
Tak terasa, malam pun tiba. Seluruh anggota kediaman Ahn kini tengah bersiap untuk menghadiri acara pesta pertunangan Putra Mahkota dan Nona Muda Pertama kediaman Liu.
"Mao, ini adalah buku tentang herbal. Kau bacalah buku ini supaya nanti kau tidak kesulitan," ucap Xiao Lu pada Mao.
Xiao Lu kini hanya berdua dengan Mao didalam kamarnya. Ia tadi memerintahkan pelayan lainnya untuk menunggu karena ia ingin sedikit memberikan pengetahuan pada Mao. Ia bersyukur jika Mao mampu merahasiakan hal tadi siang dan rencana pembentukan organisasinya kembali. Mao memang orang yang setia dan ia menyukai hal itu.
"Baik, nona. Pelayan kecil ini akan belajar dengan bersungguh-sungguh," ucap Mao serius dan langsung diberi anggukan oleh Xiao Lu.
Xiao Lu pun merapikan rambutnya dengan dibantu oleh Mao. Ia menggelung setengah rambutnya dan ia sematkan tusuk rambut pada gulungan itu.
Xiao Lu sekarang mengenakan hanfu kain sutra sederhana berwarna putih. Ia terlihat sangat cantik dan dewasa. Aura agung dan misterius terpancar dari tubuhnya membuat siapapun akan tunduk.
"Jie jie, apakah kau sudah selesai bersiap? Sebentar lagi kita akan berangkat. Yang lain telah menunggu digerbang," ucap Jing Mi dari depan pintu kamar Xiao Lu.
Xiao Lu yang mendengar itu lantas berdiri dan merapikan sedikit pakaiannya. Saat berdiri, ia terlihat seperti dewi yang turun dari langit dengan hanfu putihnya membuat Mao terkagum-kagum.
"Belajarlah. Besok aku akan mengetes beberapa hal padamu," ucap Xiao Lu pada Mao dan Mao langsung mengangguk mengerti.
Mereka berdua pun beranjak keluar. Saat pintu terbuka, Jing Mi dan para pelayan yang berada disana terperangah akan kecantikan Xiao Lu. Benar-benar seperti dewi.
"Wah jie jie sangat cantik," puji Jing Mi dengan mata penuh dengan binar kekaguman.
"Kau juga cantik, little girl," ucap Xiao Lu sambil mencubit pelan pipi gembil Jing Mi membuat sang empu kesal.
"Lit- li apa?" Tanya Jing Mi bingung. Bahkan para pelayan yang mendengar itu juga bingung.
Xiao Lu tersadar akan ucapannya. Tapi ia tetap menampilkan ekspresi tenangnya beda dengan batinnya yang meringis karena lupa sekarang ia tengah berada dimana.
"Little girl itu sama artinya dengan gadis kecil," jelas Xiao Lu dan dibalas Jing Mi dengan anggukan paham.
"Ayo berangkat," ajak Xiao Lu sambil menggandeng tangan adik kecilnya.
Mereka pun berjalan menuju gerbang dimana keluarga mereka telah menunggu dengan diiringi candaan keduanya.
Di gerbang, terlihat keluarga mereka yang berdiri disamping sebuah kereta kuda yang cantik dan besar. Tak lupa dengan bendera kecil lambang kediaman Jenderal Besar Ahn.
Mereka yang digerbang langsung menatap kagum ke arah kedua gadis muda yang tengah bercanda itu. Xiao Lu sangatlah bercahaya dengan hanfu putihnya disertai senyum manis membuat siapaun terpesona.
Xiao Lu memang selalu tampak cantik walaupun memakai hanfu sederhana. Dan saat ia memakai hanfu berwarna putih ini, ia benar-benar layaknya dewi.
Tak beda jauh dengan sang kakak, Jing Mi sang adik juga terlihat imut dengan hanfu motif bunga berwarna merah muda. Ditambah dengan rambut yang diberi jepitan bunga membuat ia semakin imut dengan pipi gembil berdemu merah itu.
"Aku tau kami berdua cantik. Tapi, bisakah kita berangkat sekarang agar tidak terlambat?" Gurau Xiao Lu saat melihat keterbengongan mereka membuat Jing Mi terkekeh geli saat melihat kakak dan sepupunya yang melongo dengan bibir yang terbuka.
"Eh," mereka langsung saja tersadar dari keterkaguman mereka.
"Kalian sangat cantik. Putri jenderal ini memang yang terbaik," puji Jenderal Ahn membuat kedua gadis itu tersipu.
