
Hari demi hari keadaan Rendi semakin kian keritis, alat bantu sudah tak lagi bisa membantu Rendi.
"Bagaimana ini, Dok? Keadaan pasien sudah semakin memburuk! " Ujar Suster.
Dokter pun terlihat menghela nafasnya, dan mengecek keadaan Rendi dan benar saja keadaan Rendi mulai kian memburuk.
"Apa yang harus kita lakukan, Dokter? " Tanya Suster.
"Kita beritahu keluarga pasien lebih dulu. Sepertinya pasien sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi! " Ujarnya.
Suster pun mengangguk. " Baik, Dok. " Sahutnya.
Dokter pun keluar ruangan dan memberitahukan prihal keadaan Rendi yang makin memburuk dan kini sedang di ambang kematian.
"Apa! Dokter! Tidak, ini tidak mungkin. Tolong, lakukan yang terbaik untuk suami saya! " Ujar Khumaira yang kian berkaca-kaca.
"Tapi, Bu... "
"Lakukan apapun yang kalian bisa saya mohon! " Pintanya mengiba.
Dokter pun menghela nafasnya sejenak, dan mengangguk. " Baik. Kami akan mencobanya! " Sahutnya.
Dokter, dan suster pun kembali masuk ke dalam ruangan dan mulau melakukan tindakan lebih lanjut.
"Dok, dok. Jantung pasien mulai melemah! " Ujar Suster.
"Kita lakukan semampu yang kita bisa! " Sahut Dokter.
Keadaan yang makin memburuk di tambah detak jantung yang kian melemah membuat kondisi Rendi benar-benar di ujung tandung hingga Dokter pun memutuskan untuk menggunakan alat pacu jantung guna mengembalikan detak jantung Rendi secara normal.
"Oke, Sus. 1 2 3... " Ujarnya.
Degh.. degh.. Rendi hanya mengejang namun kondisinya masih sama.
Dokter menggeleng. " Kita coba percobaan kedua, Sus! " Ujarnya.
Suster pun mengangguk, dan mencoba menaikan ritmenya. Namun hal serupa terjadi lagi, dan seiring berjalannya waktu hingga suara ventilator pun kian terdengar nyaring dan menunjukan garis lurus menandakan bahwa Rendi sudah tak lagi bernyawa.
__ADS_1
Khumaira yang menyaksikan hal tersebut di balik jendela pun menangis sembari menutup mulutnya sendiri. " Tidak. Tidak mungki! Mas Rendi!! " Teriaknya.
Ingin Khumaira masuk, dan memeluk Rendi. Rasanya tak mungkin Rendi sudah pergo dari dunia ini.
Brain yang menyaksikan hal serupa pun jug ikut berkabu, ia pun tak percaya bahwa Bosnya sudah tiada. " Tidak. Kau pasti hanya bercanda, kan Rendi? " Gumamnya.
Rendi yang Brain kenal bukanlah Rendi yang lemah, Rendi selalu bisa menghadapi masalah sebesar apapun hingga Brain tak percaya bahwa Rendi telah tiada.
Dokter pun keluar, dan menyampaikan hal tersebut dan turut berduka cita. " Tidak. Kau pasti bohong, kan Dokter? Tolong, lakukan sekali lagi! " Pintanya.
"Bu, kami hanya manusia biasa. Kami hanya pelantara dan tuhan yang menentukan! " Ujar Dokter.
Khumaira pun berlari dan langsung masuk ke dalam Dokter, suster, dan Brain pun ikut masuk ke dalam menyaksikan bagaimana terlukanya Khumaira setelah kepergian Rendi. " Mas. Bangun! Ayo, bangun!! " Teriaknya histeris.
Khumaira menangis di pelukan Rendi, ia pun berulang kali memeluknya dan mencium wajahnya. "Mas. Aku mohon bangunlah!! " Ujarnya.
Semu orang yang menyaksikan hal tersebut sungguh membuat mereka ikut sedih. Mereka tahu betapa tersayatnya hati Khumaira namun mereka juga tak bisa melakukan apapun saat ini.
"Sungguh cinta yang luar biasa! " Gumam Brain.
Saat ini Rendi tengah berada di dunia yang amat indah dengan hamparan bunga-bunga yang indah dan suasana yang menyejukan matanya.
Rendi terus menelusuri jalan yang ada di sana hingga akhirnya Rendi seperti melihat seseorang yang amat ia Rindu.
"Renda!! " Teriaknya.
