
Nuri berjalan menuju kamarnya setelah selesai melakukan pekerjaannya, ia pun duduk di tepi ranjang kamarnya menangis sesegukan.
"Maafkan Mama, Yoga!! " Gumamnya lirih.
Nuri masih saja menangis kepergian Putranya walau pun kepergian Yoga sudah lebih dari 1 pekan, namun rasa-rasanya Nuri masih tak percaya dengan semua ini.
Nuri pun memeluk foto Putranya dengan penuh cinta, dan kerinduan yang teramat dalam.
Nuri pun memandang ke depan dengan tatapan nyalang. " Ini semua karna Khumaira, dan Rendi. Awas kalian!! " Ucapnya penuh kebencian.
Nuri tidak akan pernah memaafkan Rendi maupun Khumaira atas kejadian yang menimpa Putranya.
Lagi-lagi Nuri memandang foto Putranya sembari mendekapnya dengan erat dengan berulai air mata yang mulai membanjiri pipi mulusnya hingga tak menyadari kedatangan seseorang yang sejak tadi memperhatikan Nuri yang sedang menangis.
"Kau kenapa? " Ujar Seseorang di ambang pintu.
Terlihat Jhon sedang berdiri di ambang pintu, ia tak sengaja melihat Nuri yang sedang menangis sesegukan sembari melihat foto seseorang namun Jhon tidak begitu jelas melihat orang dalam foto tersebut.
Nuri pun menoleh, dan segera menghapus air matanya sembari menyembunyikan foto Yoga. " Tidak. Aku tidak apa-apa! " Ucapnya berbohong.
Namun walaupun Nuri berbohong, namun wajah dan matanya tak bisa berbohong.
"Jangan bohong. Aku tahu kau habis menangis! Apa kau butuh uang? " Tanyanya.
Nuri menggeleng. " Aku tidak butuh uang. Aku hanya butuh balas dendam! " Sahutnya.
"Balas dendam? " Ucapnya mengulangi perkataan Nuri.
"Apa kau bisa membantuku, Pak? " Ujarnya penuh harap.
"Pada siapa? " Tanya Jhon heran.
Nuri pun membalikan tubuhnya membelangi Jhon sembari mengambil foto Yoga. " Pada pembunuh Putraku! " Sahutnya seraya memperlihatkan foto Yoga.
Sontak saja Jhon begitu kaget kala melihat foto yang Nuri tunjukan, kini wajahnya begitu tegang. "Apa ini Putramu? " Tanya Jhon hati-hati.
Nuri menganggukan kepalanya, sementara Jhon begitu kaget mendengar pernyataan Nuri. Ia pun terlihat beberapa kali menelan salivanya dengan susah payah, dan mimik wajah Jhon pun benar-benar tegang.
"Si-siapa? " Tanya Jhon dengan terbata.
__ADS_1
Nuri pun menatap Jhon dengan tatapan penuh amarah, dan penuh kebencian sontak saja hal tersebut membuat Jhon tegang seketika.
"Kenapa kau menatapku begitu nyalang? " Ujar Jhon.
Nuri pun menundukan pandangannya seraya meminta maaf. " Maaf, Pak. Soalnya saya begitu marah! " Sahutnya.
Jhon pun bisa sedikit menghela nafasnya, namun ia masih penasaran dengan jawaban Nuri tentang siapa pembunuh Putranya. " Kau belum mengatakan siapa pembunuh Putramu, Nuri? " Ujar Jhon dengan tatapan penuh tanya.
"Rendi! " Sahutnya.
Mendengar hal tersebut Rendi pun menghela nafasnya dengan lega, ternyata Rendi. Tapi tungu, tunggu. Rendi siapa yang Nuri maksud? Apakah Rendi musuhnya atau Rendi yang lain?
"Rendi? " Gumamnya.
Nuri pun mengernyitkan keningnya. " Apa Bapak tahu siapa Rendi? " Tanya Nuri kala mendengar gumaman Jhon.
Jhon menggeleng. " Tidak. Apakah kau punya Foto pelakunya? " Sahut Jhon.
Nuri pun mengangguk, dan meraih ponselnya di atas kasur, ia pun mencari foto Rendi yang tersimpan di gawainya. " Ini dia! " Ujarnya seraya menunjukan foto Rendi.
Jhon mengambil alih gawai Nuri, dan melihat foto tersebut dengan seksama dan memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. "Rendi! " Gumamnya.
"Kau kenal dia? " Tanya Nuri.
Jhon pun mengangguk, sepertinya akan seru jika Jhon membuat Nuri menjadi pelantara dan juga benteng bagi balas dendamnya terhadap Rendi.
"Dia adalah Musuh ku sejak lama! " Sahutnya.
Nuri nampak membulatkan matanya. " Benarkah? " Ucapnya penuh tanya.
