
Xiao Lu dan Mao kini berada di halaman kediaman Pangeran Chen. Dari sini mereka bisa melihat jika Pangeran Jing dan para putri beserta Selir Mei dan Selir Yin tengah membujuk Pangeran Chen agar membuka pintunya.
Xiao Lu menghembuskan nafas pelan. Ia tidak menyangka jika Pangeran imutnya akan merajuk seperti ini. Ia pun melangkahkan kakinya diikuti oleh Mao.
"Selamat siang," sapa Xiao Lu membuat mereka yang tadi tengah membujuk Pangeran Chen menoleh dan menatap Xiao Lu berbinar.
"Lu'er!" Ucap mereka serentak.
Xiao Lu hanya tersenyum tipis melihat binar dimata mereka semua. Ia menggeleng pelan dengan kelakuan tunangan childishnya itu.
"Biar Lu'er yang membujuk Chen-Chen, Ibu." Ucap Xiao Lu pada Selir Mei yang dibalas anggukan.
Mereka semua menyingkir dari pintu membiarkan Xiao Lu mendekati pintu guna membujuk Pangeran Chen. Xiao Lu mengetuk pelan pintu kamar Pangeran Chen.
"Chen-Chen, ini Lulu. Keluarlah." Ucap Xiao Lu lembut.
Tak berapa lama, mereka mendengar suara langkah tergesa dari balik pintu. Pintu pun terbuka menampilkan sesosok pemuda tampan dengan mata sembab dan hidung yang memerah.
"Lu-lu," ucap Pangeran Chen bergetar dan langsung menubruk tubuh mungil Xiao Lu dengan pelukan hangatnya.
Xiao Lu membalas pelukan itu dan mengusap-usap pelan punggung Pangeran Chen yang masih bergetar karena tangis. Selir Mei dan yang lainnya menghela nafas lega saat Pangeran Chen keluar.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis lagi. Lulu sudah ada disini." Ucap Xiao Lu lembut.
"Ta-tapi hiks Lulu kemarin hiks tidak datang-da-tang hiks,"
"Maafkan Lulu ya. Kemarin Lulu sakit perut jadi tidak bisa datang." Ucap Xiao Lu asal. Mana mungkin ia menjawab jujur jika ia tengah membantai sekelompok bandit yang tengah meresahkan warga di perbatasan karena penjagaan yang kurang ketat. Bisa-bisa pangeran imutnya ketakutan.
Pangeran Chen melepaskan pelukannya dan menangkup wajah kecil Xiao Lu. Ia memandang khawatir dan berkaca-kaca pada Xiao Lu.
"Lulu, sakit?" Tanyanya cemas.
"Sudah tidak lagi," balas Xiao Lu dengan tersenyum lebar agar Pangeran Chen tidak cemas lagi.
"Kenapa hm?" Tanya Xiao Lu.
"Chen lapar," rajuknya membuat semua orang tertawa karena hal itu. Apalagi dengan tangan yang menggoyang-goyangkan tangan Xiao yang ada digenggamannya.
"Aigoo~ ternyata pangeran beruang kecilku ini lapar, eoh?" Tanya Xiao Lu sambil terkekeh.
Pangeran Chen mengangguk-anggukan kepalanya semangat sambil tersenyum lebar. Semua orang hanya tertawa geli melihatnya.
"Baiklah. Lulu akan memasakkan makanan spesial untuk kesayangan Lulu," ucap Xiao Lu yang langsung dibuahi pekikkan girang dari Pangeran Chen.
__ADS_1
"Lu'er bisa memasak?" Tanya Selir Mei penasaran begitupun semua orang yang kini menatap Xiao Lu penasaran.
"Tentu saja ibu. Lu'er seorang perempuan. Jadi Lu'er harus bisa memasak supaya bisa memasakkan makanan sehat untuk suami dan anak-anak Lu'er nanti," jawab Xiao Lu membuat semua orang kagum.
Selir Mei tersenyum lebar kala mendengar ucapan calon menantunya. Ia tidak salah pilih calon. Dia benar-benar merasa beruntung mendapatkan calon menantu sperti Xiao Lu.
"Ajarkan aku memasak juga!" Ucap serempak dari ketiga putri itu membuat semua orang kembali terkekeh.
"Tentu, jie jie. Nona manis ini akan menjadi guru memasak kalian," ucap Xiao Lu.
"Aku juga ingin!" Ucap seseorang dibelakang mereka.
Mereka pun membalikkan badan dan mereka bisa melihat Putri Mahkota, Liu Anming yang kini telah berubah tengah tersenyum lebar sambil berjalan mendekati mereka.
"Aku juga ingin belajar, guru!" Tambahnya.
"Ya. Ajarkan kami, guru!" Ucap ketiga putri kembali.
"Haha tentu saja. Guru ini akan mengajari kalian, nona-nona cantik," balas Xiao Lu membuahkan pekikkan senang dari keempat gadis itu dan kekehan dari Pangeran Jung, Selir Mei, Selir Yin, Mao dan para pelayan mereka. Sedangkan Pangeran Chen hanya menatap mereka polos layaknya anak kecil yang terjebak disekeliling orang dewasa.
***
__ADS_1