"Aku juga cantik paman!" Ucap keras Shuwan yang kini berdiri disamping kedua sepupunya itu sambil menggembungkan pipinya kesal ke arah sang paman.
Shuwan juga tak kalah dengan kedua sepupunya. Ia memakai hanfu berwarna biru muda dengan motif bunga kecil dipinggangnya. Rambutnya ia urai setengah seperti Xiao Lu hanya saja ia hanya mengikat rambutnya tidak menggelungnya. Ia juga menusukan tusuk rambut kecil bermotif bunga menambah kadar kecantikannya.
Mereka semua terkekeh geli melihat kelakuan Shuwan. Shuwan memang selalu menjadi pencair suasana.
"Ya. Nona muda kediaman Ahn memang selalu cantik dan terbaik." Ucap sang Jenderal yang langsung dibenarkan Menteri Ahn dan Guang Ho.
"Sudah. Mari kita berangkat," ucap Xin Hua.
__ADS_1
"Kalian bertiga, cepat masuk ke kereta," perintah wanita paruh baya itu pada ketiga gadis itu dan langsung dituruti oleh mereka.
Sedangkan untuk para pria, mereka menaiki kuda masing-masing dan berjalan didepan kereta. Mereka juga menempatkan dua prajurit terlatih dibelakang kereta untuk menjaga para wanita. Sedangkan untuk pelayan, mereka tidak bisa membawa para pelayan karena para pelayan biasanya akan melaksanakan pesta kerajaan di ibukota bersama rakyat.
•••
Tak terasa, kini mereka telah berada digerbang istana. Mereka pun berhenti tepat di persimpangan kereta dan mulai turun.
Keluarga Jenderal tidak menjadi pusat perhatian karena hanya sedikit orang yang berada disini. Mereka memang agak telat karena ada kendala sedikit pada roda kereta saat diperjalanan tadi.
Satu per satu wanita yang dikereta pun turun. Hingga orang terakhir turun membuat para penjaga dan beberapa orang disana terpesona melihat ke arah gadis cantik bak dewi dengan hanfu putih dan riasan tipis itu. Sedangkan sang empu, hanya menatap mereka datar.
Keluarga Ahn hanya menggeleng melihat kejadian itu dan tak ambil pusing karena mereka juga tahu jika Xiao Lu yang sekarang hanya akan bersikap hangat pada keluarganya saja dan akan menjadi dingin tak tersentuh pada orang lain.
Mereka pun mulai berjalan menuju aula tanpa memperdulikan tatapan orang lain. Mereka bersikap tenang dan menunjukan aura agung yang membuat siapa pun tidak berani menatap lama ke arah mereka.
Jenderal Ahn dan Menteri Ahn berada dijajaran paling depan diikuti Jing Mi yang diapit oleh Shuwan dan ibunya. Lalu terakhir adalah Xiao Lu yang bersisian dengan sang kakak, Guang Ho.
Guang Ho yang melihat ketenangan adiknya tersenyum lembut dan mengusap pelan rambut adiknya agar tidak merusak tatanan rambut itu.
Xiao Lu menoleh saat merasakan usapan sayang kakaknya. Ia pun balas tersenyum ke arah Guang dan secara tiba-tiba, langsung saja menggandeng tangan Guang Ho manja membuat Jing Mi dan Shuwan cemberut cemburu dan Xiao Lu pun memeletkan lidahnya dan terkikik geli.
Guang Ho dan yang lainnya hanya menggeleng geli ke arah tiga gadis yang mereka sayangi. Kelakuan mereka memang selalu terlihat menggemaskan jika sedang bersama.
"Jie jie curang," ucap Jing Mi dan Shuwan sebal membuat Xiao Lu semakin terkikik.
"Kalian ini," ucap sang bibi yang hanya bisa tersenyum geli akan kelakuan ketiga gadis itu.
Mereka akhirnya sampai didepan pintu aula. Penjaga yang melihat mereka sedikit membungkuk hormat pada Jenderal dan Menteri Ahn. Penjaga pun mengumumkan kedatangan mereka membuat semua orang yang ada diaula menatap langsung ke arah pintu yang terbuka.
"JENDERAL AHN DAN MENTERI AHN BESERTA KELUARGA, TELAH TIBA..." umum penjaga tersebut.
Para pejabat dan bangsawan yang melihat itu langsung terkagum-kagum dan sedikit tanda tanya saat melihat ketiga gadis keluarga Ahn lebih tepatnya pada Xiao Lu yang baru pertama kali mereka lihat.
