
Khumaira tengah menyiapkan makan siang untuk Rendi, namun Rendi tak kunjung pulang ke rumah.
"kemana Mas Rendi, ya, ko jam segini masih belum pulang juga? ". Gumamnya.
Selesai memasak Khumaira pun duduk di kursi makan, dan memilih beristirahat sejenak untuk selanjutnya bersih-bersih rumah.
Khumaira clingukan sejak tadi pagi dirinya sama sekali tidak melihat Yoga. " Kemana Yoga? Sejak pagi aku tak melihatnya! " Ujar Khumaira.
Khumaira pun mencari keberadaan Yoga ke seluruh penjuru rumahnya, namun Khumaira tak menemukan keberadaan Yoga. " Kemana anak itu? " Gumamnya.
Khumaira pun mencoba mencari Yoga di luar rumah, berharap ia bisa menemukannya.
"Yoga!! " Teriaknya tanpa henti.
Kemudian Khumaira bertanya pada orang-orang lewat prihal Yoga, namun tak ada yang menemukannya. Kemudian Khumaira terus mencarinya hingga ia menemukan Yoga yang tengah berdiri di sebrang jalan.
"Yoga!! " Teriak Khumaira.
Yoga pun menoleh ke arah Khumaira, ia pun tersenyum dan hendak menyerang jalan namun tiba-tiba sebuah mobil hitam dari arah berlawanan melaju dengan sangat kencang dan kemudian Yoga pun tertabrak.
"Yoga!! " Teriak Khumaira.
Khumaira yang menyaksikan kejadian naas tersebut pun membelalakan matanya, dan menutup mulutnya sendiri kemudian Khumaira segera berlari menghampiri Yoga yang telah tersungkur dengan darah yang mengalir di jalan.
"Yoga. Ayo bangun!! " Teriak Khumaira histeris.
Sementara mobil yang telah menabrak Yoga pun berhasil kabur sebelum ada seseorang yang melihat kejadian ini.
Warga pun mulai berdatangan melihat kejadian ini, bahkan mereka membantu Khumaira untuk membawa Yoga ke rumah sakit dengan segera.
" Ayo kita bawa ke rumah sakit! " Ucap salah seorang warga.
Khumaira mengngguk, dan masuk ke dalam mobil salah satu warga untuk membwa Yoga ke rumah sakit. Di dalam mobil Khumaira tak hentinya menangis, ia terus meratapi peristiwa yang menimpa Yoga.
" Ya Tuhan. Selamatkan Yoga! " Gumamnya.
Kini mereka telah sampai di rumah sakit, dan tubuh mungil Yoga telah di pindahkan ke atas blankar untuk selanjutnya di bawa ke ruang UGD.
Luka yang di derita oleh Yoga cukup parah, akibat benturan yang keras membuat darahnya berkurang cukup banyak sehingga Yoga membutuhkan donor darah.
"Bu, pasien sangat membutuhkan donor darah AB. Apakah ada darah yang sama dengannya? " Ujar Dokter.
Khumaira menggeleng. " Tidak ada, Dok. Memangnya di rumah sakit ini bagaimana? " Tanya Khumaira.
"Mohon maaf, Bu. Darah di rumah sakit ini sedang kosong! " Sahut Dokter.
Sebab banyaknya orang yang membutuhkan donor darah, sehingga rumah sakit kehabisan stok darah.
"Bagaimana ini? " Gumamnya, Khumaira pun tak kuasa menahan tangisnya. Apalagi saat Dokter mengatakan bahwa Yoga bisa saja meninggalkan akibat kekurangan darah.
Khumaira pun meminjam Ponseln seseorang untuk menghubungi Rendi.
Tak berapa lama panggilan pun tersambung. " Hallo! Dengan siapa ini? " Tanya Rendi, sesaat panggilan tersambung.
__ADS_1
"Mas. Ini aku, Khuma!! " Sahut Khumaira dengan nada serak layaknya orang menangis.
Rendi yang saat ini sedang bekerja pun bangkit, dan mengernyitkan keningnya heran. " Ada apa ini, Khumaira? Mengapa kau menangis? " Tanya Rendi begitu cemas sekaligus penuh tanya.
