
TIGA_BERSAUDARA_SEASON_2
Setelah itu Alex pun bangun dari duduknya dan menuju ke parkiran dan mulai menancap gasnya untuk kembali ke mensionnya sendiri yang ada di Jakarta.
Author POV
Raisa dan Edward pun tengah bersantai dan menonton tv sambil menikmati segelas teh.
"Pih, mami mau ke Jakarta?" ucapnya sambil menatap wajah sang suami.
"Iya mih, nanti hari kamis kita langsung pergi ke Jakarta, memangnya mami mau apa disana? Pekerjaan papi kan belom bisa di tinggal mih," balasnya lembut.
"Mami ingin segera menikahkan Alex pih, memangnya papi belom mau punya cucu dari Alex gitu, Kelvin kan jauh, jadi mami gak bisa setiap hari gendong cucu mami itu," ucapnya sambil menyeruput teh yang di pegangnya.
"Ya tentu saja papi mau, memangnya Alex sudah bercerita ingin menikah mih?" balasnya sambil menatap sang istri.
"Belom sih, tapi mami sudah bilang sama Alex, kalau Alex gak punya pacar di Jakarta, mami akan menjodohkannya dengan putri sahabat mami dan Alex bilang kalau Alex punya cewek di Jakarta, makanya kita harus segera ke Jakarta, pih?" ucapnya.
"Iya mih iya, kita akan segera meluncur ke Jakarta, udah mami tenang aja, papi mau beresin kerjaan papi dulu, ya?" Raisa pun mengangguk dan Edward pun langsung beranjak pergi dari sana dan menuju ke ruangan kerja pribadinya.
Setelah di tinggal sang suami, Raisa memilih untuk menelpon putranya itu.
¥ Via Telpon ¥
"Alex, mami sama papi sebentar lagi akan menuju ke Jakarta, kamu jangan lupa untuk memperkenalkan calon istri kamu itu sama kami berdua." Raisa.
"Oke ... mami tenang aja, calon istrinya ada, cuman ya nanti aja lah di bahas lagi, kalau mami nya udah kesini, ya?" Alex.
"Iya Lex, ya udah mami mau menyiapkan segala kebutuhan untuk di Jakarta dulu, ya?" Raisa.
"Iya." Alex.
Setelah itu Raisa pun menutup sambungan telponnya dan mulai beranjak bangun untuk memasuki kamarnya dan membenahi pakaian yang akan di pakainya ke dalam koper.
★★★
Pada hari rabu pagi, Raisa dan Edward pun mulai menuju ke Jakarta dengan pesawat pribadinya.
Hanya butuh waktu tujuh belas jam, kedua orangtuanya Alex pun telah sampai di Jakarta dan menginap dulu di hotel sebelum mendatangi mensionnya Alex.
Di hari Kamis pagi, kedua orangtuanya Alex pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke mensionnya Alex dengan mobil yang sudah siaga sejak kemarin.
Sekitar lima belas menit kemudian, keduanya telah sampai di mensionnya Alex dan mulai memasuki mension bak istana itu.
Keduanya mulai memasuki mension itu, namun tidak ada penyambutan dari Alex, karna Alex yang sedang sibuk di kantornya mengurusi pertemuan penting dengan para klien dan kolega besar disana.
Yang menyambut keduanya hanya para maid saja yang sudah siap di tempatnya dan keduanya pun duduk dengan sajian makanan yang telah di pesan Alex sebelum berangkat ke kantornya, karna Alex tau kalau orangtuanya akan datang hari ini.
"Siska?" panggil sang nyonya besar dan Siska pun langsung berlari kecil menghampiri sang empunya.
"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu? Apa makanannya kurang, atau tidak enak? Biar saya ganti nyonya?" balas Siska dengan lembut dan menundukkan kepalanya.
"Tidak, bukan itu. Apakah Alex perginya dari pagi sekali?" tanyanya sambil menatap sang maid itu.
"Iya nyonya, tuan muda tadi bilang sama saya, kalau beliau ada banyak meeting dengan para kolega besar, jadi tidak bisa ikut menyambut kedatangan nyonya dengan tuan besar?" balasnya.
"Oh baiklah ... kamu bisa kembali bekerja?" Siska pun membungkukkan badannya dan berlalu pergi meninggalkan tuan dan nyonya besarnya di meja makan.
