TITIPAN CINTA

TITIPAN CINTA
CHAPTER 33 #KEADAAN YANG MULAI MEMBAIK


__ADS_3

Setelah beberapa hari kemudian, kini kondisi Rendi sudah membaik.


Rendi pun sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa.


"Mas, kamu sudah sadar? " Tanyanya.


Rendi menoleh. "Seperti yang kau lihat! " Sahutnya.


Khumaira mendekati ranjang Rendi, dan duduk di sampingnya. " Jangan lakukan hal seperti kemarin. Kau hampir saja membuatku berhenti berfas juga! " Ucapnya.


Kemarin benar-benar membuat Khumaira mati rasa, seolah-olah Khumaira raga tanpa nyawa.


"Tenanglah, Khumaira. Ini hanya luka kecil! " Sahutnya sembari tersenyum.


Khumaira melototkan matanya. " Luka kecil bagaimana? kau ini hampir meninggal kemarin, Mas!! " Ucapnya, tanpa sengaja Khumaira menepuk luka Rendi sehingga membuat Rendi meringis.


"Maaf, maaf, Mas. Aku tak sengaja! " Ujarnya.


Rendi tersenyum. " Its oke. Dengarkan aku baik-baik, Khumaira. Aku tidak pernah takut dengan kematian! " Ucapnya.


Ya, bagi sebagian Mafia kematian adalah hal yang biasa terjadi bahkan mereka harus siap menghadapi situasi seperti ini, begitu pula dengan Rendi.


"Istirahat saja, kondisi mu belum pulih! " Titahnya.


Rendi menaikan satu alisnya. "Kata siapa? aku sudah pulih! " Ucapnya seraya berusaha bangun.


"aww!! " Rintihnya sembari memegangi bekas lukanya.


" Bukankah, aku sudah bilang sejak tadi? Bahwa kondisi mu belum pulih! " Ujarnya geram.


Khumaira membuka tas kecilnya dan meraih sesuatu dari dalam, kemudian menyodorkannya pada Rendi.


Rendi meraihnya seraya melihatnya. " Apa ini, Khumaira? " Tanyanya tak mengerti.


"hasil USG!! " sahut khumaira.


Nampak sebuah senyum terbit dari bibir Rendi tatkala melihat hasil USG tersebut, walau bayi dalam kandungan Khumaira bukanlah Anaknya namun ia pun tak memungkiri bahwa dirinya ikut bahagia atas ini semua.


Rendi pun memperhatikan gambar tersebut, walau wajahnya belum terlihat namun Rendi meyakini bahwa kelak ia akan menjadi seorang anak yang baik seperti mendiang Renda.


"laki-laki atau perempuan? " Tanyanya.


Khumaira menggeleng. " belum tahu! " Sahut Khumaira.


Khumaira pamit keluar untuk membeli beberapa keperluan.


"Pergilah!! " Ujarnya.


Khumaira pergi meninggalkan Ruangan Rendi. kini Rendi sendiri di dalam kamar tersebut.


tiba-tiba Seseorang membuka pintu Ruangannya, dan Rendi sangka ia adalah Khumaira.


" ada apa kau kembal...li? " Ujarnya tanpa menoleh, sebab Rendi tahu bahwa dia adalah Khumaira.


"hai, Rendi! senang melihatmu pulih!! " Ucapnya seraya menghampiri Rendi.


Rendi mengernyitkan keningnya, kala menyadari bahwa itu bukan suara Khumaira kemudian Rendi pun menoleh. " Kau! Ada apa kau kemari, Nuri? " Tanyanya tak suka.


Nuri berjalan menghampiri Rendi. "Tentu saja aku ingin melihat keadaanmu, Rendi. Apa kabar dengamu? " Sahutnya.


Rendi tak menjawab ucapan Nuri, kemudian Rendi memalingkan wajahnya. Jika saja Rendi tidak dalam keadaan seperti ini, niscaya bahwa Rendi akan menangkapnya.


cupp...


Nuri mencium lembut kening Rendi, Rendi menatap tajam ke arah Nuri.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? Ujarnya marah.


"Hanya mencium mu! " Sahutnya.


"Aku tak sudi. Menjauhlah dari ku sebelum aku mencincang mu! " Ancamnya.


Sontak saja Nuri pun tertawa. " Ups, Sorry! Kau itu sedang lemah saja masih bisa-bisanya mengancam! " Ujarnya do sertai cekikikan.


Nafas Rendi yang kian naik turun, dan ingin rasanya Rendi menelan Nuri hidup-hidup.


Tatapan mata Rendi pun begitu tajam. " Pergi dari sini, sekarang!! " Teriaknya penuh emosi dan penekanan.


Nuri pun mendekati Rendi, dan memegang bahunya. " Sabar, sayang. Aku akan pergi! " Ujarnya.


Rendi memberontak. "Singkirkan tangan kotor mu dari ku!! " Bentaknya.


Nuri melepas tangannya. "Oke, oke. Aku lepas! " Ujarnya.


"Pergi!! " Teriaknya.


Sepertinya Nuri tak bisa membujuk Rendi saat ini, sebab Rendi sepertinya tengah di kuasai amarah yang luar biasa.


Hingga akhirnya Nuri pun keluar dari ruangan Rendi, dan akan datang kembali nanti.


Saat ini Rendi benar-benar marah dengan kedatangan Nuri hingga membuat moodnya hancur.


cklek..


pintu ruangan pun terbuka. " Mau apa kau datang lagi? " Ujarnya tanpa menoleh.


