
Sampai pada akhirnya Alex pun mengajak Karina masuk ke dalam kamarnya, dan mulai melakukan aksinya di atas ranjang bersama istri yang di cintai nya sedari dulu.
Setelah dirasa puas, mereka berdua pun mulai tertidur saling berpelukan sampai pagi tiba, mereka bangun dan sama-sama melakukan ritual mandi.
Setelah selesai, mereka berdua pun mulai memakai bajunya kembali, lanjut ke sarapan karena Alex harus pergi ke kantor.
"Aku mau ikut ke kantor kamu, boleh?" tanya nya sembari tersenyum manis.
"Boleh, aku cuman mau meeting doang, habis itu udah deh pulang," balas Alex yang ikut tersenyum juga.
"Ya udah, mau berangkat sekarang atau kapan?" tanya nya lagi.
"Iya sekarang, ayo." ajaknya, dan mereka berdua pun mulai menuju ke kantornya Alex dengan mobil yang di kendarai Alex sendiri.
Sesampainya di kantor, Alex pun langsung menggandeng tangannya Karina untuk masuk ke dalam kantornya. Semua mata karyawan di kantor itu pun menatap kagum ke arah Karina yang terlihat cantik dan anggun itu.
Bahkan ada dari mereka yang bergosip setelah Alex dan Karina naik ke ruangan nya Alex.
"Wah ... ternyata istrinya tuan Alex cantik banget, ya." ucap si karyawan perempuan yang kesatu.
"Iya, bahkan aku pernah denger kalau istrinya tuan Alex itu pernah di khianati lho sama tunangan yang sebelumnya," balas si karyawan perempuan yang kedua.
"Masa sih, Orang cantik gitu kok di khianati, kalau aku jadi cowoknya, pasti bakalan aku jaga terus, gak akan deh aku suruh keluar." sambung si karyawan laki-laki.
"Aku serius, kalau gak salah nama tunangannya itu Daffa deh. Dan dia sekarang malah menikah sama selingkuhannya yang sekretaris nya sendiri," balas si karyawan perempuan yang kedua.
"Tapi sekarang dia beruntung, bisa mendapatkan tuan Alex yang setia nya tiada tara, bahkan tuan Alex katanya sangat mencintai istrinya dari sejak dulu SMA lho." kata di karyawan perempuan yang kesatu.
"Makanya nih, ya, kalian kan perempuan. Jangan suka pada ganjen deh sama cowok orang, biar nanti dapat pasangan kayak tuan Alex. Ya, walaupun bakalan beda, tapi kalian bakalan di sayang lho," balas karyawan laki-laki itu.
"Mit-amit deh gue jadi perempuan kek gitu, semoga aja iman gue kuat. Gue gak mau lagi ngerusak hubungan orang, ntar yang ada hubungan gue yang rusak, dan menyesal." kata si karyawan perempuan yang kedua.
"Semoga di jauhkan lah, ya, dari perbuatan yang tidak tercela itu. Gue aja yang jomblo gak niat tuh buat rusak hubungan orang, iya kali," balas si karyawan perempuan yang kesatu.
"Udah. Mendingan sekarang kita lanjut kerja aja." ucap si karyawan laki-laki itu.
Dan mereka bertiga pun kembali bekerja di bagiannya masing-masing.
Alex dan Karina pun tengah mengobrol di ruangannya Alex.
"Sebentar lagi aku mau meeting, kamu mau nunggu aku disini, apa gimana?" tanya Alex yang sedang memeluk tubuh istrinya itu.
"Kalau aku jalan-jalan sebentar, boleh enggak," balasnya.
"Boleh. Tapi jangan aneh-aneh, jangan sampai kamu kena gampar perempuan itu lagi, aku gak suka kalau ada yang menyakiti mu." ucapnya dengan tegas.
__ADS_1
"Okay ... mungkin kali ini tidak akan bertemu dia, kamu gak usah hawatir," balasnya lalu tersenyum dan melepaskan pelukannya Alex.
Sebelum Alex kembali berucap, asistennya masuk dan memberitahukan kalau meeting akan segera di mulai, dan Alex pun mengangguk.
