TITIPAN CINTA

TITIPAN CINTA
CHAPTER 6 #RENDI POV


__ADS_3

Namaku Rendi Wiguna, aku memiliki kembaran bernama Renda Wiguna. Usia kami hanya terpaut beberapa menit saja, aku yang lebih dulu lahir 5 menit kemudian barulah Renda, itu kata orang tuaku. Kami berdua selalu bersama bahkan kami merintis usahan hingga sesukses ini bersama-sama namun sebuah nasib Na'as telah menimpa Renda, ia tewas di tempat saat terjadi kecelaaan tunggal saat menuju rumah Khumaira, ya. Mereka berdua akan melangsungkan pernikahan hari ini.


Aku yang menyaksikan bagaimana kecelaan maut terjadi sungguh membuat ku terpaku untuk beberapa saat, aku melihat bagaimana Motor yang di Kendarai oleh Renda berputar-putar di aspal, dan akhirnya terguling kemudian menewaskan Renda.


"Renda!! " Teriakku kala itu.


Kejadian ini bagaikan sebuah mimpi buruk bagiku, aku tak percaya dengan ini semua hingga tanpa terasa air mataku menetes begitu saja.


"Renda bangulah!! " Ujarku.


Sebelum kepergiannya, Renda sempat memberiku sebuah wasiat agar aku menjaga, dan menikahi Khumaira yang merupakan kekasih sekaligus calon istri Renda. Bagaimana mungkin aku melakukannya? Tapi, demi sebuah tanggung jawab akhirnya aku pun menyetujui, dan menuruti wasiat Renda agar menikahi Khumaira.


Aku memberanikan diri datang ke rumah Khumaira beserta rombongan pengantin lainnya dan mengenai jasad Rendi, aku telah menyerahkannya pada orang kepercayaannya ku beserta sanak saudara yang lainnya.


Awalnya aku ragu untuk menikahi Khumaira, namun sebuah bayangan Renda selalu terlintas hingga akhirnya aku pun memantapkan diri.


"Saya terima Nikah, dan Kawinnya Khumaira Putri Binti Burhan dengan mas kawin tersebut di bayar Tuna!! " Ucapku lantang.


Pada hari ini, hari dimana seharusnya Renda yang menjadi Suami dari Khumaira namun kini akulah yang telah menikahi calon istri saudaraku sendiri.


Ya, kini kami telah resmi menjadi sepasang Suami istri, sebuah hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya namun inilah kenyataannya.


Aku belum mengenal Khumaira lebih jauh bahkan kami hanya 1 kali bertemu, dan itu pun pada saat aku melamarnya untuk Renda. Sungguh aneh takdir Tuhan ini, aku yang melamarnya tapi malah aku yang menikahinya.


"Khumaira. Saya Rendi memintamu untuk menjadi Istri dari Saudaraku Renda. Apakah kau bersedia jika Renda meminangmu? " Ucapku kala itu.


Khumaira menganggukan kepalanya pertanda setujui dengan lamaran ini, tentu saja aku merasa bahagia atas kebahagiaan yang menghampiri Renda.

__ADS_1


Hari demi hari aku lalui menjadi seorang Suami dari Khumaira, namun hingga detik ini aku belum mampu memberinya sebuah nafkah batin. Bukan karna aku tak perkasa, melainkan karna aku belum siap.


Entah mengapa saat bertemu dengannya membuat ku jengkel, mungkin di mata Khumaira aku adalah seorang yang dingin, dan kaku namun ia belum mengenal ku jauh maka dari itu ia belum paham karakterku.


Masih teringat jelas gelagat Aneh Renda beberapa minggu sebelum meninggal.


"Ren. Kalo misalnya Gue pergi dan Gue belum sempat nikah sama Khumaira, Loe mau kan gantiin Gue? " Celetuknya tiba-tiba.


Aku yang mendengar ucapannya mengernyit dahi, mengapa Renda berbicara demikian? Mungkin ia hanya sedang bergurau, fikirku.


"Loe ngomong apa sih, Ren? Dahlah, Manten mah duduk manis aja! " Sahutnya tak menanggapi ucapan asalnya.


Sungguh, aku tak percaya bahwa ucapan Renda merupakan sebuah isyarat bahwa Renda akan benar-benar pergi, dan terbukti akulah yang menggantikannya menikahi Khumaira.


