
Selamat Membaca😊
***
"Gimana Daff, apa Karina udah baik-baik aja?" tanya Alex dengan menatap Daffa.
"Udah Lex, barusan juga gue udah ngomong sama Karina, tapi gue larang Karina buat ngomong dulu, kasian gue lihatnya, jadi gak tega," balas Daffa sambil duduk di kursi.
"Gue mau lihat dia sebentar boleh?" tanya Alex.
Daffa pun mengangguk, dan tak lama Alex pun masuk ke dalam ruangan rawatnya Karina.
***
"Hai?" sapa Alex dengan menghampiri Karina.
Karina hanya melirik ke arah Alex, dan melambaikan tangannya.
"Udah gapapa kok, kalo emang lo gak bisa jawab gue, gue cuman mau tahu keadaan lo doang, cepet sembuh, ya?" sambung Alex tersenyum kecil.
Karina pun kembali membuka alat bantu pernapasannya. "Gue gapapa kok Lex, gue tahu maksud lo dateng kesini, ada
Selamat Membaca😊
***
"Gimana Daff, apa Karina udah baik-baik aja?" tanya Alex dengan menatap Daffa.
"Udah Lex, barusan juga gue udah ngomong sama Karina, tapi gue larang Karina buat ngomong dulu, kasian gue lihatnya, jadi gak tega," balas Daffa sambil duduk di kursi.
"Gue mau lihat dia sebentar boleh?" tanya Alex.
Daffa pun mengangguk, dan tak lama Alex pun masuk ke dalam ruangan rawatnya Karina.
***
"Hai?" sapa Alex dengan menghampiri Karina.
Karina hanya melirik ke arah Alex, dan melambaikan tangannya.
"Udah gapapa kok, kalo emang lo gak bisa jawab gue, gue cuman mau tahu keadaan lo doang, cepet sembuh, ya?" sambung Alex tersenyum kecil.
Karina pun kembali membuka alat bantu pernapasannya. "Gue gapapa kok Lex, gue tahu maksud lo dateng kesini, ada apa?" tanya Karina.
"Hehe... Iya nih Karin, gue gak bisa tinggal diem ngelihat sobi gue bersedih diluar sana karna mikirin elo, gue cuman mau tahu aja, sebenarnya apa yang terjadi?" balas Alex dengan menarik kursi dan duduk dikursi yang diambilnya.
"Malam itu ada pelayan yang nganterin satu bok makanan, emang gue biasa delivery disana kalo lagi kepepet makanan, cuman yang gue rasa pertama, itu makanan kek bukan rasa gue banget, dan gue juga pernah nyoba rasa itu, tapi siapa, ya?" ucap Karina sambil memikirkan siapa yang pernah memakai rasa yang berbeda darinya.
"Cukup Karina, jangan terlalu dipaksakan, kalo memang lo gak inget siapa yang memakai rasa itu, yaudah gapapa, biar nanti saja kalo lo udah sembuh segalanya, ya?" balas Alex dengan mengusap lembut tangannya Karina.
"Iya Lex, nanti deh kalo gue udah inget, gue kabarin elo lagi, ya?" ucap Karina tersenyum.
Alex pun mengangguk, dan kembali memasangkan alat pembantu pernapasannya Karina kembali. "Santai aja, gue pasti bantuin lo lagi kok, buat ngungkap siapa dalang dibalik racun mematikan ini!" balas Alex dengan lembut.
Karina pun mengangguk, dan sedikit tersenyum. Setelah itu Alex pun keluar dari kamar rawatnya Karina.
__ADS_1
"Gimana Lex, udah mendingan kan dia? Gue kok jadi ikutan hawatir gini, ya?" ucap Daniel sambil menggaruk kepalanya yang gak gatal.
"Iya dia mendingan Dan, hanya perlu istirahat saja, mungkin dia tidur, dia kan harus memulihkan tenaganya, oh iya si Daffa kemana kok gak ada?" balas Alex, dan bertanya tentang Daffa yang gak ada disana.
"Daffa lagi ke toilet dulu, bentar lagi juga balik kok, gue mau masuk, kira-kira boleh gak, ya?" tanya Daniel dengan melihat kearah kamar rawatnya Karina.
"Boleh pasti, lo izin masuk aja sama kakaknya sana, pasti di izinin kok," balas Alex, dan Daniel pun mengangguk.