Jhon pun berbalik arah, dan menatap keluar jendela seraya menceritakan awal mula ia memusuhi Rendi, tentunya dengan sedikit bumbu dan karangan yang ia buat sendiri agar Nuri percaya.
Nuri pun menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya, ia tak menyangka bahwa Rendi adalah manusia yang begitu kejam dan juga rakus. " Sungguh biadab dia itu! " Ujarnya marah.
Jhon pun tersenyum tanpa Nuri sadari, akhirnya cerita yang dia karang sukses membuat Nuri percaya. " Begitulah Rendi! " Sahutnya seraya menunduk dan berpura-pura paling tersakiti.
Nuri begitu iba mendengar kisah yang di sampaikan oleh Jhon, akhirnya Jhon membuat kesempatan dengan Nuri.
"Bagaimana jika aku membantu mu balas dendam pada Rendi? Tapi dengan satu syarat! " Ujarnya.
__ADS_1
"Apa syaratnya? Pasti akan aku lakukan! " Sahutnya antusias.
"Gampang! Kau hanya perlu mencari tahu kelemahan Rendi. " Ujarnya.
Tanpa pikir panjang Nuri pun menyetujuinya, ia begitu senang sebab akhirnya dendamnya akan terbalaskan pada kedua manusia yang menurutnya berhati iblis tanpa Nuri sadari bahwa ia juga seorang iblis.
"Bagus. Nuri! Kau akan membuat pekerjaan ku lebih mudah, dan aku tak perlu mengotori tanganku sendiri! " Batinnya.
Jhon begitu senang dengan kerjasama yang tentunya akan menguntungkan dirinya, Nuri benar-benar bodoh! Dirinya mudaj percaya dengan ucapan Jhon tanpa mencaritahu terlebih dahulu.
"Dasar wanita bodoh! " Batinnya seraya tersenyum penuh arti.
Jhon pun keluar dari kamar Nuri, namun Nuri mencegahnya dan berusaha merayu Jhon.
"Jangan coba-coba kau sentuh dan merayuku! " Ujar Jhon tak suka.
Entah mengapa sikap Jhon seperti bukan Pria normal? Ia seolah-olah jijik dengan seorang perempuan?
Bukannya melepaskan tangannya Nuri malah semakin mengeratkannya, sontak saja Jhon begitu marah. "Lepaskan tanganmu! Atau aku tidak akan membantumu! " Ujarnya penuh penekanan, akhirnya Nuri pun melepaskan tangannya kemudian Jhon segera melangkah pergi dari kamar Nuri.
"Sungguh menjijikan! " Gumamnya seraya membersihkan bekas pegangan Nuri.
Jhon benar-benar benci dengan wanita sejak Ayahnya, Alexander berselingkuh dengan seorang wanita dan meninggalkan ibunya demi selingkuhan. Kini, luka dan sakit itu masih saja Jhon rasakan hingga Jhon sangat membenci wanita. Jhon hanya ingin bersenang-senang dengan kemudian mencampakannya sama dengan apa yang Papanya lakukan dulu.
Awalnya Jhon bukanlah seorang penjahat, namun sebuah keadaan dan lingkungan yang selalu mengucilkan keluarganya sebab ia hidup dalam kemiskinan membuat Jhon berjanji akan menjadi orang kaya walau dengan cara apapun hingga akhirnya Jhon memilih jalan haram sebagai Mafia yang lebih mudah mendapatkan Rupiah.
Nuri terlihat mengepalkan tangannya, dan terlihat kesal sebab tak berhasil merayu Jhon.
"Ihh, apa dia tidak normal? " Ujarnya kesal.
Jumi yang mendengar, dan melihat apa yang di lakukan oleh Nuri pun sontak saja Tertawa terbahak-bahak melihat kegagalan Nuri. "Hahaha. Sampai kapan pun situ gak akan bisa ngerayu, Pak Jhon! " Ujarnya sembari tertawa.
Nuri pun melirik tajam ke arah Jumi yang menertawakannya seolah-olah ada yang lucu. " Hentikan tertawamu! Memangnya kenapa? " Sahut Nuri kesal, namun penasaran dengan ucapan Jumi barusan.
Jumi pum menghentikan tawanya, dan mengedikan bahunya. " Ya, gak tahu! Tanya saja sendiri! " Sahutnya, dan kabur.
Hampir saja Nuri hendak melempar Jumi dengan sendalnya namun Jumi lebih dulu kabur sehingga Nuri mengurungkan niatnya. " Gembrot!! Kembali!! " Teriaknya.
Ternyata Jhon bukan Pria yang mudah di rayu sehingga sulit bagi Nuri untuk mendekatinya. Nuri mengira bahwa Jhon adalah Pria bermata keranjang, namun Nuri salah besar? Nuri akan terus mencari cara agar bisa meluluhkan hati Jhon hingga menjadi miliknya. Jika Rendi gagal ia dapatkan, maka Jhon tidak boleh lepas begitu saja.
__ADS_1