Kemudian Khumaira menceritakan segala sesuatu yang baru saja menimpa Yoga, hingga akhirnya Yoga di larikan me rumah sakit.
Rendi membulatkan matanya dengan sempurna. " Apa. Yoga kecelakaan? Bagaimana bisa? " Tanyanya.
Khumaira menjelaskan bagaimana hal ini terjadi, dan bagaimana keadaan Yoga saat ini.
"Oke, Khumaira. Sekarang, kau tenang! Aku akan segera datang. " Ujarnya.
Rendi pun bergegas berlari menuju mobilnya, dan melajukannya dengan cepat menuju rumah sakit yang telah di beritahu oleh Khumaira.
"Ada apa ini sebenarnya? " Ucap Rendi.
Namun sayangnya jalan Rendi tak berjalan dengan mulus, kini Rendi harus terjebak macet dengan mengendara lainnya.
Rendi terus membunyikan klaksonnya, berharap pengendara di depannya dapat memahami situasinya tanpa Rendi sadari mereka juga punya kesibukan masing-masing.
"Ayolah!! " Ujarnya.
Rendi mengeluarkan kepalanya dari kaca mobilnya, dan melihat separah apa kemacetan ini.
"Ah ini pasti akan membutuhkan waktu lama! " Ujarnya lagi.
Rendi pun terus membunyikan klaksonnya, namun orang-orang pun sama-sama memiliki kesibukan, dan kepentingan yang sama dengan Rendi.
Dokter terlihat kembali menghampiri Khumaira. " Bu. Bagaimana, apakah Anda sudah dapat pendonornya? " Tanya Dokter.
Khumaira menggeleng, sebab ia sudah menghubungi beberapa orang namun tak ada yang memiliki darah yang sama dengannya.
"Jika pasien tidak mendapatkan darah dengan segera, maka kami tidak akan bisa melakukan operasi! " Ujarnya.
Perkataan Dokter membuat Khumaira begitu kalut. Dari mana Khumaira mendapatkan pendonor tersebut?
"Ya Tuhan. Tolong hamba mu ini! " Batinnya.
1 jam berlalu, namun Dokter belum memberikan tindakan apapun pada Yoga di karenakan tidak adanya pendonor. Khumaira menunggu kedatangan Rendi, namun hingga detik ini Rendi tak kunjung datang.
"Kemana kau, Mas? " Gumam Khumaira.
Rendi masih berada di mobilnya dengan kondisi kemacetan yang semakin parah, sebab adanya kecelakaan maut di depan saja hingga membuat lalu lintas sedikit terganggu.
"Sudah 1 jam tapi jalan masih saja macet. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? " Ucapnya bingung.
Dirasa tak ada cara lain Rendi pun bergegas keluar dari mobilnya kemudian berjalan dari kemacetan. Rendi pun menggunakan jasa ojek untuk sampai di rumah sakit dengan cepat, Rendi pun tak lupa menghubungi Alex untuk mengambil mobilnya di sana.
20 menit berlalu, akhirnya Rendi telah sampai di rumah sakit. Rendi pun berlari ke ruang UGD dan terlihat Khumaira yang sedang cemas sembari berlinang air mata.
Rendi segera menghampiri Khumaira. " Bagaimana keadaan Yoga? " Tanya Rendi dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
Khumaira menggeleng. " Masih belum di tangani, sebab tidak ada pendonor darah! " Sahut Khumaira dengan mata sembab.
__ADS_1
Rendi pun terlihat menyugar rambutnya sendiri, sebab ia tak bisa melakukan apa-apa saat ini. "Bagaimana mungkin ini terjadi? " Racaunya.
Hingga akhirnya Rendi pun memilih menghubungi seluruh anak buahnya. " Hallo, Brian. Katakan pada seluruh Anak buah jika ada yang memiliki golongan darah AB, maka segera datang ke rumah sakit segera!! " Ujar Rendi di sambungan telepon.
Brian pun segera melakukan perintah Rendi. " Hey. Kalian semua, berkumpul! " Ujar Brian.
Seluruh Anak buah pun berkumpul di hadapan Brian. " Ada apa? " Tanya mereka serempak.