"Kamu hati-hati di jalan, ya. Aku mau meeting dulu." ucap nya.
Karina pun mengangguk dan ikut keluar ruangan bersama Alex. Alex langsung masuk ke ruangan meeting nya sedangkan Karina berjalan-jalan di sekitar kantor nya Alex.
Setelah dirasa bosan karena hanya berkeliling saja, Karina memutuskan untuk pergi ke taman lain dan akan duduk santai-santai disana. Pikirnya.
Sesampainya di taman yang lumayan jauh dari kantor, Karina langsung membeli ice cream untuk di nikmati sambil duduk santai. Entah di sengaja entah tidak, di taman itu Karina harus kembali bertemu dengan Jenny, bukan Karina yang menghampiri tapi Jenny yang melihat Karina dari kejauhan.
Itu si Karina kan, kenapa sih dimana-mana harus selalu ada dia, bikin jengkel tahu gak. Tidak hanya ada di nyatanya, bahkan dia juga masih ada di dalam hatinya Daffa. Menyebalkan.... Jenny.
Tanpa menunggu lama lagi, Jenny langsung menghampiri Karina dan menyiramkan minuman jeruk ke wajahnya Karina, dan itu membuat Karina terkejut dan berdiri sambil mengusap pelan wajahnya yang lengket.
"Omenji ... elo ngapain si nyiram gue kayak gini, emangnya gue punya salah apa sama lo?" Karina pun mulai jengah dengan perlakuan nya Jenny itu.
"Itu karena gue masih kesel sama lo, gue sih pengennya elo itu mati aja, tapi gue gak mau senekat itu buat bunuh lo, ngerti," balasnya dengan sorot mata yang mulai menajam.
"Dasar orang gila, mendingan elo pindah planet aja deh, biar gak selalu ketemu sama gue. Dasar cewek aneh." Karina pun mengambil tisu kering di tasnya dan langsung mengusapkan tisu itu ke bagian wajahnya.
"Haha ... gak salah tuh, elo aja sana pindah dari sini. Kemana kek terserah,"
"Tahu dah pusing pala gue." Karina pun sudah dua langkah maju ke depan untuk meninggalkan Jenny, namun Jenny masih belum puas untuk menjahili Karina.
Semua orang yang melihat pun langsung berlari menghampiri Jenny dan Karina.
"Sepertinya dia keguguran." ucap seseorang yang sudah berdiri disana.
"Ya Tuhan ... Jenny?" teriak Karina sambil menghampiri Jenny dan ingin membantu Jenny untuk berdiri, namun Jenny menepis tangannya Karina.
"Gue gak butuh bantuan lo. Siapapun tolong saya, perempuan ini yang sudah mendorong saya hingga terpeleset, tolong selamatkan anak saya." ucapnya lalu pingsan tak sadarkan diri, Karina langsung menelpon ambulance dan ambulance itu pun langsung membawa tubuhnya Jenny sampai ke rumah sakit.
Setelah itu Karina tidak tahu apa-apa lagi soal Jenny, karena Karina di tahan orang-orang disana untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Jenny.
"Hei ... kalian mau membawaku kemana? Aku harus ke rumah sakit." ucapnya ingin memberontak namun Karina menahan diri dan terpaksa harus mengikuti mereka yang menggiring nya masuk ke dalam mobil salah satu pengunjung di taman.
"Membawamu ke kantor polisi, kamu sudah mencelakai ibu hamil tadi," balasnya dengan mengerikan.
"Saya tidak melakukan apapun terhadapnya, dia hanya jatuh dengan sendirinya. Lepaskan saya." ucapnya.
"Tidak. Biar kau menjelaskannya nanti di kantor polisi,"
Karina pun sedikit membuang nafasnya, dan mengetikan sesuatu di ponselnya, dan langsung di kirimkan nya pada sang suami.
__ADS_1
Karina pun terpaksa mendekam di jeruji besi untuk beberapa saat sampai suaminya datang menemuinya.
Di Kantor.
Setelah selesai meeting, barulah Alex membaca pesan dari istrinya dan langsung memutuskan untuk pergi ke kantor polisi dengan segera. Alex datang ke kantor polisi di antar Jodan asisten pribadi nya.
