Time Slip : Xiao Lu

Time Slip : Xiao Lu
Penculikan


__ADS_3

Malam yang dingin menyapa. Malam itu di kediaman jenderal sangatlah sunyi. Cahaya kediaman sangat redup. Kesunyian itu membuat orang berpikir jika tidak ada siapapun di kediaman ini.


Sekelompok orang tiba-tiba melompati atap dan berhenti tepat disalah satu paviliun dikediaman jenderal. Mereka mengernyit heran karena tidak ada siapapun yang berjaga. Bahkan, saat mereka datang, mereka tidak melihat satu orang pun yang berpatroli kecuali penjaga yang menjaga di gerbang depan.


"Ketua, kenapa disini sangat sunyi?" Bisik salah satu dari mereka.


"Entahlah. Lagipula, kita hanya menerima tugas untuk menculik nona pertama. Lebih baik kita segera bergegas sebelum ada lebih banyak orang." Ucap orang yang dipanggil ketua tadi.


Setelah mengatakan itu, mereka segera bergegas menuju paviliun. Mereka membagi tugas siapa yang akan masuk dan menculik lalu yang lain akan berjaga diluar.


Dalam bayangan kegelapan, terdapat banyak pasang mata yang menatap tajam ke arah kelompok itu. Mata yang menyorot tajam itu berubah menjadi iba seiring melihat kelompok orang itu pergi setelah membawa sosok iblis yang tidak sadar- ahh.. lebih tepatnya berpura-pura tidak sadar.


"Bodoh. Meracuni si iblis racun adalah hal terbodoh." Bisik salah satu dari orang di kegelapan.


"Diamlah. Aku sedang mencoba untuk tidak tertawa sekarang. Pfft.." Bisik orang disebelahnya sambil menutup mulutnya dengan tangan dan sangat terlihat jika ia benar-benar tidak bisa menahan tawa yang akan keluar.

__ADS_1


"Ayo bertaruh berapa lama mereka akan bertahan." Bisik seorang pria dengan mata jenaka.


"Aku tidak tahu jika pangeran bisa berpikir tentang bertaruh." Ucap pelan dari seorang gadis kecil dibelakangnya.


"Sekali-kali mungkin tidak apa. Lagipula, ini akan menyenangkan." Balas pria itu sambil mengangkat bahu.


"Jika saat kita tiba mereka masih hidup, aku akan melakukan apapun. Dan sebaliknya. Jika mereka sudah tewas, kalian yang harus melakukan apapun yang diperntahkan oleh pihak yang menang." Ucap salah satu pria itu.


"Kalau begitu, tim perempuan akan bertaruh jika mereka masih hidup. Dan tim laki-laki bertaruh jika mereka sudah mati." Ucap seorang gadis sambil menyeringai.


"Tidak ada penolakan." Jawab acuh gadis itu.


"Nah, ayo bersiap." Tambahnya sambil berbalik diikuti tiga perempuan lainnya.


"Oh, ngomong-ngomong, menurut Lulu, perempuan itu selalu benar. Dan laki-laki yang tidak mau mengalah dengan perempuan hanya karena hal sepele berarti mereka bukan laki-laki." Ucap gadis lainnya yang berwajah lembut.

__ADS_1


"Ingat jika laki-laki sejati tidak akan pernah menarik kembali apa yang mereka katakan sebelumnya." Ucap gadis paling muda yang diangguki oleh tiga gadis lainnya dan mereka pun berlalu pergi meninggalkan empat pria yang hanya diam melongo.


"Mereka jadi seperti Lulu." Ucap pria yang paling dewasa diantara mereka.


"Yah.. semua orang yang berhubungan dengan Lulu pasti akan gila sepertinya." Ucap pria lain tak berdaya.


"Tolong berkaca." Ucap serentak tiga pria lainnya dan mereka bertiga pergi meninggalkan pria yang kini berkedip bingung.


"Apa ada yang salah?" Gumamnya sambil menggaruk kepalanya. Tak lama..


"ASTAGA!! Aku juga sekarang bawahan Lulu! Jika begitu, AKU MENGATAKAN GILA PADA DIRIKU SENDIRI!!" pekiknya. Dari kejauhan, terdengar suara tertawa yang sudah ia pastikan jika itu adalah rekannya.


"Sialan!" Rutuknya sambil berjalan menyusul rekan-rekannya yang kini masuk ke paviliun besar di kediaman jenderal.


***

__ADS_1


__ADS_2