Kemudian Brian menyampaikan pesan Rendi pada seluruh Anak buahnya. " Bagaimana, apakah di antara kalian memiliki darah dengan golongan tersebut? " Tanya Brian memastikan, namun mereka semua menggeleng sebab rata-rata mereka memiliki golongan darah A. Beruntung, Oxy yang kebetulan memiliki golongan darah yang sama dengan Yoga pun maju ke depan. " Saya memiliki golongan darah AB! " Ujarnya lantang.
Sehingga seluruh mata memandang ke arahnya, begitu pula dengan Brian. " Bagus! Ayo ikut bersama ku ke rumah sakit! " Ajaknya.
Kini Brian dan Oxy pun menuju rumah sakit tempat dimana Yoga di rawat. Brian juga tak lupa menghubungi Rendi untuk memberi tahu kabar ini.
"Oke. Saya tunggu kedatangan kalian! " Ujar Rendi, kala mendengar kabar baik tersebut.
Rendi nampak tersenyum senang, Khumaira memandanginya dan mendekati Rendi. " Ada apa, Mas? " Tanya Khumaira heran.
Rendi menyampaikan berita baik yang di berikan oleh Brian, sehingga membuat Khumaira begitu senang dan sedikit lebih lega.
"Syukurlah!! " Ucapnya turut senang.
Rendi, dan Khumaira tengah menunggu kedatangn Brian dan Oxy. Tak berapa lama kemudian keduanya datang menghampiri Rendi.
"Pak! " Sapa Brian kala melihat Rendi.
Rendi pun menoleh. " Brian! Oxy! " Sahutnya.
Kemudian Rendi menyuruh Oxy untuk segey masuk ke ruangan khusus untuk mendonorkan darahnya pada Yoga.
Kini, operasinya pun telah di lakukan dan Oxy yang menjadi pendonor bagi Yoga.
1 jam berlalu, hingga operasi pun selesai, terlihat Dokter keluar dari ruangan operasi namun wajahnya terlihat murung dan tak bersahabat.
Khumaira, Rendi dan Brian pun menghampiri Dokter. " Bagaimana keadaan Yoga, Dok? " Tanya Khumaira harap-harap cemas.
Dokter terlihat menghela nafasnya, dan menatap Khumaira, dan Rendi bergantian. " Mohon maaf! Kami katakan dengan berat hati pada kalian semua bahwa pasien tidak dapat di tolong!! " Ujarnya.
Alangkah kaget, dan terpuruknya Khumaira maupun Rendi mendapati kabar bahwa Yoga tak dapat di selamatkan. "Tidak. Ini tidak mungkin!! " Ucap Khumaira lirih seraya menjauh.
Sementara Rendi kini dirinya menggelengkan wajahnya tak percaya, kemudian mencengkeram baju Dokter. " Kau bohong, kan? Pasti ini semua tak benar? " Ujar Rendi yang masih tak percaya.
Walau pun Yoga bukan Putranya, namun Rendi telah menyayanginya seperti Putranya sendiri. Namun apa ini, sebuah kenyataan pahit harus ia terima?
"Bagaimana mana bisa dia meninggal? Sementara sudah ada donor untuknya! " Ujar Rendi penuh amarah, Rendi merasa memang dasar Dokter yang tidak becus menolong Yoga.
"Banyak faktor yang menyebabkan pasien meninggal salah satunya adalah kita terlambat memberikan donor darah. Kedua, sebab benturan di kepala pasien cukup parah sehingga membuat pendarahan yang cukup hebat!! " Tuturnya.
Dokter membiarkan Rendi memaki, dan melakukan hal yang ingin dia lakukan sebab kecewa dan amarah pada dirinya, namun Brian mencegah Rendi kala Rendi hendak melampaui batasnya. " Jangan, Pak. Ingat, ini rumah sakit! " Bisiknya.
Rendi pun meredam amarahnya pada sang Dokter dan menurunkan tangan kokohnya.
Rendi dan Khumaira pun segera masuk dimana Yoga terbujur kaku tak lagi bernyawa. Dengan isak tangis dan kesedihan yang luar biasa, Khumaira memeluk dan menciumi wajah Yoga. Khumaira pun begitu terpukul dengan ini semua bahkan saking histerisnya khumaira sempat pingsan beberapa saat.
__ADS_1