
Jhon tak tahu bagaimana kabar terkini tentang Rendi, ia tak lagi mencari tahu sebab keadaan masih belum benar-benar pulih di tambah banyaknya permintaan baranh dari luar daerah sehingga membuatnya benar-benar kewalahan.
"Oke. Saya akan kirimkan barangnya segera! " Ujarnya.
Jhon yang benar-benar pusing dengan permintaan pelanggan yang membludak, bagaimana tidak? Sebab saat ini barang-barang yang Jhon minta masih belum di kirim oleh Supplier.
"Gio. Cepatlah kemari!! " Teriaknya.
Gio pun segera menghadap Jhon. " Iya, Pak. Ada apa? " Jawabnya.
"Bagaimana ini, Gio. Mana barang yang sudah aku pesan? Lihatlah, permintaan semakin banyak!! " Ujarnya.
Gio pun mencoba mengubungi pemasok barang tersebut, namun jawaban yang sama yang selalu Gio dengar yaitu, mohon bersabar!
Gio pun memberitahu Jhon prihal ucapan si pemasok barang.
Kini ekspresi Jhon pun berubah seketika menjadi sebuah ketegangan. " Bagaimana bisa terjadi? Ah, kau tak becus bekerja Gio! " Ujarnya marah, kemudian Jhon pun berlalu pergi dari ruangannya.
Jhon menaiki mobilnya dan melajukannya mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rasanya sebuah nyawa tak lagi berarti baginya sehingga Jhon berkendara dengan ugal-ugalan.
Hingga tanpa sengaja Jhon pun hendak menabrak seseorang. "Awas!! " Teriaknya.
"Ahhhhh!!! " Teriak seorang wanita seraya menutup wajahnya menggunakan jemarinya.
beruntung, Jhon pun segera menghentikan mobilnya, ia pun terlihat menghela nafasnya dan bergegas turun dari mobilnya untuk melihat kondisi wanita yang dia tabrak.
"Kau tak apa-apa, Nona? " Tanyanya khawatir.
"Tidak. Saya tidak apa-apa! " Sahutnya sembari berbalik ke arah Jhon.
Alangkah terkejutnya Jhon kala melihat wanita di hadapannya, ia adalah seorang wanita yang kemarin ia temui di rumah sakit itu. " Kau!! " Ucapnya sembari tersenyum.
Sementara Wanita itu hanya mengernyitkan keningnya heran. " Ya, apa kita pernah saling kenal? " Tanyanya heran.
"Perkenalkan aku Jhon. Aku yang kemarin kamu tabrak! " Ujarnya.
Wanita itu mengingatnya, dan baru menyadari. " Oh, iya, Aku baru ingat. Hy, Jhon. Salam kenal! " Ucapnya seraya mengulurkan tangannya.
Jhon pun menerima uluran tangan itu. Hal yang tak pernah Jhon lakukan selama hidupnya. Jhon yang selalu terlihat Cuek, dingin dan penuh misteri namun di hadapan wanita ini kini Jhon berubah dengan drastis.
"Siapa namamu? " Tanya Jhon tak hentinya Tersenyum kala melihat wanita itu.
Wanita itu pun tersenyum. " Khumaira! " Sahutnya.
__ADS_1
"Nama yang indah, seindah orangnya! " Pujinya.
Ya, wanita itu adalah Khumaira namun Jhon tidak mengetahui bahwa Khumaira adalah Istri dari musuh bebuyutannya.
Tak berapa lama kemudian Khumaira pun berpamitan pergi, Jhon terlihat tak rela Khumaira pergi namun Jhon pun tak mampu melarangnya untuk pergi.
"Khumaira, Khumaira. " Gumamnya, kini Khumaira yang selalu ada dalam fikiran Jhon. Hanya Khumaira bahkan nampaknya Jhon telah jatuh hati pada sosok Khumaira.
Ini pertama kalinya Jhon merasakan sebuah getaran dalam jiwanya, sebuah rasa yang menurutnya aneh. Mungkinkah ini yang di namakan cinta? Entahlah!
Jhon selalu tersenyum kala mengingat wajah Khumaira yang begitu manis dan cantik. Ingin rasanya Jhon melihat wajah itu setip hari. Bahkan Jhon lupa dengan masalah-masalah yang saat ini ia hadapi.
Gio yang menyaksikan Bosnya senyum-senyum sendiri terlihat bergidik ngeri. " Ad apa dengannya? Apa dia kerasukan? " Gumamnya.
Gio pun menghampiri Jhon, dan beberapakali memanggil namanya namun sepertinya Jhon tengah larut dalam imajinasinya. " Pak, Pak!! Hallo! " Panggilnya.
Gio pun menghela nafasnya, dan berlalu pergi dari hadapan Jhon. Gio membiarkan Jhon larut dalam fikirannya lebih dulu.
"Mungkin stresnya Sedang kambuh! " Gumamnya.