"Apa itu nona pertama kediaman Ahn?"
"Benarkah dia mantan calon Putri Mahkota?"
"Ku dengar, dia sangat jelek dan bodoh hingga membuat Putra Mahkota tak puas dan melepas dekrit pertunangan dan memilih nona muda kediaman Liu."
"Itu pasti nona pertama kediaman Ahn. Karena setahuku, kediaman Ahn hanya mempunyai tiga nona muda dan satu tuan muda yaitu Jenderal Muda Guang Ho yang ada disamping gadis itu,"
"Atau mungkin, itu tunangan Jenderal Guang Ho. Karena katanya nona muda pertama itu sangat jelek tapi dia bagaikan dewi,"
"Ya sepertinya begitu,"
Xiao Lu tak ambil pusing akan ocehan para manusia itu. Ia terus saja memasang wajah datar penuh ketenangan berbeda dengan keluarganya yang menahan geram karena menjelek-jelekkan Xiao Lu.
"Sudahlah, biarkan mereka mengoceh. Jangan terpancing emosi," ucap Xiao Lu pelan dan hanya bisa didengar oleh keluarganya.
Keluarganya pun menghembuskan nafas pelan dan mencoba untuk bersikap tenang. Mereka pun duduk dikursi yang disediakan untuk keluarga Jenderal yang disatukan dengan Menteri Ahn. Meja itu tepat disebelah kiri tidak jauh dengan keluarga kerajaan karena status mereka yang sangat dihormati.
Xiao Lu duduk disamping Guang Ho diikuti Jing Mi disebelah kiri Xiao Lu lalu Shuwan disamping Jing Mi, Bibi Hua disamping Shuwan diikuti oleh Paman Mo dan terakhir adalah ayahnya.
Meja mereka berbentuk setengah lingkaran dengan potongan lingkaran yang menghadap keluarga kerajaan.
Mereka masih menjadi pusat perhatian dan perbincangan membuat keluarga Menteri Liu jengkel karena merekalah yang seharusnya menjadi bintang utama karena putri mereka akan menjadi calon Ratu masa depan Kerajaan Wen.
__ADS_1
"YANG MULIA RAJA DAN RATU BESERTA IBU SURI MEMASUKI AULA.."
"YANG MULIA PUTRA MAHKOTA MEMASUKI AULA.."
"PANGERAN KE-3 DAN PUTRI PERTAMA, KEDUA DAN KETIGA BESERTA SELIR KEDUA MEMASUKI AULA.."
Mereka yang mendengar itu langsung saja berdiri dan membungkukkan badan mereka ke arah keluarga kerajaan.
"Salam kepada Yang Mulia Raja, Ratu, Ibu Suri, Selir kedua, Putra Mahkota, Pangeran Ketiga, Putri Pertama, Putri Kedua, dan Putri Ketiga. Semoga Yang Mulia Raja dan Ratu beserta keluarga kerajaan selalu sehat dan panjang umur," ucap mereka serentak saat keluarga kerajaan melangkah menuju tempat duduk mereka masing-masing.
Raja Zhao pun duduk disinggasananya diikuti oleh keluarga kerajaan lainnya. Disebelah kiri Raja duduklah sang Putra Mahkota yang mempunyai wajah tampan, Zhao Yang. Putra Mahkota kini berusia 23 tahun dan menjadi pria idaman seluruh rakyat Kerajaan Wen kecuali keluarga Ahn yang memang tidak tertarik dan tak menaruh minat kearahnya. Terlebih saat kelakuannya dalam memutuskan dekrit pertunangan membuat Xiao Lu mencoba bunuh diri.
Disamping kanan duduklah Ratu Li dan disampingnya duduk seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu Suri. Disamping Ibu Suri, terdapat kursi kosong yang menjadi tempat duduk selir pertama yang biasa dipanggil Selir Mei dan disampingnya adalah tempat duduk selir kedua, yaitu Selir Yin diikuti tempat duduk Putri ketiga, Zhao Fung yang baru berusia 17 tahun. Dan disamping Putri Ketiga, terdapat kursi kosong untuk Calon Putri Mahkota, Liu Anming yang kini masih duduk bersama keluarganya.
