TITIPAN CINTA

TITIPAN CINTA
CHAPTER 8 #TEST DNA


__ADS_3

Hari ini adalah hari pembuktian apakah benar bahwa bocah laki-laki itu merupakan Anak kandung dari Rendi, atau bukan?


Beberapa hari sebelumnya Rendi sempat melakukan test DNA di sebuah rumah sakit, alasannya? Tentu saja ingin mengetahui kebenarannya.


Kini Rendi, Nuri, dan bocah laki-laki yang bernama Yoga tersebut telah sampai di sebuah rumah sakit, mereka bertiga telah berjalan ke ruangan dokter yang menangani test ini.


"Ini hasil testnya, Pak! " Ucap Doktee seraya menyodorkan sebuah hasil test yang masih berada dalam amplop coklat.


Saat ini Rendi tengah harap-harap cemas, berharap hasil itu tidak benar dan cemas, bagaimana jika halnya memang benar ia adalah Ayah kandung dari Yoga? Rendi meraihnya, kemudian membukanya secara perlahan namun entah mengapa mendadak ekspresi Rendi berubah kala melihat hasil dari Test DNA tersebut. "Tidak. Hasil ini pasti bohong, kan? " Ucapnya tak percaya.


"Bagaimana tidak akurat? Laboratorium kami sangat ketat hingga tidak mungkin sembarang orang bisa masuk ke sana! " Tutur Dokter.


"Tidak. Aku yakin, ada seseorang yang memanipulasi hasil ini! " Ucap Rendi masih tak percaya.


Nuri meraih hasil Test tersebut, ia pun nampak tersenyum penuh kemenangan sebab hasil tersebut menujukan 99% bahwa Yogi adalah Anak dari Rendi Wiguna.


"Kau lihat, kan Rendi. Bagaimana hasil tersebut dan sekarang penuhilah kewajibanmu sebagai seorang Ayah! " Ucap Nuri sembari tersenyum.


Rendi memalingkan wajahnya, Rendi tak bisa lagi berkutik sebab kebenaran sudah di depan mata, tak mungkin juga Rendi lari dari kenyataan ini hingga mau tak mau akhirnya Rendi bertanggung jawab penuh atas keberlangsungan Yoga.


"Oke. Aku akan tanggungjawab seluruh kebutuhan Yoga! " Ucap Rendi.


Nuri Tersenyum senang mendengar ucapan Rendi, akhirnya uang Rendi akan mengalir setiap bulan padanya. Kali ini tinggal meluluhkan hati Rendi, dan Nuri akan menjadikan Yoga sebagai jembatan meluluhkan hati Rendi.


Rendi segera masuk ke dalam mobilnya begitu pula dengan Nuri dan Yoga. Rendi akan mengantar keduanya pulang terlebih dahulu sebelum ia pergi ke kantor.


Dalam perjalan Rendi tak bicara sepatah katapun, walau Yoga begitu bawel namun entah kenapa ada sesuatu yang janggal yang di rasakan oleh Rendi dalam test ini.


"Aku yakin test ini tidaklah benar. Ada seseorang yang memanipulasi hasil test ini? Aku harus test DNA ulang tanpa sepengetahuan Nuri! " Batinnnya.


Nuri melirik Rendi yang sibuk menyetir mobil, ia pun mencuri kesempatan. Nuri memegang jemari Rendi namun Rendi mengibaskan tangannya. " Jangan sentuh aku! " Bentaknya.

__ADS_1


Nuri pun menarik tangannya kembali. " Its oke. Sorry! " Ucapnya.


Mereka bertiga sudah sampai di pelataran rumah milik Nuri. Nuri, dan Yoga pun turun tapi tidak dengan Rendi.


"Ayo, Ren. Turun! " Ajak Nuri.


"Tidak. Terimakasih! " Sahutnya dingin.


Setelah berpamitan dengan Yogi, Rendi pun melajukan mobilnya kembali. Ia tak betah berlama-lama berdekatan dengan Nuri.


Rendi memperhatikan Nuri dari spionnya, terlihat Nuri sedang menelepon seseorang sembari tersenyum.


"Aku tahu, Nuri. Kau telah melakukan kecurangan! " Ucap Rendi.


Kemudian mobilnya Rendi melesat, dan benar-benar pergi meninggalkan rumah Nuri.


"Tunggu saja, Nuri. Aku akan membongkar semua kebusukanmu! " Ujarnya.


