TIGA BERSAUDARA

TIGA BERSAUDARA
Awal Mula Kontroversi nya


__ADS_3

TIGA_BERSAUDARA_SEASON_2


Setelah itu Daffa pun mulai memasak di dapur dengan bimbingan dari pembantu di rumahnya Karina.


Tak butuh waktu lama, nasi goreng telor mata sapi pun telah selesai dan Daffa pun membawanya ke kamar Karina.


Daffa duduk di kasurnya Karina dengan satu piring nasi goreng di tangannya. "Sayang bangun? Nih nasi gorengnya udah mateng dan siap di santap?" kata Daffa sambil mengoyak-oyakkan tubuhnya Karina yang masih terbaring di atas kasur itu.


Karina pun mengerjapkan matanya dan duduk dengan perlahan. "Cepet banget, kamu masak sendiri kan? Awas lho kalau ketauan di bantuin bibi!" balas Karina yang menatap Daffa.


"Sumpah deh, ini aku yang bikin sendiri sayang, bibi cuman bantuin cara masaknya doang, beneran deh?" kata Daffa yang terlihat serius.


"Ya udah tunggu, aku mau cuci muka dulu." Karina pun membuka selimutnya dan berlari kecil menuju ke toilet dan membasuh mukanya setelah itu kembali duduk di kasurnya.


"Coba siniin nasi gorengnya biar aku makan?" pinta Karina.


"Aku suapin aja, gimana?" balas Daffa.


"Enggak ah, aku bisa sendiri kok, udah siniin dong?" Daffa pun memberikan nasi gorengnya dan Karina pun memakannya.


"Kamu gak makan? Kenapa cuman bawa satu piring aja?" kata Karina sambil menatap sekilas ke arah Daffa.


"Nanti aja aku makannya, sekarang kamu aja dulu makan yang banyak, gimana enak gak nasi gorengnya?" balas Daffa.


"Hemm ... gimana, ya ...? Enak kok rasanya, ternyata calon suami aku pinter masak juga," kata Karina memuji masakannya Daffa.


"Yang bener enak? Kamu jangan bohong," balas Daffa yang tidak percaya dengan ucapannya Karina barusan.


"Emang enak kok, nih kamu cobain ... aaaaaa?" kata Karina sambil menggiring sendok itu masuk ke dalam mulutnya Daffa dan Daffa pun menerima suapan dari Karina.


"Gimana? Enak kan?" sambung Karina dengan senyum kecilnya yang menyungging.


Daffa pun membalas senyumannya Karina. "Iya enak, kok bisa yah aku masak seenak ini, padahal aku gak pernah masak lho?" balas Daffa.


"Oh ya? Tapi gapapalah, emang enak kok." Karina pun tersenyum.


Alex POV


Alex pun sedang bersantai di ruangannya sambil tumpang kaki. "Udah beberapa hari ini gue sibuk dan gue gak bisa ketemu sama Karina, tapi ketemu juga buat apa, bahkan dia tunangan sahabat gue sendiri, gue gak ngerti lagi sama perasaan ini, please dong hati gak usah lebay, gak usah mau sama milik orang lain!" gumam Alex di dalam ruangannya.


Tak lama dari itu, para ajudannya Alex pun masuk ke dalam ruangannya Alex. "Maaf tuan muda kalau kami mengganggu istirahat Anda?" ucap ajudan kesatu dengan sopannya.


"Iya ada apa? Siapa yang menyuruh kalian kemari?" balas Alex sambil menatap keempat ajudannya itu.


"Maaf tuan muda, kami kemari karna di suruh nyonya besar, nyonya besar meminta tuan muda untuk segera menemuinya di Paris?" kata ajudan yang ke empat.


"Paris? Bukannya mama ada di Inggris, ya?" Alex pun terlihat kebingungan.


"Baru kemarin sore nyonya besar mengambil penerbangan ke Paris?" balasnya lagi.


"Baiklah, kalian bisa pergi, nanti akan ku urus pertemuanku dengan beliau!" Ke empat ajudan itu pun segera mengundurkan diri dan pergi dari kantornya Alex.


"Mama mau ngapain ngajakin gue ketemu di Paris, kenapa gak ngambil penerbangan ke Jakarta aja sih," batinnya sambil mengambil ponselnya dan segera memesan tiket penerbangannya.


★★★


Setelah beberapa hari kemudian, kini tubuhnya Karina pun sudah terlihat vit kembali dan Daffa pun mulai kembali ke kantornya dan berangkat dari rumahnya Karina.

__ADS_1


"Yangg, aku ke kantor dulu, ya?" kata Daffa berpamitan.


"Iyaa ... kamu hati-hati di jalannya?" balas Karina sambil mencium punggung tangan kekasihnya itu.