Disamping Putra Mahkota, terdapat tempat duduk untuk Pangeran Kedua, Zhao Chen, pemuda 20 tahun yang mempunyai sebuah kelainan karena sifatnya yang terus seperti anak kecil namun Zhao Chen tetap disayangi oleh keluarga kerajaan meskipun dengan kondisinya yang berbeda. Disampingnya terdapat kursi yang telah diduduki oleh Pangeran Ketiga, Zhao Jing yang berusia 18 tahun dan diikuti oleh Putri Pertama, Zhao Ping yang berusia 20 tahun dan disampingnya adalah tempat duduk Putri Kedua, Zhao Ning yang berusia 18 tahun.
Sang Ratu mempunyai satu putra dan satu putri, yaitu Zhao Yang si Putra Mahkota dan Zhao Ning si Putri Kedua.
Selir Mei mempunyai dua putra yaitu Zhao Chen sang Pangeran Kedua dan Zhao Jing sang Pangeran Ketiga.
Selir Yin mempunyai dua putri cantik yaitu, Zhao Ping Putri Pertama dan Zhao Fung Putri Ketiga.
Xiao Lu tidak menatap ke arah keluarga kerajaan. Kini, ia beserta adik dan sepupunya tengah asik mencicipi kue-kue cantik yang berada dihadapan mereka dengan antusias.
Keluarga mereka hanya tersenyum kecil melihatnya. Disaat para nona muda bersikap anggun dan hati-hati, mereka bertiga justru tidak memperdulikan itu. Mereka makan dengan apa adanya tanpa dibuat-buat agar terlihat anggun.
Dan kelakuan mereka itu tak luput dari penglihatan sang Ibu Suri beserta Selir Kedua yang terkekeh geli melihat kelakuan menggemaskan mereka dengan pipi yang menggembung penuh makanan.
"Mereka menggemaskan, Yin'er," bisik Ibu Suri pada Selir Yin.
"Anda benar. Andai saya mempunyai seorang putra, saya akan mengajukan lamaran pada salah satunya," balas Selir Yin.
"Apakah, itu nona muda pertama kediaman Ahn yang ditolak mentah-mentah oleh Ying?" Bisik lagi Ibu Suri.
"Selir ini tidak tahu Yang Mulia. Bisa saja itu adalah tunangan Jenderal Muda Ahn. Apalagi banyak rumor tak sedap tentang nona pertama Jenderal," ujar Selir Yin yang langsung diangguki oleh Ibu Suri.
"SELIR PERTAMA DAN PANGERAN KEDUA MEMASUKI AULA.."
Pengumaman itu langsung saja membuat ketiga nona muda Kediaman Ahn tersedak karena kaget membuat Guang Ho dan Bibi Hua langsung menepuk punggung ketiga gadis itu membuat Ibu Suri dan Selir Yin menahan tawa.
"Salam kepada Selir Pertama dan Pangeran Kedua," ucap serempak para tamu yang dibalas senyuman oleh Selir Mei.
Selir Mei yang cantik itu tengah menggenggam lembut putra pertamanya yang tak lain adalah Zhao Chen si Pangeran Berkelainan. Pangeran Chen terlihat menundukkan wajahnya dan menggenggam kuat tangan sang ibu. Ia terlihat sangat ketakutan. Dan hal itu sukses membuat Xiao Lu menatapnya.
Pangeran Chen sangat tampan bahkan lebih tampan dari Putra Mahkota. Tubuhnya memang lebih kecil sedikit dari Putra Mahkota, namun jika ia berlatih, ia pasti sangat gagah dan keren.
Pangeran Jing yang melihat ibu dan kakaknya langsung saja beranjak menghampiri mereka.
"Kakak kedua, ayo duduk bersama Jing, ibunda akan duduk bersama ibunda Yin," ujar Pangeran Jing.
Pangeran Chen mendongkak dan menatap adiknya itu. Ia pun menatap sang ibu dan Selir Mei mengangguk sambil tersenyum.
"Pergilah bersama Jing'er. Ia akan menemanimu. Disana juga ada kakak Ying dan adik Ping dan Fung," ujar sang ibu sambil mengusap kepala Pangeran Chen.
Pangeran Chen pun mengangguk kecil meskipun ragu. Ia melepaskan genggaman tangan pada ibunya dan menyambut uluran tangan sang adik. Pangeran Jing dan Selir Mei tersenyum lembut ke arah Pangeran Chen. Mereka pun beranjak menuju tempat duduk masing-masing.
"Tampan," gumam spontan Xiao Lu yang membuat keluarganya melongo menatap Xiao Lu yang masih tak mengalihkan tatapannya pada Pangeran Chen.
__ADS_1
***