
Selamat Membaca😊
\*\*\*
Setelah beberapa hari Karina tinggal di apartemen, kini Kirana pun sudah tahu kalo Karina tinggal di apartemen yang tidak jauh dari sekolahnya, karena merasa iri dengan Karina, Kirana pun memiliki satu rencana buruk untuk Karina.
"Kalo gue gak ngelakuin ini, Karina bakalan seenaknya aja nih minta hartanya papa, dan gue gak bisa terus-terusan biarin Karina menikmati hartanya papa sendirian, lagian gue juga kan mau kalo dapet apartemen mewah kek gitu!" gumam Kirana yang langsung mengerjakan niat buruknya itu.
Kirana pun mengirimkan satu bok makanan untuk Karina, namun Kirana meminta pengirimnya untuk tidak menuliskan namanya, dan merahasiakannya.
"Kalo sampai makanan itu berhasil diterima sama Karina, gue harap Karina langsung memakannya, kalo bisa ya harus sampai habis, biar gak ada yang bisa ganggu gue lagi!" gumam Kirana dengan senyum miringnya.
\*\*\*
Karina yang berpikir itu makanan spesial pun langsung memakannya dengan lahap, namun setelah tiga suap makanan masuk ke dalam mulut, tiba-tiba tenggorokan Karina pun mulai terasa panas, dan tak lama mulut Karina pun mulai berbusa karna keracunan dari makanan yang dimakannya.
Brukk!
Tubuh Karina pun terjatuh ke lantai. Teddy yang mendengar suara aneh dari dalam kamar apartemen Karina pun langsung mencoba memeriksa keadaan, dan kebetulan pintu apartemennya Karina tidak terkunci, jadi Teddy langsung memeriksa ke dalam apartemen.
Saat Teddy melihat Karina terbaring dilantai dengan keadaan mulut berbusa, Teddy terlihat panik dan langsung membawa Karina ke rumah sakit terdekat.
Karina langsung di tangani karna sudah dalam keadaan yang kritis, Karina ditangani di ruang ugd.
"Ya Allah tolong sembuhkanlah nona, saya tidak mau kalo sampai nona kenapa-napa, ntar yang ada Pak Almahendra cemas dengan keadaan nona, tapi saya juga tidak bisa kalo tidak mengabari Pak Almahendra!" gumam Teddy sambil mondar-mandir didepan ruang ugd.
Dan tak lama Teddy pun langsung mengabari Almahendra kalo Karina keracunan makanan dan di rawat di rumah sakit Muara Bunda (samaran), dan sedang menjalani perawatan di ugd.
Almahendra pun begitu panik, dan segera ke rumah sakit, namun Kirana menghadang kepergian Almahendra itu.
"Kirana jangan sekarang, ya, papa harus ke rumah sakit dulu, ada yang lebih penting ketimbang permintaan kamu itu!" ucap Almahendra dengan perasaan cemasnya.
"Kenapa pah? Kirana maunya kan sekarang, Kirana juga mau apartemen yang mewah kayak Karina, papa jangan pilih kasih gitu dong, aku sama Karina kan masih anaknya papa, tapi kenapa yang dikasih apartemen cuman Karina doang?" tanya Kirana dengan menyilangkan tangannya didada.
"Sayang kamu ngerti dong, adik kamu sekarang masuk ugd, dia keracunan makanan, daripada kamu ngeributin soal apartemen, mendingan sekarang kamu ikut papa ke rumah sakit, ayo?" ajak Almahendra dengan menggandeng tangannya Kirana, dan Kirana pun terpaksa harus ikut ke rumah sakit.
\*\*\*
Setelah sampai di rumah sakit, Almahendra langsung bertanya kepada asistennya itu tentang apa yang terjadi dengan putrinya.
"Teddy?" Teriak Almahendra menahan tangisnya yang hampir pecah itu.
Teddy menghampiri Almahendra dengan sigapnya. "Iya Pak, ada yang bisa saya bantu lagi untuk yang lainnya?" tanya Teddy dengan segannya.
"Tolong kamu segera hubungi Citra, dan suruh dia untuk segera datang kesini?" titah Almahendra, dan langsung mendapat anggukan dari Teddy.
Teddy pun mencoba menghubungi Citra, dan menyuruhnya segera datang ke RS Muara Bunda. Tak butuh waktu lama, Citra dan sang suami pun datang.
__ADS_1
Citra menghampiri papanya yang sedang duduk, dan mencoba memeluknya. "Pah, apa yang terjadi dengan Karina? Kok bisa Karina masuk rumah sakit?" tanya Citra, dan melepaskan pelukannya perlahan.
"Asisten papa bilang, Karina ditemukan sudah dalam keadaan tak sadarkan diri, nak, dan dokter bilang, katanya adik kamu itu keracunan makanan?" balas Almahendra dengan terisak-isak.
