
Rendi, dan Brian sedang dalam perjalanan menuju si pemilik mobil tersebut. Ingin rasanya Rendi melihat bagaimana rupa pembunuh itu.
"Lebih cepat, Brian! " Titahnya.
Brain mengangguk. " Siap! " Sahutnya seraya menaikan kecepatannya.
Terlihat jelas kemarahan yang begitu berapi-api di wajah Rendi, ia ingin menghajar pelaku tersebut dengan tangannya sendiri. " Awas kau, ya! " Gumamnya lirih.
Beberapa menit kemudian Rendi dan Brain sudah sampai di tempat tujuannya, yaitu kota bandung dimana mobil itu di temukan di sana.
Rendi, dan Brian pun turun dari mobil dan menelusuri sebuah gang kecil nan sempit hanya bisa di lalui dengan berjalan kaki.
"Kau tak salah, Brain? " Tanya Rendi yang terlihat ragu.
"Tidak. Bukti-bukti menunjukan bahwa di sinilah tempatnya! " Sahutnya seraya berjalan mendahui Rendi.
Rendi hanya mengekor di belakang Brain yang tahi tempat ini.
Kini, Rendi dan Brain telah sampai di sebuah rumah yang lumayan luas di kampung tersebut. Rendi pun mencoba menerobos masuk namun aksinya di hentikan oleh Brain.
"Jangan gegabah, Pak. Hati-hati dan jangan terpancing emosi! " Ujarnya mengingatkan.
Rendi pun menuruti ucapan Brain hingga seseorang nampak keluar dari dalam rumah tersebut setelah Brain mengetuk pintu lebih dulu.
Seorang Pria muda yang di perkirakan berumur sama dengan Rendi nampak mengernyitkan dahinya kala melihat kehadiran Rendi dan Brain. " Kalian siapa? " Tanyanya.
Amarah Rendi yang sejak tadi membuncah, ia pun meluapkannya hingga memukul wajah Pria tersebut.
Brian berusaha menghalanginya, namun tenaga Rendi lebih kuat darinya hingga sulit baginya untuk mengatasi situasi ini.
"Pak, hentikan! " Ujarnya.
Namun Rendi tak menghiraukan peringatan Brain, ia terus memukuli Pria di hadapannya tanpa ampun hingga Pria tersebut nampak mengeluarkan darah.
"Kau pembunuh, itu kan? " Ujar Rendi penuh amarah.
Perkelahian semakin menjadi hingga Brain harus bertindak. Ia pun menembakan senjata apinya ke udara kemudian Rendi pun menghentikan aksinya.
"Ada apa ini? Mengapa kau menghajar ku? " Ujar Pria tersebut seraya berusaha bangkit.
__ADS_1
Rendi hendak melayangkan pukulannya, namun aksinya di hentikan oleh Brain. " Sabar, Pak. Tenang! " Bisik Brain.
Rendi pun memalingkan wajahnya, ia begitu muak dengan ini semua.
Brain pun mencoba menanyakan prihal mobil yang sama dengan yang telah menabrak Yoga hingga si Pria tersebut terlihat mengerti mengapa Rendi menghajarnya tadi.
Ia pun menghampiri Rendi. " Jadi begini, Ini sebenarnya bukan mobil saya ini mobil milik teman lama saya yang berada di kota, ia pun menitipkannya pada saya. Saya tidak tahu Prihal penabrakan tersebut! " Tuturnya menjelaskan.
Rendi pun membulatkan matanya, jadi ia telah salah paham. " Apa. Jadi.. "
"Ya, saya adalah korban! " Ujarnya memotong ucapan Rendi.
Kemudian Pemuda yang di ketahui bernama Dicki tersebut pun memberitahu nama teman dan juga alamatnya yang di kota. " Apa. Jhon? Siapa dia? " Gumamnya, kala mendengar nama itu.
Rendi baru pertama kali mendengar nama itu. Apa tujuannya melakukan ini semua pada Rendi?
Apakah Jhon yang di maksud adalah Jhon yang sama yang memusihinya? Atau Jhon yang lain?
Rendi pun menunjukan sebuah foto pada pemuda tersebut. " Apakah ini Jhon yang kau maksud? " Tanya Rendi.
Pria tersebut nampak melihatnya dengan seksama. " Ya, benar. Dia orangnya! " Sahutnya.
Terlihat Rendi mengepalkan tangannya, giginya nampak gemetak menahan amarah. " Kurang ajar! " Gumamnya.
Kemudian Brain mengikuti Rendi, dan duduk di belakang kemudi. " Kemana kita, sekarang? " Tanya Brain.