Entah, mengapa wajah Khumaira yang selalu hadir dalam fikiran Jhon? Seakan wajah itu telah membiusnya.
Keadaan Rendi yang kian hari semakin memburuk, apalagi Brain mengira bahwa ada seseorang yang berusaha membunuh Rendi sehingga ia pun menyuruh beberapa anak buahnya untuk menjaga ruangan Rendi.
"Saya Vio, dan ini Jerry. Kami di tugaskan untuk menjaga Pak Rendi! " Ujarnya.
Khumaira pun segera menghubungi Brain, guna menanyakan apakah benar mereka semua adalah suruhannya.
"Hallo, Brain! Apa benar kau menyuruh seseorang untuk menjaga Mas Rendi? " Tanya Khumaira.
"Ya, Bu. Mohon maaf jika saya tidak memberi ibu soal ini! " Sahutnya.
Kemudian Khumaira mematikan teleponnya, kala sudah jelas dan pasti bahwa mereka bukan orang jahat.
Khumaira juga was-was takut terjadi hal-hal yang tak di inginkan terulang kembali.
Dokter terus mengecek keadaan Rendi tiap 1 jam sekali. Apakah ada perubahan atau tidak? Namun sejak 1 hari ini keadaan Rendi bukannya membaik namun malah semakin melemah.
"Dok, apakah saya boleh menemui suami saya? " Tanya Khumaira.
Dokter pun mengangguk, dan memberikan waktu tertentu. "Silakan, tapi ingat jangan lama-lama! " Ujarnya.
Khumaira masuk dan duduk di kursi tepat di samping Rendi. Ia pun memegang jemari Rendi, kemudian menciumnya beberapa kali. "Mas. Bangunlah! " Ucapnya lirih.
__ADS_1
Menyaksikan keadaan Rendi yang kian hari kian memburuk membuat Khumaira begitu rapuh, dan sedih.
Khumaira selalu berharap bahwa Rendi akan benar-benar pulih sehingga mereka bisa berkumpul kembali seperti dulu.
1 jam berlalu, akhirnya Gio kembali ke ruangan Jhon. "Sudah selesai dengan dunia imajinasi mu, Bos? " Celetuknya.
Jhon melirik Gio dengan tatapan heran. " Apa maksudmu? " Tanyanya.
Gio pun menghela nafasnya sejenak. " Kau tadi sepertinya tengah berimajinasi. Aku tak tahu apa yang kau bayangkan? " Sahutnya.
Gio pun menceritakan segalanya pada Jhon, bahwa 1 jam yang lalu ia ke ruangan Jhon untuk menyampaikan bahwa pesanan mereka akan segera tiba esok pagi.
"Kenapa kau tak bilang sejak tadi? " Ujar Jhon.
"Bukankah aku sudah bilang. Tadi kau sedang melamun, Bos! " Sahutnya.
Gara-gara memikirkan Khumaira, Konsentrasi Jhon menjadi berantakan seperti ini.
"Memangnya apa yang kau fikirkan tadi? " Tanya Gio.
"Tidak ada! " Sahut Jhon.
Tak mungkin Jhon mengatakan hal yang sebenarnya, bisa saja Gio malah akan menertawakannya sebab Gio tahu bahwa Jhon adalah Pria yang Anti Wanita.
"Pasti wanita, kan? " Tebaknya.
Sontak saja Jhon pun menggeleng. " Jangan sok tahu! " Ujarnya.
Gio tersenyum. " Tentu saja aku tahu. Kau memikirkan wanita yang kau temui di rumah sakit itu, kan? " Celetuknya.
Sontak saja Jhon pun membulatkan matanya dengan sempurna. " Apa. Dari mana kau tahu? " Ujarnya kaget sekaligus penasaran.
Sebenarnya Gio tak sengaja melihat Jhon sedang berada di rumah sakit, saat Gio hendak menghampirinya tiba-tiba Jhon di tabrak oleh seorang wanita dan Gio melihat tatapan yang berbeda dari wajah Jhon sehingga Gio menyimpulkannya menjadi sebuah cinta.
Jhon pun membulatkan matanya, kala Gioe ceritakan segalanya. Beberapa kali Jhon berusaha menelan salivanya dengan susah payah. " Apa! Jadi kau tahu segalanya? " Tanyanya.
Gio pun mengangguk, dan menampilkan deretan gigi putih nan rapihnya. " Aku tak habis fikir saja wanita seperti itu menjadi idamanmu! " Ujarnya.
Mendengar ucapan Gio, sontak saja Jhon menjitak kepalanya. " Kau! Jangan coba-coba! " Ancamnya.
Sementara Gio, ia hanya meringis sembari memegangi kepalanya. " Sakit, bos! " Ujarnya.
Jhoj sendiri tak tahu kenapa dirinya bisa jatuh hati pada Khumaira? Seorang wanita yang menurut sebagian orang biasa saja, namun di mata Jhon Khumaira sungguh luar biasa.
__ADS_1