"Keracunan? Kok bisa pah, bukannya di rumah selalu di uji dulu kesegaran makanannya?" tanya Citra.
"Karina tidak tinggal dirumah, karna ada masalah Karina tinggal di apartemen yang papa belikan, dan papa juga gak tahu Karina dapet makanan itu darimana?" balas Almahendra sambil terduduk kembali karna lemas.
"Udah ya pah, gak usah dipikirin, ntar yang ada papa ikutan sakit juga, kita berdoa aja sama Allah, semoga Karina tidak apa-apa, meskipun kemungkinan kecil Karina akan bertahan, tapi kita gak boleh menyerah buat kesembuhannya Karina?" ucap Citra dengan lembut, dan menenangkan papanya.
"Iya pah, mendingan papa istirahat saja di rumah, biar Adit yang jaga disini?" tawar Adit dengan tersenyum kecil.
"Tapi papa harus nemenin Karina, papa gak mau kalo sampai Karina kenapa-napa?" ujar Almahendra dengan rasa sedihnya yang mulai menyerang.
"Papa jangan maksain diri pah, papa pulang aja ya, biar disini Adit sama paman Teddy saja yang menjaga, papa istirahat saja di rumah, ya?" bujuk Adit, dan akhirnya Almahendra mau menuruti omongannya Adit, dan pada akhirnya Almahendra pun pulang diantarkan Teddy, dan Kirana pun ikut pulang juga.
\*\*\*
"Kamu kenapa gak ikut pulang sama papa? Temenin saja papa dirumah, disini biar aku saja?" ucap Adit kepada Citra.
"Aku cuman mau nemenin Karina doang, bukannya kamu juga tahu, kalo waktu aku habis karna membenci Karina waktu dulu, jadi sekarang aku mau disini, bukannya aku mau mendoakan yang jelek, cuman aku takut aja, kalo sampai Karina gak sadar lagi, gimana? Aku bakalan jadi kakak yang nyesel tahu gak?" balas Citra yang terasa berat mengucapkan hal itu.
"Yaudah gimana kamu aja, aku gak akan maksa kamu buat pulang kok, aku yakin kalo Karina itu akan segera sadarkan diri, karna Karina kan orangnya kuat, aku berharap banyak pada dirinya?" ucap Adit Sambil memeluk tubuh istrinya itu, dan Citra pun mulai menangis dalam pelukan suaminya.
\*\*\*
Kirana masih dalam keadaan bersedih saat duduk di bangkunya, Daffa yang melihat Kirana seperti itu pun langsung menghampiri bersama kedua temannya.
"Elo kenapa Kir, kok sedih gitu, elo ada masalah?" tanya Daniel sambil duduk menghadap kearah Kirana.
"Gue lagi sedih aja, ada sesuatu yang Menimpa kembaran gue, dan gue gak bisa melihatnya dalam keadaan sekarang, kalo waktu bisa berputar kembali, lebih baik gue aja yang terkena musibah itu?" balas Kirana dengan air mata palsunya.
"Kembaran lo? Maksudnya Karina? Ada apa dengan Karina? Musibah apa maksud omongan lo barusan?" tanya Daffa dengan rasa cemasnya yang berlebihan.
"Iya Karina, semalam Karina dilarikan ke rumah sakit, dokter bilang Karina keracunan makanan, dan gue gak tahu siapa yang ngasih makanan beracun itu sama Karina, asisten bokap gue bilang, Karina sudah ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri?" balas Kirana dengan langsung memeluk tubuhnya Daffa yang berada tepat di sampingnya.
Daffa yang mendapat perlakuan itu pun sontak melepaskan pelukannya Kirana, dan berusaha menjauh dari Kirana.
"Astaghfirullahaladzim ... kok bisa sih keracunan, memangnya yang jagain Karina kemana? Bukannya ada paman Teddy, ya, disana?" ucap Daffa dengan perasaan yang tak karuan.
"Ada, mungkin aja Karina kan yang langsung ambil makanannya, makanya paman Teddy gak ngecek makanan itu dulu, tapi gue kok jadi mikir yang ngelakuin ini____," ucapannya Kirana terpotong karna Alex.
"Maksud lo Angel?" sambung Alex, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Daniel.
"Elo jangan asal nuduh sama Angel dong, Angel gak mungkin ngelakuin itu, kan dia udah janji gak bakalan ganggu Karina lagi, Lex?" terang Daniel dengan sorotan mata menatap tajam kearah Alex.
"Iya gue tahu itu Dan, gue kan hanya menebak potongan dari pembicaraannya Kirana saja, kalo itu salah ya syukur kan, berati pujaan lo gak ikut-ikutan dalam hal ini?" jawab Alex.
