.
"Kita berangkat sekarang?" kata Karina sambil mengambil tasnya dan di ikuti Jenny.
"Saya takut mbak, saya takut kalau keluarganya pak Daffa gak mau menerima kehadiran anak ini, lebih baik aku gugurkan saja mbak." balas Jenny yang masih berpura-pura itu.
"Jangan. Anak itu tidak bersalah, sudah kamu percaya saja sama saya, saya akan pastikan Daffa mau menikahi kamu, dan mama akan menerimanya, itu pasti. Ayo?" ajaknya sambil keluar dari ruangannya dan menuju ke mobil yang terparkir di parkiran kantor.
Tak lama dari itu, mereka berdua pun mulai berangkat ke rumahnya Daffa.
Karina dan Jenny pun masuk ke dalam rumahnya Daffa yang disana sudah ada Mama Lidia yang sedang tersenyum menatap menantunya datang.
"Sayang? Kamu kok datang kesini gak bilang mama dulu, sih?" kata Lidia dan Karina pun mencium punggung tangan mama mertuanya itu begitu pun dengan Jenny.
"Aku sengaja datang kesini karna ada masalah yang lebih serius yang harus aku selesaikan, oh iya mah ini Jenny sekretarisnya Daffa, apa Daffa nya ada?" balas Karina.
Mama Lidia pun duduk di kursi. "Duduk dulu sayang, Daffa masih di kantornya, masalah serius? Apa itu?" tanya Mama Lidia sambil menatap wajah cantiknya Karina.
"Aku sebelumnya mau minta maaf mah, aku datang kesini dengan maksud ingin mengembalikan cincin pertunangan ini, aku rasa Daffa sudah tak menginginkan pertunangan ini berlanjut sampai ke pernikahan mah?" balas Karina sambil membuka cincinnya dan di berikan nya kepada sang mertua.
"Kenapa di kembalikan? Memangnya Daffa berbuat kesalahan apa, sehingga membuat kamu menyudahi hubungan kalian?" kata Mama Lidia yang tak percaya kalau Karina menyudahi hubungannya dengan putra semata wayangnya itu.
Karina pun sedikit meneteskan air mata karna tak kuat menahannya sedari tadi, namun Karina berusaha kuat dan tegar kembali. "Jenny bilang sama aku kalau dia tengah hamil satu minggu hasil hubungannya dengan Daffa, maksud aku Daffa yang m********* Jenny sehingga Jenny harus kehilangan kehormatannya!" jelas Karina sambil memberikan hasil tes kehamilannya Jenny.
Terlihat mamanya Daffa pun meneteskan air matanya tak percaya dengan pernyataan yang Karina katakan barusan. "Kamu jangan terlalu gampang percaya sama orang, siapa tau aja kan dia berbohong agar bisa merusak hubungan kamu dengan Daffa?" kata Mama Lidia.
"Maaf tante saya bukan wanita seperti itu, kalau saya bisa memutar waktu saya juga tidak ingin berada di posisi seperti ini, saya juga punya masa depan, tapi anak tante dengan seenaknya merenggut mahkota berharga saya di malam itu, saya sudah bilang soal ini sama Daffa dan Daffa meminta saya untuk menggugurkan anak ini, tapi saya berfikir lagi kalau anak ini tidak salah, dan saya juga perempuan saya tidak mau melahirkan anak ini tanpa seorang ayah?" jawab Jenny dengan air matanya yang sudah mengalir deras.
"Aku juga yang melarangnya untuk menggugurkan anak itu, karna aku juga merasa kalau anak itu gak salah mah, kalau aku ada di posisi itu, aku juga pasti akan meminta tanggung jawabnya mah, jadi tolong yakinkan Daffa untuk menikahi Jenny, aku gak masalah mah?" kata Karina.
__ADS_1
Mama Lidia pun nampak berfikir sejenak. "Baiklah mama akan meminta Daffa untuk menikahinya, tapi bukan berarti mama merestuinya, restu mama hanya untuk kamu Karina, maafkan Daffa yang sudah mengecewakan kamu?" balas mama sambil memeluk tubuhnya Karina.
Karina pun membalas pelukannya sang mama. "Makasih mah, mama gak boleh ngomong seperti itu, mama juga harus menyayangi Jenny seperti mama menyayangi aku, ya udah kalau gitu aku pamit pulang dulu, ya?" kata Karina sambil melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya kasar setelah itu tersenyum dan pergi dari rumahnya Daffa meninggalkan Jenny disana.
Karina pun langsung menancap gas pedalnya menuju apartemen yang pernah di tinggalin ya waktu SMA dulu.
Karina langsung membaringkan tubuhnya dan menangis sejadi-jadinya disana.
Author POV
Sekitar pukul dua siang, Daffa pulang dari kantornya dan melihat mamanya sedang mengobrol dengan perempuan yang tak di kenalnya dan bahkan ada papanya juga disana.
"Daffa? Mama mau bicara sama kamu? Kemarilah duduk nak?" kata mamanya Daffa dengan suaranya yang lirih.
Daffa menghampiri dan duduk disana. "Kenapa mah?" balas Daffa yang emang gak tau apa-apa.
"Kamu kenal perempuan itu?" tanya sang mama sambil menunjuk ke arah Jenny.
Daffa sedikit terkejut kala melihat Jenny ada di rumahnya. "Jenny? Ngapain kamu di rumah aku? Iya mah, aku mengenalnya dia sekretaris aku di kantor." balas Daffa.