__ADS_1
Setelah Siska pergi, Raisa dan Edward pun mulai menyantap makanan yang sudah di sediakan itu.
Alex POV
Setelah selesai meeting, Alex bersama para klien lainnya pun keluar dari ruang meeting.
Alex , Sinta dan Ren pun menuju ke ruangannya Alex.
"Sin, saya sudah tugaskan kamu menyelesaikan kontrak yang kemarin saya kerjakan itu, jadi kamu bisa langsung mengerjakannya sekarang juga." ucapnya sambil duduk di kursinya.
"Baik pak, saya akan mulai mengerjakannya sekarang, permisi?" Alex pun mengangguk dan Sinta pun keluar dari ruangan itu dan menuju ke ruangannya.
"Ren, saya akan pulang sekarang juga, karna saya akan menemui kedua orangtua saya dulu, kamu bereskan pekerjaan saya dulu, setelah itu kamu menyusul ke rumah saya, ya?" titahnya kepada Ren.
"Baik tuan, nanti saya akan mengerjakannya." Alex pun mengangguk dan segera keluar dari ruangannya setelah itu langsung menancap gas menuju ke mensionnya.
Di Mensionnya Alex.
Alex pun langsung menyalami tangan kedua orangtuanya dan memeluknya bergantian.
"Jam berapa kalian tiba di Jakarta?" tanya Alex sambil menatap wajah kedua orangtuanya itu.
"Sekitar pukul sebelas malam, namun mami sama papi memilih menginap di hotel dulu baru paginya kita kesini, dan sampai sekitar pukul delapan tadi?" jawabnya dengan jelas.
"Ohh ... ya udah Alex mau ganti baju dulu, gerah banget." ucapnya sambil meninggalkan kedua orangtuanya itu.
★★★
Setelah berganti pakaian dengan stelan mainnya, ketampanan Alex sungguh bukan maen. Ketampanannya terlihat berkali-kali lipat.
Alex pun menuruni anak tangganya dan kembali menghampiri sang mami.
"Baru aja jam sepuluh mam, dia pasti masih di kantornya," balas Alex sambil duduk.
"Ya udah kamu catet aja alamatnya, biar mami langsung dateng ke kantornya aja." ucapnya membuat Alex mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan apa yang di ucapkan sang mami.
"Mami tu mau ngapain sih dateng ke kantornya, udah lah nanti aja setelah dia pulang, Alex pasti ajakin dia kesini kok," balasnya sambil minum kopi yang di buatkan maidnya.
"Terserah mami dong mau ngapain juga, catetin enggak, apa mau mami jodohkan kamu dengan Sasya?" ucapnya.
"No! Ya udah Alex kirim alamatnya ke whatsapp mami." balasnya sambil mengotak-atik ponselnya dan mengirimkan alamat kantornya Karina ke pesan whatsapp maminya.
Tingg!
Satu pesan whatsapp itu masuk ke dalam ponsel maminya dan Raisa pun langsung membuka Whatsapp nya setelah itu melihat alamat yang telah di catatkan dan langsung bersiap-siap untuk menuju ke kantornya Karina dengan supir yang sudah menunggu di depan mension.
"Mami kenapa sih, kok segitu maunya dia ketemu sama calon istri gue, padahal kan dia cuman sahabat gue bukan calon istri, pacar juga bukan. Mami gak bakal macem-macem kali yah." gumamnya sambil duduk bersantai dan menonton tv.
Tak lama dari itu, papinya Alex pun keluar dari kamarnya dan ikut duduk dengan putra keduanya itu, karna kakaknya Alex ada di London - Kelvin namanya.
"Kata mami, kamu punya calon istri disini?" tanya papanya - Edward.
"Calon istri apaan si pih, gak ada, lagian yang di samperin mami sekarang itu sahabatnya Alex, bukan calon istri Alex." balasnya jujur pada sang papi.
"Sahabat kamu? Kalau mami kesana bilang kamu calon suaminya gimana? Emangnya sahabat kamu itu gak punya pacar atau apa gitu?" kata Edward.
"Gak punya pih, dia baru aja di tinggal nikah sama tunangannya?" balas Alex.