"Yaudah, kalo lo mau ngelakuin sesuatu, biar gue bantu aja, Karina kan masih temen kita, waktu dia ngegantiin posisinya Kirana kan, apa lagi sekarang dia pacarnya sahabat kita?" ucap Daniel tersenyum.
__ADS_1
"DAMN IT! gue fikir si Alex bakalan langsung nuduh si Angel, ternyata disini ada yang belain si Angel, kalo si Alex Sampe gerak cepat lagi, ntar yang ada gue lagi yang ketahuan, gue harus lebih cepet dari si Alex nih, gue gak boleh ketahuan sedikit pun, karna gue yakin, udah gak ada harapan lagi buat si Karina hidup, racun yang gue kasih kan bukan racun biasa!" batin Kirana dengan tersenyum miring.
"Karina di rawat dimana, ya, kalo boleh tahu?" tanya Daffa dengan menatap Kirana.
"Di rumah sakit Muara Bunda!" balas Kirana dengan berat.
Daffa hanya mengangguk menanggapi omongannya Kirana.
\*\*\*
Sepulang sekolah, Daffa, Alex, dan Daniel pun langsung menuju ke rumah sakit Muara Bunda, sedangkan Kirana pergi ke tempat pemesanan makanan untuk mengubah biodata pemesanan menjadi nama Angela Monic. Ya, Angela Monic perempuan cantik yang dicintai Daniel.
\*\*\*
Daffa langsung berlari kecil menghampiri kakaknya Karina yang menunggu disana. "Kak, gimana keadaannya Karina? Apa udah sadarkan diri?" tanya Daffa yang membuat Citra kembali meneteskan air matanya.
Karna Citra tak sanggup berbicara apa-apa, akhirnya Adit pun angkat bicara menjawab pertanyaannya Daffa. "Sama sekali belum, dokter bilang, Karina akan melewati masa kritisnya nanti malam, kemungkinan sangat kecil Karina bisa tersadar kembali, karna dokter bilang jenis racun ini sangat mematikan, jadi buat kalian yang dateng untuk melihat keadaannya Karina, kakak minta bantuannya untuk kalian terus selalu mendoakan Karina, ya?" balas Adit, dengan menepuk pundaknya Daffa pelan.
Daffa yang mendengar ucapannya Adit pun langsung terduduk lemas di lantai, kedua temannya Daffa pun langsung membangunkan Daffa, dan mencoba untuk menguatkan sahabatnya itu.
"Elo yang sabar Daff, kita harus yakin kalo Karina bisa sembuh, mendingan sekarang kita pulang aja dan solat untuk meminta bantuan sama pemiliknya, yuk?" ajak Alex.
Daffa pun hanya mengangguk, setelah itu mereka bertiga pun pulang dari rumah sakit.
\*\*\*
Saat malam tiba, Daffa dan kedua temannya kembali datang ke rumah sakit, Daffa, Citra, dan Almahendra pun masuk ke dalam ruangan rawat Karina, mereka bertiga mencoba menemani masa kritisnya Karina dengan membacakan doa untuk kesembuhannya Karina.
Saat pukul dua belas malam teng, Karina pun sudah melewati masa kritisnya, dan kini Karina pun sadar, Citra pun langsung memanggil dokter, dan tak lama dokter pun masuk, dan mulai mengecek keadaannya Karina kembali.
"Alhamdulillah, kini keadaan Karina pun sudah membaik, hanya memerlukan istirahat saja untuk memulihkan seluruh tubuhnya dari racun yang berinteraksi itu, ini sungguh keajaiban?" ucap Dokter sembari tersenyum.
Setelah itu dokter pun kembali keluar dari ruangan.
"Alhamdulillah ya Allah, engkau telah mengembalikan Karinaku!" batin Daffa.
Setelah itu, Citra dan Almahendra pun meninggalkan Daffa, dan karina.
"Sayang, Alhamdulillah kalo kamu udah gapapa, aku hawatir banget sama kamu?" ucap Daffa dengan memegangi tangannya Karina.
Karina pun melepas alat oksigennya perlahan. "Aku gapapa kok Daff, kamu gak usah hawatir lagi, ya?" balas Karina dengan tersenyum manis khas miliknya.
Daffa pun kembali memasangkan alat oksigennya. "Gak boleh dilepas, udah pake aja, kamu gak usah jawab, aku ngerti kok?" tersenyum.
"Yaudah kalo gitu, aku keluar dulu, ya, kamu cepet sembuh, jangan makan sembarangan lagi?" sambung Daffa, dan Karina pun hanya mengangguk.
Daffa pun mencium lembut keningnya Karina, dan tak lama keluar dari ruangannya Karina.
#bersambung
__ADS_1