
Saat Sore hari tiba, Rendi berencana pulang ia pun tak lupa membeli cake dari toko langganannya.
"Pasti Khumaira suka! " Gumamnya.
Rendi segera melajukan mobilnya menuju rumah, Rendi tak sabar ingin segera sampai di rumah pasti saat ini Khumaira tengah menunggunya.
Rendi telah sampai di rumahnya, dan begegas masuk ke dalam rumahnya namun yang membuat Rendi kondisi rumah yang sepi dan begitu berantakan.
"Khumaira! " Panggilnya.
Namun tak ada sahutan, Rendi mencari keberadaan Khumaira namun tidak menemukannya. " Kemana Khumaira? " Gumamnya.
"Bi Inah! Kenapa dengan rumah ini? " Teriaknya.
Namun aneh, Bi Inah pun tak ada di rumah. "Sebenernya kemana mereka? " Batinnya.
Rendi mulai menaiki tangga, dan menuju kamarnya namun tiba-tiba Rendi mendengar tangisan seseorang. "Siapa yang menangis? " Ucapnya.
Kemudian Rendi pun segera membuka pintu kamar, dan ternyata Khumaira tengah menangis di pojok ruangan gegas Rendi menghampirinya dan berusaha memeluknya. " Khumaira! Kau kenapa? Ayo, bangun!! " Ucapnya.
Khumaira memberontak, kemudian menatap Rendi dengan tatapan tajam. " Pergi kau dari sini! " Usirnya.
Tatapan Khumaira terlihat seperti tatapan penuh kebencian, penuh amarah dan penuh dendam.
Rendi benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Khumaira, ia pun mencoba mendekati Khumaira. " Apa maksudmu? " Ujarnya.
Khumaira pun mendorong tubuh Rendi sehingga Rendi mundur beberapa langkah. "Pergilah kau dari hadapan ku!! " Teriaknya.
"Tidak, Khumaira. Apa yang kau maksud? " Tanyanya heran.
Rendi benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi pada Khumaira.
Khumaira mengikis jarak di antara mereka seraya menatap Rendi dengan tajam. " Kau pembunuh!! " Teriaknya.
Deghhh...
"Apakah Khumaira tahu semua ini? " Batinnya.
Rendi menggeleng. " Tidak. Apa yang kau katakan? " Bantahnya.
"Pembunuh!! " Teriaknya.
Rendi mencoba mendekati Khumaira kembali dan hendak memeluknya namun khumaira telah lebih dulu mendorong tubuh Rendi hingga jatuh tersungkur.
Khumaira benar-benar di berada di puncak kemarahan saat ini. Khumaira benar-benar murka dan muak dengan Rendi.
Rendi merangkak mendekati Khumaira dan memegang kakinya. " Khumaira. Aku mohon maafkan aku! Aku memang salah aku telah membunuh Rendi, tapi beri aku kesempatan untuk membahagiakan mu! " Ucapnya penuh penyesalan.
Bukannya meluluh, Khumaira begitu marah dengan pernyataan Rendi sehingga Khumaira mengibaskan kakinya dan lagi-lagi Rendi pun tersungkur.
__ADS_1
"Kau pembunuh, Rendi. Pembunuh! "Teriaknya.
Setelah mengatakan hal itu Khumaira pun lompat dari jendela lantai 3 di rumah Rendi.
Rendi hendak menolong Khumaira, namun sayang Khumaira telah melompat. "Khumaira!! "Teriaknya sembari menangis.
"Pak, Pak. Bangulah! Anda kenapa? " Tiba-tiba saya Brain menepuk-nepuk pipi Rendi sehingga Rendi segera terbangun dari mimpi buruknya.
Rendi bangun dan melihat sekelilingnya. " Apakah tadi hanya mimpi? " Gumamnya.
"Ada apa, Pak? " Tanyanya.
"Mimpi buruk, tapi seolah-olah nyata! " Sahutnya.
"Apa Anda bermimpi Khumaira meninggalkan Anda? " Tebaknya.
Rendi mengernyitkan keningnya dan menatap tajam Brain. "Dari mana kau tahu? " Ujarnya.
Brain pun menceritakan bahwa tadi Rendi seperti orang yang ke setanan bahkan sampai memanggil-manggil nama Khumaira dan memohon agar dia tidak pergi.
"Ya, aku bermimpi Khumaira melompat dari lantai atas saat ia mengetahui kebenarannya! Aku takut jika harus mengatakannya sekarang. " Ujarnya.
Rendi ingin mengatakannya, namun rasa takut akan kehilangan Khumaira membuatnya tak ingin mengatakan hal ini.
Brain yang mendengar cerita Rendi pun menghela nafasnya. " Saya sarankan, bicaralah yang sejujurnya sebab sepahit apapun kejujurannya jika kita yang mengatakannya, maka tidak akan terlalu sakit. Berbeda dengan jika dia tahu dari orang lain, maka rasa sakitnya pun akan bertambah 2x lipat. Aku harap Anda paham! " Ujarnya.
"Sebaiknya Anda tenangkan diri dulu, dan mari saya antar pulang! Sepertinya Anda kurang sehat. " Ujarnya.