Daffa pun tersenyum. "Pastinya, kamu gak usah hawatir, ya udah aku berangkat sekarang, ya?" Karina pun mengangguk dan Daffa pun mencium keningnya Karina terlebih dahulu dan berangkat menuju ke kantornya.


Di Kantor


Jenny pun sudah siap dengan omelannya, Daffa nampaknya tidak perduli dengan Jenny dan kembali melanjutkan perjalanannya untuk masuk ke dalam ruangannya, tanpa di sangka Jenny pun ikut masuk ke dalam ruangannya Daffa.


"Kamu dari mana? Kenapa tidak ada kabar sama sekali, dan bahkan tidak ke kantor?" tanya Jenny penuh intimidasi.


"Udah lah Jen, aku capek. Seharusnya kamu ngertiin posisi aku dong, aku ini orang sibuk, jadi wajar kalau aku sering sibuk!" balasnya tegas.


"Sibuk apa? Sibuk ngurusin tunangan kamu yang lagi sakit? Cewek nyusahin kok di rawat, ngeribetin tau gak, mending kamu tinggalin dia dan nikah sama aku?" kata Jenny yang kesal.


"Kamu jangan sembarangan ya kalau ngomong, dia calon istri aku dan calon ibu dari anak-anakku nanti, jadi kamu gak usah so ngatur aku!" balasnya sambil duduk di kursi miliknya dan kembali membuka laptopnya.


"Yayaya ... terserah apa katamu!" ketus Jenny sambil pergi dan keluar dari ruangannya Daffa.


Jenny POV


"Kamu lihat saja, apa yang bakal aku lakuin sama kamu, aku gak akan ngebiarin wanita manapun memiliki kamu kecuali aku sendiri!" batinnya dan menyimpan baik-baik rencana buruknya.


★★★


Saat malam tiba, saat ada pertemuan malam antar klien dan kolega besar di kota itu, Daffa dan Jenny pun datang menghadiri pertemuan itu tak lupa juga Jodan yang ikut mendampingi.


Setelah pertemuan selesai, kolega dan klien besar itu pun berpamitan duluan dan hanya menyisakan Jenny, Daffa dan Jodan.


"Jo? Saya dengan Daffa ada keperluan lain, jadi saya minta kamu untuk pulang duluan saja?" titahnya dengan lembut namun hatinya busuk.


"Keperluan apa? Bukannya pertemuan telah usai? Lagian saya di tugaskan untuk menjaga pak Daffa?" tolak Jodan dengan lembut.


"Saya tau, lagian ini juga perintah dari Daffa sendiri, atau mau saya panggilkan Daffa kesini untuk menyuruh kamu pulang?" kata Jenny.


"Tidak perlu, biar saya pulang sekarang, kalau ada apa-apa, jangan lupa kabari saya?" Jenny pun mengangguk dan Jodan pun pergi dari tempat itu meninggalkan Jenny dan Daffa berdua.


Sebelumnya Jenny telah menyiapkan minuman perangsang yang telah di pesankan lewat pelayan dan membayarnya dengan harga mahal.


Pelayan itu memberikan minuman yang telah di pesankan Jenny dan tak lama Jenny pun ikut duduk di depannya Daffa dan menyaksikan Daffa yang meminum minuman yang di kasih obat perangsangnya.


"Abisin Daff, aku bakalan bikin hidup perempuan itu hancur dan aku bisa memiliki kamu seutuhnya, aku harap kamu juga bisa melepaskannya dan mengganti posisinya dengan posisi aku!" batin Jenny sambil tersenyum miring.


Daffa pun telah selesai menghabiskan minumannya dan kini perasaannya jadi tak karuan di tambah rasa panas yang menjalari tubuhnya karna efeknya yang mulai berfungsi.


Jenny mulai sigap menghampiri Daffa dan membantu Daffa untuk berjalan.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Jenny sambil menatap Daffa.


"Aku juga gak tau, tubuh aku panas sekali, bisa kita cepat keluar dari tempat ini?" balas Daffa sambil menahan hasratnya walau mungkin sudah tidak tahan lagi, namanya juga pria normal kan.


Jenny pun membopong tangannya Daffa dan menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar yang telah di pesannya.


"Kenapa masuk kamar ini Jen? Kamu mau buat aku macem-macem sama kamu? Di minuman tadi pasti udah di kasih obat perangsang kan?" kata Daffa yang sudah tau dengan minuman yang di minumnya tadi.


"Obat perangsang? Maksud kamu apa? Aku gak ngerti sama sekali, udah aku tau ini berat buat kamu, tapi aku minta kamu istirahat aja dulu, biar aku keluar dari kamar ini!" balas Jenny.

__ADS_1


Saat hendak keluar dari kamar itu, tiba-tiba saja Daffa menarik tangannya Jenny dan mengunci pintu itu, Daffa menarik tubuhnya Jenny agar merapat dengan tubuhnya.