"Kau fikir aku sebodoh, dan senaif itu? " Ucapnya.


Ya, Rendi bukan lagi Rendi yang dulu begitu bodoh hingga mudah di tipu oleh Nuri. Ia akan mencari kebenarannya.


Namun sebelum hasil itu keluar, Rendi harus memenuhi tanggung jawabnya.


Akhirnya Rendi telah sampai di kantornya, namun tak berapa lama sebuah pesan masuk dari Nuri.


[Ren. Aku minta uang untuk Yoga! ] Pesannya.


Rendi mengepalkan tangannya, baru saja ia sampai tapi Nuri sudah meminta uang padanya. Rendi berusaha bersabar dan mengirim sejumlah uang sekitar 5 juta.


[Sudah aku kirim 5 juta! ] Balasnya di sertai bukti transferan.

__ADS_1


[Oke, Ren. Terimakasih banyak, ya! ] Pesannya.


Rendi tak membalas pesan dari Nuri, ia pun meletakan ponselnya di atas meja.


"Sialan. Nuri bisa saja memerasku. Aku harus segera bertindak! " Ucapnya.


Sudah Rendi duga bahwa tujuan Nuri sebenarnya adalah uang, uang dan uang. Tapi Rendi akan berusaha bersabar Sampai hasil yang sebenarnya keluar, dan Rendi akan membuat Nuri menyesal sudah melakukan penipuan, dan memerasnya.


Dari pada Rendi pusing memikirkan Nuri lebih baik untuknya bekerja, sebab pekerjaan hari ini begitu menumpuk.


Selesai bekerja, akhirnya Rendi bergegas pulang. Malam hari lagi-lagi Nuri meminta sejumlah uang dengan dalih Yoga merengek ingin ini dan itu, dengan sangat terpaksa Rendi kembali mengirim sejumlah uang.


"Oke. Kali ini aku akan menuruti permainan mu, Nuri. Tapi lihat saja balasan yang akan menunggumu! " Gumam Rendi tersenyum penuh arti.


Entah apa yang ada dalam otak Rendi saat ini? namun sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu yang jahat terhadap Nuri.


Selanjutnya Rendi memilih untuk tidur dari pada Nuri kembali meminta ini, dan itu. Rendi tak lupa mematikan ponselnya agar tidurnya tidak terganggu. Seperti biasa Rendi tidur di sofa, sementara Khumaira tidur di ranjang.


Sebelum tidur Rendi memandang wajah Khumaira yang sudah tertidur dengan lelapnya, lama Rendi menatapnya hingga tanpa terasa sebuah senyuman kembali terbit dari bibirnya.


"Aku berjanji akan menjagamu, Khumaira. Tapi, aku tidak akan pernah berjanji untuk selalu bersamamu! " Ucapnya lirih.


Ya, karna Rendi tahu cepat atau lambat Khumaira akan mengetahui hal yang sebenarnya tentang Renda. Maka dari itu Rendi harus menyiapkan segalanya dari sekarang.


Entah mengapa saat Rendi memandang wajah Khumaira ada debaran halus yang menyelinap di hatinya, namun entah apa?


"Maaf, untuk setiap sikap dinginku pada mu, setiap kata-kata yang mungkin menyakitimu. Aku berjanji akan melepasmu setelah tugasku terhadap mu selesai. Setelah aku menemukan laki-laki yang pantas bersanding denganmu! " Ucapnya seraya memandang wajah Khumaira.


Jujur saja sikap, dan kata-kata Rendi selalu membuat Khumaira patah hati. Ingin rasanya Khumaira pergi dari rumah ini namun ia tak tahu kemana akan pergi dari kota yang cukup besar ini?


"Renda. Maafkan aku, sebab akulah penyebab kematian mu! " Gumamnya lirih, tak terasa sebuah air mata jatuh menetes dari sudut matanya, tak bisa di pungkiri bahwa penyesalan begitu besar terasa dalam hatinya. Rendi menyesal telah melakukan hal ini pada saudaranya Sendiri. Jika bisa mengulang waktu, maka Rendi akan memilih kehidupan Renda, dan membiarkan bahagia. Namun apalah daya Rendi, penyesalan hanya tinggal penyesalan ia tak bisa mengulang atau pun memutar waktu kembali.

__ADS_1


Bagaimana jika Khumaira tahu akan hal ini, pasti hatinya akan teramat hancur. Rendi memang jahat namun untuk menyesal pun kini semua hanya percuma belaka.


__ADS_2