"Mama sama papa sudah memutuskan kalian berdua akan menikah besok, dan tadi juga Karina kesini mengembalikan cincin pertunangan kalian, ini cincinnya?" kata Mama Lidia sambil menyimpan cincinnya di meja.
"Besok mah? Aku gak mau, aku gak mau menikah dengan Jenny, aku tidak mencintainya mah?" Daffa pun menolak.
"Kamu apa-apaan sih Jen, ngapain kamu malah bilang sama orangtua aku dan Karina, bukannya aku udah suruh kamu buat gugurin kandungan kamu itu?" Jenny pun berdiri dan langsung menampar pipinya Daffa dengan kerasnya.
Plakk!
"Bisa-bisanya ya kamu ngomong seperti itu sama anak ini, aku gak mau gugurin anak ini dan kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakuin sama aku?" balas Jenny dengan meneteskan air matanya.
"Cukup Daffa, itu darah daging kamu, jadi papa minta kamu bertanggung jawab, kalian akan menikah besok dan acaranya hanya di rumah saja dan hanya keluarga saja yang menghadirinya." tegasnya sambil pergi meninggalkan putranya itu.
"Jangan ada penolakan lagi, sekarang kamu antarkan saja calon istrimu pulang, dan biarkan dia beristirahat dulu." titahnya lalu pergi meninggalkan keduanya.
"Aarrgghh ... gue gilaa ... gilaaaa ...!" teriak Daffa sambil mengacak rambutnya frustasi.
Jenny pun terlihat mengembangkan senyum miringnya. "Akhirnya aku bisa milikin kamu juga seutuhnya, makasih ya nak, karna kamu sudah hadir dalam rahim mama, sehingga membuat papa kamu menikahi mama besok!" batinnya dengan senyum liciknya.
Setelah itu Daffa langsung mengantarkan Jenny pulang ke rumahnya dan disana sudah ada Jefan yang sedang mengecek mobilnya.
Daffa dan Jenny pun keluar dari mobilnya dan menemui Jefan.
__ADS_1
"Jefan? Kamu ada disini?" tanya Daffa sambil menatap Jefan.
"Ya ... tumben bapak datang ke rumah saya, bersama Jenny kok bisa? Ada apa?" balasnya bingung.
"Kak, aku akan menikah besok dengan Daffa?" sambung Jenny sambil tersenyum.
Jefan pun sedikit cengo mendengar ucapannya Jenny barusan. "Apa? Menikah? Lalu ibu Karina bagaimana? Bukannya pak Daffa telah bertunangan dengan ibu Karina?" tanya Jefan sedikit tak percaya.
"Maafkan saya Jef, mungkin saya telah salah dan membuat adik mu sedang mengandung anakku?" Jefan pun kaget dan spontan meninju wajah tampannya Daffa.
Bugh!
Tinjuan itu mendarat begitu saja, karna mau bagaimanapun Jenny adalah adik kesayangannya dan malah di buat hancur oleh atasannya sendiri.
"Kakak, kakak apaan sih, kok malah mukul Daffa seperti itu?" kata Jenny tang tak terima kalau Jefan meninju wajahnya Daffa.
"Dia pantas mendapatkan itu Jen, dia laki-laki brengsek, dan sekarang harus menikahi kamu? Tunangannya saja di kecewakan nya apa lagi kamu?" bentak Jefan sambil masuk ke dalam rumahnya.
Jenny sepertinya tak memperdulikan omongannya Jefan. "Kamu gapapa kan? Maafin kakak aku, ya?" kata Jenny sambil mengusap pipinya Daffa pelan.
"Gapapa kok, aku memang pantas untuk itu, ya udah kamu istirahat aja, aku mau pulang!" pamitnya sambil kembali masuk ke dalam mobilnya dan pulang kembali ke rumahnya.
Alex POV
"Apa sih mam, kok mami nyuruh Alex kesini? Kerjaan Alex di kantor lagi belibet mam?" kata Alex yang baru memasuki mension itu.
"Mami mau tanya sama kamu, apa kamu sudah mempunyai pendamping? Kalau belum mami sama papi akan menjodohkan kamu dengan anak temannya papi, gimana Alex Ferguson?" balas maminya Alex.
"Hahaha ... ngomong apaan sih mam, Alex memang belum punya pasangan, tapi mami gak usah hawatir, Alex punya seseorang yang aku cintai?" ucap Alex ngasal dulu, walaupun mungkin fikirnya ia gak mungkin bisa bersatu dengannya.
"Baiklah ... mami tidak akan menjodohkan kamu, apabila kamu bisa mempertemukan mami dengan calon menantu mami, bagaimana bisa?" balas maminya sambil menatap anaknya itu.
"Santai dulu dong mi, Alex masih disini kan, nanti kalau mami sama papi udah ke Jakarta, Alex bakalan kenalin deh sama mami?" kata Alex.
"Emang harus ke Jakarta dulu nih mami sama papinya?" Alex pun mengangguk dan tersenyum.
"Iya dong, karna perempuan itu seorang pengusaha juga, sama seperti Alex dan gak mungkin kan dia ninggalin tugas kantornya cuman untuk nemuin mami disini?" Maminya Alex pun mengangguk.
"Baiklah ... nanti satu minggu dari sekarang mami sama papi ke Jakarta, ya?" Alex pun mengangguk.
Setelah itu Alex pun melenggang pergi memasuki kamar yang ada di mension papinya itu.
__ADS_1
#bersambung