__ADS_1
"Masya Allah ... kasian sekali, kenapa kok bisa begitu?" tanya papinya lagi.
"Hmm ... Alex gak bisa bilang alasannya apa, cuman papi pasti kenal kan sama sahabatnya Alex yang bernama Daffa itu?" balasnya.
"Ya ... papi masih mengingatnya, kasian sekali perempuan itu, pasti sulit buat dia untuk membuka kembali hatinya?"
"Sepertinya begitu pih, tapi Alex juga udah punya janji sama dia, kalau Alex bakalan jagain dia sebisanya Alex."
"Bagus itu, kamu juga jangan jadi playboy, kalau sudah punya janji dengan perempuan itu, ya, dijaga!"
"Iya pih, udah tenang aja, Alex sengaja jomblo buat bisa dapetin dia, awalnya Alex berfikir kalau dia bukan jodohnya Alex, karna sebentar lagi mereka akan menikah, tapi Allah mengganti skenarionya sehingga Alex masih ada kesempatan buat bahagiain dia, insya Allah ...!" balasnya lembut.
"Aamiin ... ya udah kamu nikah aja, daripada pacaran ntar ngundang banyak dosa lho!" kata Edward mengingatkan.
"Iya papi ...!" balasnya sambil tersenyum.
Raisa POV
Sesampainya di kantor Karina, Raisa pun langsung menemui resepsionis dan menanyakan soal atasannya.
"Mbak bisa saya ketemu dengan yang punya perusahaan ini?" tanya Raisa.
"Ada perlu apa ya, Bu? Apa sudah membuat janji?" balasnya lembut.
"Saya Raisa maminya Alex calon suami dari gadis yang punya perusahaan ini." ucapnya.
"Mohon di tunggu, ya, Bu?" Raisa pun mengangguk dan Anna pun langsung menelpon atasannya dan Karina menyuruhnya untuk masuk ke ruangannya.
Setelah itu Raisa pun masuk ke dalam ruangannya Karina dan melihat Karina sedang berdua dengan pria yang di kenalnya. Daffa, ya, dia Daffa, yang sengaja menemui Karina untuk meminta maaf.
"Maaf bila saya mengganggu, apa kamu yang bernama Karina?" tanyanya sambil menatap ke arah Karina kagum.
Karina pun tersenyum. "Iya dengan saya sendiri, ibu yang tadi ingin bertemu dengan saya?" balasnya lembut.
"Iya ...!"
"Silahkan duduk?" titahnya dengan sopan dan Raisa pun mulai duduk.
"Maaf waktu anda sudah habis, anda bisa keluar dengan segera!" kata Karina mempersilahkan Daffa untuk keluar.
"Aku bakalan keluar, asalkan kamu memaafkan aku Karin?" balasnya.
"Tidak ada yang perlu di bahas lagi, semuanya sudah terlanjur, anda membuat saya kecewa dan sangat kecewa Daffa! Saya sudah melupakan semuanya, tentang kita, apapun itu!" ucapnya dengan tegas.
"Aku bakalan meninggalkan Jenny apabila nanti dia telah melahirkan? Aku berjanji padamu?" balasnya ngasal.
"Tidak perlu repot-repot, saya sudah mempunyai calon suami, oh iya, kenalkan ini mamanya calon suami saya, mah ini Daffa?" ucapnya dan berharap sang empunya pun mengerti.
Raisa berdiri dan mengulurkan tangannya. "Hallo ... saya Raisa dan ini menantu saya, calon istrinya Alex?" balasnya. Sungguh mengejutkan buat Daffa.
"Apa, calon istrinya Alex?" kata Daffa yang kaget, namun tetap membalas uluran tangannya Raisa.
"Karin kamu gak bisa menikah dengan Alex begitu saja, aku masih mencintai kamu?" sambungnya dan menatap sayup ke arah nya Karina.
"Udah lah Daff, anda urusi saja istri dan calon anak anda itu, silahkan keluar?" Daffa pun sudah tak bisa berkata apapun lagi, dan memilih keluar dari ruangannya Karina.
Tak lama dari itu, Karina pun menyuruh Raisa untuk duduk kembali dan Karina pun ikut duduk di sampingnya, setelah itu mengobrol.
__ADS_1
#bersambung