
Semua orang langsung memucat mendengar suara rendah gadis muda itu, Menteri Liu sudah terduduk beserta menteri lainnya. Sedangkan para jenderal, mereka tetap berdiri walaupun gemetar.
Anming yang mendengar itu langsung terdiam namun air mata semakin deras keluar. Ia pun dengan merangkak mendekati Xiao Lu yang tengah berdiri tegak layaknya Jenderal besar.
"A-aku mo-hon ja-ngan ke-luar-gaku hiks hiks a-aku jan-ji tak a-kan me-ngu-la-ngi-nya la-gi hiks m-ma-af-kan a-aku hiks," ucap Anming memohon dengan bersujud dibawah Xiao Lu.
"Se-sebenarnya ada apa?" Tanya Raja Zhao penasaran.
Xiao Lu yang tadinya menatap Anming langsung saja menatap mata sang Raja tanpa rasa takut. Raja Zhao dapat melihat kemarahan dan niat membunuh yang kuat dimata gadis kecil yang kini menjadi kesayangan keluarga kerajaan. Ia tak tahu, jika kemarahan gadis kecil ini sangat berdampak hebat. Bahkan, hanya dengan aura-nya, gadis kecil ini dapat membuat orang-orang hebat kerajaan gemetar dan bahkan jatuh berlutut.
"Perempuan ini mengatakan hal yang tidak sepantasnya dikatakan oleh seorang gadis berpendidikan. Perempuan ini dengan lugas mengatakan jika aku dan Putri Ketiga tidak mempunyai sopan santun. Aku dan Putri Ketiga bahkan sudah menyapa dan ijin untuk pergi ke tempat Pangeran Chen, tetapi-" Xiao Lu menghentikan ucapannya dan menatap Anming yang menangis sesenggukan dibawah kakinya.
"Perempuan ini mengatakan kami tidak sopan. Aku tak marah soal itu, dia juga berkata dengan lugasnya mengatakan jika aku adalah gadis bodoh. Aku juga tidak marah ia menghinaku. Tapi, aku tak akan pernah menerima jika ada orang yang menyakiti orang-orang tersayangku. Ia dengan dagu terangkat dengan mudahnya mengatakan Pangeran kesayanganku adalah lelaki idiot dan bodoh dan pantas bersanding denganku yang juga bodoh dan menjadi pasangan serasi. Itulah yang membuatku marah. Aku tak akan membiarkan orang-orang yang menghina dan menyakiti orang tersayangku hidup tenteram. Jika aku tak menghormati keputusan anda terhadap Liu Anming yang menjadi Putri Mahkota, detik itu juga, aku tak akan membiarkan nyawanya berada dalam raganya." Tambah Xiao Lu dengan penuh kemarahan.
Semua orang membulatkan matanya tak percaya sambil menatap Anming. Raja Zhao juga menatap tak percaya pada salah satu calon menantunya ini. Sedangkan Menteri Liu, ia menatap kosong ke arah putrinya yang terus menangis.
"Aku benar-benar ingin membunuhnya," ucapan tajam serta aura yang semakin pekat membuat semua orang menahan nafas begitupula Raja Zhao yang menatap ragu ke arah gadis kecil dihadapannya.
Keadaan semakin hening. Bahkan, Anming yang tengah menangis menghentikan tangisannya dan menatap kosong ke arah lantai. Ia benar-benar menyesal dan menyadari semua sikap buruknya selama ini. Ia harusnya bersyukur, namun ia malah sombong dan angkuh.
Tiba-tiba saja, aura mencengkam tadi menghilang membuat mereka bernafas lega dan menatap penasaran ke depan. Kini, didepan mereka, terlihat tubuh kecil Xiao Lu tengah dipeluk erat oleh seorang pemuda. Tubuh pemuda itu bergetar karena tangis. Pemuda yang tak lain adalah Pangeran Chen itu memeluk Xiao Lu erat walaupun ia juga takut.
__ADS_1
Xiao Lu langsung merasakan ketenangan saat pangeran kesayangannya memeluknya. Ia juga merasa bersalah karena ia pasti membuat takut kesayangannya. Aura menakutkan Xiao Lu menghilang digantikan aura menenangkan seperti diawal membuat hati mereka lega tapi tidak dengan Anming yang kini kembali menangis karena rasa bersalah.
Xiao Lu membalikan tubuhnya dan membalas pelukan kesayangannya. Ia mengusap punggung sang tunangan dan membisikkan kata-kata penenang.