"Menemui keparat itu! " Ucapnya penuh dendam.
"Tapi... "
Belum sempat Brain berucap, Rendi telah lebih menatapnya tajam. Jika Rendi sudah begitu maka tak ada alasan bagi Brain menolaknya.
Brain pun menghela nafasnya. " Baiklah! " Sahutnya seraya mengemudikan mobilnya.
Sebelum Rendi dan Brain tiba seseorang telah menghubungi Jhon lebih dulu.
"Apa. Jadi Rendi sudah tahu? " Ujar Jhon.
Kini ekspresi Jhon pun berubah drastis, wajah yang awalnya nampak ceria kini berubah menjadi tegang. " Sialan. Dari mana Bangsat itu tahu? " Gumamnya.
__ADS_1
Jhon pun bergegas untuk segera pergi sebelum Rendi datang ke markasnya, namun sayang saat Jhon sudah berada dj gerbang tiba-tiba Rendi datang menghampirinya dengan semua amarah yang ia miliki hingga membuat Jhon tak bisa melarikan diri.
"Jhon!!! " Teriaknya lantang.
Rendi melangkah ke arah Jhon dengan dada bergemuruh seraya mengepalkan kedua tangannya. " Jhon. Jangan coba-coba kabur!! " Ujarnya.
"Sial. " Batin Jhon.
Jhon pun tak mampu pergi dan jalan satu-satunya adalah tetap maju menghadapi Rendi.
Jhon sudah tahu tujuan Rendi datang kemari. " Hey, Rendi bodoh! Pergilah, sebelum aku binasakan dirimu!! " Ujarnya.
Mendengar hal tersebut membuat darah Rendi begitu mendidih. Apalagi saat tahu bahwa Jhon orang yang telah membunuh Yoga. " Keparat! Pembunuh!! " Teriak Rendi yang kini di kuasai amarah.
Jhon tersenyum miring. " Jika aku pembunuh, lalu apa bedanya denganmu? Kau pun pembunuh, Rendi. Pembunuh!! " Ujarnya.
"Aku pembunuh? Apa maksudmu? " Tanya Rendi.
Jhon memalingkan wajahnya, kemudian menatap Rendi tajam penuh kebencian. " Kau lupa? Biar aku ingatkan. Kau ingat Steven? Ya, dia adalah orang yang kau bunuh dengan senjatamu itu, Rendi. Kau pembunuh yang sebenarnya!! " Ujarnya.
Rendi pun tersentak kaget, ia pun membulatkan matanya. " Ada hubungan apa kau dengan Steven? " Tanya Rendi penuh tanya.
"Aku adiknya! " Sahutnya lantang.
Brian, maupun Rendi. Mereka berdua sama-sama terkejut mendengar penuturan Jhon, sontak saja keduanya saling pandang satu sama lain. " Apa. Tidak, tidak. Ini tidak mungkin!! " Gumam Rendi.
Setahu Rendi Steven tidak memiliki Saudara, bukankah Steven adalah anak tunggal hingga mustahil jika kini Jhon mengaku sebagai Adik Steven.
"Kau bohong. Steven tidak memiliki Saudara ataupun Adik! " Bantahnya.
Jhon tersebut simpul. "Sepertinya kau tahu betul tentang Steven, Rendi. " Sahutnya.
Kemudian Jhon pun menceritakan segalanya pada Rendi, dan Brain bahwa Jhon maupun Steven tidak memiliki hubungan darah namun demi sebuah rasa terimakasih maka Jhon akan membalaskan dendam Steven.
selesai mengatakan hal tersebut pun, Jhon menatap Rendi dan berancang-ancang membuat serangan pada Rendi. "Kau harus mati Rendi!! " ujarnya seraya menyerang Rendi.
Rendi pun meladeni serangan Jhon, keduanya tengah beradu otot. Jhon Maupun Rendi, mereka berdua sama-sama tak mau kalah. Kebencian di antara keduanya sangatlah besar. Rendi membenci Jhon sebab Ia telah membunuh Yoga, sementara Jhon membenci Rendi, Sebab Rendi telah membuat Steven yang di anggapnya sebagai Kakak harus tewas dengan luka tembakan.
"Kau harus mati!! " Teriaknya seraya terus menyerang Rendi tanpa henti.
__ADS_1
"jangan bermimpi! " Sahut Rendi yang tak mau kalah dengan Jhon.
Keduanya masih sama-sama tanggguh hingga Brian begitu sulit melerai perkelahian ini.