
Keadaan Rendi yang semakin membaik membuat Dokter mengizinkannya untuk pulang.
"Pak Rendi boleh pulang hari ini juga! " Ujar Dokter setelah melakukan beberapa tes.
"Terimakasih, Dok! " Ujar Khumaira.
"Ayo, Khumaira kita pulang! " Ajaknya.
Khumaira menganguk, dan membereskan barang-barangnya.
Rendi pun menghubungi Anak buahnya untuk datang menjemputnya ke rumah sakit. " Hallo, Brain. Kau bisa datang dan menjemput ku? " Ujarnya.
"Tentu, Pak. Saya akan segera ke sana! " Sahut Brain di seberang telepon.
Kemudian Rendi mematikan teleponnya, dan menunggunya Brain datang.
Beberapa menit berlalu akhirnya Brain datang menghampiri Khumaira, namun saat Brain hendak masuk tiba-tiba matanya melihat sebuah adegan romantis antara Rendi dan Khumaira yang bersitatap seakan penuh cinta.
"Ehemm! Maaf, saya mengganggu! " Ujarnya.
Sontak saja Khumaira, dan Rendi menoleh dan terlihat salah tingkah.
"Sejak kapan kau datang? " Tanya Rendi.
"Baru saja! " Sahutnya.
Brain terlihat berusaha menahan tawanya, kala melihat wajah Rendi yang terlihat salah tingkah oleh kejadian ini.
"Ayo, kita pulang! Aku sudah tidak betah di sini. " Ujarnya.
Brain pun segera mengangkat barang-barang milik Rendi ke dalam mobil, sementara Khumaira memapah Rendi hingga mobil.
"Terimakasih! " Ucap Rendi sembari tersenyum.
Rendi pun duduk, kemudian di ikuti oleh Khumaira dan Brain.
"Ready? " Tanyanya sembari melirik ke arah Rendi.
Rendi mengangguk, dan Brain pun mulai melajukan mobilnya. Namun sebuah ide tiba-tiba muncul dalam otak Brain.
"Sepertinya akan ada pertunjukan seru! " Batinnya seraya menampilkan senyum jahat.
Brain pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sehingga mobilnya menjadi berguncang, dan saat melewati polisi tidur tiba-tiba Brain melajukannya dengan kecepatan tinggi sehingga Khumaira dengan Replek memeluk tubuh Rendi dan pandangan keduanya bertemu.
"Are you oke? " Tanya Rendi kala tersadar dari lamunannya.
Khumaira segera melepaskan dirinya dari Rendi dan mengangguk, kemudian Khumaira terlihat malu-malu dan menggeser tubuhnya.
Sementara Brain, dirinya tengah tersenyum jahil. Dalam hatinya tertawa lepas. " Sudah aku bilang ini pertunjukan yang luar biasa! " Batinnya.
Rendi yang melihat tingkah Brain pun seolah-olah tahu bahwa Brain sengaja melakukan ini semua. " Brain! " Ujarnya.
__ADS_1
Brain menghentikan tawa kecilnya. " Iya, Pak! " Sahutnya seraya melirik Rendi.
Rendi menatap tajam ke arah Brain. " Kau sengaja? " Tanyanya.
Brain membulatkan matanya, ia benar-benar takut jika Rendi tahu. " Gawat. Aku berada dalam masalah besar! " Batinnya.
Brain berusaha melan salivanya dengan susah payah, kemudian menghela nafasnya sejenak. " Tidak. Aku tidak tahu apapun ! " Sahutnya berbohong.
Rendi seolah-olah tak percaya dengan ucapan Brain, namun beruntung Brain di selamatkan oleh sebuah panggilan masuk.
"Maaf, Pak. Ada telepon! Boleh saya angkat sebentar? " Ujarnya.
Rendi mengangguk, setelah mendapatkan izin kemudian Brain menepikan mobilnya dan mengangkat telepon. " Hallo, Lex! Ada apa? " Sahut Brain dalam sambungan telepon.
"Harusnya aku yang tanya padamu, untuk apa kau missed calls? " Ujarnya.
Brain memang sangaja memanggil Alex, sebab situasi seperti inilah yang bisa menyelamatkannya dari Rendi.
"Tidak. Baiklah, nanti akan aku hubungi lagi! " Ucapnya, kemudian Brain menyimpan kembali ponselnya.
"Sudah? " Tanyanya.
Brian mengangguk. " Sudah, Pak! " Sahutnya.
"Apa yang Alex katakan? " Tanyanya lagi.
"Biasalah, Pak. Soal Pria! " Ujarnya.
"Kau mau rujak itu? " Tanyanya.