"Apa maksudmu, Mas? " Ucap Khumaira heran.


khumaira heran mengapa Rendi mengatakan hal demikian.


Khumaira mengernyitkan heran. "kira siapa, Mas? " tanya Khumaira


"Tidak! " sanggah Rendi.


Khumaira memilih tidak memperdulikan persoalan tadi. ia menghampiri Rendi dan menaruh barang belanjaannya.


"Kapan aku boleh pulang? " Tanya Rendi.


Rendi sudah tidak betah berlama-lama di rumah sakit selain bau obat-obatan, ia juga tidak suka dengan suasana rumah sakit yang begitu membosankan.


"Biar nanti aku tanya Dokter! " Sahutnya.


Khumaira pun duduk di samping Rendi, kemudian menatap wajah tampan Rendi sehingga membuat Rendi dengan tatapan itu. " Apa yang kau lihat dari ku? " Tanyanya heran.


Khumaira mengegeleng. " Tidak. Aku hanya membayangkan bagaimana aku tanpamu, sebab kau telah sukses membuatku takut kehilanganmu! " Ucapnya penuh kesungguhan.


Rendi pun tersenyum mendengar ucapan Khumaira, ia pun mengelus pucuk kepala Khumaira. " Tenanglah, aku tidak akan meninggalkan mu. Tugasku belum selesai! " Ujarnya.


Khumaira mengerutkan keningnya. " Tugas? Tugas apa? " Tanyanya heran.


"Tentu saja menjagamu. Bukankah, Renda menitipkan cintanya padaku! " Jawabnya.


Khumaira tak menggubris ucapan Rendi, ia tahu maksud dari semua ini bahwa Rendi bertahan hingga detik ini hanya menjalankan sebuah kewajibannya pada Renda.


"Berapa lama aku berada di sini? " Tanya Rendi.


Khumaira nampak berfikir. " Sepertinya kurang lebih 1 minggu! " Sahutnya.


"Apa! 1 minggu? Tidak!! " Ujarnya.


Rendi tak menyangka bahwa dirinya telah lama berada di rumah sakit, lalu bagaimana dengan bisnisnya.

__ADS_1


"Ambilkan Ponsel ku! " Titahnya.


"Untuk apa? " Tanyanya heran, Namun Khumaira tetap meraih ponselnya dan menyodorkanny pada Rendi.


Kemudian Rendi menelpon seseorang. " Oh Syukurlah! Terimakasih telah menghandle segalanya! " Ujarnya.


Rendi pun mematikan teleponnya, dan meletakannya kembali.


"Kau menelepon siapa, Mas? " Tanya Khumaira penasaran.


"Brain! " Ujarnya.


Khumaira mengangguk, dan ber-oh ria.


"Apa yang terjadi semenjak aku berada di sini? " Tanya Rendi.


"Ada seseorang yang masuk ke ruangan mu, dan hampir saja orang tersebut membunuhmu! " Ucap Khumaira.


Rendi pun membulatkan matanya. " Apa! Siapa? Apa kalian menemukannya? " Tanyanya.


Khumaira menggeleng. " Tidak. " Sahutnya.


Fikiran Rendi melayang, kira-kira siapa yang hendak melenyapkannya. Apa mungkin dia adalah Jhon? Sebab hanya Jhon-lah yang amat membenci dirinya.


"Sudahlah, Jangan banyak fikiran. Lebih baik sekarang kau istirahat! " Titah Khumaira.


Hingga Rendi pun mengangguk, dan mencoba beristirahat.


Namun nampaknya Rendi masih tak bisa memejamkan matanya hingga ekor matanya melihat bayangan seseorang dari balik kaca ruangannya.


"Siapa di sana?! " Teriaknya.


Khumaira melirik ke arah yang di lihat oleh Rendi. " Siapa, Mas? " Tanyanya.


Rendi melirik Khumaira, dan menggeleng. " Tidak tahu, biar Aku lihat! " Ujarnya.


Rendi bergegas bangkit, dan mencoba berjalan kemudian mencari siapa yang tadi mengintipnya?


"Hey! jangan lari!! " Teriaknya.


Rendi berusaha mengejar seseorang yang berpakaian serba hitam dan Rendi sulit melihat wajahnya, sebab terhalang oleh masker.


Khumaira mengikuti langkah Rendi, ia khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


"Mas, Tunggu!! " Teriaknya yang terus mengejar Rendi.


Rendi terus mengejar Pria di depannya, namun langkahnya tak bisa cepat sebab lukanya masih basah.


"Hey!! " Teriaknya, namun tiba-tiba Rendi merasakan lukanya begitu ngilu sehingga dirinya menghentikan langkahnya.


"Mas. Kau kenapa? " Tanya Khumaira.


Khumaira memegangi lukanya, dan lukanya terlihat mengeluarkan darah.


"Mas. Luka mu berdarah! " Ujarnya.


Khumaira pun memapah Rendi menuju ruangannya, dan segera memanggil Perawat.


Setelah di ganti dengan perban baru, dan Dokter pun mengingatkan bahwa Rendi tidak boleh banyak bergerak terlebih dahulu.


"Kau dengarkan apa yang di katakan oleh Dokter? " Ucap Khumaira.


Rendi mengangguk. " Iya, Bawel. Aku dengar karna telingaku masih berfungsi dengan baik! " Sahutnya.


Rendi pun memilih beristirahat dan memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2