Jenny berpura-pura takut. "Kamu mau ngapain? Jangan macem-macem sama aku!"


Daffa sepertinya tak memperdulikan teriakannya Jenny dan langsung saja menarik tubuhnya Jenny ke dalam pelukannya dan ...


Cupp


Daffa pun ******* bibirnya Jenny dan Jenny pun ikut membalas ******* itu dan berakhir sampai ke adegan ........ kalian pasti tahu lah apa yang terjadi kala ada dua insang di dalam kamar hotel, apa lagi dengan obat perangsang pasti top markotop reaksinya.


★★★


Saat pagi tiba, Jenny pun bangun terlebih dahulu dan mengabadikan potret dirinya dengan Daffa.


Jenny pun sedikit tersenyum miring. "Rencana pertama berhasil, walaupun sedikit ngilu tapi gue udah korbanin kehormatan gue buat bisa dapetin lo seutuhnya. Perempuan itu harus tau, kalau lo udah tidur dan merenggut kesucian gue dengan paksa, dan gue harus lebih pandai berakting seakan gue yang telah di perkosa dan ini bukan kemauan gue!" batinnya sambil sedikit mengusap pipinya Daffa dan sesekali mencium bibirnya Daffa.


Setelah itu, Jenny langsung buru-buru pergi ke kamar mandi dan memakai bajunya disana, tak lama dari itu Jenny pun keluar dan pura-pura berteriak sehingga membuat Daffa mengerjapkan matanya dan bangun dari tidurnya dengan memegangi kepalanya yang pusing.


"Apa sih kamu tuh teriak-teriak? Sakit tau telinga aku!" kata Daffa yang masih belom sadar atas kejadian semalam.


Plakk!


Jenny pun langsung menampar keras pipinya Daffa. "Kamu jahat Daff, kamu tega sama aku ...!" balas Jenny dengan air mata palsunya.


Daffa pun hanya menatap heran ke arah Jenny. "Jahat? Jahat apa maksud kamu? Aku gak ngerti sama sekali!" balas Daffa yang masih bingung.


"Kamu udah merenggut kesucian aku Daff, masa kamu gak ingat sama sekali dengan kejadian semalam? Dimana hati kamu itu Daff, aku kecewa sama kamu, kalau kamu gak cinta sama aku, ya, gapapa. Seenggaknya jangan merusak kehormatan aku!" kata Jenny sambil menunduk.


"Hahhh ... kamu serius Jenn? Gak usah becanda deh, aku gak mungkin ngelakuin itu sama kamu. Gak ... gak mungkin!" balas Daffa masih tidak percaya.


"Kamu memang jahat Daff, aku gak mau tau, pokoknya kamu harus nikahin aku sekarang juga!" kata Jenny.


"Enggak ... aku gak mau nikahin kamu, mendingan kamu pergi jauh-jauh dari kehidupan aku dan jangan pernah kamu temui aku lagi, kamu butuh uang berapa? Biar nanti aku transfer!" balas Daffa dengan entengnya dan memunguti pakaiannya yang berserakan.


Setelah itu Daffa pun masuk ke dalam kamar mandi dan mandi disana. "Daffa you stupid!!! Ngapain sih elo ngelakuin hal yang bodoh seperti itu, kalau Jenny sampai bilang sama Karina hancur lah sudah semuanya! Aaarrrggghhh ...!!!" Daffa pun berteriak histeris dengan air shower yang membasahi seluruh tubuhnya.


★★★


Jenny pun telah pergi dari kamar hotel itu dan menuju ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Jenny pun melihat Jefan yang sedang duduk bersantai di ruang tv.


Tak lama dari itu Jenny pun duduk di samping Jefan dengan wajah yang kusut namun hatinya terlihat senang.


"Lo kenapa? Semalem lo gak pulang, kemana?" tanya Jefan sambil menatap wajah adiknya yang kusut itu.


"Lembur gue kak, kenapa?" balas Jenny dengan malas.


"Lembur nyampe jam segini baru pulang, awas ya kalau lo macem-macem di luar sana." kata Jefan tegas seperti biasanya.


"Macem-macem apaan? Gue gak macem-macem kok, udah lo tenang aja, gue bisa jaga diri gue baik-baik!" balas Jenny yang langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Kak Jefan pasti marah kalau tau kehormatan gue udah gak ada, gue harus pastiin kak Jefan dukung gue saat gue meminta hak gue atas apa yang Daffa perbuat sama gue, itu harus!" gumam Jenny di dalam kamar nya.


Sambil melepas lelah, Jenny pun merebahkan tubuhnya di kasur miliknya dan tertidur.


#bersambung

__ADS_1


__ADS_2