Ya, mungkin lebih baik untuk Rendi pulang dan beristirahat ketimbang di kantor hanya menambah beban fikirannya.
Di dalam mobil Rendi tidak banyak berbicara, ia lebih banyak diam dan melamun. Brain membiarkan Rendi larut dalam fikirannya dan semoga Rendi mendapatkan titik terang atas segala masalah yang dia hadapi.
Berulang kali Rendi menghela nafasnya, rasanya dadanya begitu sesak sebab mimpi yang baru saja ia alami. " Bagaimana jika mimpi ini jadi kenyataan? Aku tidak akan pernah sanggup! " Batinnya.
Sesampainya di rumah Rendi pun segera turun dari mobilnya dan langsung masuk tanpa memperdulikan Brain.
Rendi langsung masuk ke dalam kamarnya, dan bergegas mandi. Sementara Brain menyerahkan kunci mobilnya pada Khumaira.
"Ada apa dengan Rendi? " Tanya Khumaira, kala melihat gelagat aneh dari Suaminya.
"Mungkin efek kelelahan! " Ucapnya berbohong.
Kemudian Brain pun pamit dan menaiki taksi online untuk menuju markasnya, banyak pekerjaan yang harus ia handle hari ini.
Rendi mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower. Rendi terus mengguyur tubuhnya tanpa henti, ia ingin menghilangan dosa-dosanya atas Renda.
"Maafkan aku Renda! " Gumamnya.
Rendi pun meyesali perbuatannya, ia pun ingin hidup tenang dan bahagia bersama Khumaira namun sebuah ketakutan akan kehilangannya selalu menghampirinya.
__ADS_1
"Tuhan. Hukuman apa ini? " Batinnya.
Khumaira beberapa kali mengetuk pintu kamar mandi, pasalnya Rendi sudah lama berada di kamar mandi. Khumaira takut terjadi sesuatu padanya.
"Mas, Mas! Kau baik-baik saja, kan? " Teriaknya sembari mengetuk pintu berulang kali.
Namun tak jawaban, Khumaira mulai di liputi rasa cemas. "Mas, Mas!! " Teriaknya.
Khumaira terus saja mengetuk pintu kamar mandi hingga akhiy Rendi pun keluar namun dengan wajah sayu dan penuh kesedihan.
"Mas. Kau kenapa? " Tanyanya heran.
Rendi menoleh dan langsung memeluk Khumaira dengan erat.
Khumaira yang merasakan keanehan pada diri Rendi pun segera mengurai pelukannya. " Mas. Ada apa? Katakan! " Ujarnya.
Rendi menggeleng, dan Kembali memeluk Khumaira. "Berjanjilah bahwa kau tidak akan meninggalkan ku apapun yang terjadi! " Ucapnya.
Khumaira mengernyitkan keningnya. Ia benar-benar heran dengan ucapan Rendi. Mengapa tiba-tiba Rendi menjadi seperti ini?
"Berjnajilah! " Ulangnya.
Khumaira pun mengangguk. " Iya. Aku berjanji! " Sahutnya sambil membalas pelukan Rendi.
Rendi benar-benar takut kehilangan Khumaira, ia belum siap dengan semua ini.
Kemudian Rendi pun mengurai pelukannya, dan tersenyum ke arah Khumaira. Khumaira begitu heran dengan sikap Rendi hari ini.
"Khumaira. Jangan pernah tinggalkan aku! " Pintanya.
Khumaira tersenyum dan mengangguk. " Iya, aku tidak akan meninggalkan mu! " Sahutnya.
Rendi pun membawa Khumaira ke dalam pelukannya kembali, Ia pun mencium pucuk kepala Khumaira. Hal yang tidak pernah Rendi lakukan semenjak pernikahan.
Rendi pun membingkai wajah Khumaira dengan jemarinya dan menampilkan sebuah senyuman di wajah tampannya.
"Kau terlihat cantik malam ini, Khumaira! " Pujinya.
Rendi baru menyadari bahwa Khumaira secantik bidadari, pantas saja dulu Renda tergila-gila dengannya.
Khumaira tersipu malu mendengar ucapan Rendi sehingga menundukan pandangannya, namun Rendi mengangkat wajah Khumaira dengan jemarinya. " Pandang wajah ku! " Titahnya.
Awalnya Khumaira enggan, namun Rendi memaksanya hingga pandangan keduanya bertemu.
Tanpa sepatah kata Rendi mencium kening Khumaira dengan amat lembut dan membisikan sebuah kata Cinta. " Terimakasih telah merubah hidupku, Khumaira. Akhirnya aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta padamu! jika kau mengizinkan bolehkah aku menunaikan kewajiban ku sebagai seorang suami? " bisiknya tepat di telinga Khumaira.
Khumaira pun di buat meremang oleh bisikan Rendi, namun detik kemudian Khumaira pun mengangguk do sertai senyuman.
Rendi segera membawa Khumaira menuju ranjang dan mulai melakukan kewajibannya untuk yang pertama kalinya.
__ADS_1