
Saat Rendi hendak pergi ke kantornya, tiba-tiba ia melihat Khumaira yang terjatuh tak sadarkan diri.
"Khumaira! " Teriaknya.
Gegas Rendi berlari, dan menghampiri Khumaira yang sudah pingsan.
"Khumaira. Bangulah!! " Ujarnya.
Tanpa menunggu lagi, Rendi pun segera membawa Khumaira ke rumah sakit menggunakan mobilnya.
Di dalam perjalanan Rendi menelpon Brian. [ Hallo, Brian. Kosongkan jadwal saya untuk hari ini. Istri saya sedang sakit, dan saya harus membawanya ke rumah sakit! ] Tuturnya.
Rendi segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Khumaira langsung saja di tangani oleh Dokter dan Rendi menunggunya di luar ruangan.
Tak berapa lama kemudian Dokter terlihat keluar dari ruangan. Rendi bergegas menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Khumaira, Dok? " Tanya Rendi.
Dokter menampilkan wajah yang berbinar, dan mengucapkan selamat pada Rendi atas kehamilan Khumaira. Namun ekspresi yang di tampilkan oleh Rendi lain, ia nampak bertanya-tanya mengapa Khumaira bisa hamil?
"Apa maksudmu, Dokter? " Tanya Rendi penuh tanya.
"Iya, pasien sedang hamil! " Sahutnya di sertai senyum.
Rendi benar-benar syok sekaligus kaget mendengar penuturan dari Dokter, ia sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Apa. Hamil? Bagaimana mungkin? Kau pasti sedang bercanda, kan? " Ucap Rendi masih tak percaya.
Dokter pun mengernyitkan keningnya heran. " Lho, kenapa tidak mungkin? Bukankah, Anda Suaminya? Lalu, kenapa Anda tidak yakin bahwa dia hamil? " Ujar Dokter yang tak mengerti dengan pola fikir Rendi.
Rendi menyugar rambutnya kasar, percuma ia menjelaskannya pada seseorang yang tidak mengerti akan Masalah ini. Memang ia adalah Suami Khumaira, namun Rendi sama sekali belum menyentuhnya. Lalu, anak siapa yang tengah di kandung oleh Khumaira? Ini menjadi poin penting, sekaligus masalah yang harus ia pecahkan!
Rendi segera masuk ke dalam ruangan Khumaira. Ia pun menatap wajah Khumaira dengan lamat, ia tak sabar menunggu Khumaira sadar dan ingin menanyakan siapa Ayah dari Anaknya tersebut.
"Aku akan menemukan jawabannya setelah kau sadar, Khumaira! " Ujarnya.
__ADS_1
Rendi duduk di sebuah sofa yang berada di ruangan tersebut, sebab jenuh ia pun memainkan ponselnya tiba-tiba sebuah panggilan masuk.
Rendi menatap layar ponselnya dengan malas, kala melihat nama yang tertera. " Untuk apa lagi dia menghubungiku? " Ucapnya malas.
Rendi membiarkan ponselnya terus saja berdering, namun makin Rendi abaikan Nuri semakin mengganggunya akhirnya Rendi menjawab teleponnya.
"Hallo, ada apa lagi? Apa kau tidak bosan menggangguku? " Ujar Rendi.
"Gini lho, Ren. Yoga ingin membeli sepatu dan harganya... "
"Katakan. Berapa yang kau minta? " Ucap Rendi memotong ucapan Nuri.
Rendi begitu muak mendengar suara Nuri yang selalu meminta uang padanya, hingga tanpa fikir panjang lagi Rendi pun mengirimkan sejumlah uang yang Nuri minta.
Sementara di seberang sana Nuri begitu senang, dan bahagia karna bisa menghasilkan uang dengan mudah dari Rendi lewat Yoga, padahal Yoga bocah 5 tahun yang belum mengerti apapun.
"Bagus, Rendi. Ayo keluarkan uangmu untuk ku! " Ucapnya senang.
Rendi benar-benar muak dengan tingkah Nuri, semakin hari ia semakin memerasnya. Rendi tak akan membiarkan Nuri terus menerus memeras dirinya.
"Tunggu saja hari itu tiba, Nuri. Kau akan menangis darah! " Gumamnya.
"Kau sudah bangun? Baguslah. Sekarang jawab pertanyaan ku? Siapa Ayah dari Anak yang kau kandung? " Ujarnya tanpa basa basi, dan dengan sorot mata tajam setajam silet.
Khumaira yang baru sadar langsung saja membelalakan matanya, ia pun menggelengkan kepala. Khumaira juga sama kagetnya dengan Rendi kala mendengar kenyataan ini.