Semua penghuni istana lega karena aura itu hilang. Mereka kini tahu, jika Pangeran Chen adalah kunci ketenangan Xiao Lu. Bahkan tadi, ayah serta Guang Ho pun tidak bisa menenangkan sang putri. Mereka bersyukur jika Pangeran Chen dengan penuh keberanian berjalan dengan kaki terseok karena gemetar dan memeluk Xiao Lu. Para putri, Pangeran Jing, ibu suri dan ketiga wanita kesayangan kaisar beserta pelayan dan penjaga diluar bahkan kini duduk lega ditanah tanpa peduli apapun. Pangeran Jing bahkan menghapus keringat yang membanjiri wajahnya. Sedangkan para wanita, mengusap air mata mereka yang turun.
"Lulu menakutkan," bisik Pangeran Chen.
"Maaf," ucap Xiao Lu menyesal.
Pangeran Chen mengangguk dalam pelukan Xiao Lu membuat Xiao Lu lebih membenamkan kepalanya pada dada bidang tunangannya.
Semua orang tidak ada yang bersuara bahkan bergerak. Mereka tidak berani mengganggu kedua insan lebih tepatnya tak ingin membuat Xiao Lu kembali murka. Jadi mereka terus membiarkan kedua insan itu berpelukan.
Xiao Lu melepaskan pelukannya. Ia mendongkak dan mengusap air mata yang mengalir dipipi kesayangannya. Ia benar-benar merasa bersalah melihat kesayangannya menangis hingga wajah dan matanya semerah ini.
"Maafkan Lulu," bisiknya pelan sambil tersenyum.
Pangeran Chen hanya mengangguk dan membalas senyuman Xiao Lu walaupun masih sesenggukan. Pangeran Chen masih menaruh tangannya dikedua sisi pinggang Xiao Lu. Xiao Lu tersenyum lembut. Ia berjinjit kemudian mengecup mata Pangeran Chen satu persatu. Pangeran Chen menutup matanya. Setelah mata, Xiao Lu mengecup kedua pipi Pangeran Chen. Ia tak berani mengecup bibirnya karena terlalu malu.
Pangeran Chen yang tak sengaja melihat ayahnya, langsung saja terdiam. Ia kemudian melihat sekitarnya dan baru menyadari jika mereka masih ditengah aula. Wajahnya bertambah merah. Xiao Lu yang tahu hanya menampilkan wajah datar andalannya meskipun mereka bisa melihat semburat merah dikedua pipi gadis muda itu.
__ADS_1
Pangeran Chen melepaskan tangannya dari kedua sisi pinggang Xiao Lu. Ia menatap Xiao Lu kemudian menatap sekitarnya. Tak lama....
"Huwaaaaaa.... ibu.... Chen maluuuuuu~" tangis Pangeran Chen kembali pecah dan berlari keluar aula membuat semua orang melongo.
Xiao Lu hanya mengerjap sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia juga mengernyit dan tak sadar mengerucutkan bibirnya membuat mereka yang melihat menjadi gemas.
"Apasih. Harusnya aku yang malu. Aku kan perempuan," gerutu sebal Xiao Lu namun wajahnya sudah kembali datar.
"Ekhm," deheman dari Raja Zhao membuat semuanya kembali pada kesadaran masing-masing.
Xiao Lu mengerjap dan berbalik menghadap Raja Zhao. Ia menatap Raja Zhao sebelum menundukan kepalanya pelan.
"Maaf membuat kekacauan," ucap Xiao Lu datar namun Raja Zhao tau jika Xiao Lu merasa bersalah.
Raja Zhao tersenyum dan mendekati Xiao Lu. Ia menepuk sayang kepala Xiao Lu membuat Xiao Lu mendongkak. Xiao Lu membalas senyum Raja Zhao dengan senyum tipis yang hanya bisa dilihat oleh Raja Zhao.
"Kau melakukan hal yang benar," ucap pelan Raja Zhao.
"Ayahanda, bangga padamu," ucapan Raja Zhao membuat Xiao Lu mematung. Bahkan Anming yang ada diantara mereka juga ikut mematung.
"A-ayahanda.." bisik pelan Xiao Lu.
__ADS_1
"Ya. Panggil aku ayahanda mulai sekarang," ucap Raja Zhao yang dibalas anggukan kecil oleh Xiao Lu.
༺༻