
Ditempat lain...
"Chen akan dibawa kemana Jing?" Tanya Pangeran Chen pada adiknya.
"Ke suatu tempat, ge." Balas Pangeran Jing dengan senyum diwajahnya.
Mereka kini tengah berada didalam kereta sederhana agar tidak menjadi pusat perhatian. Mereka akan pergi ke sebuah tempat atas suruhan Xiao Lu. Mereka sendiri dikawal oleh Tao yang tak lain adalah ketua Team Beta dari Blackrose tanpa sepengetahuan mereka berdua.
"Kemana?" Tanya polos Pangeran Chen.
"Gege, ini perintah Lu'er. Gege untuk sementara akan tinggal dikediaman Lu'er karena Lu'er berjanji akan membuat gege menjadi pria normal pada umumnya," ucap Pangeran Jing semangat sedangkan Pangeran Chen hanya menatap polos pada Pangeran Jing karena tidak mengerti.
"Keluarga kerajaan juga sudah sepakat dan menyetujui permintaan Lu'er. Mereka percaya Lu'er dapat menyembuhkan gege." Tambahnya.
"Tapi, Chen tidak sakit," ucap polos Pangeran Chen membuat Pangeran Jing hanya bisa menepuk dahinya.
'Astaga! Bagaimana cara aku menjelaskannya?!' Batin Pangeran Jing bingung.
Sedangkan Tao yang tengah menjadi kusir dan mendengar percakapan kedua saudara itu hanya bisa menahan tawa akan kepolosan pasangan nona nya itu.
'Nona benar-benar mendapatkan makhluk unik, khekhekhe.' Pikir Tao.
"Pokoknya gege akan sembuh." Tukas Pangeran Jing.
__ADS_1
"Chen tidak sakit!" Protes Pangeran Chen.
"Gege memang tidak sakit. Tapi gege tetap harus jadi pria normal!" Ucap Pangeran Jing.
"Chen kan normal. Buktinya, Chen menyukai Lulu bukan menyukai Jing!" Ucap Pangeran Chen polos.
Pangeran Jing dan Tao tersedak mendengar penuturan dari Pangeran Chen yang ajaib itu.
"Ge-gege tahu kata-kata itu darimana?" Tanya Pangeran Jing terbata.
"Adik Ping," ucapan polos dari Pangeran Chen itu membuat Pangeran Jing melotot.
"Adik Ping juga berkata, nanti setelah Chen menikah dengan Lulu, Chen harus memasukan milik Chen pada Lulu agar bisa membuat anak. Memangnya Chen punya apa? Apa yang harus Chen masukan? Kenapa bisa membuat anak?" Ucap beruntun Pangeran Chen membuat Pangeran Jing maupun Tao melotot.
'Aku tidak menyangka jika Tuan Putri Ping adalah gadis seperti itu,' Pikir Tao dengan ngeri.
"Ge-ge jangan dengarkan perkataan adik Ping ya? Itu kata-kata yang tidak baik. Gege jangan katakan itu pada Lu'er. Nanti kalau Lu'er marah dan tidak mau bermain dengan gege lagi bagaimana?" Ucapan dari Pangeran Jing itu sukses membuat wajah polos Pangeran Chen panik.
"Be-benarkah? Ba-bagaimana ini? C-chen tidak ingin Lulu marah," ucap Pangeran Chen dengan manik berkaca-kaca membuat Pangeran Jing panik.
"Gege tidak boleh menangis ya? Aduh bagaimana ini?!" Pekik kecil Pangeran Jing saat melihat buliran air mulai turun dari mata tajam gegenya.
'Gawat!!' Pekik Pangeran Jing dalam pikirannya karena melihat Pangeran Chen yang sudah terisak.
__ADS_1
'Huh.. benar-benar langka.' Pikir Tao sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
***
"Bagaimana? Hebat kan?" Tanya Xiao Lu yang kini berada diruang kerja raja. Disana juga sudah duduk Raja Zhao dan ayahnya.
"Menyeramkan!" Tukas Raja Zhao dan Jenderal Besar Ahn bersamaan dengan wajah mengernyit ngeri.
"Itu belum seberapa. Kalian tidak melihat caraku bertarung. Itu akan jauh lebih menyenangkan!" Ucap Xiao Lu semangat.
'Gadis kecil ini...' Batin keduanya entah harus kagum atau justru menangis melihat keantusiasan Xiao Lu dalam membunuh orang.
"Baik lupakan itu. Aku ingin memberitahu sesuatu hal." Ucap Xiao Lu yang kini berwajah serius membuat keduanya juga menampilkan raut yang sama.
"Aku tidak jadi membawa Chen ke kediaman Ahn. Aku akan membawanya ke tempat Blackrose. Itu agar aku lebih serius dalam merawatnya karena ini bukanlah penyakit yang yah mudah disembuhkan. Ini menyangkut mentalnya yang kekanak-kanakan. Dan mungkin, akan butuh waktu cukup lama. Apa tak apa?" Tanya Xiao setelah menjelaskan dengan singkat.
"Tentu saja. Demi kesembuhan Chen, berapa lama waktu yang Lu'er butuhkan, itu tak masalah." Balas Raja Zhao yang diangguki ayahnya.
"Baiklah. Kalau begitu, gadis cantik ini pergi dulu. Dahhh..." Ucap Xiao Lu yang mulai beranjak dan langsung melompat keluar jendela dan menghilang dengan cepat.
"Astaga anak itu." Gerutu ayahnya dengan memijat dahinya yang serasa ingin pecah akan putri sulungnya itu.
"Menakjubkan," tambah Raja Zhao sambil terkekeh.
__ADS_1
***