Sesampainya disana, Alex langsung meminta untuk di pertemukan dengan istrinya, dan tak lama Karina pun menemui nya dan mulai mengobrol.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya nya sambil menatap wajahnya Karina.
"Mereka salah paham denganku, aku tadi pergi ke taman, dan tanpa sengaja Jenny menghampiri sambil menyiram ku dengan minuman yang ia bawa, lalu aku pergi meninggalkan nya tapi tiba-tiba dia sudah terjatuh sampai keluar darah di bagian itu nya, dan aku gak tahu apa-apa soal jatuhnya dia, tapi dia malah bilang aku yang dorong dia," jawab Karina dengan penjelasan yang jujur.
"Sudah. Kamu yang sabar, biar ini menjadi urusan ku." ucapnya lalu berdiri sebentar dan membisikkan sesuatu di telinganya Jodan, dan Jodan pun mengangguk mengerti, lalu pergi dari kantor polisi itu.
Alex pun kembali menenangkan istrinya, dan kembali menyuruh orang kepercayaan nya untuk melihat keadaannya Jenny.
Di Rumah Sakit.
Kedua orang tuanya Daffa, dan Daffa sudah berada di rumah sakit dan menunggui Jenny yang masih belum sadar dari pingsannya.
"Kok bisa sih, Karina setega itu sama Jenny. Dia sampai mendorong Jenny tanpa perasaan." ucap Lidia - Mama nya Daffa.
"Mungkin Karina gak sengaja Ma, udah deh gak usah nyalahin dia dulu, kita kan gak tahu gimana kejadian sebenarnya," balas Daffa.
"Ya Mama berharap bukan Karina yang melakukan nya, tapi kalau sampai itu benar, Mama kecewa sekali dengan nya, Jenny sedang mengandung cucu pertama Mama, dan sekarang Mama kehilangan cucu pertama Mama itu, Daff." ucapnya sambil terisak.
"Udah Mama yang sabar, gak usah marah-marah. Gak baik buat kesehatan Mama," balas Papa nya Daffa (Lupa namanya, males nyari).
Tak lama dari itu Daffa pun masuk ke dalam ruangannya Jenny dan mendapati Jenny telah sadar dari pingsannya, dan langsung melihat kebagian perutnya yang kembali rata itu.
Perlahan Jenny mengusap perutnya. "Anak kita masih ada disini kan, apa dia sudah lahir? Kenapa perut ku jadi tak kelihatan?" tanya Jenny yang masih belum sadar kalau anaknya telah meninggal.
Daffa mencoba tersenyum sembari memegang tangannya Jenny. "Kamu yang sabar, ya, kamu pasti kuat, anak kita sudah tidak ada, dan kamu sudah mengalami keguguran, Jen," balas Daffa dengan lembut.
Jenny pun langsung menangis dan tak percaya dengan ucapannya Daffa barusan. "Enggak ... anak aku gak mungkin ninggalin aku, kamu memang jahat sama aku Daff, kamu sama seperti mantan kekasih mu itu, sama-sama jahat!" ucap Jenny langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Daffa.
"Jen, aku kan sudah sering bilang sama kamu, jangan menemui mantan kekasih ku itu, dia saja sudah menikah dengan sahabat ku, dan dia gak mungkin mau balik lagi sama aku meskipun aku masih menginginkan nya," balas Daffa dengan sangat jujur.
"Bisa gak sih kamu gak usah ngomongin perasaan kamu sama dia, aku udah sakit karena kehilangan anak ku karena dia, di tambah lagi kamu yang masih mencintai mantan kamu itu. Tega kamu Daff." Jenny masih melanjutkan aksi menangis nya.
Balik Ke Cerita Alex dan Karina.
Jodan telah menemukan bukti kalau Nona Karina tidak bersalah dalam hal ini, dan langsung memberitahukan nya pada Tuan Alex.
Kini Alex yang mengusut masalah ini ke polisi, dan meminta Jenny untuk segera di tangkap setelah ia pulih. Alex pun kembali membawa Karina pulang ke mensionnya dengan Jodan.
__ADS_1
bersambung.....