Setalah pernikahan ku dengan Khumaira, aku harus kembali bekerja sebab banyaknya pekerjaan yang aku tinggalkan walau baru 1 hari. Namun sebuah hal yang tidak pernah aku inginkan pun terjadi, seseorang dari masa lalu datang kembali seakan membuka tabir, dan luka lama. Ya, dia adalah Nuri, mantan kekasih ku dulu. Seorang wanita yang dengan tega meninggalkan ku demi bandot tua yang kini juga meninggalkannya setelah ketahuan oleh Istri sahnya.


Aku pun meludah ke arahnya, dan memalingkan wajahnya. Aku menatapnya jijik. " Jangan harap. Jangankan mengulang bahkan aku jijik melihatmu, Nuri! " Ujarku.


Bukannya menjauh Justru Nuri malah semakin mendekatiku, ia berusaha meluluhkan hatiku dengan gombalan dan rayuan mautnya namun aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Ia adalah sampah yang sudah aku buang jauh-jauh.


Namun bukan Nuri namanya jika berhenti begitu saja, dan benar saja ia pun terus mencari cara agar mendapatkan hatiku. Ia terus menghubungi ku, dan mengirim sebuah pesan yang mengajak ku bertemu. Tentu saja aku menolak dengan mentah-mentah.


"Jangan pernah hubungi aku. Aku sibuk, kau mengerti? " Ucapku ketus.


Walau sudah demikian rupa aku memaki dan menolaknya secara terang-terangan namun ia masih saja ingin bertemu denganku hingga akhirnya aku pun mengiyakan ajakannya.


"Ok. Aku akan menemuimu! " Ucapku.

__ADS_1


Walau malas menemuinya, namun ia berjanji tidak akan mengganggu ku lagi setelah pertemuan ini. Aku harap ia benar-benar menepati janjinya.


"Katakan. Apa yang ingin kau katakan? Kau tahu kan aku sibuk? " Ucapku sombong. Ya, wanita seperti Nuri harus di balas dengan kesombongan, bukankah dulu dia menyombongkan kekasih tuanya saat aku dalam keadaan miskin?


Bukannya menjawab ia malah memandangi wajahku, ya. Aku tahu aku bukan lagi Rendi yang dulu bodoh, dekil dan miskin. Kini aku telah berubah menjadi Pria kaya, mapan dan penuh kharisma hingga wanita manapun akan terpesona dengan ketampanan hakiki ini.


"Katakan, cepat. Jika kau masih diam maka aku akan pergi! " Ancamku.


Akhirnya Nuri membuka suara, ia mengatakan bahwa dirinya pernah hamil darah dagingku. Apa aku percaya? Tentunya tidak. Aku tak sebodoh itu, mana mungkin ia hamil Anakku.


"Jangan gila. Mana mungkin kau hamil anak ku? " Bantahku.


Nuri menggeleng, aku melihat sebuah keseriusan dalam matanya namun aku tak peduli. " Benar, Ren. Waktu itu aku hamil Anakmu! Percayalah! " Sahutnya dengan nada sedih, dan aku yakin itu hanya di buat-buat.


Aku merasa pertemuan ini tidaklah menguntungkan bagiku. Aku pun pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.


"Persetan dengan Cinta. " Gumamku.


Aku merasa di dunia ini tidak ada Wanita yang benar-benar tulus, percaya atau tidak wanita hanya ingin hartamu, dan juga memandang fisikmu hal itu pula yang di lakukan oleh Nuri dan kebanyakan wanita lain di luaran sana.


Lihatlah saaat aku sukses banyak wanita yang mengejar ku, tapi saat aku dalam keadaan terpuruk tak ada 1 wanita pun yang ingin dekat denganku maka aku katakan bahwa kekuatan uang sungguh luar biasa.


"Kau pasti kembali hanya ingin hartaku saja, bukan? Maka dari itu akan ku tunjukan bagaimana artinya rasa sakit yang sebenarnya"


Ya, aku berjanji akan membalas Nuri dengan caraku yang akan membuat Nuri mengingatnya seumur hidup.


Aku bisa saja membunuh Nuri, namun tidak akan seru sebab itu terlalu mudah baginya untuk pergi. Mungkin sedikit bermain-main akan begitu menyenangkan?

__ADS_1


__ADS_2