Khumaira melirik Rendi, kemudian mengangguk.
"Kenapa kau tidak bilang? Baiklah. Wait di sini, oke! " Ucapnya.
"Brain. Tolong, belikan rujak itu! " Titahnya seraya menunjuk tukang rujak tersebut.
Brain pun mengangguk, dan turun dari mobil. " Ah, masa sudah keren kaya gini di suruh beli rujak. " Batinnya.
Beberapa menit berlalu Alex datang kembali dengan membawa kresek berisikan rujak dan menyerahkannya pada Rendi.
"Thanks! " Ujarnya.
Brain hanya mengangguk, dan kembali duduk di belakang kemudi kemudian melakukannya dengan sedang.
"Makanlah! " Titahnya seraya menyodorkannya pada Khumaira.
Khumaira meraihnya dan mulai memakannya, Rendi hanya memperhatikan Khumaira yang sedang menikmati rujak tersebut tanpa ekspresi seperti orang yang tidak merasakan asam.
"Enak? " Tanyanya.
Khumaira mengangguk, dan terus mengunyah rujak tersebut tanpa henti. " Enak. Apa kau mau coba? " Tawarnya.
__ADS_1
"Tidak, tidak. Aku tahu itu pasti asam! " Tolaknya.
Rendi yang melihatnya saja sudah ngilu, tapi aneh Khumaira seperti tidak merasakannya.
"Apa kau tidak merasa asam atau bagaimana gitu? " Tanyanya.
Khumaira hanya menggeleng, dan terus memakan rujak tersebut.
Melihat Khumaira yang nampak begitu senang bahagia membuat Rendi ikut bahagia.
Rasa cinta yang kini mulai muncul di hati Rendi sehingga Rendi takut kehilangannya, bahkan cinta ini hadir bukan lagi dari sebuah tanggung jawab melainkan sebuah cinta yang murni dari hatinya.
"Semoga tuhan tidak membuka kebenaran ini, Khumaira! " Batinnya, Rendi tak hentinya memandang wajah Khumaira.
Tatapan mata Rendi yang tak beralih dari pandangan Khumaira di sadari oleh Brain, Brain bisa melihat dengan jelas bagaimana Rendi mencintai Khumaira tanpa mengutarakannya secara lisan.
"Semoga kalian selalu bersama! " Gumamnya sembari melihat Rendi dan Khumaira dari spion.
Tak lama kemudian, kini mereka sudah sampai di kediaman milik Rendi gegas Rendi pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Ah, aku sangat merindukan rumah ini! " Ujarnya.
Rendi menghirup udaran yang begitu menyegarkan kala ia sudah sampai di rumahnya.
"Lebih baik sekarang kau istirahat saja, Mas! " Titah Khumaira.
"Benar, Pak. Apa yang di katakan oleh Istrimu! " Timpal Brain.
Rendi pun mengangguk, dan menuju kamarnya kemudian Brain pun meletakan barangnya di kursi untuk selanjutnya di bereskan oleh Bi Inah.
"Pak, saya pulang dulu, ya! " Pamitnya.
Rendi mengangguk, dan membiarkan Brain pergi.
Saat Rendi hendak tidur dan Khumaira pergi ke bawah untuk menyiapkan bubur, tiba-tiba seseorang melemparkan sesuatu hingga membuat Rendi begitu kaget. " Apa itu? " Gumamnya.
Rendi pun segera bangkit, dan melihat sebuah batu yang telah di balut oleh secarik kertas, gegas Rendi segera membacanya.
' Wait for your next death, and I know your biggest secret! '
Rendi mengepalkan kedua tangannya, dan terlihat gigi-nya gemertak menahan amarah dengan mata yang nyalang. " Kurang ajar! Siapa yang berani melakukan ini padaku? " Ujarnya.
Rendi segera pergi balkon, guna melihat siapa yang telah mengirim teror ini namun Rendi tak melihat siapapun di sana.
"Sial. Siapapun kau? Aku akan menemukan mu! Cepat atau lambat. " Gumamnya.
Rendi pun kembali masuk ke dalam kamarnya.
Terlihat seseorang yang bersembunyi sejak tadi sebuah pohon tersenyum penuh arti." Nikmatilah teror yang aku tebar, Rendi! " Ujarnya.
Entah, wanita atau pun Pria yang jelas orang tersebut sepertinya menaruh dendam yang begitu membara pada Rendi. "Kau harus membayar segalanya, Rendi. " Gumamnya.
__ADS_1
Kemudian orang dengan berpakaian hitam yang di balut dengan topi dan menggunakan masker pun segera pergi meninggalkan kawasan tersebut.