Time Slip : Xiao Lu

Time Slip : Xiao Lu
Memberitahu (2)


__ADS_3

Semua orang langsung mengalihkan tatapan pada Guang Ho yang kini berkeringat dingin. Mereka berpikir jika jenderal muda itu menyinggung Blackrose begitupula Guang Ho yang berpikiran sama. Berbeda dengan sang ayah yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Jenderal ini mengijinkan." Ucapan itu sontak membuat semua orang melotot tak percaya. Terlebih dengan Guang Ho yang rasanya ingin menangis.


"Pergilah. Semuanya akan baik-baik saja." Tambah Jenderal Besar Ahn tenang walaupun sebenarnya dia sangat gugup.


"Tapi-"


"Blackrose dapat menjamin jika pemimpin kami tidak akan melakukan hal yang buruk." Potong anggota Blackrose itu saat Guang Ho hendak menolak.


"Pemimpin kami sedikit tertarik dengan kemampuan anda. Pimpinan hanya ingin sedikit berbisnis dengan anda. Tenang saja, pimpinan tidak akan mengambil anda menjadi bagian kami." Jelas anggota Blackrose itu dengan acuh.


"Pergilah, Ho'er." Ucap sang ayah yang mau tak mau dituruti oleh Guang Ho dengan berat hati.


Guang Ho pun segera ditarik pergi oleh sosok itu dan dalam sekejap menghilang dengan cepat membuat mereka semua menahan nafas.


"Jenderal, apa ini tidak akan buruk? Meskipun Blackrose Mafia telah membantu, tapi mereka tidak bisa dianggap remeh. Bagaimana jika mereka melukai Jenderal Muda?" Ucap gelisah salah satu jenderal dan dibalas tatapan gelisah serta takut dari semua prajurit.

__ADS_1


"Tenanglah. Aku percaya jika G'rose tidak akan mungkin melukai Guang Ho." Ucap Jenderal Besar Ahn dengan nada hangat membuat semua orang bertanya-tanya.


...


"A-apa? G-G'rose mengundang Mi'er dan Wan'er?!" Tanya terkejut Menteri Ahn saat mendengar laporan dari salah satu penjaga itu.


Menteri Ahn menjadi gelisah dan berkeringat dingin. Ia bahkan berjalan bolak-balik karna gelisah.


"Gege dan Ho'er masih di istana. Sedangkan Lu'er pasti tengah bersama Pangeran Chen. Apa yang harus aku lakukan?!" Gumam Menteri Ahn.


"Anda benar, istri!" Seru Menteri Ahn.


"Pelayan, cepat beritahu Mi'er dan Wan'er. Kita tidak boleh menyinggung G'rose." Tambah menteri Ahn dengan panik.


Mereka pun dengan kalang kabut menuju kediaman nona mereka. Sedangkan Menteri Ahn dan istrinya menuju gerbang kediaman Ahn.


Saat mereka sampai, mereka dapat melihat kereta cantik dengan aksen putih bergambar mawar hitam tengah terparkir didepan kediaman yang mana membuat para tetangga diliputi banyak pemikiran.

__ADS_1


Mereka juga bisa melihat seorang pria berpakaian hitam dengan topeng putih serta tangan yang menggenggam pedang tengah berdiri tegak dengan tatapan datar disamping kereta itu.


Sosok itu bahkan tidak repot untuk memberi hormat dan hanya memandang keduanya sekilas.


"Maaf sebelumnya. Apa..apakah putri-putri si kecil ini menyinggung pemimpin anda?" Tanya menteri Ahn dengan gugup dan hati-hati.


"Saya hanya diutus untuk menjemput." Ucap sosok itu datar tanpa menjelaskan apapun lagi membuat Menteri Ahn dan sang istri hanya mengangguk pelan.


Tak lama, datang kedua nona muda yang kini wajahnya memerah menahan tangis dan takut. Mereka berdua tidak tahu apakah mereka menyinggung kelompok itu hingga mereka bahkan harus datang ke pavillion.


Dengan wajah memohon, keduanya meminta agar Menteri Ahn tidak menyetujui. Namun, Menteri Ahn hanya menggeleng lemah membuat air mata mengalir dipipi kemerahan kedua gadis itu.


"Yakinlah nona. Pemimpin kami hanya ingin mengundang anda dalam sebuah perjamuan." Ucapan tiba-tiba itu membuat mereka tersentak.


'Perjamuan?' Pikir mereka semua bertanya begitupula para tetangga yang menyaksikan.


***

__ADS_1


__ADS_2