
Hari ini tepat dimana hasil test DNA itu akan Rendi dapatkan yang akan menentukan apakah Yoga adalah Putranya atau bukan?
Rendi datang ke rumah sakit bersama Khumaira, dan Yoga. Mereka bertiga tengah menantikan hasil tersebut.
"Bagaimana jika hasil itu akurat? " Ucap Rendi yang mulai resah.
Khumaira berusaha menenangkan Rendi. " Jika hasil itu akurat, maka akui Yoga sebagai Putramu! " Ujarnya.
Rendi mengangguk, namun tak bisa di pungkiri saat ini Rendi seolah sedang menunggu raport kenaikan kelas yang menentukan naik atau tidaknya dirinya?
"Ini hasilnya, Pak! " Ucap Dokter sembari menyodorkan hasil test tersebut.
Rendi menerima amplop coklat yang di sodorkan oleh Dokter, lantas membuka dan membacanya dengan seksama.
Rendi terlihat menahan amarahnya kala melihat hasil test tersebut, dadanya terlihat naik turun. Khumaira yang melihat perubahan pada wajah Rendi pun meraih kertas tersebut dari tangan Rendi dan membacanya.
Khumaira membelalakan matanya, kala melihat hasil tersebut. Tertera jelas bahwa hasilnya tidak cocok, itu artinya Rendi bukan Ayah kandung dari Yoga.
"Sialan kau, Nuri. Tunggu saja nanti! " Batinnya sembari mengepalkan tangannya.
Sudah Rendi duga bahwa hasil pertama tidaklah akurat, Nuri pasti sengaja memanipulasi hasil tersebut.
Rendi segera mengantarkan Khumaira, dan Yoga pulang terlebih dahulu sebelum pergi menenui Nuri. Ingin rasanya Rendi mencincang habis tubuh Nuri degan tangannya sendiri.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan pada Yoga selanjutnya, Mas? " Tanya Khumaira sembari meliriknya.
Rendi yang sedang menyetir pun melirik Khumaira sekilas. " Kita titipkan saja ke panti asuhan! " Sahutnya.
Khumaira membulatkan matanya. "Apa. Kepanti? Bagaimana bisa? Memangnya kemana Ibunya? " Tanya Khumaira.
"Aku tidak tahu. Lagi pula jika bukan ke panti, lalu mau kemana lagi? " Rendi malah balik bertanya.
Akhirnya Khumaira memutuskan untuk mengasuh, dan membiarkan Yoga tinggal bersama mereka sebab Yoga begitu menggemaskan.
Rendi meghela nafasnya, dan menuruti keinginan Khumaira. " Oke. " Sahutnya.
Setelah mengantarkan Khumaira pulang, Rendi kembali pergi dan menuju markasnya untuk menemui Nuri.
Namun belum sempat Rendi masuk ke dalam ruangan tiba-tiba sebuah panggilan telepon masuk.
"Hallo, ada apa? " Sahutnya sesaat pangilan tersambung.
Seseorang memberitahu bahwa paket yang Rendi pesan akan segera tiba.
"Gawat. Jika Khumaira membukanya bisa kacau! " Gumam Rendi.
__ADS_1
Rendi mengurungkan niatnya untuk menemui Nuri, ia pun berbalik menuju rumahnya.
"Mau kemana lagi, Pak? " Tanya Brian.
"Balik! " Sahutnya sembari terlihat terburu-buru.
Rendi pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia harus segera sampai di rumah sebelum Khumaira mendapatkan paket tersebut dan tahu isi di dalamnya.
"Ayolah!! " Ujarnya.
Sesampainya Rendi di rumah, dan benar saja ketakutan Rendi akan terjadi. Kini Khumaira tengah memegang paket, dan hendak membukanya namun dengan cepat Rendi mengambilnya dari tangan Khumaira.
"Kau sudah pulang lagi? " Tanya Khumaira heran, kala melihat Rendi yang kembali.
"Iya, aku kembali sebab ada paket atas namaku, kan? " Jawabnya.
Khumaira menganguk, sontak saja Rendi mengambil paket tersebut dan melarang Khumaira untuk membukanya.
"Kenapa? " Tanyanya heran.
"Ini paket penting, jadi kau jangan membukanya! " Sahut Rendi sembari berlalu ke kamarnya untuk menyimpan paket tersebut.
Khumaira menggaruk tengkuknya, sebenarnya ia penasaran dengan isi paket tersebut? Tapi ya sudahlah, jika Rendi sudah berkata demikian.
Akhirnya Rendi bisa bernafas dengan lega, sebab Khumaira belum sempat membuka paket ini. Jika hak itu sampai terjadi maka seluruh bisnis Rendi bisa hancur berantakan.
"Nanti saja aku membuka paket ini jika keadaan sudah sepi! " Ucapnya sembari menutup kembali lemarinya.