"Katakan, Khumaira Putri. Siapa Ayah dari mu itu? " Ucapnya penuh penekanan.
Bukannya menjawab ucapan Rendi, Khumaira malah menangis sembari menggelengkan kepalanya. Khumaira masih tak percaya bahwa kini dirinya tengah mengandung.
"Tidak. Ini tidak mungkin? Bagaimana bisa aku melaluinya? " Ucapnya lirih.
Rendi yang mendengar, dan menyaksikan Khumaira bersedih hanya memalingkan wajahnya. Ia pun begitu muak dengan sandiwara yang di tunjukan oleh Khumaira. Rendi mulai mendekati Khumaira, lalu mengguncang tubuhnya mencari jawaban atas pertanyaannya. " Hentikan sandiwara mu, Khumaira! Katakan siapa Ayah Anak haram itu? " Gertak Rendi dengan intonasi tinggi, kali ini Rendi tak bisa lagi bersabar.
Khumaira menangis, dan menatap Rendi yang menatapnya amat tajam seolah-olah ingin memangsanya. " Anak ini adalah... " Khumaira tak kuasa mengatakan hal yang sejujurnya hingga akhirnya ia tak melanjutkan ucapannya, namun hal itu sungguh membuat Rendi semakin muak dan naik pitam.
"Siapa. Khumaira!!! " Bentaknya.
__ADS_1
Khumaira menetralnya perasaannya. " Renda! " Ucapnya lirih.
Alangkah kagetnya Rendi mendengar jawaban yang keluar dari mulut Khumaira, untuk beberapa saat Rendi sempat terpaku dan menatap Khumaira tak percaya. "Apa? " Gumamnya.
Rendi mengusap wajahnya gusar, bagaimana mungkin ini terjadi sementara Renda telah tiada? Kini, tanggung jawab Rendi bukan lagi Khumaira, tapi juga Anak dalam kandungannya.
"Ren. Apa yang kau lakukan? " Batinnya seraya menatap Khumaira lekat, Rendi dapat melihat sebuah kejujuran dari sorot mata Khumaira.
Rendi tak tahu apa yang harus ia katakan pada Khumaira, ia menyesal telah menbentak Khumaira tadi namun sebuah kekecewaan tergambar jelas dari wajah tampan Rendi.
Rendi keluar dari ruangan Khumaira tanpa sepatah katapun. Entah langkah apa yang akan di lakukan Rendi selanjutnya? tanggung jawab yang Renda pikulkan begitu berat baginya.
"Hukuman apa lagi ini, Tuhan. " Gumamnya seraya melangkah pergi menjauh dari ruangan Khumaira.
Rendi menelusuri lorong rumah sakit dengan perasaan yang tak menentu. Rendi bingung dengan keadaan yang saat ini ia hadapi.
"Apa yang harus aku lakukan? " Ujarnya gelisah.
Rendi benar-benar dalam dilema yang besar, di sisi lain ia kecewa tapi di sisi lain Khumaira adalah tanggung jawabnya begitu pula dengan anak yang dia kandung. Seandainya, Renda masih ada mungkin ini akan menjadi tanggung jawabnya.
Rendi keluar dari rumah sakit, dan duduk di tepi jalan yang cukup banyak kendaraan hilir mudik.
Rendi merenungi keputusan apa yang akan ia ambil selanjutnya.
"Bersabarlah dalam setiap cobaan. Kau harus yakin, tuhan memberikan cobaan ini semata-mata hanya untuk menguji hambanya. Ambil-lah keputasan yang menurutmu baik, tapi tidak dengan tergesa sebab bisa merugikanmu!! " Ucap seseorang tiba-tiba.
Rendi menoleh ke asal Suara, terlihat seorang Nenek tua tengah duduk di sampingnya sembari tersenyum ke arahnya.
"Apa maksud ucapanmu, Nek? " Tanya Rendi.
Rendi tak dapat mengerti apa yang Nenek tua itu sampaikan padanya.
Nenek Tua itu hanya tersenyum. " Bukankah Kau yang menentukan jalan hiudpmu sendiri? " Tanyanya.
Rendi mengangguk. " Ya, itu benar! " Sahutnya.
Lagi-lagi Nenek Tua itu tersenyum. " Nah, terkadang kita harus menentukan sebuah nasib yang kita inginkan lewat perantara Tuhan. Jika wanita itu tengah mengandung benih saudaramu, dan kau di titipkan akan hal itu maka sebaiknya kau jalani saja. " Ucapnya.
__ADS_1
Deghhh ....
Rendi heran, mengapa Nenek Tua itu tahu semua ini? apakah dia peramal? saat Rendi hendak menatapnya namun tiba-tiba Nenek tua itu telah pergi entah kemana.