Setelah mendapatkan izin masuk, Daniel pun langsung menghampiri Karina yang sedang terbaring lemas itu.
"Hai Karin? Sorry nih gue ganggu waktu istirahat lo, gue cuman penasaran doang dengan keadaan lo, mana nih si cewek tomboy yang tegar itu, ayo dong lo bangkit, jangan mau kalah sama orang yang udah berbuat jahat sama lo?" ucap Daniel sembari tersenyum.
"Iya Dan, ternyata gue lemah, ya, gue juga gak tahu kalo semua ini bakal terjadi sama gue, abisnya gue ceroboh, biasanya gue suka uji makanan dulu, tapi waktu kemarin gue malah langsung memakannya gitu aja." balas Karina dengan tersenyum kecut.
"Udah gapapa, ini kan asli kecelakaan bukan di rekayasa, tapi gue mau minta maaf nih, kalo misal nanti Angel yang terbukti bersalah gue minta maaf yang sebesar-besarnya, ya, karna si Angel gak bisa nepatin janjinya buat gak gangguin lo lagi?" ucap Daniel dengan menunduk.
"Udah lah Dan gapapa, kalo misal nanti memang Angel yang terbukti bersalah, gue gak akan marah sama dia kok, mungkin dia begitu, karna masih mengharapkan Daffa, bukannya si Angel suka sama Daffa kan?" balas Karina dengan menatap Daniel dan tersenyum.
"Kok gue jadi sedih gini, ya, gue gak bisa bayangin lagi kalo sampai benar Angel yang melakukan ini, gue gak tahu harus gimana lagi, menghadapi kelicikannya itu, udah lo santai aja, nanti gue tanya secara baik-baik deh sama Angel, ya?" ucap Daniel tersenyum.
Karina pun mengangguk.
"Yaudah lo istirahat lagi aja, gue keluar dulu," pamit Daniel sembari meninggalkan ruangan rawatnya Karina.
***
Setelah malam tiba, Daffa dan kedua temannya pun pulang.
"Daffa, kamu darimana, kok jam segini baru pulang? Kamu jangan melakukan hal yang aneh-aneh, ya?" tanya Lidia mamanya Daffa.
"Daffa baru pulang dari rumah sakit mah, maaf kalo Daffa gak bilang sama mama," balas Daffa sambil duduk di kursi.
"Siapa yang sakit?" tanya Lidia Sambil ikut duduk juga.
"Karina mah, dia mengalami keracunan makanan yang mematikan," balas Daffa yang membuat mamanya kaget, dan membulatkan matanya.
"Keracunan? Kok bisa keracunan? Terus sekarang keadaan Karina gimana Daff?" tanya Lidia dengan cemasnya.
"Karina udah sadarkan diri kok mah, karna tadi Karina udah melewati masa kritisnya, jadi sekarang tinggal istirahat saja, untuk memulihkan kondisi tubuhnya," balas Daffa.
"Alhamdulillah kalo gitu, kamu gak jaga dia kali Daff, makanya jangan ceroboh dong, mama jadi mau lihat keadaannya Daff?" ucap Lidia dengan menatap wajah anaknya.
"Yaudah deh, tapi beneran, ya, nanti kamu ajakin mama buat ketemu sama Karina?"
"Iya mama sayang, udah tenang aja, yaudah Daffa mau ke kamar dulu," sambil berdiri dan berlari kecil menaiki tangga.
***
Saat Citra pulang ke rumah, Citra melihat Kirana sedang bersantai dengan koleksi dvd-nya.
Citra menghampiri dan duduk dikursi yang berdekatan dengan Kirana. "Kirana? Kenapa kamu tidak menemui adikmu yang sedang terbaring dirumah sakit?" tanya Citra dengan menatap kearah Kirana.
"Buat apa si kak, aku capek harus bolak-balik rs, lagian malam kemarin nya kan aku udah dari sana, jadi kalo semalem aku gak kesana gapapa dong, lagian ada kakak sama kak Adit juga kan disana, jadi aku buat apa repot-repot harus kesana?" balas Kirana dengan lantangnya.
"Kamu kembarannya, kamu bisa jadi penyemangat hidup buat Karina, kalo posisi kamu yang keracunan, Karina juga pasti bakalan selalu ada buat kamu," ucap Citra dengan kesalnya.
__ADS_1
"Udah lah kak, Karina udah gak akan hidup lagi, lagian mau mati aja lama banget, jadinya ngerepotin kan!" balas Kirana dengan lantangnya.