Rendi memang memesan paket, tapi paketnya terlihat kecil namun jika di jual maka hasilnya bisa mendatangkan keuntungan yang luar biasa bagi Rendi.
"Aku harus menyimpan paket ini dengan baik! " Ucapnya.
Setelah meletakan paket di tempat yang menurutnya aman, Rendi segera menuju balkon dan mencoba menghubungi Brian, dan menyuruhnya agar menugaskan Alex untuk memperketat keamanan di daerah perbatasan sebab musuh sedang mengintai mereka.
"Brian. Aku mau kau lebih ketat lagi menjaga daerah perbatasan! " ujarnya.
Tentu saja Brian melakukan perintah Rendi dengan cepat, dan segera menghubungi Alex.
Setelah selesai menghubungi Brian, kini Rendi turun dan menghampiri Khumaira.
Khumaira melirik Rendi. " Apa kau mau makan? " Tawarnya.
Rendi nampak berfikir sejenak. " hmm, boleh juga! " Sahutnya.
khumaira segera menyiapkan makanan untuk Rendi, dan menunggu Rendi yang sedang makan.
__ADS_1
"Apa kau akan melihat ku makan, tanpa ingin ikut makan bersamaku? " Tanya Rendi.
Khumaira menggeleng. " Tidak. aku sudah makan tadi! " Sahutnya.
Rendi melanjutkan makannya, terlihat Rendi yang lahap saat menikmati makanannya.
"makanan mu begitu lezat, Khumaira! " Pujinya.
Khumaira menggeleng. " Yang masak Bi Inah! " Sahut Khumaira.
Rendi membulatkan matanya kala mendengar ucapan Khumaira, berarti Rendi telah salah memuji walau memang masakan Mbok Inah begitu lezat.
Hari pun telah menjelang malam, seperti biasa Khumaira akan menidurkan Yoga lebih dulu sebelum ia masuk ke kamarnya.
Sementara Rendi, kini dirinya tengah berada di kamar dan tengah merebahkan dirinya di atas Sofa, ya, hingga kini Rendi masih tidur terpisah dengan Khumaira walau hubungan mereka sudah mulai membaik, namun Rendi enggan tidur satu ranjang dengan Khumaira.
Setelah menjalani hidup rumah tangga bersama Khumaira, Rendi merasa hidupnya lebih berwarna dan bahagia namun Rendi juga tak bisa memungkiri jika suatu saat Khumaira akan tahu segalanya penyebab kematian Renda.
"Tuhan, jika kau berkenan maka aku mohon tutuplah aib-aib ku! " Gumamnya.
Harus Rendi akui saat ini Rendi sudah mulai merasakan cinta pada Khumaira, namun Rendi takut jika suatu saat Khumaira akan meninggalkan dirinya.
Rendi sudah mulai menyayangi Khumaira, bahkan ia telah membuka hatinya untuk Khumaira. Rendi juga telah siap menjadi Ayah dari anak Khumaira, dan mendiang Renda.
"Aku berjanji akan menjaga kenanganmu, Renda! " gumamnya lirih.
Tak berapa lama kemudian Khumaira masuk ke dalam kamar setelah berhasil menidurkan Yoga.
Khumaira melihat Rendi yang tengah melamun, nampaknya Rendi tengah melamuni sesuatu.
"Kau sedang memikirkan apa? " Tanya Khumaira.
Ucapan Khumaira membuyarkan lamunan Rendi, ia pun melirik Khumaira. " Tidak ada! " sahutnya.
Khumaira duduk di samping Rendi, ia pun menatap Rendi dengan lekat. Khumaira telah salah menilai Rendi selama ini, ternyata Rendi adalah sosok penyayang dan bertanggung jawab.
Namun sebuah pertanyaan selalu melintas dalam fikiran Khumaira. Mengapa hingga detik ini Rendi tak kunjung menyentuhnya? dan mengapa Rendi tak ingin tidur satu ranjang dengannya? apakah ia jijik? berbagai pertanyaan mulai bermunculan di dalam fikiran Khumaira.
Khumaira, menatap wajah tampan Rendi sembari mengumpulkan keberanian, ia pun memilin ujung bajunya. "Apakah Kau akan tetap tidur di sofa ini? maksudku, Apa kau tidak ingin tidur denganku? apakah aku begitu menjijikan di matamu? Apakah... "
Belum sempat Khumaira melanjutkan ucapnya, tiba-tiba Rendi mencium bibirnya agar Khumaira diam.
"Sudah tidurlah. Kau pasti lelah! " Titahnya.
Khumaira memegangi bibirnya, ia tak percaya dengan apa yang baru saja Rendi lakukan padanya, ini adalah kali pertama Rendi menciumnya.
__ADS_1
Rendi yang sudah merebahkan dirinya, kemudian menyibak selimutnya. " Tidur atau mau Aku cium lagi? "
Sontak saja ucapan Rendi membuat Khumaira takut, Akhirnya Khumaira bergegas tidur.