Orang yang di panggil pun menoleh, dan tersenyum. " Rendi. Kau di sini? " Tanyanya.
Terlihat wajah Renda yang begitu bercahaya dan nampak berseri-seri layaknya seseorang yang amat bahagia.
"Ya, aku disini dan aku tak tahu kenapa aku bisa di sini! " Ujar Rendi.
Rendi pun memeluk erat tubuh Renda, tercium bau harum dari tubuhnya dan membuatnya begitu tenang. Renda pun membalas pelukan Rendi.
Rendi pun mengurai pelukannya. " Ren. Aku minta maaf padamu atas semua kesalahanku! " Ujar Rendi bersungguh-sungguh.
Renda pun tersenyum. " Aku sudah memaafkanmu. Lagi pula ini bukan salahmu, tapi ini semua sudah takdir dari tuhan! " Sahutnya.
__ADS_1
Kebersamaannya dengan Renda sehingga membuatnya lupa bahwa saat ini Rendi sedang berada di alam berbeda.
Kini keduanya duduk, dan mengenang kebersamaan mereka sedari kecil.
"Kau adalah kembaranku yang terbaik! " Ujar Rendi sembari tersenyum.
"Rendi. Kau tak seharusnya berada di alam ini. Kau harus kembali! " Ucap Renda.
Rendi pun menoleh dengan menautkan kedua alisnya. " Apa maksudmu? " Sahutnya heran.
"Tanpa kau sadari kau telah berada di alam orang-orang yang telah wafat, Rendi. Segeralah pergi! Tuhan masih menginginkan mu untuk hidup! " Titahnya.
Rendi menoleh. " Tidak. Aku tidak ingin kembali. Aku sudah muak dengan dunia itu! " Tolaknya.
Renda pun tersenyum, dan menepuk bahu Rendi. " Memang dunia itu kejam, Rendi. Tapi, apakah kau sudah lupa bahwa kini kau telah memiliki Khumaira? Aku sudah menitipkannya padamu, jadi aku mohon pulanglah!! " Pintanya.
Tiba-tiba Rendi pun mengingat Khumaira, dan benar apa yang di katakan oleh Renda bahwa tugasnya di dunia belumlah usai.
Rendi pun mengangguk, tiba-tiba bayangan Renda mulai samar dan kemudian menghilang. " Renda... !!! " Teriaknya.
Tiba-tiba sebuah cahayan muncul dan bersinar tepat menerpa wajah Rendi sehingga membuat Rendi begitu silau membuatnya menutup wajahnya. "Cahaya apa ini? " Gumamnya penuh tanya.
Khumaira terus saja menangisi kepergian Rendi dan mata Khumaira pun sudah mulai membengkak. "Mas. Bangun!! " Ucapnya.
Khumaira tak hentinya memegangi jemari Rendi hingga ia menyadari bahwa jemari Rendi mulai bergerak menandakan bahwa Rendi bernafas kembali dan garis lurus di ventilator pun mulai berubah.
Khumaira pun tersenyum. " Dok, suami saya bernafas kembali!! " Ujarnya.
Seluruh orang pun melihat ke arah Rendi, dan benar saja jemarinya bergerak dengan cepat Dokter pun segera mengecek keadaan Rendi. " Wah, ini sungguh keajaiban yang luar biasa sepanjang saya berkarier rumah sakit ini. Ternyata kekuatan Cinta mampu mengembalikan sebuah nafas yang telah hilang! " Ucapnya penuh ketakjuban.
Brain pun yang awalnya menangis kini berubah menjadi air mata bahagia. " Aku sudah bilang. Kau takan semudah itu tewas Rendi! " Gumamnya.
Ruangan itu kini berubah menjadi air mata penuh bahagia, sebab Rendi yang awalnya di nyatakan meninggal kini bernafas kembali.
Walau pun Rendi belum membuka matanya, namun keadaannya jauh lebih baik dari beberapa menit yang lalu. Akhirnya Rendi mampu menjalani masa-masa kritisnya dengan penuh perjuangan yang hebat.
Khumaira yang awalnya merasa hancur dan patah, kini harapannya kembali setelah melihat langsung kejadian yang tersebut.
__ADS_1
"Terimakasih, Tuhan. " Batinnya, Khumaira tak hentinya mengucap syukur atas segala nikmat tuhan yang telah di berikan padanya sampai hari ini.
Kini, mereka semua tinggal menunggu Rendi sadar maka Rendi akan segera di pindahkan ke ruang inap biasa.