Plak!
Satu tamparan melayang di pipi mulusnya Kirana, karna Citra. "Jaga ya itu mulut kamu, kakak gak pernah ngajarin kamu buat ngomong yang melenceng seperti itu," teriak Citra dengan mengepalkan tangannya.
Kirana memegang pipinya yang terasa panas, "kakak tu kenapa sih, kok jadi nampar aku, inget gak sih kalo waktu dulu kakak yang sering bilang sama aku kalo Karina itu anak pembawa sial, dan sekarang terbuktikan, kalo dia jadi bikin hidup aku sial, aku kena tampar sama kakak aku sendiri,"
"Cukup Kirana, kakak sudah tidak mau mendengar masa lalu lagi, kita ini 3 bersaudara, kamu gak seharusnya bicara seperti itu sama adik kamu, lagian sekarang Karina juga udah semakin membaik kok," ucap Citra sambil berdiri, dan meninggalkan Kirana sendiri.
"Apa, Karina udah membaik, kok bisa, padahal itu racunkan efeknya ampuh banget, kok dia malah gak mati sih, sialan!" batin Kirana.
***
Setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif, akhirnya kini Karina bisa pulang, Almahendra dan keluarga yang lain pun membawa Karina pulang kerumah.
Kirana yang menyambut kepulangannya Karina pun hanya menampakkan mimik wajah tidak senangnya, Karina pun langsung dibawa ke kamarnya dan kembali beristirahat dikamar.
"Ngapain sih dia harus menginjakkan kakinya disini lagi, gue udah males juga lihat dia disini, apa lagi nanti, Daffa bakalan kesini sama teman-temannya, dan gue gak bisa lah melihat keuwuan mereka," batin Kirana.
"Kenapa bengong aja, seneng kek lihat adiknya udah sembuh, dan pulang ke rumah," ucap Citra dengan menyenggol lengannya Kirana.
"Iya ini juga udah seneng kok, aku hanya lagi mikir, siapa sih yang tega ngasih racun sama adik aku yang cantik ini," balas Kirana dengan senyum palsunya.
"Udah tenang aja, nanti kalo udah ketahuan juga pasti tahu kok, siapa dalang dibalik semua ini," ucap Citra dengan menatap Kirana.
Kirana pun tersenyum, dan menyimpan kecemasan dalam hatinya.
Setelah itu, Kirana pun keluar dari kamarnya Karina, dan kembali masuk ke dalam kamarnya sendiri.
"Sialan! Kenapa sih dia selalu aja beruntung, padahal gue udah berharap banget kalo dia gak bakalan hidup lagi, eh ini malah kembali pulang ke rumah, bodoh!" gumam Kirana sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur.
***
Setelah beberapa hari istirahat di rumah, Karina pun meminta untuk kembali pulang ke apartemen, Karina tidak nyaman berada di rumah karna sikapnya Kirana.
***
Daffa yang sedang asik main ps di rumah pun terpaksa harus mengantarkan mamanya untuk menemui Karina di apartemennya.
***
"Sayang, kamu udah gapapa kan sekarang? Tadinya mama mau kesini dari waktu itu, tapi Daffa bilang kamu harus istirahat dulu," ucap Lidia sambil memeluk Karina.
"Alhamdulillah mah aku udah baik-baik aja, kenapa gak kesini aja, padahal aku juga mau ketemu sama mama, Daffa terlalu lebay," balas Karina.
"Bukannya aku lebay sayang, aku hanya gak tega sama keadaan kamu waktu itu, aku cemas kalo kamu kenapa-napa, makanya aku gak ajakin mama dulu," sahut Daffa sambil memainkan ponselnya.
"Daffa sebegitu takutnya kehilangan kamu, nak," ucap Lidia dengan membelai rambut Karina.
"Mama bisa aja, makasih, ya, karna Mama udah mau nyempetin waktunya buat dateng nemuin aku disini, aku jadi merasa kayak punya mama sendiri," balas Karina dengan sedikit terharu.
"Iya sayang sama-sama, anggap saja mama ini adalah ibumu, dan Mama tidak keberatan untuk itu," ucap Lidia sambil tersenyum.
Karina pun tersenyum kecil mendengar ucapan mamanya Daffa, dan sesekali memeluknya.
__ADS_1
#bersambung